BAB 7

1719 Words
ARIA sudah memiliki agenda wajib yang telah disepakatinya dengan Alan. Bertemu diakhir pekan, sambil membicarakan rencana mereka. Sebenarnya Aria ingin curhat panjang lebar kepada Nadi mengenai masalahnya ini, tetapi mengingat sahabatnya itu sedang sibuk dengan tugas kuliah pascasarjananya jadi ia menundanya dulu. Tempat pertemuan pertama Aria dan Alan adalah sebuah kafe bergaya klasik dengan menu yang paling populer adalah kopi asli Indonesia. Aria tiba sepuluh menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Sinar matahari sore menembus kaca jendela di belakang Aria, membuat wanita itu memejamkan mata meresapi kehangatan yang ditimbulkan. Alunan secret love song milik Little Mix melengkapinya. ‘’and nobody knows I’m in love with someone’s baby….’’ Suara yang ikut bernyanyi membuat Aria terpaksa membuka matanya. Sosok yang memakai kemeja putih dengan topi  hitam langsung tertangkap pada kedua bola mata Aria, mulutnya bahkan sempat terbuka sedikit namun kembali terkatup secepat kilatan flash kamera. ‘’Kau sudah datang lebih awal,’’ ucap Alan yang awalnya duduk di depan Aria lalu bergeser sedikit karena sinar matahari yang menyilaukannya. Jadilah Alan seperti terkena bayangan tubuh Aria. Dan wajah sahabat Nadi itu tak terlalu terlihat jelas oleh Alan, kecuali sepasang mata bening kecokelatan yang sejak awal membuatnya takjub. Pengakuan pertama. ‘’Kenapa kau memilih tempat ini?’’ tanya Aria memulai dengan santai. ‘’Aku sering kesini waktu kuliah, dan percayalah kau akan menyukainya,’’ jawab Alan terlihat bahagia bercerita mengenai masa lalunya. Alis Aria terangkat. ‘’Kau kuliah di sini? Maksudku Indonesia?’’ Alan tertawa pelan. ‘’Apakah itu salah? Kau juga bukan?’’ ‘’Bagaimana kau tahu?’’ ‘’Mudah. Introvert dan sulit percaya, itulah dirimu. Aku punya banyak teman SMA yang kuliah di USA dan tak ada yang sepertimu, Kehidupan di luar sana pasti bukan untukmu,’’ ucap Alan terlihat serius. Aria terdiam lalu mengigit bibir bawahnya. Ia tahu dirinya dengan baik, introvert? Yah mungkin, untuk sulit percaya? Bukankah setiap orang atau sebagian orang juga begitu juka berhadapan dengan sesuatu yang baru. ‘’Mungkin kau belum bertemu Aria junior, Aria dua, tiga dan aku bukanlah aku yang sekarang,’’ balasnya diakhiri dengan senyuman. Alan terkekeh melihat respon jenaka Aria. Walau ia tahu dalam ucapan Aria ada sesuatu yang jelas tersirat. Ia secara tak langsung penasaran akan Aria dan kehidupannya. Mereka berdua mulai memesan sesuatu, tentu saja atas rekomendasi Alan yang disebutkan Aria sebagai orang yang lebih berpengalaman, Orang yang terlebih dahulu datang ke sini sebelum dirinya dan ia menyesalkan hal itu. ‘’Wow ini benar-benar luar biasa,’’ puji Aria setelah mencicipi kopi yang ia sendiri sudah lupa namanya. ‘’Sena sering ke sini juga.’’ ‘’Hah?’’ Aria menunjukkan wajah bingungnya begitu Alan menyebut nama seseorang yang terdengar asing ditelinganya. ‘’Orang yang akan kunikahi,’’ lanjut Alan membuat Aria menganggukkan kepalanya sedikit. ‘’Pasti kalian sangat dekat,’’ balas Aria memasang wajah seperti semula, datar namun santai. ‘’Kami berteman sejak SMA, cukup dekat tetapi bukan sebagai sahabat,’’ ucapan Alan kembali membuat Aria bingung. ‘’Friendzone?’’ ‘’Mungkin.’’ Aria terdiam bingung membalas apa. Ia tak pernah berurusan dengan hal semacam ini, ia bahkan tak pernah terjebak friendzone, tetapi sesuatu yang lebih buruk dari itu. ‘’Jadi kalian pacaran sekarang?’’ tanya Aria mencoba menghilangkan rasa canggung dan enak dengan bertanya kepo seperti itu. Ini demi kelancaran rencana mereka bukan? ‘’Tidak.’’ Jawaban Alan membuat Aria membulatkan matanya. Ia berpikir apakah hidup memang sesederhana itu? Menikah dengan temanmu sendiri tanpa proses pacaran. ‘’Maksudnya kami tidak secara jelas mengakuinya tapi rasanya sudah lebih dari sekadar kata pacaran. Lagipula istilah itu sudah tidak cocok untukku,’’ lanjut Alan mencoba menjelaskan kepada Aria. Ia hampir terkekeh karena reaksi Aria yang bingung bercampur kaget dengan bibir yang menahan tawa, namun ia sadar itu akan membuat wanita yang ditatapnya itu merasa tidak enak. ‘’Entahlah Alan, aku sendiri tidak berpengalaman soal hal-hal seperti ini,’’ Aria membuat kutipan dengan dua jarinya, ‘’jadi sebenarnya aku harus bagaimana?’’ *** Alan tak lantas langsung mengantar Aria pulang. Wanita yang memakai baju rajut lengan panjang dengan jeans dan sepatu boot itu memang datang ke kafe tadi memakai taksi. Sedangkan Alan membawa mobil pribadi. Alan mengajak Aria untuk menikmati jagung bakar yang rasanya manis. Seolah kalau mereka berdua yang sedang kasmaran. ‘’Jadi Sena dimana sekarang?’’ tanya Aria ditengah kunyahannya. ‘’Dia bekerja sebagai pegawai salah satu hotel, jadi selalu sibuk,’’ jawab Alan juga menyantap jagung bakarnya. Mereka berdua duduk dibangku kayu panjang yang mobil Alan terparkir tak jauh dari tempat mereka. Udara berada pada suhu yang baik, sehingga hembusan angin tidak terlalu kencang yang dapat menganggu kegiatan Alan dan Aria menikmati jagung bakar sambil memandang langit penuh bintang. ‘’Kurasa yang terpenting dalam hal ini adalah bagaimana membangun rasa kepercayaan Tante Vio kepada Sena, kau yang harus berperan aktif Lan,’’ ucap Aria telah menghabiskan jagung bakar miliknya. Alan menoleh dan secara tak sengaja Aria juga melakukan hal yang sama sehingga mata mereka bertemu. Mereka seperti itu selama sepuluh detik lalu Alan terlebih dahulu memutus kontak. ‘’Andai kau adalah bisa jadi dia. Pasti akan lebih mudah,’’ ucap Alan lalu bangkit dengan segera menuju ke mobilnya. Aria yang masih mencerna ucapan Alan hanya memasang wajah bingung, satu hal yang ia pahami saat ini bahwa apapun rencana Alan, ia sama sekali belum mengerti dan tahu posisinya. Semacam matchmaker tapi tak dekat dengan salah satu pasangan yang akan menikah itu. Sepertinya ia terlalu lama menyendiri. Ia butuh … Nadi. Aria pulang cukup larut. Sejenak ia berpikir bahwa rumah tak ada siapa-siapa kecuali asisten rumah tangga tentu saja. Namun salah, Nara telah duduk menikmati kopi sambil menonton televisi. Sesuatu yang tak pernah Nadi lihat sebelumnya. Tanpa suara Aria ikut duduk di sofa, samping Nara. ‘’Kapan Ayah akan kembali?’’ tanyanya memandang lurus ke arah televisi. ‘’Mungkin bulan depan, belum pasti,’’ jawab Nara sibuk memindahkan chanel dengan remote. Aria menarik napas panjang. ‘’Baiklah, selamat malam,’’ pamit Aria bangkit berdiri lalu sebuah tangan menahannya. ‘’Apapun yang terjadi … kita masih saudara,’’ ucap Nara seraya melepas tangan Aria. Tak ada balasan, Aria terus berjalan hingga ke kamarnya. Ia menghela napas panjang, mungkin inilah diterbaik untuknya. *** Alan menjemput Aria pukul sembilan pagi, sejam setelah kepergian Nara ke kantor. Mereka telah berencana untuk menyusun siasat bagaimana caranya agar Vio mau menerima Sena melalui bantuan Aria. Awalnya Aria pikir mereka akan pergi ke kafe seperti kemarin. Namun Alan membawanya ke sebuah tempat yang berada di sebuah tempat yang daratan cukup tinggal, namun belum bisa disebut seperti puncak juga. ‘’Aku punya kediaman pribadi di sini, ayo…,’’ ajak Alan membukakan Aria pintu mobil. Sebuah bangunan yang didominasi oleh kaca langsung tertangkap oleh mata Aria. Warna bangunan tersebut dominan putih, berbentuk persegi panjang yang tak bertingkat, sekelilingnya dipenuhi pohon pinus dan cemara dan jangan lupakan dua gazebo besar di halaman depan. Aria terperangah melihat tempat itu. ‘’Pasti sangat tenang di sini,’’ gumamnya masih terkagum. ‘’Aku akan membawa sejumlah camilan, minuman dan … dokumen?’’ kekeh Alan menatap Aria yang sudah tersenyum geli di dalam gazebo. Setelah kepergian Alan sejenak, Aria mengedarkan pandangannya sekeliling. Jika dilihat secara saksama ada beberapa bangunan lain juga di sekitar kediaman Alan, namun jaraknya cukup berjauhan.   Aria tersenyum memikirkan bagaimana rasanya tinggal di sini. Menghirup udara segar dari hasil fotosintesis pohon sekitar, duduk di gazebo sambil minum teh dan membaca novel, sungguh ia tak bisa menahan senyuman lebar di wajahnya tatkala memikirkan hal tersebut. Bahkan ia sendiri telah berpikir meminta satu bangunan di sekitar sini kepada ayahnya. ‘’Maaf lama, data milik Sena cukup lama kucari,’’ ucap Alan membawa nampan berisi minuman seperti kopi kalengan, air mineral dan teh dan beberapa camilan. Bukan hanya itu ada tas berisi laptop juga diselengpannya. ‘’Data Sena?’’ ‘’Iya, aku mau kau mempelajarinya, ini…,’’ Alan memberikan Aria sebuah flashdisk, ‘’Maksudnya membacanya, mungkin informasi itu berguna ketika Ibuku menanyaimu tentang Sena.’’ ‘’Aku rasa menceritakan tentang kehidupan Sena tak akan menarik untuk orang yang tak penasaran terhadapnya,’’ tambah Alan tersenyum geli. Aria terkekeh. ‘’Lebih tepatnya tak kenal maka tak terlalu yah … penasaran, lagipula Sena adalah wanita dan dia bukan selebritis. Tapi informasi seperti apa?’’ tanya Aria masing bingung. ‘’Basically… informasi tentang pendidikannya, keluarga, dan hobi atau mendasar lainnya,’’ balas Alan disertai anggukan kepala. ‘’Baiklah, aku mengerti.’’ Alan menarik napas. ‘’Jika ada yang tak kau mengerti tinggal hubungi aku saja,’’ ucapnya mengetuk layar ponselnya yang terletak di atas meja batu gazebo.  Aria hanya mengangguk mengerti. ‘’Waktu kuliah aku sering menghabiskan waktu bersama teman-teman, ah anak-anak Telaga Fajar,’’ ujar Alan mengingat-ingat. ‘’Telaga Fajar? Klub fotografi itu,’’ ucap Aria perneh mendengar nama Telaga Fajar. Ia ingat, Nadi pernah menjadi salah satu obyek foto klub itu beberapa tahun lalu dan mendapat salinannya sebagai hadiah. ‘’Bagaimana kau tahu?’’ tanya Alan terlihat senang ada yang mengenal klub yang pernah dimasukinya. ‘’Pernah mendengarnya, jadi kau suka memotret?’’ ‘’Dulu, fokus pada obyek alam, namun karena kesibukanku sekarang, aku beralih pada bacaan,’’ jawab Alan bercerita. ‘’Maksudmu seperti novel?’’ tanya Aria mulai tertarik pada arah pembicaraan. ‘’Yah lebih ke sejarah, kadang aku juga menonton film bergenre begitu.’’ ‘’Aku bahkan punya perpustakaan sendiri, beberapa koleksi dari teman juga,’’ ujar Alan diakhiri garis senyum dibibirnya. ‘’Aku boleh mengunjunginya,’’ balas Aria membuat Alan tertegun. ‘’Oh tentu saja, kau suka membaca?’’ tanya Alan dengan alis terangkat. Aria mengangguk tegas. Dan ketika kaki Aria memasuki sebuah ruangan yang berisi rak-rak buku, jantungnya berpacu seiring dengan aliran darah yang terasa memasuki setiap sudut-sudut jiwa hatinya. ‘’Heaven.’’    ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD