SUARA langkah kaki terdengar teratur di lobi hotel bintang lima. Pria yang melangkah itu, Alan dengan santainya terus berjalan hingga sampai ke aula acara lelang. Karena terpaksa pelayan mengantarnya ke tempat duduknya setelah sebelumnya menunjukkan undangannya.
Alan mengucapkan terima kasih kepada pelayan setelah duduk di salah satu meja yang telah terisi oleh empat orang. Namun ia mengerutkan dahinya begitu melihat dua orang wanita yang dikenalinya. Tepatnya ia kenal Nadi yang sedang menatap tajam dirinya. Sedangkan wanita satunya yang dikenali sebagai teman Nadi sedang menatap terkejut dirinya.
‘’Sepatu stiletto dengan hiasan berlian berbentuk matahari milik Miss ND dilelang mulai tiga puluh juta.’’
Mendengar hal itu Aria menoleh ke Nadi. Mana mungkin ia tak tahu sepatu kesayangan Nadi juga nama samaran yang mudah ditebak olehnya. ‘’Apa yang kau lakukan?’’ tanyanya. Seingatnya Nadi sangat menyukai sepatunya itu hingga menjemputnya sendiri ke Itali.
‘’Aria, aku hanya ingin sesuatu berharga untukku dapat berguna bagi orang lain,’’ ujar Nadi dengan kata-kata bijaknya. Acara lelang yang sedang berlangsung memang diperuntukkan untuk kegiatan amal dalam rangka menolong penyandang difabel yang ada di Indonesia agar dapat memperoleh bantuan berupa, alat yang dapat membantunya beraktivitas dan sebagai sarana mengejar pendidikan.
Alan sekilas melirik saat Nadi berbicara pada Aria. Dan sekarang ia tahu namanya.
‘’Aku bahkan tak menyiapkan apapun,’’ kata Aria cukup merasa ganjil. Bukan salahnya juga karena Nadi datang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Ia mengambil segelas air yang tersedia di meja, tenggorakannya terasa gatal jika memikirkan hal itu. Ditambah kehadiran Alan yang cukup diingatnya. Di toko furniture, restoran, dan klub. Tetapi ia memilih mencoba mengabaikannya. Tanpa ia sadari bahwa ia memliki sesuatu yang diinginkan orang yang coba diabaikannya.
‘’Tunggu di sini,’’ ucap Nadi bangkit dan Aria hanya mengangguk bingung.
Alan hampir tersendak ketika minum. Itu terjadi saat melihat sesuatu di jari Aria. Matanya seketika melebar, menyadari dugaannya selama ini kalau cincin yang dicarinya berada pada wanita itu.
Aria tak sadar masih memakai cincin milik orang lain yang belum ia ketahui secara pasti. Kepalanya terasa sakit, mungkin efek terlalu lelah setelah kegiatan hari ini mulai pemotretan, makan siang dan sekarang acara lelang.
Baru saja Alan ingin membuka mulutnya untuk berbicara dengan Aria, namun wanita itu telah bangkit dan meninggalkan meja. Ia tak melepaskan pandangannya pada Aria yang tampak menghampiri salah satu pelayan yang berdiri belakang, gelagatnya sih menanyakan letak toilet.
‘’Baiklah, selanjutnya adalah lelang yang tak biasa, bukan sebuah benda. Tetapi makan malam eksklusif dengan putri dari Grup Mohika, dimulai dari sepuluh juta rupiah!’’
Seketika ruangan ramai. Ada yang berbisik-bisik membicarakan dan bertanya-tanya tentang salah satu perusahaan terbesar di Indonesia, ada juga terkekeh karena telah mengetahui siapa putri yang dimaksud.
Alan sendiri sedikit bingung, sampai Nadi kembali ke kursinya sambil menyerengai.
‘’Mana Aria?’’ sadar ketiadaan Aria dengan sigap Nadi kembali berdiri.
Alan yang notabene-nya duduk di samping Nadi menjawab, ‘’Kayaknya lagi ke toilet.’’
Nadi menoleh dan menatap tak suka Alan.
‘’Aish, padahal aku belum memberitahunya soal makan malam itu,’’ rengutnya lalu memutar badannya mencari-cari Aria. Mengabaikan sahutan Alan.
Alan tersenyum miring. Ia mengerti sekarang siapa putri Mohika, tak lain adalah Aria, wanita yang memakai cincin yang diinginkannya.
‘’Saya menawar lima puluh juta,’’ seru Aldo keras ketika penawaran sudah sampai pada 35 juta rupiah.
Nadi yang mendengarnya melotot. Namun pandangannya teralihkan ketika ponsel miliknya yang terletak di atas meja bergetar.
‘’Kau di mana?’’ teriak Nadi.
‘’Sori, aku balik duluan. Tadi supir Kak Nara datang jemput, lagi enggak enak badan.’’
Tut.
‘’Apa maksudnya pulang? Dasar Miss Mohika ini,’’ gumam Nadi meletakkan ponselnya di atas meja kembali sambil menarik napas panjang.
Nadi sedikit membuka mulutnya tak percaya rencananya gagal total. Ia berrmaksud untuk sedikit membuat kejutan buat Aria. Siapa tahu sahabatnya itu dapat menemukan seseorang yang cocok melalui makan malam yang ia rencanakan. Walau ia tahu Aria akan kesal setengah mati kepadanya, karena mengatur ini semua. Terutama jika orang yang harus ditemuinya adalah orang seperti Aldo. Ah iya ia lupa kalau penawaran masih berlangsung, jika tak ada yang menawar lebih tinggi dari Aldo maka terpaksa ia sendiri harus melakukannya.
‘’Tidak ada? Lima puluh juta?’’
Nadi memegang nomor miliknya. Bersiap-siap mengangkatnya, namun …
‘’Sembilan puluh juta rupiah,’’ seru Alan sambil mengangkat nomornya.
Nadi membelalakan matanya. Awalnya juga menolak Alan untuk makan malam dengan Aria, tetapi matanya menangkap sosok Aldo di belakang sekaligus teringat ucapannya soal memperkenalkan Aria dengan Alan. Apa yang akan dipikirkan Aldo jika ia juga ikut menawar?
‘’Ah, dasar mulut bodoh’’ gerutu Nadi memukul pelan pipinya, karena takut lipstik merahnya akan berpindah ke telapak tangannya.
‘’Sembilan juta rupiah, ada lagi?’’
Sepuluh menit berlalu, namun tak ada tawaran lagi. Maka makan malam dengan Aria berakhir dengan Alan. Dilain pihak Aldo sendiri bukan tak mau menawar lebih tinggi, bahkan ia dapat menawar lebih tinggi lagi jika mau. Tetapi di masa lalu ia pernah punya masalah dengan Grup Malhotra dan ia tak mau lagi mengalaminya. Oleh karena itu, kali ini ia memilih mundur.
***
Aria mengemas pakaiannya ke dalam koper. Rencana kepindahannya bukan sekadar gurauan semata yang dilontarkan Nara tempo hari. Buktinya laki-laki itu sudah berada di ruang tamu sambil menunggu Aria. Ia hanya sedang bingung sekarang, karena dompetnya hilang entah kemana.
Aria hanya membawa pakaian dan beberapa buku yang belum ia baca. Total kopernya ada tiga dan semua berukuran besar. Ia menarik silih berganti kopernya sampai ke hadapan Nara.
Nara memegang dua koper lalu menariknya keluar rumah tanpa berkata apapun. Aria hanya memasang wajah datar sambil menarik koper yang satunya.
Sepanjang perjalanan keduanya diam membisu. Aria membenarkan bahwa suasana saat ini sangatlah canggung, namun dilihatnya Nara terlihat biasa-biasa saja. Lagu Half Moon milik Dean lalu mengalun dari dalam sling bag-nya.
Alis Aria terangkat melihat nomor tak dikenalinya terpampang pada layar smartphone miliknya. Ia awalnya enggan mengangkat telepon itu, namun mungkin bisa jadi pilihan yang baik agar dapat mengurangi rasa kecanggungan akibat sikap diam dirinya juga Nara.
‘’Halo,’’ angkat Aria bersuara.
‘’Apakah benar ini Aria Mohika?’’ tanya suara di seberang sana.
‘’Ya, siapa yah?’’
‘’Saya adalah orang yang memenangkan lelang untuk makan malam dengan anda. Alan Malhotra.’’
Mata Aria melebar begitu mendengar kalimat yang dilontarkan orang yang mengaku bernama Alan Malhotra.
‘’Maaf, tapi sepertinya anda salah. Saya tidak pernah mendaftarkan hal seperti itu untuk dilelang,’’ ujar Aria mencoba tetap tenang.
‘’Nomor sosial anda telah diverifikasi dan benar itu adalah anda.’’
Aria terdiam sambil berpikir. Bagaimana nomor sosial yang bersifat pribadi miliknya bebas mengudara hingga sampai ke pelelangan.
‘’Baiklah, tapi di mana anda mendapat nomor saya?’’ tanya Aria lalu tak sengaja tatapannya bertemu dengan laki-laki di sampingnya. Awkward sekali.
‘’Nona Irnadi.’’
Aria mendesah dalam hati kini mengerti asal muasal hal ini bisa terjadi.
‘’Oke, nanti saya hubungi lagi,’’ ucap Aria butuh waktu.
‘’Maaf, saya orang yang cukup banyak kegiatan. Jika tidak keberatan saya ingin malam ini melakukannya.’’
‘’Baiklah, bagaimana dengan jam delapan?’’ usul Aria setuju. Lalu setelahnya ia akan beurusan dengan Nadi.
‘’Oke, saya akan mengirim alamat nanti. Kita bertemu di sana saja.’’
‘’Ya.’’
Aria melempar ponselnya ke dalam tas secara kasar. Ia mengela napas panjang lalu menurunkan kaca mobil. Mencoba menghirup udara yang kemungkinan besar telah tercemar oleh hasil pembuangan setiap kendaraan yang melintas.
Sejenak Aria pun melupakan kalau sedang duduk berdampingan dengan Nara. Entah mengapa hidupnya akhir-akhir ini mendapat kejutan yang tak terduga, mulai dari Nara akan kembali mengisi kesehariannya hingga masalah lelang.
Rumah megah dengan pekarangan luas langsung terpampang di hadapan mata Aria begitu mobil berhenti. Seorang pria berpakaian serba hitam membukakan Aria mobil layaknya seorang putri. Welcome back Aria!
‘’Kamu tahu bukan kalau Ayah masih di London, kamarmu ada di lantai dua, kurasa kamu tidak lupa. Pelayan akan membawa barang-barangmu,’’ ucap Nara lalu duduk disofa ruang tamu.
‘’Tidak bisakah aku tinggal di hotel saja sambil menunggu Tante Reina?’’ tanya Aria berbalik dan menatap Nara.
Nara menghela napas kasar. ‘’Di sana berbahaya dan kamu sekarang adalah tanggung jawabku. Berhenti memberontak, kamu sudah dewasa.’’
Nara bangkit dan meninggalkan Aria di ruang tamu. Ia menuju lantai dua, kemungkinan kamarnya yang juga berada di sana.
Aria memijit pelipisnya dengan napas tertahan. Ia belum siap dengan perubahan ini, masih butuh banyak waktu untuk memulainya. Persiapannya sungguh buruk.
Satu-satunya hal yang disukai Aria di kediaman barunya adalah taman belakang. Itu mengingatkannya pada ibunya, mereka berdua sering menanam dan merawat berbagai tanaman herbal, bukan sekadar bunga yang cantik saja. Dan sekarang taman itu telah ditiada, berganti dengan pohon kelapa pendek yang di bawahnya terdapat bangku kayu panjang. Mungkin ayahnya bukan bermaksud menghancurkannya, tetapi untuk membuang kenangan yang dapat membuatnya sedih lagi.
Ponsel Aria berdering dan ketika sebuah nama tertera dilayarnya wajah teduhnya berubah menjadi muram yang sebentar lagi mungkin akan menampakkan dua tanduk dikepalanya.
‘’Jangan katakan apapun, datanglah ke sini. Akan kukirim alamatnya,’’ ucap Aria memberi penekanan disetiap kata.
Tak berapa lama kemudian orang yang menelepon Aria datang dengan membawa mobil sendiri, siapa lagi kalau bukan Nadi.
‘’Ayo kita ke kamarku,’’ ajak Aria ketika Nadi berdiri dengan wajah menyesal di ruang tamu.
Di tengah perjalanan Aria dan Nadi ke kamar, mereka bertemu dengan Nara ditangga. Jika Nadi menatap kagum pada sosok Nara, maka Aria membuang mukanya.
‘’Apa kamu sahabat Aria?’’ tanya Nara sedikit mengulum senyum. Selama ini Nadi dan Nara memang belum pernah bertemu secara langsung. Aria hanya sesekali bercerita bahwa ia punya saudara, sebatas itu bahkan Nadi tidak tahu kalau saudara Aria adalah seorang pria.
‘’Ya, namaku Nadi,’’ balas Nadi mengulurkan tangannya.
Nara dengan senyuman menerima uluran tangan Nadi. ‘’Panggil saja Nara, Kakak Aria.’’
‘’Ayo kita ke atas saja,’’ Aria memutus obrolan Nadi dengan Nara bahkan berjalan cepat menaiki tangga.
Kamar Aria telah tertata rapi dengan segala perabotannya juga sangat rapi dan bersih. Beberapa pelayan tampak mengeluarkan barang dari koper Aria untuk disusun di tempat yang seharusnya.
‘’Keluarlah, nanti biar aku yang melakukannya,’’ instruksi Aria dan langsung diangguki kepala oleh para pelayan wanita itu.
Setelah pelayan pergi, Aria mempersilakan Nadi untuk duduk. ‘’Sebaiknya kau duduk dulu, sebelum aku mengutukmu.’’
Mata Nadi melebar mendengar ucapan Aria. Ia tahu apa yang akan dikatakan oleh sahabatnya itu, namun belum pernah ia lihat Aria sekesal dan sekalut ini.
‘’Aku minta maaf soal kejadian kemarin, maksudku tentang lelang itu. Kumohon terima ajakan Alan untuk sekali ini saja, setelah itu apapun yang kau minta akan kuturuti,’’ ucap Nadi dengan cepat bahkan Aria tak sempat memotong.
Aria menarik lalu menghela napas. ‘’Baiklah, apapun okay?’’
‘’Yes baby, anything you want.’’
Nadi mendekat dengan bangkit yang semula duduk di kursi perlahan mendekati Aria yang duduk di ranjang. ‘’Tapi apa benar tadi itu saudaramu?’’
Aria memutar bola matanya. ‘’Sudah jangan bahas dia.’’
‘’Kenapa? Aku tak tahu kalau kau punya kakak laki-laki yang begitu mempesona,’’ balas Nadi terlihat begitu tertarik membicarakan soal Nara.
Aria terdiam. Ia bingung harus berkata apa, satu sisi dirinya menyetujui bahwa Nara adalah sosok yang mempesona bukan hanya secara fisik, tetapi pembawaan dan sikapnya dan jangan lupakan soal kemampuannya dalam bekerja. Namun sisi lainnya ada hal yang menjadi dinding tebal untuk membuat Aria luluh akan Nara. Ia pernah, namun itu dulu.
‘’Apa dia sudah menikah?’’ tanya Nadi berbisik. Ia menatap lekat Aria yang sedang tertunduk.
‘’Setahuku, dia masih sendiri.’’ Aria sebenarnya tidak tahu apa-apa soal Nara yang apakah masih sendiri atau sudah memiliki kekasih, namun ia coba yakin atas perkataannya tadi demi melindungi perasaannya, setidaknya kali ini lagi saja.
‘’Jika aku mendekatinya, apa kau keberatan?’’ tanya Nadi membuat Aria tersentak.
Aria melirik Nadi lalu tersenyum miring. ‘’Terserah, coba saja.’’
Aria berpura-pura tidak peduli. Ia benar-benar menjadi seorang pendusta dan pengecut sekarang. Ia hanya tak bisa membayangkan bahwa Nara dan Nadi?Dan ia berada di antara keduanya.
‘’Sekarang aku butuh informasi tentang Alan, pukul delapan nanti kami akan makan malam bukan?’’
Namun masalah makan malam dengan Alan adalah hal yang mendesak sekarang.
***