Epilog : Malam di Vienna

2600 Words

“Papa, ayolah.” Pupil mata yang mengecil itu menguar binar-binar permohonan. Memelas lugu. Siapa yang tidak luluh melihatnya? Ditambahi dengan suaranya yang cempreng dan ceria; perpaduan paling menyesatkan untuk membuat siapapun rela berkorban demi memenuhi pintanya. “Mau, ya?” Maka Antara tidak bilang apa-apa lagi, pria itu lantas mengulurkan sebelah tangannya yang kekar—membuat jerit kebahagiaan gadis kecil di hadapannya itu terdengar nyaring. Si gadis kecil lalu melonjak dengan gembira. Gaun warna merah muda yang dikenakannya pun berdesir-desir heboh. “Papa mau pakai warna apa?” Suaranya yang lucu itu menggema di dalam kamar hotel. “Kuning, merah, hijau?” “Biru.” Jawab Antara sekenanya. “Eh, biru?” Si gadis kecil menimbang-nimbang dengan ekspresi serius. Lalu menyengir, “Enggak ah,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD