ALAN tahu ini keputusan terbodoh yang ia sedang lakukan. Bersembunyi dalam sebuah tempat yang dipenuhi gerlap-gerlip cahaya dan suara musik yang keras. Beberapa menit yang lalu ia baru saja kabur dari ibunya dari sebuah kencan buta yang tak direncanakan sama sekali. Harusnya ia tahu bahwa ada yang salah ketika ibunya mengajak untuk makan malam berdua. Hal yang langka dilakukan oleh mereka berdua. Biasanya Vio lebih suka dinner dengan suami sekaligus ayah Alan-Bayu atau teman sosialitanya dan Alan lebih suka makan sendiri dengan damai ditemani film dokumenter tentang pencarian peninggalan Kerajaan Romawi.
''Alan,'' seru seseorang lalu menepuk bahunya.
Alan berbalik dan melihat seorang pria yang dikenalnya, Dava. ''Kau di sini?'' tanyanya menaikkan satu alisnya. Cukup terkejut mengetahui bahwa teman satu SMA-nya itu datang ke tempat seperti ini. Maksudnya, dulu Dava tidak suka pergi ke klub-klub malam. Secara Ketua Osis waktu sekolah dulu.
''Aku sedang mencari seseorang,'' balas Dava dengan raut wajah cemas. Matanya berkeliaran dan napas berburu. ''Kau sendiri?''
''Bersenang-senang,'' jawab Alan tersenyum.
Dalam hati ingin menjawab hide and seek.
''Baiklah, aku pergi dulu.'' Dava menepuk pelan bahu Alan sebelum menghilang di antara kerumunan orang yang sedang menari tak jelas.
Klub yang dimasuki Alan termasuk cukup mewah dengan harga yang sepadan pula, jadi tidak sembarang orang yang masuk ke sana dan tentunya bebas dari namanya n*****a karena pemeriksaan yang cukup ketat. Dengan santai Alan berjalan menuju bartender dan memesan minuman. Non alcohol, ia tahu besok ada rapat perdananya di perusahaan, dan sambil menikmati minuman, matanya memerhatikan isi klub. Tak jarang ada beberapa wanita mengajaknya kenalan, namun diabaikan. Kejam. Memang, karena ia tak suka hal-hal yang merumitkan. Bayangkan jika ia harus menyerahkan nomor ponsel atau ID akun sosial medianya, pasti akan sangat merepotkan meladeni mereka. Oleh karena itu, sekarang ia lebih memilih untuk...
''Gani!'' sebuah seruan keras datang ke arah Alan lalu disusul dengan seorang gadis yang berlari diikuti seorang wanita yang mengejarnya.
Awalnya Alan ingin mengabaikan aksi kejar-kejaran itu, tetapi dibelakang wanita itu ada Dava yang juga mengambil bagian dari aksi tersebut, Ia bangkit dari tempat duduk dan bermaksud bicara dengan Dava, namun gerakannya lambat sehingga tanpa sadar ada lagi wanita yang lari setelah Dava. Jadilah Alan ditabrak wanita tersebut. Semua seolah slow motion. Mata mereka bertemu. Otak mereka bekerja. Flashback samar terjadi.
Dahi wanita itu berkerut sejenak, sedangkan Alan hanya memasang tampang datar lengkap dengan mata kecokelatan dan alis tebalnya. Wanita dan Alan sama-sama jatuh terduduk, kemudian si wanita buru-buru bangkit sambil mendengus dan memungut isi tas kecilnya secara acak setelah terhambur keluar. Lalu kembali berlari lagi.
Alan masih memandangi wanita itu yang telah lenyap dibalik tembok yang diyakininya mengarah ke luar klub. Ia sendiri lalu bangkit dan membayar minumannya lalu pergi juga. Tetapi baru beberapa langkah ia berhenti, menatap jari tangan kanannya. Cincin. Ia kehilangan benda itu.
Sadar hal itu Alan langsung membayangkan seorang wanita yang akan marah dan kesal kepadanya. Dengan segera ia mulai mencari di lantai dan celah-celah kursi, namun tak ditemukannya, Dan harapan satu-satunya adalah wanita yang menabraknya, kali saja wanita itu memungutnya tadi karena cincin yang sejak kemarin melingkar dijari manisnya memang longgar. Alasannya? Simpel, secara bukan milik Alan sendiri.
***
Aria menjatuhkan dirinya ke sofa dengan napas terengah-engah. Di sampingnya ada Nadi dengan keadaan yang sama.
''Kalau begini terus, kakiku bisa patah,'' keluh Nadi melepas sepatu boot berhak miliknya.
Aria terkekeh. ''Tapi itu bagus untukmu ... penurunan berat badan alami.''
Nadi mendengus.
Mata keduanya lalu teralih saat pintu sebuah kamar terbuka. Memunculkan sosok Dava dengan keringat bercucuran.
''Apa dia sudah tidur?'' tanya Nadi.
Dava mengangguk pelan lalu duduk juga di sofa, di depan Aria. ''Makasih udah bantuin,'' katanya tersenyum.
''Ini juga bukan pertama kalinya,'' balas Nadi dengan nada mencibir.
''Maksudnya buat Aria, dia kan tadi lagi asik-asiknya kerja lalu gangguin dia waktu Gani kabur ke klub,'' ucap Dava menatap Nadi santai.
Pipi Nadi memerah. Tetapi bagaimana pun ia juga ikut membantunya bukan. Baru akan membalas, namun semua lenyap di ujung lidahnya ketika Dava mengacak rambutnya saat akan menuju ke dapur yang berada di belakangnya.
''Tapi buat my lovely cousin, jus apel?'' Dava meletakkan kotak minuman berisi jus apel di meja depan Nadi dan Aria.
Nadi tersenyum. ''Thanks, berhentilah minum itu,'' katanya setelah melihat bir kalengan ditangan Dava. Ia lalu menuju dapur dan mengambil botol air mineral di kulkas.
Dengan helaan napas ia menggantikan bir kalengan itu dengan botol air mineral ditangan Dava langsung. Setelah itu ia juga memberi Aria hal yang sama.
Aria tersenyum melihat tingkah Nadi. Kepedulian sahabatnya itu. Ia melirik jam tangannya dan waktu menunjukkan hampir tengah malam.
''Aku pulang dulu yah,'' ujar Aria bangkit berdiri.
''Aku yang antar, mobilmu pasti ketinggalan di parkiran klub bukan?'' tawar Nadi.
Aria menggeleng. ''Gak ah, nanti kau pulangnya gimana? Udah tengah malam lagi,'' tolaknya halus.
''Biar aku saja, kau jaga Gani saja,'' ucap Dava mengambil kunci mobil di meja dan Aria mengangguk setuju.
''Hati-hati,'' ucap Nadi melambaikan tangannya dengan raut wajah cemberut.
Aria mengucapkan terima kasih kepada Dava lalu masuk ke dalam rumah. Namun baru melewati ruang tamu yang selanjutnya mengarah ke kamarnya, lampu menyala.
''Darimana saja?''
Sebuah suara menginterupsi langkah kaki Aria. Membuatnya berhenti, namun tidak berbalik melihat orang itu, Karena ia tahu siapa orang itu. Nara Eloise Mohika. Kakak laki-laki satu-satunya.
''Klub,'' jawab singkat Aria. Jika harus mengatakan tentang dirinya yang berada di apartemen Nadi dengan segala sebabnya maka akan sangat merepotkan untuk menjelaskannya. Lagipula Nara mungkin tak akan peduli.
Suara sepatu mendekat dan Aria dapat merasakan hal itu. Dengan sekali tarikan, badannya berbalik dan menghadap ke arah Nara, namun ia memilih menunduk. Tak menatap pria yang tengah menatap intens dirinya.
Nara menghela napas berat dan memegang kedua bahu Aria. ''Bisa tidak kamu berhenti jadi DJ dan mencari pekerjaan yang lain?''
''Tidak.''
''Baiklah, kalau begitu ... mulai besok saya akan tinggal sama kamu,'' ucap Nara lalu mengambil jasnya di sofa.
''Gak usah, masih ada Tante Reina yang menemani saya,'' balas Aria menolak kehadiran Nara.
Sejak enam tahun lalu Aria memutuskan tinggal bersama saudara ayahnya, Reina. Sedangkan ayahnya sendiri, Thomas Mohika tinggal bersama Nara. Dan ibu mereka telah meninggal dua tahun yang lalu.
''Tante Reina kembali ke Boston tadi siang, kesehatan Kakek menurun,'' jelas Nara mengapa ia akan tinggal bersama Aria.
''Saya pulang dulu, kunci pintu dan istirahatlah.'' Nara akhirnya keluar dan Aria masih berdiri mematung tak bergerak.
Aria merasakan matanya memanas. Bagaimana mungkin ia harus tinggal dengan Nara? Mungkin itu terlihat normal bagi keluarga lain, toh mereka juga saudara, walau tak seayah. Tetapi itu berbeda dengan Aria, menghindari Nara adalah salah satu alasan mengapa ia memilih tinggal berpisah dengannya juga ayahnya yang paling dekat dengan dirinya. Thomas sendiri sudah menganggap Nara senagai anak kandungnya bahkan mempercayakan perusahaan pada Nara. Ingatan Aria enam tahun lalu seolah terputar kembali. Walau dirinya tak sesakit dan sekecewa yang dulu, namun kadang-kadang rasa itu datang kembali. Merobohkan pertahanan yang susah payah dibangunnya.
Sesuai saran Nara, dengan cepat Aria mengunci pintu depan dan langsung menuju kamarnya bukan untuk langsung tidur. Ia menuju ruang baca dan membaca sebuah novel. Satu hal yang disukainya, namun tak dipercayainya. Ia selalu menganggap bahwa kehidupan tak akan pernah sama dengan novel yang memiliki akhir yang jelas, apakah itu happy or sad ending? Kepercayaannya itu bermula ketika dirinya memutuskan pindah ke rumahnya sekarang. Ia sudah lelah bermain sandiwara dan ingin menjadi Aria yang baru.
***