Bab 9 - Bukan Yang Dulu

2191 Words
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ "Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya." (HR. Thobroni) Hari ini Claudia harus memutuskan semuanya, dia harus bertindak sebelum semuanya menjadi lebih rumit. Claudia sudah pikirkan ini sehari semalam. Sampai di depan pintu salah satu rumah, Claudia menarik napas dan mengembuskannya, lalu memberanikan diri untuk mulai mengetuk. Diketuknya pintu, berupaya mengusir gentar yang datang untuk menakut-nakuti. Tak lama kemudian sosok pria membuka pintu, dia sedikit terkejut dengan kedatangan Claudia yang tiba-tiba. "Assalamu'alaikum." "Waalaikumussalam," jawab Dean masih terheran-heran. "Aku ke sini ingin meneruskan pembicaraan kemarin. Tidak seharusnya kemarin kamu pergi begitu saja. Ada hal yang harus aku sampaikan." "Hal apa? Apa itu hal yang mendesak sampai kamu nekat datang kemari?" "Aku merasa bersalah jika aku memilih Mario. Maka dari itu, aku memutuskan untuk memilih kamu." Dean terpegun mendengar jawaban Claudia. "Memilih aku?" "Aku merasa bersalah, jika aku kembali pada Mario. Lagi pula, dia tidak akan mau." "Lalu bagaimana dengan perasaanmu? Aku tidak mau menikah karena sebuah paksaan. Hasilnya tidak akan baik." "Maafkan aku, ini salahku, aku yang selama ini tidak bisa melupakan dia." "Ini bukan salahmu, Clau. Tapi ini salahku juga. Aku yang terlalu berharap dan yakin pada sesuatu yang belum tentu aku miliki. Aku telah salah, karena mencintai kamu yang belum tentu jodohku. Sekarang aku mengerti, tidak seharusnya aku mencintai seseorang yang belum tentu menjadi jodoh sebenarnya. Seharusnya aku bisa menahan." "Ini salahku. Aku yang memberikan harapan itu." Dean terdiam selama beberapa jenak. "Jika saja dulu aku tidak menyuruhmu untuk menunggu, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini. Ini salahku. Ini semua salahku." "Kita berdua sama-sama salah." "Lalu bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?" nada suara Claudia terdengar frustrasi. "Cobalah nyatakan semuanya pada Mario." "Aku takut, aku takut dia tidak akan mau menerimaku lagi." "Apa salahnya mencoba, Clau? Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari." "Aku tidak akan menyesal. Justru aku akan menyesal, jika aku tetap bersikukuh untuk mendapatkan cinta Mario, lalu aku akan kehilangan kamu. "Kan sebelumnya sudah aku katakan, jika kamu gagal, kamu boleh kembali padaku. Aku akan menerima apa pun risikonya." "Aku tidak mungkin melakukan hal itu. Aku tidak bisa menjadikanmu pengganti ketika apa yang aku inginkan tidak ada." "Cobalah, Clau! Kamu lebih baik menyesal karena melakukan sesuatu, daripada kamu menyesal karena tidak melakukannya sama sekali. Percayalah padaku." Claudia terdiam selama beberapa saat, menatap manik mata Dean begitu dalam. Mencoba mencari titik keikhlasan dari sorot matanya. Perlahan Dean mengangguk untuk menegaskan dan meyakinkan. "Baiklah, akan aku coba." Terdengar lirih, pelan, seakan berada di ujung keputusasaan. Seolah hanya itulah yang bisa ia lakukan. Seolah itulah keputusan final. Dean mengangguk lagi, walaupun dia juga ikut merasa berat. Tapi jika ini yang terbaik untuk Claudia, dia bisa apa? Mencintai bukan berarti harus memiliki. Tapi mencintai adalah mendukung dia yang dicintai bahagia. Membahahiakannya adalah prioritas utama, itulah cinta yang sebenarnya. Tidak ada yang bicara lagi, sampa akhirnya Dean kembali masuk, dan menutup pintu, meninggalkan Claudia yang masih berdiri mematung. Dia seolah melihat Dean untuk terakhir kalinya. Dia seolah merasa ini adalah pertemuan terakhir mereka. Claudia pun berbalik, melangkah pelan, sesekali menengok ke belakang, menatap pintu rumah Dean yang tertutup rapat. Ia berjanji, tidak akan menginjakkan kaki di tempat ini lagi, apalagi harus menghadapi Dean, Claudia merasa malu. Jika pada akhirnya aku tidak bisa dengannya, aku tidak akan kembali ke sini. Aku harap, kamu bisa menemukan perempuan yang jauh lebih baik dariku. Sungguh, aku seperti wanita yang tidak tahu diri. "Bagaimana dengan hubunganmu dengan Dean? Apakah lamaran itu akan kembali dilanjutkan?" Bibi bertanya demikian ketika Claudia baru pulang. "Sepertinya tidak. Pada kenyataannya, ternyata aku tidak mencintai dia. Selama ini aku telah melakukan kesalahan besar." "Apa yang kamu bicarakan? Bukankah sebelumnya kalian sudah membuat komitmen?" Bibi mengikuti Claudia yang berlalu ke kamarnya. Mereka pun duduk di pinggiran kasur, Claudia melepas kain penutup wajahnya, memandang wajah sang Bibi yang dibalut eskpresi penasaran. "Ini semua salahku, tidak seharusnya aku memberikan harapan pada Dean." "Bibi masih belum mengerti," komentar bibinya yang bernama Asti. "Aku merasa keberatan. Dulu seseorang pernah berjanji padaku, agar aku menikah dengan suaminya." "Siapa maksudmu?" Claudia mulai menceritakan masa lalunya. Tentang Mario, tentang Aiza, tentang semua yang terjadi sebelum ia hijrah, ia ceritakan secara rinci pada sang Bibi. Tak dimungkiri wanita itu tampak shock dengan cerita yang diungkapkan Claudia. "Jadi, kamu akan berusaha kembali pada mantan kekasihmu yang kini telah menjadi seorang duda?" "Bisa dikatakan seperti itu. Aku tidak bisa melupakannya, Bi. Entah perasaan apa ini, cinta atau tergila-gila, sebagai wanita aku merasa begitu hina." "Bukankah cinta itu fitrah?" "Aku bingung." Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Claudia. "Baiklah, lakukan apa yang kamu mau. Jika memang kalian berjodoh, Allah akan tunjukkan jalan. Lagi pula, menikah itu bukan ajang perlombaan. Kamu berhak berpikir lebih panjang, hingga suatu saat nanti, kamu bisa mendapatkan yang terbaik." "Ini untukmu, Yas." Abyan memberikan boneka beruang berukuran kecil yang kemarin ia dapatkan dari salah satu permainan timezone kepada Yasmin, anak perempuan itu terkejut dengan benda pemberian Abyan yang sangat menggemaskan. "Ini untukku? Dari mana kamu mendapatkannya?" Yasmin mengambil boneka beruang itu dengan tampang sukacita. Boneka adalah mainan kesukaan perempuan. "Aku mendapatkannya sewaktu Ayah mengajakku ke timezone." Yasmin ber-oh ria. "Pasti seru main di sana. Abyan memang anak yang baik." Yasmin mencubit pipi Abyan dengan gemasnya. "Iya, aku memang anak yang baik. Tidak perlu dibicarakan juga semua orang sudah tahu kalau aku baik." "Itu namanya sombong, Byan. Tidak bagus." Yasmin memalingkan muka. "Aku hanya main-main." Persahabatan dua bocah itu kian erat, bahkan Yasmin juga sering bermain ke rumah Abyan. Di sana mereka bisa menggambar bersama, menulis bersama, dan makan bersama dalam satu piring yang sama. Mario juga merasa tenang, sebab sekarang Abyan sudah tidak membahas tentang ibu baru yang selalu didamba-dambakan. Abyan kembali ceria seperti sedia kala. Baguslah, itu artinya Mario tidak perlu cemas lagi dengan masalah keinginan Abyan yang tidak akan pernah bisa ia turuti sampai kapan pun. Tidak hanya dengan Yasmin, Abyan juga semakin dekat dengan guru ngajinya di Madrasah. Karena kepintaran dan kelucuan seorang Abyan, dia begitu menarik perhatian guru-guru yang mengajarnya. Termasuk guru di taman kanak-kanak. "Bagaimana kamu bisa hafal surat-surat dalam Alquran dengan gampangnya?" "Ayahku bilang, sewaktu Byan bayi, bunda selalu menyetel surat-surat lewat hapenya. Jadi mungkin itu alasannya," jawab Abyan polos, dan memang itulah yang diceritakan Mario kepada putranya. Bunda Abyan? Sudah jelas, dia adalah Aiza. Suatu hari, Claudia---yang mengaku namanya sebagai ibu guru Sabria, memberikan tugas khusus di luar pelajaran. Dia menyuruh murid-muridnya untuk menggambar sosok Ayah mereka di buku tulis, lalu menceritakan bagaimana sifat dan sikapnya kepada sang guru dengan bahasa masing-masing. Claudia mangkhususkan hari itu sebagai waktu curhat murid-murid kesayangannya, agar bisa menjalin komunikasi yang lebih baik. Banyak dari mereka yang mengagung-agungkan sang Ayah, dan membangga-banggakannya dengan roman sukacita. Seolah dia adalah pelindung, perisai, dan pion kokoh bagi anaknya yang kecil lagi lemah di mata dunia yang penuh dengan kekejaman. Giliran Abyan yang bercerita setelah dia memamerkan gambarnya yang acak-acakan. Berkat gambarnya itu, semua murid tertawa, begitupula dengan Claudia. Di matanya, Abyan adalah anak yang sangat lucu. Mario begitu pandai mendidik Abyan, padahal dia hanya sendirian. Claudia jadi teringat insiden di jalan raya itu, Mario yang dulu tidak menyukai hal yang berbau islam---termasuk cadar---, kini secara terang-terangan dia membela, dan memuliakan wanita dengan sedemikian baik. Kita sudah sama-sama berubah, akankah kita bisa kembali bersama seperti dulu? "Ayah itu seperti superhero untuk Byan. Ayah juga tidak pernah menolak jika Byan ingin main bersamanya. Punggung Ayah sering Byan naiki untuk bermain kuda-kudaan, padahal Ayah baru pulang bekerja. Ayah tidak marah jika Byan menepuk punggungnya." Claudia tertawa, membayangkan bagaimana Mario mengasuh Abyan yang sangat lucu. "Ayah itu lelaki yang sangat kuat. Dia tidak pernah menangis. Yang jelas, Byan bahagia menjadi anak ayah Mario. Sebelum tidur, Ayah sering menceritkan kisah-kisah Nabi." "Ibu kagum dengan ayahmu, Byan." "Kalau kagum, mengapa tidak menikah saja?" Celetukan Abyan sukses membuat yang lain tertawa, dan tiba-tiba saja Claudia diam membisu. Ucapan Abyan seakan menghentikan aliran darah dalam tubuhnya. Andai mengatakan cinta dan mengajak menikah segampang ketika anak kecil meminta uang kepada orang tuanya karena ingin membeli permen. Andaikan. Andaikan. Andaikan. Hanya andaikan. Tidak akan pernah menjadi kenyataan. Claudia bingung. Umurnya sudah akan menginjak kepala tiga, dan sampai sekarang dia masih menjadi gadis lajang. Biasanya, lelakilah yang memiliki peran untuk melamar. Sedangkan wanita hanya bisa menunggu untuk dilamar. Dan itu suatu hal yang lumrah dalam kalangan masyarakat sekarang ini. Tapi, Islam pun tidak melarang wanita untuk melamar duluan. Sebab itu adalah suatu kehormatan yang sangat mulia. Mengajak menikah sama saja mengajak untuk beribadah dan menyempurnakan separuh agama. Tapi, itu sangat sulit untuk dilakukan. Hanya perempuan pemilik nyali besar yang dapat melakukannya. Abyan terus bercerita mengenai Mario, telinga Claudia mendengar, namun pikirannya melanglang. "Ayah suka sekali perempuan yang menutup wajahnya dengan menggunakan apa itu ... ya? Apa ya namanya?" Abyan mulai berpikir keras. "Namanya cadar." Claudia menjawab, menciptakan cengiran di bibir Abyan. "Bukankah Ibu juga memakainya?" "Iya." "Kalau begitu, Ibu cocok jika bersanding dengan Ayah." "Mengapa bisa begitu?" "Karena Byan sudah sangat nyaman dengan Ibu. Jadi, Byan akan berusaha mendekatkan Ibu dengan ayah Mario. Pasti sangat cocok." Kembali Claudia terkejut. Abyan malah tertawa. Entah dia becanda atau apa, yang jelas dia senang sudah mengatakannya pada Claudia. Caludia pun ikut tertawa, getir. "Kamu sudah menghabiskan banyak waktu, Byan. Sekarang giliran yang lain." Dengan cepat Claudia mengalihkan pembicaraan. Tidak pernah disangka, bahwa Claudia akan bertemu Abyan. Bahkan ia sendiri tidak sadar, mengajar di madrasah yang berada di komplek rumah Mario. Mungkinkah ini petunjuk dari Tuhan? Apakah Dia mendukung perasaannya terhadap Mario? Waktu belajar sudah habis, kali ini Claudia mengantar Abyan keluar, mereka berjalan beriringan, berpegangan tangan. Abyan dekat sekali dengan Claudia, karena menurutnya, Claudia itu mirip dengan almarhumah sang Bunda. Selain itu, beberapa hari yang lalu ada suatu kejadian yang membuat Abyan menyukai Ibu guru ngajinya. Saat itu, pensil Abyan hilang. Besoknya, dia melihat pensilnya dipakai oleh salah satu teman, padahal itu adalah pensil kesukaannya, hadiah dari Mario lantaran Abyan berhasil menghafalkan surat An-Naba. Tapi temannya itu enggan mengaku, dia mengatakan kalau pensil itu ia dapatkan dari orang tuanya. Akhirnya keduanya ribut, dan adu bicara, hingga mengundang pertengkaran. Abyan sangat yakin kalau itu adalah pensil miliknya. Tapi temannya itu bersikukuh tidak ingin mengaku. Claudia pun mencoba menengahi. Dia akhirnya menjadi saksi, dan mengatakan kalau pensil itu milik Abyan dengan nada pelan agar tidak ada yang tersinggung. Temannya pun menangis, lalu pada akhirnya mengaku salah, dan Claudia menggantinya dengan yang baru. Tidak hanya pada anak itu, esoknya Claudia membawa banyak pensil, dan dibagikan pada semua anak-anak didiknya, termasuk Abyan. "Anggap ini hadiah dari Ibu guru, karena kamu sudah menjadi anak pintar," begitulah Claudia berkata, dan mampu membuat senyum Abyan mengembang. "Kamu tidak dijemput oleh Ayah?" "Tidak, Byan bisa pulang sendiri. Kalau hujan, baru Ayah akan datang menjemput." Tapi begitu sampai keluar, sudah ada Mario yang menunggu. Mata Abyan melotot, dan berlari menghampiri sang Ayah. "Mengapa Ayah menjemput?" "Ayah melihat cuacanya mendung, jadi bergegas datang ke sini." "Ooh begitu." Abyan memperkenalkan guru ngajinya pada Mario. "Kenalkan Ayah, dia ibu Sabria namanya, guru ngaji Byan yang baru itu." Mario mengalihkan pandangan pada perempuan yang Abyan sebut namanya dengan Sabria. Keduanya sama-sama  merapatkan tangan sebagai ucapan salam, mata beradu pandang, tidak saling bersentuhan. Mereka sama-sama mengerti, tentang larangan wanita dan pria yang tidak boleh saling menyentuh satu sama lain. Ah, jika mengingat dulu, Claudia jadi merasa malu. Dulu dia dan Mario bisa berinteraksi dengan begitu bebas tanpa tahu batasan. Jangankan berjabat tangan, ciuman saja sangat sering dilakukan. Claudia begitu nenyesali perbuatannya. Pasti Mario pun begitu. Mario begitu berbeda. Mungkin karena luka, dia berubah menjadi dewasa. Claudia tersenyum ragu. Dan, doa Claudia tidak dikabulkan. Sebab sekarang, dia kembali dipertemukan dengan Mario. Ya, Mario yang sekarang sedang berkelakar dengan putranya. "Anak bapak sangat pintar dan cerdas, saya bangga padanya. Saya senang, bisa kenal dan menjadi guru untuknya." Mario tersenyum, lantas mengangguk. "Terima kasih sudah menyukainya. Dia memang anak yang selalu membanggakan orang tuanya." Mario mengusap puncak kepala Abyan yang saat itu sedang memasang wajah serius. Entah apa yang berada dalam pikiran bocah yang akan beranjak umur enam tahun itu. Claudia tersenyum di balik cadar, tidak ada yang tahu bahwa sekarang jantungnya berdegub kencang, dan hati meronta ingin meluapkan rasa. Mereka layaknya orang asing yang baru dipertemukan, yang baru bersitatap hari ini, menit ini, detik ini. Anggap saja, ini adalah pertemuan pertama. Tidak perlu mengungkit masa lalu. Claudia akan membuka lembaran baru sebagai Sabria. Mario, mantan kekasihnya, yang sampai sekarang ini masih berdiam dalam hati, berada tepat di depan mata, sedang tertawa pada Abyan. Mereka mengobrol, ya, mengobrol, tanpa Mario ketahui bahwa wanita di depannya itu adalah Claudia. Mungkin ada baiknya Claudia menyembunyikan identitas, Mario harus mengenal dia yang sekarang, sebagai Sabria. Claudia belum siap melihat reaksi Mario jika ia tahu, Claudia yang dulu dia kenal, sudah berubah. "Ya sudah, aku dan Ayah pulang dulu. Sampai bertemu kembali, Bu," ucap Abyan membuyarkan lamunan Claudia. "Assalamuakaikum," pamit Mario. "Waalaikumussalam," jawab Claudia. Abyan dan Mario pun berjalan keluar dari area Madrasah, meninggalkan Claudia yang masih berdiri di tempat, memerhatikan mereka berdua dengan sorot teduh. Mengobrol dengannya saja sudah membuat gugup, apalagi mengajaknya menikah. Dean, aku tidak bisa seperti bunda Khadijah. Itu terlalu sulit untukku. Padahal dulu aku adalah pemberani, tapi sekarang nyaliku telah ciut. Aku bukan Claudia yang dulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD