JAM weker berbunyi. Aria terbangun dengan posisi terbalik dari posisi awal sebelum tertidur. Dengan malas ia melangkah ke kamar mandi untuk membasuh muka, namun rasa kantuk masih menyelimutinya hingga tak sadar menginjak tas yang dipakainya semalam.
Aria berjongkok lalu melemparnya ke ranjang dengan kasar, menyebabkan seluruh isinya berhamburan keluar. Dan lebih mengenaskan ia tak peduli dan memilih ke dapur untuk mencari sesuatu yang dapat dimakan. Ia baru ingat bahwa terakhir kali makan adalah ketika berada di restoran Itali bersama Nadi. Pantas perutnya bersuara sejak subuh tadi.
Sepi. Itulah gambaran kediaman Aria sekarang. Terletak di salah satu komplek perumahan mewah, di dalamnya hanya ada rumah berukuran sedang dan minimalis. Namun arsitektur, fasilitas dan kenyaman sekelas yang ada di iklan-iklan tv pada hari minggu biasanya.
Aria membuka kotak s**u lalu menuangkannya ke dalam gelas dan memanggang roti, bukannya makan di meja makan atau ruang tv, ia lebih memilih membawa sarapan paginya ke kamar, tepat ke ruang bacanya. Cetakan The Little Prince, salah satu jenis sarapannya pagi ini.
Baru membuka lembar kelima novel dengan halaman cukup sedikit itu, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dengan malas Aria kembali ke kamar tidurnya untuk mengecek kira ada panggilan darurat. Tetapi pas menemukan benda segi empat itu di atas ranjang panggilannya mati.
Kesal? Tentu saja. Aria hendak memutar badan untuk kembali ke ruang baca, namun sebuah benda berkilau entah karena cahaya lampu yang belum dimatikan atau terpanaan sinar matahari pagi, ia tak mengerti. Yang jelas benda berkilau itu menarik perhatiannya dan segera meletakkannya di telapak tangan.
Sebuah cincin, tetapi punya siapa? Baru memutar otak untuk memikirkannya, bel berbunyi. Dengan menggerutu Aria memasukkan cincin itu ke dalam dompetnya yang berada di atas ranjang. Lalu pelan pergi mengecek siapa tamunya sepagi ini. Lewat monitor dekat pintu ia tak melihat siapa pun, akhirnya dengan terpaksa ia membuka pintu dan tak lama kemudian Nara masuk. Muncul dari samping pintu. Jenius sekali.
‘’Ayo kita sarapan di luar,’’ ajak Nara menatap Aria yang masih terkejut dengan kedatangan kakaknya itu.
Aria menghela napas. ‘’Aku sudah sarapan,’’ ucapnya. Sebenarnya baru dua kali mengigit roti bakarnya, untungnya susunya telah habis dalam satu tegukan.
‘’Kalau gitu, nanti kita makan siang bersama,’’ usul Nara mulai berbalik akan pergi.
‘’Tunggu,’’ sergah Aria. Dan Nara berhenti, namun tetap memunggunginya.
‘’Tidak usah repot-repot, aku bisa makan sendiri,’’ tolak Aria dengan nada hampir tak terdengar.
‘’Aku tahu ini mungkin masih sulit bagimu … juga untukku, tapi mari kita lakukan dengan biasa, normal dan baik,’’ balas Nara dengan nada sedikit memelas.
‘’Besok kita ada pemotretan keluarga untuk sebuah majalah, kuharap kau bisa datang sekaligus kita bisa makan siang bersama.’’ Usai mengatakan itu Nara langsung pergi, meninggalkan Aria yang lagi-lagi berdiri mematung. Untung saja sarapan tidak jadi dilakukan oleh mereka berdua.
Sadar selama ini caranya salah. Menghindar, berpura-pura baik-baik saja, menerima kenyataan. Namun tak mudah, butuh waktu. Tetapi sampai kapan?
***
Di sinilah Aria berdiri sekarang, dekat Nara berdiri sambil tersenyum dengan ayah mereka duduk tepat di depan. Dengan memakai dress putih panjang, sangat cocok dengan Nara yang memakai setelan hitam dengan dasi kupu-kupunya. Satu hal yang sama antara mereka berdua adalah mata cokelat, lainnya berbeda. Aria memiliki badan dengan tinggi normal 160 cm, rambut sedikit bergelombang dengan warna kecokelatan buatan, dan bibir kecil sedikit tebal bagian bawah. Sedangkan Nara cukup tinggi 185 cm dengan otot yang terlihat cukup jelas jika ia memakai kaus atau kemeja dan bibir tipis. Aria memiliki kulit putih pucat, sedangkan Nara putih biasa.
‘’Apa kau sudah punya pacar atau mungkin tunangan?’’ tanya Thomas melihat cincin yang dipakai Aria saat sedang berlangsung makan siang di sebuah restoran jepang.
Aria terkesiap. Ia ingat sebelum pergi ke tempat pemotretan, tanpa sengaja cincin terjatuh saat akan membayar uang parkir sehingga untuk menghindari hal itu terjadi lagi, tanpa sadar memakainya terus bahkan saat pemotretan. Jika boleh ia ingin meralat hasil foto itu sekarang juga, tetapi siapa yang akan peduli dengan cincin yang terpasang di jari manisnya.
‘’Kenapa ayah bicara begitu?’’ tanyanya pura-pura tak mengerti.
‘’Cincin di jarimu.’’ Thomas menunjuknya dan Nara melirik sekilas lalu kembali makan.
Aria dapat melihat reaksi Nara lalu tersenyum sinis. ‘’Punya cincin tak berarti punya pacar, sama halnya mencintai tak harus bersama bukan?’’ katanya tenang sambil mengangkat kelima jari tangan kanannya, menunjukkan cincin itu kepada Thomas yang ada di depannya juga Nara.
Nara meletakkan sumpitnya lalu beralih menatap Aria. ‘’Mulai besok pindahlah ke rumah atau aku akan tinggal bersamamu, Ayah akan ke London untuk dua bulan dan Tante Reina akan kembali tiga minggu lagi jika kesehatan Kakek membaik,’’ katanya lalu bangkit dan meninggalkan meja.
Aria menggerutu dalam hati. Kehidupan tenangnya akan terenggut lagi. Sebelum pindah ke rumahnya sekarang, setiap hari ia akan menjalani kehidupan dengan pelayan yang selalu mengurus keperluannya bahkan membangunkannya pada pagi hari. Bukan ia tak suka, hanya saja sesekali ia juga ingin merasakan namanya mengurus diri sendiri. Tetapi enam tahun belakangan ia berubah menjadi pribadi yang mandiri, walau cukup kacau juga. Apalagi soal pekerjaan, untung ayahnya menopang dengan kartu kredit dan deposito yang banyak.
‘’Turuti saja Nara kali ini, mungkin sudah saatnya kali—‘’
‘’Akan kulakukan, Ayah tidak usah khawatir. Aria … baik-baik saja,’’ potong Aria sebelum Thomas menyelesaikan kalimatnya. Ia tahun ayahnya yang bersamanya sejak kecil selalu memerhatikan dan khawatir padanya, namun sekarang ia harus lebih dewasa menghadapi semuanya. Beban pekerjaan cukup berat dipikul ayahnya, ia tak mau masalah dirinya dan masa lalu menjadi masalah bagi Thomas pula. Walau ayahnya juga sempat merasa terpukul juga.
***
Penculikan terjadi pada malam hari. Iya Aria sedang diculik seorang wanita yang memakai dress panjang berwarna hitam, lengkap dengan topengnya. Anehnya dalam proses penculikan Aria dipaksa memakai sebuah gaun panjang berwarna biru navi dengan heels setinggi 7 cm, tak lupa topeng berhiaskan imitasi bulu cenderawasih. Namun topeng itu tak jadi dipakainya dengan alasan ribet.
Nadi tersenyum semringah begitu berhasil membawa Aria sampai ke mobil sport miliknya. Ia adalah penculik seksi malam ini. Ia melepas topengnya agar bisa melihat jalan lebih jelas.
‘’Kali ini apa?’’ tanya Aria melirik sekilas Nadi lalu kembali menatap ke depan. Mobil sudah berjalan meninggalkan halaman rumahnya.
Sebelumnya setelah acara pemotretan dan makan siang, Aria langsung kembali ke rumah untuk beristirahat. Terutama bagian bibirnya. Senyum terpaksa dihadapan Nara adalah salah satu kegiatan yang menguras tenaga baik fisik maupun mentalnya hari ini.
‘’Ada acara lelang yang bagus malam ini,’’ balas Nadi tersenyum lebar sambil setiap menggerak-gerakan stir mobil dengan agresif.
Aria tak membalas, hanya menghela napas. Kejadian seperti ini bukan pertama kali baginya. Setidaknya Nadi sudah sering melakukan ‘aksi ajak tanpa pemberitahuan’ padanya, terutama acara ulang tahun teman-temannya.
Sekitar dua puluh menitan perjalanan mobil yang ditumpangi Nadi dan Aria berhenti di salah satu hotel bintang lima dengan bangunan yang tentunya tinggi menjulang.
Aria senang setidaknya acara lelang yang dihadirinya cukup ramai sehingga ia dapat tenggelam dalam lautan manusia. Artinya bebas pulang tanpa merasa canggung jika sewaktu-waktu acaranya membosankan atau tidak sesuai harapannya. Sebuah aula besar menjadi tempat acara lelang dilaksanakan, selain itu harus ada undangan untuk menghadirinya. Tentu saja ia tak punya, namun Nadi memlikinya sehingga dirinya diizinkan masuk juga.
‘’Miss Mohika?’’
Aria menoleh begitu seseorang menyebut nama fam-nya. Dan seketika itu pula ia kembali memutar kepalanya ke posisi semula. Ia baru saja melihat 'penampakan' dalam wujud manusia.
‘’Wow, kau terlihat indah dalam balutan gaun itu,’’ ucap orang yang bernama Aldo. Lengkapnya Aldoko Pintara Bakoso, teman sekampus Aria dulu. Penampakan yang dimaksud Aria.
‘’Thanks,’’ balas singkat Aria tak tertarik.
Aldo berjalan lalu berdiri di hadapan Aria dengan senyuman lebar. Ia memakai setelan hitam dengan kemeja putih, celana kain hitam dan sepatu kulit hitam merek terkenal. Semua tampak normal saja jika dimata orang lain. Namun tidak bagi Aria dan … Nadi. Penculik seksi itu berjalan mendekati Aria dan teman lama-nya dengan tatapan tajam.
‘’Hai Nadi,’’ sapa ramah Aldo begitu melihat Nadi.
‘’Yah, maaf tapi aku punya urusan lain dengan Aria,’’ ucap Nadi memegang tangan Aria, bermaksud membawa pergi sahabatnya jauh dari Aldo.
‘’Hei, hei, tunggu dulu.’’
Aldo dengan sedikit berlari menghadang jalan Nadi dan Aria. ‘’Urusan apa?’’ katanya penasaran. Kepo seperti biasa, dulu.
‘’Memperkenalkan Aria dengan seorang pria,’’ ucap Nadi asal.
Aria membelalakan matanya lalu menormalkan raut wajahnya kembali seraya menatap serius Aldo. ‘’Hm, yah lebih tepatnya membicarakan lebih lanjut hubungan … aku dan seorang pria.’’
‘’Siapa pria itu?’’
Pertanyaan Aldo membuat Aria bingung, namun Nadi melangkah maju mendekati Aldo hingga jarak keduanya tak kurang satu meter. ‘’Alan.’’
Aria tak dapat mendengar ucapan Nadi, selain jaraknya cukup jauh ada juga suara musik klasik yang sedang mengalun. Tetapi belum sempat ia bertanya Nadi telah membawanya atau lebih tepatnya menyeretnya untuk duduk di salah satu meja bundar, dimana setiap satu meja terdapat enam orang yang menempatinya.
‘’Aku tak percaya dia ada di sini,’’ ucap Nadi kesal begitu telah duduk di samping Aria.
‘’Aku juga, untung kita tak satu meja dengannya,’’ balas Aria melirik Aldo yang berada di belakang, beberapa meja darinya.
Aldo sebenarnya dulu secret admier Aria yang memberinya berbagai macam benda seperti bunga, cokelat, dan boneka yang dititipkan lewat orang lain. Namun begitu ketahuan, Aldo bukannya malu malah menembak Aria saat acara penyambutan MABA. Semester lima, Aria tak mungkin melupakan masa-masa suram itu. Sejak saat itu Aria akan membuang segala kiriman tak jelas untuknya. Nadi adalah saksi bisu kejadian masa lampau mengenaskan itu. Tetapi bukannya berhenti, Aldo malah menjadi-jadi, itu lah alasan kenapa Aria malas ikut Unit Kegiatan Mahasiswa, karena Aldo merupakan anak UKM seni khususnya bidang teater.
Pembukaan acara lelang berlangsung cepat dengan moderator yang cukup menghibur dengan berbagai candaan ringan, namun cerdas tak terdengar bodoh. Ada berbagai barang yang dilelang, kebanyakan benda yang tergolong langka, mewah atau mantan pemiliknya yang terkenal seperti tas yang dulunya milik Victoria Bechkam, siapa yang tak mau? Bahkan sekarang Nadi ikut andil di dalamnya, terbukti dengan nomor yang dipegangnya. Saat pemeriksaan undangan sebelumnya, setiap tamu memang diberi setiap nomor yang hanya perlu mengangkatnya lalu menyebutkan angka penawaran saat akan membeli sebuah barang.
Aria hanya menonton acara rebutan itu, seperti yang ia duga bahwa ini bukan style-nya bahkan semakin risih dengan tatapan Aldo yang kadang tak sengaja dilihatnya.
Ini benar-benar bukan Aria banget. Beda dengan dulu.
***