BAB 8

1339 Words
ARIA mulai membuka file yang ada di flashdisk yang diberikan oleh Alan. Ternyata bukan hanya rincian kehidupan Sena, tetapi ada juga mengenai kehidupan Alan, walaupun hanya secara umum seperti riwayat pendidikan, hobi dan kegemaran lainnya. Aria menghela napas kasar. Ia sendiri tak mengerti kenapa harus melakukan hal ini, mencampuri hubungan dua insan adalah sesuatu yang tak pernah ia sangka akan terlibat. Namun ia harus menepati janjinya pada Alan, hitung-hitung memberinya kesibukan lain selama berada seatap dengan Nara. Suara ponsel berbunyi, membuat Aria memalingkan wajah dari macbook miliknya dan mengecek siapa yang meneleponnya malam-malam begini. "Apa? Baiklah aku segera ke sana." Tak banyak kata yang dibalaskan Aria dengan orang yang meneleponnya itu. Ia bergegas mengambil jaket kulit dan kunci mobil lalu keluar kamar. Langkahnya tergesa-gesa menuruni tangga sebelum berakhir dengan berpapasan dengan Nara yang berada di depan pintu utama. "Malam begini kau mau ke mana?" tanya Nara masih memakai kemeja putih dan sepatu kulit. Pakaian kantor seperti biasanya, entah ke mana jas hitam andalannya sekarang. Aria mencoba mengatur napasnya. "Aku harus ke pub, tidak jauh dari sini," balas dengan setenang mungkin. Nara memijat pelipisnya lalu maju selangkah mendekati Aria. "Bisa tidak kamu berhenti jadi DJ? aku tidak mau melihatmu menjadi wanita yang suka keluyuran malam-malam." "Aku ke sana bukan untuk itu, ada sesuatu yang lebih mendesak," balas Aria mencoba menjelaskan dengan baik. Ia terlalu lelah berdebat soal pekerjaannya saat ini. "Baiklah ... tapi aku ikut." Berakhirlah Aria duduk bersampingan dengan Nara lagi. Ia sebenarnya akan menolak, namun ia takut sesuatu di pub akan bertambah buruk. Begitu sampai di tempat tujuan, Aria langsung masuk dan tentu saja diikuti oleh Nara. "Nadi!" seru Aria terkejut mendapati Nadi yang mulai kehilangan kesadarannya. "Untuk kau cepat. Nih anak tadi abis dikerjain sampai mabuk begitu, untung malam ini aku yang sedang main," ujar seorang pria yang memakai kaus bertuliskan watch me dengan celana pendek. "Thanks Erik, aku berhutang padamu," balas Aria mencoba memapah Nadi. Nara ikut membantu sambil melempar senyum kepada pria yang dipanggil Erik oleh Aria. Nadi ditempatkan di kursi belakang mobil, ia terus meracau tidak jelas dan membuat Aria ingin menampar Nadi agar cepat tersadar. "Aria! Kau pasti ada, hubungan dengan Alan ... kemarin aku melihat ... restoran." Demi apapun mata Aria membulat begitu mendengar ucapan Nadi yang kini membuat Nara meliriknya tajam. Ia rasanya ingin menyumpal mulut sahabatnya itu, sebelum berbicara tidak jelas lagi. "Dia mau diantar kemana?" tanya Nara sambil terus menyetir. "Nadi tinggal di apartemen dan kuharap Dave ada di sana," ujar Aria mengusap ponsel Nadi yang tadi diambil ditas milik Nadi. "Halo, Kak Dave, ini Aria, aku sedang bersama Nadi dan dia sedang mabuk." "Bawa saja ke apartemen, kebetulan aku sedang di sini bersama Gani." "Baiklah." Nara menoleh begitu lampu merah. "Kau mengenal Dave? Yang bekerja di perusahaan gim itu bukan?" "Mereka bersepupu." Nara hanya mengangguk singkat sebelum melanjutkan perjalanannya kembali. Sepanjang perjalanan keduanya terdiam, Aria memilih memandang keluar jendela mobil. Pintu apartemen terbuka setelah Nara menekannya sebanyak tiga kali. Di belakangnya sudah ada Aria yang memapah Nadi yang mulai tersadarkan, walaupun keseimbangan tubuhnya masih buruk. "Nara?" Dave menaikkan sebelah alisnya begitu menemukan sosok Nara di depan pintu apartemen. Di belakang Dave ada Gani yang memasang wajah tanpa ekspresi seperti biasa. Ada raut wajah putus asa dan kesedihan yang tersirat. Ia hanya singgah sebentar sebelum menghilang lagi. "Maaf sudah merepotkanmu Aria dan Nara," ujar Dave begitu berhasil memindahkan Nadi ke sofa untuk berbaring. Aria dan Nara hanya mengangguk. Mereka berdua sejenak bertukar pandang sekilas. "Masuklah, sekadar minum kopi mungkin?" ajak Dave. "Sebaiknya kami pulang. Sudah larut malam," tolak Nara secara halus. Aria hanya diam tak membalas, namun ia mengikuti Nara ketika menuju ke mobil. Nara dan Aria sekali lagi dalam keheningan. Langit semakin gelap, bintang bertambah bersinar. Dahi Aria berkerut ketika Nara menghentikan mobil di salah satu kafe, bukan langsung pulang. "Kopi?" ucap Nara sebelum keluar dari mobil. Sebuah kafe yang sebagian besar interiornya terbuat dari kayu menjadi pilihan Nara dan Aria yang kini duduk saling berhadapan. "Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Nara membuka menu yang baru saja diberikan pelayan kafe. "Apa maksudmu?" tanya Aria merasa pertanyaan ambigu. Apa yang ingin dia lakukan? Banyak! "Berhentilah bekerja di klub malam dan aku akan membantumu mendapat pekerjaan lebih layak," balas Nara membuat Aria tersenyum sinis. Baru akan melemparkan balasan sarkastik, tiba-tiba ia teringat tentang membantu Alan. "Baiklah ... aku butuh pekerjaan di mana, saat aku ingin pergi maka aku bisa melakukannya." Alis Nara terangkat. "Kau kira ada pekerjaan seperti itu?" Aria memutar bola matanya. "Kau tanya dan aku hanya menjawabnya. Lupakan, bagaimana soal ...," ia menatap pelayan kafe yang berjalan sana-sini bergantian membawa daftar menu atau menu yang telah siap. "Bagaimana jika pelayan kafe?" Mata Nara membulat mendengarnya. Raut wajahnya begitu terkejut dengan permintaan Aria, di antara semua pekerjaan yang dapat ia berikan, adiknya malah memilih menjadi pelayan kafe. Nara berusaha kembali normal. "Apa alasannya?" tanyanya. Aria terdiam. Bukan secara tiba-tiba ia ingin bekerja sebagai pelayan kafe, ada alasannya dan alasan itu tak perlu diketahui Nara. "Tidak bisakah kali ini kau membantuku tanpa bertanya?" balas Aria menatap dalam Nara. "Aku sebenarnya ingin menjadikanmu sekertaris pribadiku," ucap Nara yang beberapa detik kemudian membuat Aria tertawa, masih dengan nada sarkastiknya. "Apa kau sudah tidak waras? Untuk apa aku ikut campur soal perusahaan dan memikirkan menghabiskan waktu denganmu ... itu tidak mungkin," ujar Aria memerhatikan dua gelas kopi yang di hidangkan oleh pelayan. "Cepat atau lambat, kau harus bergabung ke perusahaan. Aku dan ayah akan menganggap saat ini kau sedang memberontak, tapi tidakkah kau berpikir menjadi pemilik perusahaan?" tanya Nara dengan raut wajah serius. "Aku tidak akan berperang denganmu untuk perusahaan itu. Ambil saja, dan aku sedang sibuk mengurus sesuatu yang lain," jawab Aria lalu menyesap kopinya. "Apa itu ada hubungannya dengan Alan?" tanya Nara lugas. Aria tersendak dan harus merasa panas pada lidahnya. "Kita tak sedekat itu untuk membicarakan urusan di luar masalah keluarga," balasnya meletakkan cangkir kopi di atas meja dan mengambil tisu membersihkan bibirnya. "Baiklah, aku akan membantumu bekerja sebagai pelayan kafe, dengan waktu jam kerja yang kau sukai. Aku akan mengaturnya," ucap Nara membuat mata Aria berbinar sesaat. "Tapi aku punya syarat," tambah Nara. "Apa itu?" tanya Aria kembali jengkel. "Sarapan, makan siang dan makan malam kita lakukan bersama, jumat, sabtu dan minggu," jawab Nara santai. "Apa? Itu tidak mungkin, maksudku aku dan kau harus bekerja terutama jam makan siang yang sulit. Sebenarnya semuanya sulit," tolak Aria merasa tak setuju dengan syarat yang diajukan Nara. "Aku akan memudahkannya untukmu. Aku yang mendatangimu atau kusuruh supir menjemputmu," balas Nara melipat tangan di depan d**a. "Kenapa harus begitu?" Kini suara Aria terdengar sendu. "Aku senang melihatmu makan." Deg. Aria terdiam. Lidahnya terasa keluh berkata bahkan matanya mengarah ke bawah. Namun pada akhirnya ia setuju syarat itu. Aria benar-benar mendapat pekerjaan menjadi seorang pelayan sebuah kafe dan resto. Jam kerjanya sendiri antara pukul delapan sampai pukul tiga sore. Tempatnya tidak jauh dari kantor Nara dan Aria tahu mengapa Nara memilih tempat itu. "Well, aku merasa surprise ketika Nara meminta tolong dan lebih kaget lagi bahwa kau adiknya, semasa kuliah dia tak pernah cerita punya adik," ujar Opi, pemilik kafe sekaligus teman kuliah Nara. Aria hanya tersenyum kikuk. "Kami dulu tidak tinggal bersama." "Oh begitu, pasti sulit berpisah dengannya karena masalah orang tua. Baiklah, kau bisa mulai bekerja, aku akan keluar sebentar," ujar Opi beranjak keluar dari kafe. "Ya sulit, tapi akan sulit lagi jika bertahan bersamanya," gumam Aria lalu menarik napas panjang. RX's cafe&resto hanya ada empat pelayan, Ria, Nadya, Selvi dan Aria sendiri. Sedangkan kokinya bernama Vino dan barista bernama Male. Identitas Aria sebagai adik sahabat Opi, ia sembunyikan dari pegawai lainnya dengan alasan etika. Pada hari pertama kerja, Aria hanya disuruh membersihkan dan dijelaskan tentang tata cara melayani pelanggan sehingga masih menyenangkan. Matahari mulai turun dari peraduan. Aria mengganti pakaiannya seperti sebelum bekerja. Ia berpamitan dengan rekan kerjanya sebelum pergi. Walau hanya menyapu dan mengepel lantai, tetapi badannya terasa begitu capek dan pegal. "Aria?" Sebuah suara menginterupsi langkah kaki Aria yang masih berada di depan kafe. Lehernya berputar dan menemukan sosok di seberang jalan, di depan kafe lain. "Alan?" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD