BAB 6

1349 Words
ARIA telah siap untuk bertemu dengan Alan. Dibanding memakai gaun, ia lebih memilih tampilan kasual dengan tata rias yang cenderung berwarna gelap. ‘’Mau kemana?’’ tanya Nara duduk di ruang tamu. Ia habis menerima tamu, atau lebih tepatnya rekan bisnisnya. Begitu melihat Aria matanya langsung menatap tajam. Aria menoleh dan menatap Nara tanpa ekspresi. ‘’Aku tahu kita serumah, tapi bukan berarti kau bisa ikut campur dalam kehidupanku. Kemana, dengan siapa dan apa yang kulakukan? Bukankah … kita sudah sepakat tidak saling mencari tahu hal-hal tentang itu, enam tahun yang lalu.’’ Nara masih dengan tatapannya. Jika ia mau, ia bisa saja membalas dengan seribu kalimat atau menghentikan Aria saat itu juga, namun belum saatnya. Waktunya akan tiba. Usai berkata begitu Aria langsung pergi meninggalkan Nara. Ia mengendarai mobilnya sendiri menuju salah satu restoran khas makanan Indonesia. Sepanjang perjalanan Aria benar-benar dalam keadaan mood yang kurang baik, bahkan ketika memegang kemudi, tangannya bergetar. Sepotong ingatan masa lalu perlahan muncul. Jalan raya seolah perjalanan mengulas kembali masa-masa yang ingin Aria lupakan, terlalu menyakitkan. Aria sampai sekitar dua puluh menit kemudian. Kemacetan di beberapa titik jalan, membuatnya dapat menikmati kota di malam hari. Gelap dan ramai bercampur menjadi satu, ia lebih memilih terang walau sendiri. ‘’Aku tidak menyangka kau akan memilih tempat ini,’’ ucap Aria datang lalu langsung duduk. Ia dengan mudah menemukan meja Alan, karena berada tak jauh dari pintu depan dan berada dekat jendela. ‘’Aku kurang begitu suka makanan westren, apa tidak masalah kita makan malam di sini?’’ tanya Alan tersenyum. Mulut Aria sedikit terbuka karena rasa ketidakpercayaannya. Selera Alan yang begitu klasik, sangat jarang ditemukan oleh Aria dengan latar belakang hedonis seperti itu. Kebanyakan teman kuliah Aria yang berjenis kelamin laki-laki dengan latar belakang seperti Alan biasanya memilih tempat yang makanannya hanya sedikit di piring, namun begitu mahal harganya. Setidaknya Aria pernah diajak sekali, dan tanpa rasa malu ia bilang bahwa perutnya masih kelaparan. ‘’Tentu saja tidak masalah, kuharap mereka menyediakan sate, itulah makanan khas Indonesia favoritku.’’ Alan tersenyum senang melihat respon Aria yang supel. Ia pikir akan menemukan seorang wanita yang cemberut dengan terpaksa makan nasi padang atau demi menjaga gengsi karena tak ingin dilabeli, wanita itu akan tetap makan bahkan jika hanya dua sendok.  Setelah memesan makanan masing-masing, Alan bermaksud berkata sesuatu. ‘’Apa tujuanmu mengajakku ke sini?’’ tanya Aria melihat tatapan Alan seperti menunggu sesuatu. Dari penuturan Nadi, ia tahu kalau Alan tipikal pria yang tidak asal mengajak wanita makan malam, bahkan Nadi belum pernah mendengar soal kedekatan Alan dengan seorang wanita. Aria bahkan sempat berpikiran tentang orientasi seksual Alan yang mungkin menyimpang. ‘’Baiklah, aku memang mengajakmu untuk sedikit meminta bantuan.’’ ‘’Bantuan?’’ ucap Aria tak mengerti, seorang Alan. ‘’Tapi sebelumnya, bisakah aku meminta sesuatu yang menjadi milikku?’’ ucap Alan lalu membuat pola melingkar pada jari tengah tangan kanannya dengan jari telunjuk tangan kirinya.  Aria yang mengerti bahwa itu adalah cincin langsung memutar otaknya mengingat keberadaan cincin itu sekarang. Sayang ingatannya yang tajam berfungsi membuatnya sekarang sadar, bahwa ia memakai cincin itu diacara lelang lalu melepaskannya di toilet dan tak mengambilnya kembali. Sudah pasti tempat seperti itu barang tertinggal akan hilang atau tak sengaja dibuang oleh tukang bersih-bersih. ‘’Aku menghilangkannya,’’ balas Aria jujur, namun anehnya Alan malah tersenyum. ‘’Itu memudahkanku, jadi aku ingin kau membantu ibuku agar menyukai seseorang,’’ ucap Alan tersenyum miring tanpa berbasa-basi lagi. Alis Aria terangkat. ‘’Apa maksudmu? Dan kenapa harus aku?’’ ia menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi bingung yang tak dapat disembunyikannya. Alan menghela napas gusar. ‘’Aku punya seseorang yang akan kunikahi dan Ibuku sepertinya tak menyukainya, jadi kuharap kau bisa membantuku.’’ Aria bangkit dari kursi dengan kedua telapak tangan terangkat, ia tahu maksud Alan. Sangat tahu malah, ini klise. ‘’Kau salah jika menganggap aku bisa, mungkin aku cukup kenal dengan Tante Vio, namun aku tak bisa melakukannya. Sepertinya makan malam ini tidak seperti yang diharapkan, aku pergi,’’ ucap Aria lalu buru-buru melangkah. ‘’Hei,hei rileks,’’ ucap Alan menahan Aria dengan menahan lengan wanita itu. Aria berbalik dengan raut wajah kesal. ‘’Sorry Lan, tapi bukan aku yang bisa melakukannya,’’ ucapnya sebisa mungkin menolak, tetapi masih dalam batas kesopanan. ‘’Terus bagaimana dengan cincinku?’’ tanya Alan mendekatkan wajahnya ke telinga Aria. Aria memutar kepalanya sedikit membuat hidungnya dan Alan nyaris bersentuhan. ‘’Kau mau mengancamku … dengan cincin itu?’’ ‘’Ya, kalau itu bisa membantuku,’’ jawab Alan dengan percaya diri. Demi menjaga kehormatannya juga nama baik keluarga, Aria dengan terpaksa kembali duduk berhadapan dengan Alan. Namun otaknya masih memikirkan berbagai cara agar dapat lepas dari ‘permintaan aneh’ Alan. ‘’Well, aku akan mengganti cincinnya, jangan khawatir, aku tidak akan lari dari tanggung jawab,’’ ucap Aria berusaha tenang, namun ketenangan lebih yang ditunjukkan Alan membuatnya tangannya yang memegang cangkir nyaris gemetar. ‘’Itu adalah desain khusus, dengan permatanya yang hanya ada tiga di dunia. Dua di antaranya berada di Kerajaan Arab Saudi dan Inggris,’’ balas Alan menatap Aria dalam keremangan di bawah cahaya lampu neon kuning. Ia mengamati wajah Aria yang tak dapat ia tampik bahwa begitu menarik. ‘’Jika kukatakan aku akan mendapatkannya bagaimanapun caranya, itu tak akan membantu. Lebih baik aku menyusup ke kamar Ratu Elizabeth daripada harus ke pembuangan sampah untuk mendapatkan permata yang serupa,’’ ucap Aria terunduk lalu menunjukkan senyum sarkastik, sedetik kemudian manik matanya bertemu dengan milik Alan. ‘’Akan kulakukan, sesuai permintaanmu.’’ Alan tersenyum penuh kemenangan. *** Aria menatap kosong ke arah makanan sarapan paginya. Jika kemarin-kemarin biasanya ia hanya sendiri untuk sekadar mengisi perut kosongnya di pagi hari, kini Nara satu meja dengannya. Ia mungkin tidak suka, namun permintaan Alan masih lebih menyita pikirannya saat ini. ‘’Kau hanya akan menatap roti itu sampai aku selesai makan?’’ tanya Nara masih fokus dengan sarapannya sambil membaca koran pagi. Aria yang tersadar langsung mengigit rotinya dengan kasar. ‘’Untuk apa aku menunggumu selesai,’’ ucapnya menatap Nara dengan apatis. Nara melirik Aria sekilas lalu fokus pada cangkir yang berisi kopi. ‘’Mungkin kau akan tak suka sarapan denganku.’’ ‘’Terserah, maksudku … mari kita lakukan secara normal. Sarapan bersama, makan malam bersama, bertanya aktivitas satu sama lain, yah seperti anggota keluarga pada umumnya, saling mengejek, saling curhat atau nonton bersama….’’ Aria mengatupkan bibirnya, sadar bahwa ia sudah cukup berlebihan. ‘’Tak masalah bagiku, mari kita lakukan,’’ ucap Nara menatap Aria dengan serius. ‘’Aku tahu ini sudah berlebihan, mungkin sarapan saja sudah cukup,’’ ucap Aria menutup pembicaraan lalu menghabiskan sarapannya. Aria selalu suka rumah yang ditempatinya ini. Kenangan bersama ayahnya yang kadang bermain dan mengajarinya berbagai hal seolah ia lihat disetiap sudut ruangan, memang ada beberapa hal yang berubah akibat renovasi, tetapi ia selalu merasa lengkap berada di sini. Namun kenangan yang lain juga menyisakan rasa sedih di tempat ini, dan bahkan mungkin tak akan pernah ia lupakan. Aria duduk di bangku taman belakang rumah. Di bawah pohon yang rindang, ia ingin merasa semua bebannya hilang sejenak. ‘’Aku akan keluar sebentar.’’ Nara muncul dan membuyarkan lamunan Aria. ‘’Untuk apa saling mengabari, lupakan ucapanku tadi,’’ ucap Aria menatap punggung Nara. ‘’Kuharap bahkan hanya beberapa saat kau menganggapku sebagai saudaramu,’’ ucap Nara masih memunggungi Aria. ‘’Fakta tak akan berubah, kau adalah kakakku. Kau bilang itu bukan ketika kita masih SMA, dengan lantang dan percaya diri di hadapan semuanya. Membuatku … lupakan,’’ balas Aria kini dengan genangan air mata, namun enggan untuk jatuh. ‘’jika tak kukatakan, apa yang akan berubah?’’ ucap Nara sebelum pergi.  Aria tersenyum miris. Apa yang akan berubah?  Tak ada, karena realitas terlalu jujur dan itu menyakitkan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD