Bab 8 - Seperti Bunda Kjadijah

2924 Words
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ "Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (QS.Ali ‘Imran:139) Untuk menebus kesalahannya, Mario mengajak Abyan jalan-jalan setelah Abyan sembuh dari sakitnya. Dia membawa Abyan ke timezone---sebuah tempat permainan yang mengharuskan pengunjung untuk membeli koin agar bisa memainkan permainan-permainan yang tersedia. Di antara keingar-bingaran tempat itu; rengekan anak kecil, musik berdetum, dan suara-suara gaduh yang berasal dari permainan tembak-tembakan; mobil-mobilan, dan lain sebagainya, Mario dan Abyan sedang asyik bermain bola basket. Abyan yang pendek, tak kunjung mendapat poin, tak ada satu bola pun yang masuk ke dalam ring. "Tidak seru!" Abyan merajuk, membuat Mario menghentikan gerakannya, lalu terfokus pada Abyan. "Apanya yang tidak seru? Bukankah kamu ingin bermain basket, walaupun kamu tahu ini adalah permainan dewasa." "Tidak ada satu bola pun yang masuk, Ayah. Bagaimana bisa aku mendapatkan tiket dan membeli barang-barang di sana." "Kalau kamu mengeluh seperti ini, bagaimana bisa kamu mendapatkan barang-barang dan makanan itu? Masa segitu saja sudah menyerah. Byan ternyata tidak sekuat itu, ya." "Ya sudah, Byan ingin bermain permainan lain." "Apa kamu ingin mandi bola?" "Ah, Ayah terlalu meremehkan Byan. Mana mungkin Byan mandi bola. Tidak ada tantangannya." Bocah itu menyilangkan tangan di bawah d**a, dan berlalu meninggalkan Mario yang tertawa. "Dasar anak kecil yang tidak suka dipanggil anak kecil." Mario mengikuti Abyan yang mulai memilih permainan.  Abyan pun menghampiri permainan capitan boneka. "Biasanya, yang meminkan permainan ini adalah lelaki remaja yang ingin memberikan bonekanya pada kekasihnya. Kalau kamu, memangnya boneka ini ingin kamu berikan pada siapa?" "Pada Yasmin." "Yasmin teman sekelasmu?" Mario menaikkan sebelah alis. "Hmmm." Abyan mengangguk. Mario menggeleng-gelengkan kepala. Ada-ada saja kelakuan Abyan itu. Satu jam berlalu, kini Mario dan Abyan sudah keluar dari arena bermain. Abyan menggantikan tiket yang berhasil didapatkan dengan berbagai macam makanan, termasuk es krim yang sekarang sedang dijilatnya dengan sukacita. Setelah beberapa hari sakit, akhirnya ia bisa menikmati jajanan manis dan menyegarkan seperti es krim ini. Di mobil pun Abyan asyik memakan jajanannya. Namun tiba-tiba Mario menghentikan laju mobil lantaran di depan sedang terjadi sesuatu, orang berkerumun, sepertinya telah terjadi kecelakaan. Jalan menjadi macet, gaduh, dan ricuh. "Kamu tunggu di sini, Ayah akan mengecek apa yang terjadi di depan." Abyan mengangguk, dengan bibir yang sudah belepotan. Mario ikut dalam kerumunan itu, lalu dia melihat korban kecelakaan yang berlumuran darah tergeletak di atas aspal, beberapa anggota badannya remuk. Mario langsung memalingkan muka seraya beristigfar. "Cepat tutupi, Pak. Kasihan, auratnya terbuka," ucap Mario ikut panik. Korban mulai ditutupi oleh lembaran koran. Miris. Dia meninggal dalam keadaan aurat yang terbuka, sedangkan orang-orang malah sibuk memoto. Lalu tak lama kemudian, foto itu akan tersebar di media sosial, maka akan lebih banyak lagi orang yang melihatnya. Sedangkan yang menanggung dosa adalah korban itu sendiri, sebab sejatinya seluruh anggota tubuh wanita adalah aurat. Beginilah jadinya, jika manusia minim ilmu, semuanya menjadi kacau. Berpikir bahwa apa yang mereka lakukan benar---menebar foto orang kecelakaan di media sosial, terlebih korban adalah seorang perempuan. Menyebar berita boleh saja, tapi bisa juga kan tanpa memajang foto korbannya? Baik foto yang diambil di TKP, ataupun foto yang sempat diunggah korban sebelum meninggal di akun media sosialnya. Beberapa saksi mengatakan kalau gadis itu tertabrak truk ketika sedang berusaha mengejar pacarnya yang pergi, karena mereka sempat bertengkar sengit di pinggir jalan. Rela mengorbankan nyawa demi cinta. Cinta pada yang tidak halal, cinta yang salah, dan cinta yang menjerumuskan mereka dalam perzinaan. Miris sekali kelakuan remaja zaman sekarang. Mereka melupakan akidah, harga diri, dan kehormatan demi cinta yang jelas-jelas diharamkan karena belum adanya ikatan halal. Padahal, cinta itu tidak bisa membantu apa pun ketika ajal menjemput. Sang kekasih yang sering dipuja-puja pun tidak akan bisa berbuat apa-apa. Ketika di Palestina, orang-orang meregang nyawa secara syahid, lantaran membela negara mereka dari serangan tentara zionis, tapi di sini mereka mati secara sia-sia karena hal yang tidak berfaedah sama sekali. Maka apa yang bisa mereka pertanggungjawabkan nanti di hadapan Allah? Astagfirullah. Itu namanya mati secara sia-sia. Semoga Allah tetap memberikan rahmatnya. Mario membatin prihatin. Ia hidup di negara mayoritas muslim, tapi seperti tidak. Negaranya seolah telah hancur karena ulah rakyatnya sendiri yang tidak mau taat. Seperti apa kata Aiza: orang Islam itu banyak, tapi hanya segelintir yang taat. Tiba-tiba saja Dean mengajak Claudia bertemu di salah satu kafe setelah waktu Asar. Dan ini membuat Claudia sedikit gelisah, sebab sepertinya Dean akan mengucapkan sesuatu yang penting. Mengenai khitbah, mungkin? Berbagai terkaan berjatuhan di kepala. Kini mereka duduk berhadapan, sengaja memilih tempat yang ramai pengunjung, agar tidak menimbulkan fitnah. Lagi pula, apa yang mereka bicarakan adalah suatu kepentingan mendadak. Dean juga berusaha menundukkan pandangan. "Aku tahu, di hatimu masih tersimpan nama Mario. Aku tidak mungkin melamar wanita yang hatinya masih terpaut dengan lelaki yang sangat dia cintai. Sekarang aku akan memberikan sebuah keringanan." Dean berkata tanpa prolog, langsung pada inti, dan itu membuat Claudia mengernyit. Dia tidak mengerti dengan apa yang baru saja Dean ucapkan. Keringanan apa maksudnya? "Kalau kamu memang benar mencintai Mario, kamu boleh kembali padanya. Jika Mario membalas cintamu, maka aku ucapkan selamat. Tidak semua apa yang aku inginkan bisa aku dapatkan. Tuhan memberi apa yang aku butuhkan, bukan apa yang aku inginkan. Aku menginginkan kamu untuk dijadikan istri, tapi mungkin memang bukan takdirnya. Yang aku butuhkan adalah istri salehah, dan yang aku butuhkan tidak ada pada yang aku inginkan." "Bagaimana bisa seperti itu? Kamu benar-benar ingin aku melakukan itu?" Claudia mulai kelabakan. "Apa kamu akan mundur dan menyerah begitu saja?" "Iya, Clau. Cinta tidak bisa dipaksakan. Kejarlah cintamu itu. Jika Mario tidak bisa membalas cintamu, aku akan tetap membuka hatiku. Tapi jika kamu berhasil, aku menyerah." "Dean ...." "Sudah, aku mengajakmu bertemu untuk membicarakan kesepakatan ini, tidak ada yang lain. Tidak enak jika berlama-lama. Jangan menyimpan rasa iba, aku tidak membutuhkan itu. Yang perlu kamu lakukan hanya satu, mengejar cinta Mario, dengan cara yang paling terhormat. Kamu bisa mencontohi bunda Khadijah. Aku tahu, kamu pernah mendengar dan membaca kisahnya." Claudia terpegun. Sungguh ia tidak bisa seberani itu. Ini terlalu mendadak. Dean tidak bisa menyamakan dirinya dengan sosok wanita penghuni Surga seperti bunda Khadijah yang berhati mulia. "Assalamu'alaikum." Dean berdiri, dan meninggalkan Claudia dalam kesendirian dan kelimpungannya. Seperti bunda Khadijah? Wanita yang menyatakan cintanya pada Muhammad? Hingga pada akhirnya Muhammad menerima cinta Khadijah, tidak peduli bahwa Khadijah adalah seorang janda dan memiliki umur yang terpaut jauh lebih tua. Lalu mereka pun menikah, dan menjadi keluarga harmonis. Namun Claudia hanya gadis biasa. Dia bukan wanita baik, dermawan, dan sempurna seperti Khadijah. Kecil kemungkinan cintanya diterima. Terlalu jauh menyamakan diri dengan Khadijah, sebab dengan Aiza pun Claudia tidak mampu. Ini tidak masuk akal. Ini di luar nalar. "Waalaikumussalam," ucap Claudia cepat. Dia menggerutu, lamban sekali dia menjawab salam dari Dean. Claudia terpekur lama di tempat, gelisah merundungnya, ia tidak tahu apa yang harus diperbuat. Bagaimana bisa dia menyatakan cinta pada Mario sedangkan Mario sendiri sudah telanjur membencinya sejak dulu? Mata Claudia memicing. Detik berikutnya, ketika kedua mata kembali terbuka, Claudia terperanjat, matanya mengedip-ngedip. Bodoh sekali dia. Tidak bisa dibiarkan. Bagaimana mungkin dia meninggalkan Dean demi keegoisan ini? Secara tidak langsung, dia sudah menyakiti Dean. Mengapa dirinya sejahat itu? Menyakiti orang yang selama ini sudah mau menunggunya hingga bertahun-tahun. Adakah lelaki seperti itu? Yang begitu setia mencintai satu wanita layaknya tokoh buatan para penulis romance yang sempurna dan selalu setia pada satu wanita pilihan. Seharusnya tadi Claudia mencegah kepergian Dean, dan mengatakan kalau dia tidak akan kembali pada Mario. "Maksudnya mengejar cinta itu bagaimana? Haruskah aku berlari? Dan mengatakan padanya kalau aku masih sangat mencintainya? Seperti ini bukan?" Claudia beranjak, berlari keluar dari kafe, tujuannya untuk mengejar Dean, dia akan meminta maaf yang sebesar-besarnya, mengatakan kalau ia tidak akan memilih Mario. Bagi Clauida, Mario hanya masa lalu yang tidak perlu ditengok lagi. Toh, jika ia kembali, Mario tidak akan pernah menganggapnya ada. Claudia tidak mungkin melakukan kesalahan untuk kedua kali. Hasilnya akan tetap sama. Dia sendiri yang akan terluka. Ke mana perginya Dean? Mengapa dia tidak ada? Seharusnya Claudia tidak menolak lamarannya tempo hari hanya gara-gara dia berbohong demi menutupi. Dulu Claudia hanya shock dan terlalu percaya diri, berpikir kalau dia masih memiliki kesempatan bersama Mario. Claudia terus berlari, menyusuri trotoar, tanpa peduli dengan orang-orang yang menganggapnya aneh, hingga pada akhirnya ia kelelahan dan menghentikan laju lari, berdirinya setengah membungkuk, menumpu lutut, terengah-engah dengan d**a yang pengap. "Aku tahu, mengejarnya akan sangat melelahkan, sama seperti sekarang ini. Aku hanya membutuhkan air, yaitu dirimu." Napas Claudia memburu, peluh membasahi kening. Matanya bercaka-kaca karena mengingat Dean. Lelaki itu terlalu berharga untuk disakiti. Claudia merasa berdosa. "Maafkan aku ... Mungkin aku tidak pantas bersanding dengan lelaki seperti kamu, karena kamu terlalu baik, sedangkan aku hanya wanita egois yang begitu menjijikan. Aku bukan wanita baik." Dean, rasanya mengucapkan terima kasih saja tidak cukup. Ini benar-benar menyiksa. Kenangan masa lalu berkelebat di kepala. Saat itu Claudia baru pulang dari Mall dengan memasang wajah kesal, dia juga sedikit mabuk lantaran telah meminum wine di salah satu bar. Islam melarang umatnya untuk meninum minuman haram, tapi Claudia bisa apa? Masuknya dia ke agama itu hanya karena cinta, demi mendapatkan Mario, bukan untuk menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Meski bibir tersenyum tanda kemenangan, wajah jemawa penuh keangkuhan, tapi hatinya teriris-iris melihat Mario yang begitu dingin terhadapnya. Cueknya membuat Claudia patah. Wajah tak berekspresinya membuktikan manifestasi hilangnya sebuah rasa. Dengan kondisi tubuh limbung dan kesadaran minim, Claudia melajukan mobilnya dengan ugal-ugalan. Kenangannya bersama Mario bergelayut dalam benak. Sejak pertemuan pertama, saling bertanya nama dengan menggunakan bahasa Inggris, berpacaran di taman kampus yang menyediakan rumput hijau sebagai alas, perjuangan melawan Yunus yang tidak pernah menyetujui hubungan mereka, dan hal romantis lainnya. Senyum Mario, kata-kata yang terlontar di mulut Mario, kecupan-kecupan cinta Mario, segala tentang Mario kini bermain dalam otak layaknya drama yang menyesakkan d**a. Mengapa secepat itu dia berpaling hanya karena Aiza? "MENGAPA?!" Claudia membanting stir, berteriak secara histeris, tindakannya nyaris menabrak pengendara motor. Bayangan sewaktu Mario melamar di restoran dengan memasangkan cincin kian menambah intensitas kemurkaan, kemuakkan, dan kegetiran. Shiitttt.... Untungnya Claudia langsung berhenti, dan beberapa detik kemudian jendela mobilnya digedor-gedor dari luar. Claudia pun keluar, masih dalam keadaan mabuk kepalang, namun itu semua tidak mampu menghilangkan wajah memsonanya yang memamerkan bibir merah merona. "Mau apa kalian, hah?!" Melihat Claudia dari atas sampai bawah, mereka berubah mimik. Yang tadinya ingin mendamprat, malah ingin menikam, bagai pemburu yang baru menemukan hewan buruannya. "Kenapa? Kamu terpesona? Iyalah, secara, aku ini memiliki wajah yang cantik dan seksi. Kamu tidak akan berani memarahi aku, aku wanita yang tidak pantas untuk dicampakkan." Claudia terkekeh keras, membanggakan kecantikannya, tapi mengapa begitu miris, karena Mario tidak melihat itu semua. Tiba-tiba Claudia menangis, tubuhnya merosot ke bawah, bahunya naik-turun . Lelaki berwajah sangar yang melihat itu mulai tercenung, dan berjongkok di depannya, melihat keadaan Claudia yang hancur berantakan. Lengan tanpa penutup milik Claudia berhasil membuatnya menelan ludah. Mulus, indah, dan menggairahkan. "Ayo, Nona, lebih baik kamu ikut denganku." Dia meraih tangan Claudia. "Lepaskan aku! Tidak ada lelaki yang bisa mencampakkan aku. Aku terlalu berharga, aku terlalu cantik. Semua orang menganggap aku jahat! Tapi apa mereka tahu saja sedikit penderitaanku?! Oh, sungguh, mereka begitu egois. Aku pun berhak bahagiaa ...." tersedu-sedu Claudia meratapi kisah cintanya yang luluh lantak. "Tidak baik menangis sendirian di sini." Dia mulai memegang tangan Claudia, gadis itu segera menapisnya dengan kasar, yang awalnya berurai air mata, berubah menjadi bengis seperti singa betina. "Apa Anda tidak mendengar? Jangan menyentuhku! Pergi! Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan! Cepat pergi, dasar b******n jelek! Lihat, wajahmu jelek sekali." Claudia terkikik mengejek. Tanpa sadar, ucapan Claudia berhasil menyulut amarah lelaki berjenggot itu. "Kurang ajar!" Dia secara paksa menyeret Claudia, menyuruh temannya yang sedari tadi duduk di atas motor untuk membantu. Claudia yang tak berdaya, tidak mampu berbuat apa-apa selain menggerakkan mulut. "Lepaskan!" "Wanita seperti dirimu memang pantas untuk diperlakukan seperti ini. Malam ini akan menjadi malam terakhirmu sebagai perawan." "Lepaskan! b******n! Dasar tidak berguna!" Salah satu dari mereka memukul pipi Claudia agar dia bisa diam. "b******k!" kata-kata kotor terlontar dari mulut Claudia yang bau alkohol. Sesorang datang membantu, menarik Claudia agar menjauh, lantas langsung menghajar dua orang itu dengan tinjuan dahsyat. Claudia yang masih ketakutan, hanya bisa menyaksikan semuanya dengan tubuh gemetar. Setelah berhasil membuat keduanya babak belur dan memutuskan kabur menggunakan motornya, lelaki yang barusan datang tepat waktu pun menghampiri Claudia dengan napas terengah-engah. "Kamu tidak apa-apa, Clau?" Claudia hanya diam, memeluk tubuhnya yang kedinginan, pandangannya tak tentu arah. Tadi nyaris semuanya skakmat. Dean segera melepas jaketnya, memakaikan jaket itu di tubuh Claudia. Angin yang membuat lengan seperti es, berubah hangat. Claudia masih tertegun. "Aku antar pulang, ya?" Jika tidak ada Dean saat itu, mungkin riwayatnya sudah habis. Kehormatannya akan terenggut secara sia-sia. Claudia melanjutkan perjalanan dengan tak bersemangat, lalu duduk di pinggiran trotoar bagai orang linglung, menatap sekeliling orang yang berlalu-lalang. Tangan kanan meremas gamis hijau tuanya hingga ke bagian kulit. Di balik niqab-nya dia menggigit bibir bagian dalam. Andai cinta pada manusia bisa diduplikasi. Tapi nyatanya mustahil. Perempuan hanya bisa mencintai satu lelaki. Jika bisa pun, dia harus memilih salah satu. Tidak ada yang namanya duplikasi. "Ayah, mengapa aku senang sekali ya melihat perempuan yang berpakaian seperti Bunda?" Abyan yang berada dalam mobil menunjuk salah seorang perempuan bercadar tali hitam. Tak urung Mario pun mengikuti arah pandang Abyan, dia ikut melihat gadis bercadar yang terlihat sedang gelisah itu. Hatinya tiba-tiba berdesir. Bagaimana tidak, wanita sejenis itu selalu mengingatkannya pada seseorang. Lampu merah berganti hijau, Mario kembali melajukan mobil meski jiwanya memaksa untuk tetap di sana, melihat gadis itu lebih lama lagi. Claudia menenggelamkan wajah pada lipatan tangan, seperti frustrasi dengan problema cinta yang sedang dihadapi. "Tolong katakan padaku, bagaimana caranya menghilangkan rasa sakit ini?" sewaktu subuh, Claudia sadar dari pingsan akibat pengaruh alkohol, kemudian dia bertanya lirih pada ustazah Laila yang menemani dia tidur semalaman. "Apa kamu sungguh-sungguh ingin menghilangkan rasa sakitnya?" tanya ustazah Laila dengan penuh harap. Mungkin ini kesempatan untuk menyadarkan Claudia. Claudia mengangguk lemah. Dia sudah kehilangan cara untuk membuang semua rasa sakit yang bersemayam pedih di hati. "Ayo lakukan salat dengan hati yang ikhlas, adukan semuanya pada Allah." "Allah? Siapa Dia? Memangnya dia bisa membuatku lepas dari semua ini? Siapa Allah? Tidak Aiza, tidak Mario, tidak kamu, selalu menyebutkan nama itu. Memangnya siapa Dia?!" "Dia Tuhan kamu, Dia yang menghirupkan nyawa dalam jiwa kamu, Dia yang menciptakan semua ini, Dia yang menciptakan bumi dan segala isinya, Dia yang membuat kita semua hidup dan bernapas. Dia yang menciptakan hati dalam d**a. Dia yang menciptakan mulut agar kita bisa berbicara. Dia yang menciptakan hidung agar bisa menghirup. Dan bagaimana bisa Dia membiarkan hamba-Nya bersedih? Ayo, datang padanya, dan berharaplah agar mendapatkan uluran tangan dan dekapan." Uztazah Laila membawa Claudia ke kamar mandi, di sana dia mulai mengambil air wudu. Claudia pun melaksanakan salat dua rakaat dengan lumayan khusyuk walaupun ia tidak bisa membaca semua bacaan salat. Ustazah Laila yang mengimami, surat Al-Fatihah melantun dari bibirnya, mewakili Claudia yang tidak hafal. Suasana subuh membuat jiwa Claudia sedikit tenang. Air mata Claudia jatuh ketika ia bersujud, ia tidak pernah merasakan atmosfer seperti ini sebelumnya. Sosok yang mereka sebut dengan 'Allah', Claudia rasakan kehadirannya. Seperti sedang berada tepat di hadapannya, dan mengulurkan tangan, mengusap kepala hamba-Nya yang berlumur dosa. "Lelaki itu mengatakan, kamu hampir dinodai oleh lelaki yang kamu temui di jalan. Kamu tahu, mengapa Islam mengajarkan kita untuk menutup aurat? Itu semua semata-mata untuk kebaikan kita sendiri. Andai kamu tertutup, tidak akan lelaki yang berani menyakiti. Andai kamu lebih banyak diam di rumah, andai kamu tidak mabuk, kejadian itu tidak akan terjadi." Ustazah Laila mengambil mushaf di atas nakas, membuka lembaran demi lembaran yang dipenuhi kalam Allah itu. Dia membuka surat Al-Ahzab ayat 59, yang berbunyi: "Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." "Menurut pendapat ulama, jika ada wanita berjilbab lalu dia dinodai, maka yang dinodainya mendapat pahala, sedangkan yang menodainya mendapat dosa. Tapi kalau ada wanita yang sengaja memamerkan auratnya, lalu dia dinodai, maka dua-duanya mendapatkan dosa. Karena wanita itulah yang menjadi penyebabnya, mengapa malah membuka aurat hingga mengundang nafsu para pria." Claudia yang hanya diam, mulai mau mendengarkan tanpa menyangkal seperti sebelum-sebelumnya. Tadi malam dia ingat, bagaimana mereka memperlakukannya seperti anjing liar. Kemudian berlanjut ke surat At-Taubah ayat 40, yang berbunyi : "Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." "Kamu tidak perlu bersedih hati, mbak Clau, sesungguhnya Allah selalu bersama kita. Dia akan selalu siap merangkul Mbak, dan sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Bersedih boleh, tapi tidak perlu berlebihan, apalagi melampiaskan dengan cara mabuk, itu tidak benar, yang ada itu malah semakin menyakiti diri. Datanglah pada Allah, dan bacalah ayat-ayat suci ini, agar Mbak mendapatkan ketenangan hati. Semua petunjuk ada dalam Alquran, termasuk mengobati luka di hati. "Tapi aku tidak bisa membacanya." "Mbak boleh belajar mulai dari sekarang." Semenjak kejadian itu Claudia mulai memakai hijab, walau tidak sesempurna yang sekarang. Tolong, berikan aku satu keajaiban. Maka demi Allah, aku akan tunduk. Katanya Allah itu sebaik-baiknya pemberi pertolongan. Claudia menemukannya ketika berada di ujung keputusasaan, ketika kehormatannya nyaris terenggut. Barangkali Allah mengirimkan Dean sebagai perantara. Dia akhirnya peka, bahwa itu adalah sinyal hidayah. Tanpa Claudia ketahui sendiri, Aiza selalu mendoakan Claudia agar hatinya tergerak untuk berubah. Sekarang Claudia mengerti, apa itu untungnya patah hati. Belajarlah dari cinta, agar kalian bisa merasakan patah. Patah itu yang akan mengantar kalian pada nestapa, dan membujuk untuk kembali pada cinta yang abadi. Yaitu cinta pada Allah. Lalu, menjadikan kalian wanita yang lebih baik. Seperti biasa, kalau ada typo mohon koreksi:) Jazakumullah sudah setia membaca cerita ini ❤
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD