Bab 7 - Islam Itu Indah

2325 Words
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Hadits Rifa'ah bin Malik, ia berkata, "Aku pernah salat di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu aku bersin dan mengucapkan: Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak, baik dan berkah atasnya, sebagaimana Rabb kita mencintai dan meridai.'" Seusai salat, beliau berlalu dan bertanya, "Siapa tadi yang berbicara dalam salat?" Rifa'ah menjawab, "Aku wahai Rasululullah ...." Lalu beliau bersabda, "Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh tiga puluhan malaikat berlomba-lomba membawa bacaan itu, (siapa di antaranya mereka yang lebih dulu naik) ke langit ...." Asy-Syaukani berkata : "Disyari'atkan mengucapkan hamdalah dalam salat bagi orang yang bersin. Hal ini berdasarkan keumuman hadits yang mensyari'atkannya, tidak dibedakan antara orang yang sedang salat dengan yang tidak." Claudia mengunjungi kuburan Aiza. Dia berjongkok di sana, menatap batu nisan yang tersemat dengan sorot mata tidak percaya. Air mata Claudia luruh, ia tidak menyangka Aiza pergi secepat itu. Ia pikir, hidup Mario dan Aiza bahagia, sakinah, dan penuh berkah. Ia pikir, setelah pulang ke sini, ia akan melihat mereka berjalan beriringan bersama buah hati mereka yang tampan, cantik, lucu lagi menggemaskan. Mereka akan datang ke pernikahannya bersama Dean. Dan saat itu, Claudia akan meminta maaf pada Aiza karena telah sempat ingin menghancurkan rumah tangganya bersama Mario. Tapi lain dari dugaan. Justru hubungan itu sudah kandas sejak lama karena maut. Semua spekulasi yang sempat mampir di kepala Claudia, berbanding terbalik dengan kenyataan. Claudia salah besar. Sebab sekarang, di hadapannya, terdapat makam Aiza. Semua membuktikan bahwa selama ini mereka sudah berpisah alam. Entah ini anugerah atau musibah, Claudia tidak bisa mendeskripsikan perasaannya. Jika Aiza sudah tidak ada, ia masih bisa memiliki kesempatan untuk kembali pada Mario. Tapi sungguh, Claudia tidak sejahat itu. Dia tidak akan seegois itu, memanfaatkan keadaan demi mendapatkan apa yang dia mau. Toh, pasti Mario akan tetap setia sampai dia bisa menyusul ke Surga. Di depan batu nisan ada sebuket bunga yang telah layu. Pasti bunga itu dari Mario. Mungkin dia sering berkunjung ke sini dengan membawa bunga dan meletakkannya di sana. Cinta mereka pasti abadi. Mario tidak akan pernah memberikan cintanya pada wanita lain. Beruntung sekali Aiza, bisa dicintai oleh Mario. Beruntung sekali Mario, bisa dicintai wanita yang sangat baik seperti Aiza. "Aiza meninggal karena keguguran. Saat itu aku berkunjung ke rumah Mario untuk mengucapkan bela sungkawa, aku melihat dia sangat terpukul. Dia tidak bicara apa-apa dengan memasang wajah frustrasi." "Karena Mario sangat mencintainya, itulah mengapa dia seperti itu." Caludia memandang ke samping, melihat kendaraan yang berlalu-lalang. Dia duduk di belakang, sedangkan Dean menyetir. Mungkin ini jawaban dari rasa yang dirasakan Claudia selama ini. Mungkinkah Tuhan sudah merencanakan ini dari awal? Dia sengaja tidak menghapus semua kenangan yang terjalin bersama Mario di masa lalu. Mungkin ini alasannya mengapa Mario tidak pernah mau keluar dari pikirannya. "Ya, aku juga mengerti. Pernikahan mereka memang tidak diawali dengan cinta, bahkan itu hanya pernikahan mendadak, tapi harus berakhir dengan seperti itu. Dengan cinta Mario yang ditinggal pergi oleh Aiza sampai membuat Mario tidak bisa mencintai yang lain." "Kapan Aiza meninggal?" "Kalau tidak salah, Aiza meninggal di hari jum'at, pada bulan September 2018." "September 2018 katamu?" Claudia bangkit dari sandarannya, posisinya menjadi duduk tegak, melayangkan pandangan terkejut. "Iya." "Bukankah Mario dan Aiza sudah memiliki anak? Mengapa? Tadi kamu bilang Aiza keguguran?" Claudia kelihatan bingung sekali. Semuanya terkesan rumit. Dia seperti seorang teman yang tidak tahu apa saja yang telah terjadi pada teman karibnya. Dan itu sangat memalukan. "Abyan itu hanya anak angkat mereka, Clau. Saat mengandung anak pertama mereka, kejadian naas menimpa, Aiza harus keguguran, dan itu menyebabkan dia kehilangan nyawanya." "Astagfirullah.... Aku tidak tahu menahu soal itu." Claudia memeluk batu nisan Aiza dengan penuh rasa sesal. Jika saja dia masih hidup, Caudia bisa menjadikan Aiza sebagai teman. Dia bisa meminta bantuan Aiza untuk menjadikannya sebagai wanita salihah yang dirindukan Surga. Mario mengompres kening Abyan dengan kain handuk yang sudah diperas dengan air hangat. Dia tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan selain memberikan obat, namun tindakan ini sudah lumrah digunakan para orang tua ketika anak kesayangannya jatuh sakit, dan membuat mereka panik setengah mati, bahkan ada yang sampai menangis lantaran tak kuat melihat penderitaan sang anak yang terlihat begitu lesu. Melihat Abyan tidak berdaya seperti ini, Mario jadi merasa bersalah. Dia seperti tidak becus menjaga anak, dan malah membuatnya terpuruk. Kebahagiaan yang sudah ia beri padanya seperti tidak berarti apa-apa, seumpama lukisan istana di atas pasir, yang langsung rata akibat sapuan air laut. Walau hanya sekali, tapi mampu membinasakan semuanya hingga tak bersisa. Penyebab sakitnya Abyan membuat Mario menyalahkan diri sendiri. Andai saja ia tidak telat menjemput Abyan, pasti sekarang Abyan tidak sedang berbaring lemah di atas tempat tidur, tapi sedang bermain dan belajar bersama teman-temannya di sekolah. Jika saja ia tidak telat menjemput, pasti Abyan tidak akan melihat pemandangan yang menggambarkan keharmonisan sebuah keluarga utuh, hingga menjadikannya merasakan kesedihan mendalam karena merindukan sosok bundanya. Setelah meletakkan kain handuk di atas kening, Mario beranjak untuk keluar. "Aku ingin Ibu baru ...." Suara perih itu berhasil membuat langkah Mario berhenti, dia kembali mengalihkan pandangan ke belakang. Ternyata Abyan sedang mengigau. "Sebenernya aku ingin sekali bunda baru.... Seperti Yasmin yang selalu bermanja-manja dengan ibunya...." Mario tidak jadi pergi, dia kembali naik ke atas kasur, berbaring di sebelah Abyan, memeluk putranya yang masih mengigau. Percayalah, Mario menyayangi Abyan lebih dari apa pun. Dia rela menukar nyawa, dia rela kehilangan semuanya asalkan Abyan tetap berada di sisinya. Harta pun tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan Abyan. Harta bukan segalanya. Harta bukan prioritas utama. Jika saja harta bisa membuat semua orang bahagia, jika saja harta benar-benar tujuan utama demi mencapai sebuah kemakmuran dan kesejahteraan, maka demi Allah, Mario tidak akan merasakan kehilangan seperti ini. Dia bisa menggunakan hartanya untuk membeli kebahagiaannya, yaitu Aiza. Tapi tidak. Harta itu tidak mampu melakukan apa-apa. Andai saja Aiza masih ada. Ini tidak akan terjadi. Abyan tidak akan sakit. Mario tahu dia terlalu egois. Kesetiaannya pada Aiza telah membuat Abyan terluka. Cintanya pada Aiza telah memblokade rasa. "Ayah, surga kan ada di telapak kaki Ibu? Lalu bagaimana dengan Byan? Apakah Byan bisa masuk surga? Kan Byan tidak memiliki Ibu." Pernyataan itu kembali terngiang di telinga Mario. Semakin sering, dan semakin menyiksa. Ternyata sebesar itu keinginan Abyan untuk dikaruniai Ibu. Cukup membuat Mario dihantui rasa bersalah. "Kamu telah membuat ayahmu tidak berdaya." "Ayah, aku rindu dengan bunda Aiza," ucap Abyan, mendongkak. Matanya setengah terbuka. "Kalau kamu merindukannya, kamu cukup berdoa. Kalau kamu ingin mendoakannya, cukup di sini. Di mana pun kamu berdoa, doamu akan tersampaikan pada Allah. Jadi tidak perlu ke sana." Mario mengusap punggung Abyan, upaya membujuk agar Abyan berhenti merengek. "Aku ingin pergi ke makamnya." "Kapan-kapan kita pergi ke sana." "Tidak, aku inginnya sekarang." "Byan...." "Apa? Apakah Ayah akan marah lagi? Baiklah kalau begitu." Mata Abyan memerah, dia segera berbalik, membelakangi Mario yang serba salah, air mata luruh membasahi pipi Abyan. Akhir-akhir ini dia berubah menjadi anak cengeng dan gampang mengeluh. "Byan...." "Byan tidak mau mendengarkan." "Baiklah kalau begitu, kita tidak jadi pergi...." Perlahan, Abyan berbalik. Tidak ingin membuat Abyan semakin bersedih, akhirnya Mario mengalah. Sekarang mereka sedang berada di perjalanan menuju makam Aiza. Terlihat Abyan memakai jaket tebal, dengan wajah yang lumayan pucat, kepalanya bersandar di kursi, menatap ruas jalan. Tidak ada pembicaraan yang terjalin, sepasang Ayah dan anak itu seolah sedang puasa bicara. "Ayah?" panggil Abyan, memecah hening, kemudian menoleh ke samping. "Iya?" Mario menyahut. "Maafkan aku, sudah membuat Ayah marah kemarin. Byan tahu, tidak seharusnya Byan merengek seperti itu. Byan memang anak yang tidak pernah bersyukur." "Bukan kamu yang salah, tapi Ayah. Ayah mengerti dengan posisi kamu." "Tidak Ayah, mungkin Byan-nya saja yang terlalu berharap dan memaksa." Pembicaraan mereka berhenti. Begitu sampai di pemakaman, Mario menemukan sebuah benda yang mampu membuatnya penasaran sekaligus bertanya-tanya. Mario mengambil benda mungil berupa gantungan kunci berbentuk kepala wanita yang bercadar bertuliskan 'I'm muslimah' Sudah dipastikan, tadi ada seseorang yang mengunjungi makam ini sebelum mereka tiba. Tapi siapa? Setau Mario, Aiza tidak memiliki teman di Jakarta kecuali di tempat tinggalnya---Garut. Abyan membacakan surat Alfatihah di depan makam Aiza dengan wajah khusyuk. "Suatu saat Byan juga akan masuk ke sana ...." lirih Abyan sangat pelan. Sedangkan Mario malah sibuk mengedarkan pandangan ke segala penjuru pemakaman yang cukup lengang nan luas. Mario penasaran pada si pemilik gantungan unik ini. Mario berlari menjauhi makam Aiza untuk mencari si pemilik yang kemungkinan besar adalah wanita. Selain ingin mengembalikan, dia juga ingin bertanya banyak hal. Atau mungkin? Ada orang yang kebetulan lewat dan menjatuhkan gantungan ini tepat di sebelah makam Aiza? Yah, mungkin memang seperti itu Mario mengurungkan langkah, dan kembali ke tempat semula, berjongkok di sebelah Abyan dengan ekspresi menduga-duga. Waktu Zuhur tiba, azan berkumandang, bersahut-sahutan di semua penjuru kota, mengajak umat muslim untuk menyegerakan rukun islam ke dua. Untuk menguji apakah hati manusia mati atau tidak, maka ia akan diuji ketika azan berkumandang, seberaba cepatkah mereka meresponsnya. Jika jiwanya langsung tergugah dan segera bangkit, berarti hatinya masih hidup. Selamat. Lulus ujian. Tapi jika tidak, wallahu a'lam. Mungkin hatinya sudah mati. Claudia mampir ke salah satu masjid berukuran sederhana untuk segera melaksanakan salat Zuhur. Di tempat berwudu, setelah sebelumnya sempat berwudu di rumah, Claudia melepas cadar talinya, kemudian mulai berwudu tanpa melepas kerudung dan sepatu, hanya cukup mengusap kerudung dan bagian atas sepatunya saja sesuai ajaran sunnah yang ia pelajari selama ini. Ya, islam memang agama yang indah, sempurna, dan tidak menyusahkan. Claudia merasa beruntung, bisa masuk dalam lingkungan muslim seperti sekarang. Ketika ia sedang bersedih dan tidak ada manusia yang bisa dijadikan sandaran, maka Allah-lah tempat dia bersimpuh dan bermunajat. Islam itu memiliki obat penawar luka. Islam itu memiliki obat penawar nestapa. Obatnya sangat sederhana. Sesederhana air yang menyucikan diri. Sesederhana salat yang menyehatkan organ-organ tubuh. Sesederhana wudu yang membuat wajah sejuk nan bersih. Saking sederhananya, Islam mampu membuat sukma bahagia. Selesai salat, Claudia keluar dari area masjid, menunggu taksi lewat. Dia membuka tas, dan merasa ada yang aneh. Perasaan, ada gantungan yang dipasangkan di resletingnya, tapi kemana gantungan itu? Kenapa tidak ada? Otak Claudia mulai berspekulasi. Ah, mungkin terjatuh di jalan. Maklum, gantungan itu sudah sangat lama, jadi wajar jika lepas. Baiklah, kali ini Claudia harus ikhlas melepasnya. Taksi lewat, Claudia segera masuk. Saat itu pula mobil Mario memasuki area Masjid. "Sudah telat beberapa menit, Byan. Kamu ikut salat? Atau tunggu di sini?" "Byan ikut salat, kan masih kuat." "Baiklah. Anak yang pintar, ayo kita turun." Mereka turun dari mobil. Abyan merasa jauh lebih baik setelah pulang dari makam Aiza. Sebab ini untuk pertama kalinya setelah sekian lama Mario mengizinkan Abyan mengunjungi makam Aiza. Begitu memasuki Masjid, aura ketenangan langsung menyergap, apalagi jika berhadapan langsung dengan lafaz Allah yang besar, indah, lagi gagah perkasa. Hati menjadi tenteram. Seolah semua beban pikiran tentang dunia lenyap. Setelah wudu, mereka bersiap untuk melaksanakan salat berjamaah berdua, lantaran masjid dalam keadaan sepi. Mario menjadi imam Abyan. Abyan yang masih dalam keadaan flu, bersin beberapa kali seraya menarik ingus selama salat berlangsung. Begitu salat selesai, mereka tidak langsung pulang. Mario dan Abyan berdiam di Masjid untuk menenangkan diri. Karena hanya di Masjid-lah Mario bisa merasakan ketenangan hakiki. Semenjak mengenal Aiza, Masjid adalah tempat favorit untuk dikunjungi. Posisi Abyan telentang, kepalanya berada di atas pangkuan Mario, sedangkan kakinya selonjoran, matanya menatap langit-langit. Mereka menjadikan Masjid sebagai rumah utama. "Byan ingin sekali salat berjamaah dengan Bunda. Jika Ayah tidak ada, maka Byan yang akan mengimaminya." "Memangnya kamu bisa?" Abyan mengangguk pasti. Mario mengecup kening Abyan. "Semoga suatu saat nanti cita-citamu bisa tercapai." "Memangnya bisa?" "Mengapa bertanya seperti itu?" "Bukankah Ayah tidak akan menikah lagi?" "Kita tidak tahu ke depannya akan seperti apa. Hanya Allah yang tahu." Abyan berhenti bicara. Kembali ia bersin, Mario terkekeh melihat hidung Abyan yang memerah, dia terlihat tersiksa sekali dengan flunya. "Ucapkan Alhamdulillah, Byan," ucap Mario mengusap pipinya. "Alhamdulillah ...." "Yarhamukallaah." Mario menjawab. "Mengapa harus mengucapkan Alhamdulillah?" "Karena tiga puluhan malaikat berlomba-lomba membawa bacaan itu ke langit." "Benarkah?" Abyan tertarik dengan topik pembicaraan yang Mario bawa. "Saat salat pun kamu boleh mengucapkan hamdalah. Tidak ada bedanya." "Memangnya tidak batal? Bukankah Ibu guru pernah bilang, kalau kita tidak boleh berbicara ketika sedang salat, nanti salatnya bisa batal. Bukan hanya itu, tertawa pun bisa membuat salat batal." "Tidak, Byan. Kalau mengucapkan Alhamdulillah, itu tidak akan membatalkan salat, karena itu hal yang diperbolehkan." "Ooh jadi begitu, ya." Abyan mengangguk mengerti. Kembali Abyan bersin, sampai ingusnya mengucur keluar, Mario segera mengeluarkan sapu tangan, dan mengelap ingus Abyan sambil tertawa. Dua lelaki berbeda generasi itu kembali akur seperti sediakala. Dulu sewaktu Mario demam dan flu, Aiza yang mengurusnya. Saat itu tidak henti-hentinya Mario bersin, dan Aiza senantiasa menyuruh Mario untuk mengucapkan hamdalah, maka Aiza akan menjawabnya dengan kalimat Yarhamukallaah. Selama sakit, mereka habiskan waktu bersama dalam kamar. Dan yang paling megesankan, Aiza menyelimuti Mario dengan selimut tebal sambil memasang wajah tegangnya, posisi mereka sedang duduk di pinggir kasur. "Padahal selimutnya sangat tebal, tapi mengapa masih terasa dingin, ya?" Mario menggigil hiperbolis. "Lalu bagaimana? Atau kita ke dokter saja?" "Kamu ini tidak peka atau bagaimana?" Aiza mulai berpikir, menaikkan kedua bola mata seumpama orang yang sedang menerka-nerka. Mario mengembuskan napas bosan. Tapi tak lama kemudian, Aiza pun memeluk Mario dengan erat. "Sudah hangat, tuan Mario?" tanyanya lembut seraya mendongkak, tersenyum memamerkan barisan gigi yang rapi dan putih. Itu semua mampu mengalihkan dunia Mario. Semua rasa sakit hilang diterjang kecantikan dan keelokan paras Aiza yang mirip bidadari Surga. "Seperti di dekat api unggun yang penuh cinta." Aiza terkekeh. Bagi Mario, selimut setebal apa pun tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pelukan Aiza. Selimut masih bisa dibeli dengan harta. Tapi tidak dengan pelukan Aiza. Semuanya, minta doa untuk saudara-saudara kita yang ada di kota Palu dan lainnya, ya. Jika kita tidak bisa memberinya uang, boleh mengirim doa sebagai bentuk rasa peduli kita pada sesama. Orang paling buruk adalah dia yang tidak pernah peduli pada sesama. Semoga kita tidak termasuk orang-orang seperti itu. Semoga Allah melindungi kita semua. Jangan biarkan Dia murka lagi akibat ulah kita yang sudah sering berbuat dosa Jangan hiraukan faktor alam, sebab alam pun ada yang mengendalikan, yaitu Allah subahanahu wa ta'ala yang mahagagah dan perkasa. Aamiin ya Rabb... Jazakumullah khairan...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD