Bab 6 - Ingin Seperti Mereka

2224 Words
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Gerimis datang membasahi bumi. Membasahi genting, ranting-ranting, daun, tanah, dan sandal-sandal yang tergeletak di depan teras. Udara dingin menusuk tulang, cahaya matahari redup terkalahkan awan mendung dan kabut. Jam pulang sekolah taman kanak-kanak tempat Abyan menuntuk ilmu sudah tiba, para orang tua yang menjemput segera membuka payungnya untuk bergegas pulang bersama putra-putri mereka. Satu per satu orang mulai pergi, terkecuali Abyan dan Yasmin. Mereka masih duduk di kursi seraya bermain mainan lumpur lapindo, mereka berdua sama-sama sedang menununggu jemputan. Kedua bocah itu jadi semakin dekat dan lengket. Abyan juga kadang menjadi superhero Yasmin ketika ia diganggu teman yang jail. Abyan juga masih gemar memberikan permen-permennya pada mereka. Tak lama kemudian, sosok Ibu Yasmin datang. "Yas, maaf Ibu terlambat. Ayo kita pulang," ajaknya langsung. "Ibuku sudah datang, lalu ayahmu ke mana, Byan?" tanya anak berkucir dua itu dengan raut penasaran. Dia memindahkan ranselnya ke depan. "Mungkin masih berada di perjalanan." "Ya sudah, kalau begitu aku pulang duluan, ya." "Iya." Abyan mengangguk. Yasmin dan ibunya pamit pergi, meninggalkan Abyan seorang diri di sana bersama rintikan air hujan. Tumben sekali ayahnya terlambat menjemput. Biasanya, sebelum Abyan keluar, dia sudah stay di depan pintu. Tapi sekarang? Abyan menjangkau kepergian Yasmin bersama ibunya. Tangan Yasmin dituntun sang Ibu dengan erat. Jujur selama ini dia iri dengan Yasmin. Diam-diam Abyan cemburu dengan Yasmin, karena masih memiliki seorang Ibu yang sangat menyayangi dan selalu ada untuknya. Apalagi, Yasmin sering bercerita banyak tentang kebahagiaannya bersama sang Ibu. "Ibuku selalu menemani aku ketika aku akan tidur. Kalau aku tidak bisa tidur, Ibu juga tidak akan tidur." Mario juga seperti itu, dia selalu menemani Abyan tidur. Tapi, ketika Abyan tidak bisa tidur, Mario tidak akan melakukan hal yang sama seperti ibunya Yasmin. Apakah itu bedanya seorang Ibu dan Ayah? "Apalagi ketika aku sakit, ibuku bahkan rela tidak tidur semalaman demi menjaga aku." "Pagi-pagi aku selalu dibangunkan oleh Ibu. Ketika sarapan, Ibu pasti menyuapi aku." "Kalau aku melakukan kesalahan, pasti Ibu memarahi aku. Tapi setelahnya, Ibu baik lagi." Kapan Abyan bisa merasakan kebahagiaan itu? Mungkin tidak akan pernah. Karena ayahnya tidak mau menikah lagi. Abyan harus mengubur dalam-dalam harapan tersebut. Abyan yang ingin segera pulang, nekat menerobos hujan. Dia kesal menunggu lebih lama lagi. Perutnya sudah lapar meminta makanan buatan neneknya di rumah. Pikiran bocah kecil seperti Abyan tidak peduli pada risiko yang akan dihadapi. Yang dia inginkan hanya ingin cepat sampai di rumah dan istirahat. Padahal ia bisa meminta bantuan guru untuk menelepon ayahnya, tapi Abyan tidak hafal nomor ponsel Mario. Mario melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang, dia sudah telat nyaris satu jam untuk menjemput Abyan. Tadi Mario ketiduran di kantor lantaran kurangnya tidur di waktu malam. Hujan mulai mereda, tapi hujan seperti ini kerap membuat manusia terserang penyakit. Tak lama kemudian, Mario melaunkan laju mobil, matanya menangkap sosok anak kecil yang berjongkok di pinggir jalan. Mario tahu tasnya, dia kenal dengan baju yang tersemat di badan anak itu, matanya menyipit, dan benar, dia adalah Abyan! Mario pun menepikan mobilnya di pinggir jalan, dia keluar tanpa peduli dengan air yang turun dari langit, Mario langsung menghampiri Abyan. "Abyan? Mengapa kamu hujan-hujanan, Byan? Cepat berdiri." Abyan mendongkak, dia sudah basah kuyub. "Mengapa Ayah telat menjemput Byan?" tanya Abyan tanpa prolog. "Tadi Ayah ketiduran, maafkan Ayah." "Andai saja ada bunda, pasti tidak akan seperti ini." "Sekali ini saja, Ayah minta maaf. Ayah berjanji tidak akan mengulanginya lagi." "Byan tidak mau pulang." Sesuatu terjadi pada Abyan, yang membuat anak itu enggan pulang padahal sebelumnya sangat bersemangat. "Ada apa denganmu, Byan?" Mario berjongkok di depan Abyan, berusaha meminta penjelasan. "Aku hanya ingin seperti mereka!" Abyan menunjuk salah satu warung kecil yang terdapat roda penjual bakso, tempatnya tidak jauh dari posisi mereka berada. Mario mengikuti arah tangan Abyan. Di sana, ada sepasang suami-istri dengan satu anaknya yang sedang berteduh sambil menikmati bakso yang asapnya masih mengepul. Terlihat sekali kebahagiaan yang terpancar dari wajah masing-masing. Sang Ibu sedang menyuapi putranya, sedangkan sang Ayah sedang mengobrol lewat telepon. Sambil mengunyah, sang anak berusaha mengganggu ayahnya dan mengajaknya bicara. Dengan romantisnya sang istri menyuapi suaminya, membuat anaknya semakin dikelilingi euforia melihat kemesraan orang tuanya. "Byan tidak mau menjadi orang kaya, Byan inginnya menjadi seperti mereka. Ketika ayahnya sibuk bekerja, akan ada Ibu yang siap menemani. Jika Ayah lupa, maka ada Ibu yang siap menggantikan." Kenangan masa lalu berkelebat di kepala. Bagai adegan lama yang kembali diputar ulang dalam sebuah drama percintaan bergenre dramatis. Menambahkan kesan melankolis yang menyesakkan d**a. Ketika dulu Mario dan Aiza dalam perjalanan dari Garut ke Jakarta, mereka sempat mampir ke rest area untuk melaksanakan salat zuhur di musala. Setelah selesai, mereka mampir ke salah satu tukang bakso yang berada di sekitar rest area. Aiza yang memintanya, perutnya lapar ingin dijejali makanan. "Kenapa harus bakso? Aku bisa membawamu ke rumah makan yang menyediakan makanan-makanan mewah dan berkelas dengan harga tinggi. Kamu pun bisa makan sepuasnya." "Sesederhana apa pun makanannya, asal bersama orang yang dicintai, itu lebih spesial, tuan Mario." "Berarti aku adalah sosok orang yang dicintai?" Aiza hanya mengangkat kedua bahu. Pura-pura gengsi untuk mengungkapkan. "Jangan seperti itu, ayo jawab. Jika memang begitu, aku ini dicintai oleh siapa?" Mario berusaha menggoda. "Kamu dicintai oleh saya, perempuan yang bernama Lubna." Mario langsung mengembangkan senyum. Jawaban Aiza berhasil membuat jantungnya bergetar lebih cepat. Kata cinta dari Aiza seperti bunga yang bermekaran di musim semi, burung yang beterbangan di pagi hari, lantunan bait-bait puisi yang dibacakan sang pemimpi, dan alunan musik biola dari sang pemusik. "Jangan tersenyum seperti itu, nanti saya semakin...." Aiza melangkah, meninggalkan Mario yang merasa digantung. "Semakin apa?" cepat-cepat Mario menyusul, menyejajari posisinya dengan Aiza. "Semakin apa?" "Semakin jatuh." "Jatuh?" "Cinta." Mario kembali tertawa. Lagi-lagi, ucapan Aiza layaknya kado di hari ulang tahun. "Kamu mulai berani gombal ternyata, Nyonya." Mario mengusap kepala Aiza. "Suami saya sering gombal, jadi saya ikut ketularan. Bagaimana, dong? Siapa yang harus disalahkan?" Mario menggeleng-gelengkan kepala seraya terkekeh mendengar ucapan Aiza yang terlalu polos dan jujur. Sesederhana itu kebahagiaan tercipta. Sesederhana itu Aiza membuat bibir terus melekuk senyum. Sesederhana itu dia mengubah makanan murah menjadi sangat mahal. Mengapa mahal? Karena sampai saat ini, Mario belum bisa membeli makanan yang membuat jiwa sebahagia itu lagi. Jika Mario menjual seluruh aset dan rumah, niscaya, dia tetap tidak akan bisa membelinya lagi. Lamunan Mario buyar, dia kembali tersadar, cepat-cepat dia kembali bicara kepada Abyan dengan wajah yang mengeras. "Apa yang sedang kamu bicarakan? Bukankah selama ini kamu bahagia? Bukankah kamu pernah mengatakan kalau bersama Ayah saja pun kamu tidak akan meminta apa-apa lagi?" Abyan terdiam, sungguh dia iri pada mereka yang masih memiliki orang tua utuh. Suasana semakin sesak. Selama beberapa detik, Abyan tetap berjongkok, enggan merespons ucapan sang Ayah yang kemejanya sudah mulai basah karena air hujan yang terus-menerus bertetesan. "Abyan...." "Memang salah ya kalau Byan menginginkan bunda baru?" Abyan berteriak. "Kamu tidak bersyukur, Byan! Ketika kamu tidak memiliki Bunda, lihat anak lain yang tidak memiliki orang tua sama sekali. Lihat mereka yang luntang-lantung di jalanan tanpa orang tua, tanpa tempat tinggal, tanpa seorang nenek, tanpa tempat tidur beralaskan kasur yang sangat nyaman. Lihat mereka yang tidak bisa makan, tidak bisa sekolah, kamu tidak pantas mengeluh seperti itu!" "Byan tidak mengeluh! Byan hanya ingin bunda." Mario mulai murka. Semua ucapan yang dia lontarkan memang benar, tapi Abyan hanya anak kecil, yang tidak tahu artinya apa itu bersyukur. Mario pun memaksa Abyan untuk masuk ke dalam mobil. Bentakan Mario berhasil membuat Abyan menangis. Baru kali ini mereka bertertengkar. Dan baru kali ini juga Abyan jujur. Setelah mereka sudah berada di mobil, Mario terus memarahinya. Tentang Abyan yang tidak menunggunya, juga tentang Abyan yang malah membiarkan tubuhnya terkena air hujan, dan bertingkah seolah menjadi anak yang terbengkalai. "Ayah sendiri yang terlambat, mengapa memarahi Byan?!" Abyan langsung menghadap ke samping dengan wajah tertekuk. Entah mengapa hari ini dia merasa kesal. "Karena Ayah sangat mengkhawatirkan kamu," ucap Mario di antara keheningan. Abyan tidak menyahut, dia tetap membuang muka. Mario melirik ke samping, Abyan tidak bergerak sama sekali dari tempat duduknya. Akibat ketetlambatannya, semua jadi runyam. Dan di saat seperti ini, Mario membutuhkan Aiza. Maaf aku telah membuat Abyanmu kecewa. Mario menyesal sudah membentaknya. Pagi kembali menyapa. Mario memasuki kamar Abyan untuk membangunkannya, karena ia harus segera mandi dan berangkat sekolah. Abyan masih berselimutkan badan, dengan tangan yang menumpu kepala di atas bantal. Mario duduk di tepian ranjang, ekspresinya berubah ketika melihat wajah Abyan yang pucat. Tangannya segera meraba kening dan pipi Abyan, panas. Iya, suhu tubuh Abyan sangat panas, dia juga menggigil. "Kamu sakit, Byan?" Mario terperanjat. "Ya sudah, tidak perlu sekolah, Ayah akan membawamu ke puskesmas." "Tidak mau, Ayah," lirih Abyan, matanya setengah terbuka. "Ada apa?" "Byan hanya ingin tidur di sini, bersama Ayah." Mario semakin merasa bersalah karena insiden kemarin. Demi Allah dia tidak bermaksud membentaknya. "Baiklah." Mario mengusap kepala Abyan. "Tapi Ayah harus mengambil obat dulu, tunggu sebentar." Abyan mengangguk lemah. Mario keluar dari kamar. Dia segera mencari obat penurun panas di kotak obat. Tapi tidak ada, mungkin habis. Mario pun menyuruh salah satu pembantu untuk membelikannya ke minimarket. "Obat untuk siapa?" Eliza menghampiri mereka ketika Mario memberikan uang. "Untuk Byan, dia demam." "Pasti karena kehujanan kemarin. Kamu Mario, mengapa bisa telat menjemput?" "Aku sibuk." "Tuh kan, akhirnya kamu mengaku dirimu sibuk. Seharusnya sejak awal kamu mendengarkan Ibu, kamu tidak bisa memegang semuanya di waktu bersamaan, kamu membutuhkan orang lain." "Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi." "Siapa yang menjamin?" "Ibu...." "Tidak selamanya kamu bisa menemani Abyan dan selalu ada untuknya setiap saat, Mario. Kamu lihat sendiri kejadian kemarin, kamu melupakan Abyan. Kalau kamu tidak mau Ibu yang merawat Abyan atau mengantarjemputnya ke sekolah, biar Ibu yang mencarikanmu pendamping hidup." Mario terpegun mendengar ucapan ibunya yang terlalu mendadak, di luar dugaan serta keinginan. "Mencarikan pendamping? Sudah aku katakan pada Ibu, aku tidak akan pernah menikah lagi." "Ibu tahu kamu masih sangat mencintai almarhumah Aiza, tapi jika kamu terus seperti ini, sama saja kamu belum ikhlas melepasnya untuk pergi. Kalau kamu menikah lagi, Ibu yakin Aiza pasti bahagia." "Aku hanya ingin...." "Itu sudah harga mati. Kamu masih membutuhkan pendamping untuk tetap melanjutkan hidup. Jika kamu tidak ingin Abyan diasuh orang lain atau pembantu, lebih baik kamu menikah lagi." "Tidak ada yang namanya istilah menikah lagi. Aku sudah bahagia dengan hidupku yang sekarang. Aku tidak ingin berurusan dengan wanita. Mengertilah dengan posisi aku, Ibu." "Kamu meminta Ibu mengerti, lalu apakah kamu mengerti dengan posisi Abyan?" "Kalau aku menikah, aku wajib memberikan cintaku pada perempuan itu, dan aku tidak mau itu terjadi." Kecewa, Mario melangkah meninggalkan Eliza yang menggeleng-gelengkan kepala. "Apa selama ini kamu berpikir, kasih sayang yang kamu beri pada Abyan itu cukup? Apa pernah kamu tahu apa keinginan terbesarnya?" Seolah tuli, Mario tetap melangkah. Ia terlalu menutup hatinya. Dia keras kepala. Apa dia tidak tahu? Dia sedang egois. Mario pun merasa dirinya egois. Ya, dia memang egois Claudia memutuskan untuk mengajar di salah satu madrasah, kebetulan ada lowongan karena guru sebelumnya memutuskan untuk berhenti mengajar. Claudia yang memperkenalkan namanya kepada anak-anak dengan nama Sabria---nama belakangnya, ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang  lain walaupun ilmu agamanya masih di bawah rata-rata. Sekadar mengajarkan iqra, dan Al-Quran bagi anak-anak yang cerdas. Belajar rukun iman, rukun Islam, huruf hijaiyah, dan lain-lain. Ketika mengajar Claudia melepas cadarnya, agar bisa leluasa memberikan ilmu pada anak-anak. Agar mereka juga bisa belajar dengan santai. Claudia memang belum bisa istiqamah, ia masih melepas pasang kain penutup itu. Dipakai di tempat tertentu, dan dibuka di tempat tertentu juga. Karena ia mengikuti hukum sunnah atas cadar yang ia kenakan. Claudia sadar, ia tidak perlu menunda untuk menjadi sempurna sekali. Daripada tidak sama sekali, lebih baik setengahnya. Sesuai dengan kaidah fiqhiyah: "Sesuatu yang tidak dapat dicapai seluruhnya jangan ditinggal seluruhnya." Maka dari itu Claudia memilih untuk menjadi wanita setengah cadar. Dan berharap, kelak ia akan istiqamah memakainya. Terutama setelah menikah, karena ia akan dedikasikan wajahnya pada dia yang berhak melihat. Proses belajar sudah setengah jam berjalan, tapi Claudia belum juga melihat Abyan. Ke mana dia? "Abyan tidak masuk?" tanya Claudia. "Tidak, Bu. Biasanya dia paling rajin." Claudia termenung sesaat. "Mungkin izin," timpal yang lain, yang kala itu sedang menulis huruf hijaiyah di buku tulis. "Sudah dua hari, mana mungkin izin." "Ya bisa saja, Byan kan pernah bercerita kalau dia memiliki nenek di Garut. Mungkin saja dia sedang berlibur ke sana." "Ini bukan hari libur, mana bisa berlibur." "Bisa saja, siapa tahu ada keperluan mendadak." Claudia mengeluarkan ponsel, dan mengetik sesuatu untuk dikirim pada Dean. Besok tolong antar aku ke pemakaman Aiza. Sebab hanya kamu yang mengetahuinya. Claudia kembali memasukkan ponsel itu ke dalam saku, dan kembali fokus pada anak-anak usia empat tahun sampai lima tahun itu. Claudia penasaran, mengapa sudah dua hari ini Abyan tidak masuk. Di DBN 1 ada yg komplain kalau cadar itu sunnah. Iya, cadar itu memang sunnah. Tapi ada ulama yang mewajibkan juga. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke d**a (dan leher) mereka.” (QS. An Nur: 31) Nah, d**a sma leher aja harus ditutupin, bagaimana dengan wajah yang indah? Kaki aja harus pakai kaus kaki, bagaimana dengan wajah? Masuk logika ya? Ini hanya persepesi saya. Nah di DBN 1, berarti Aiza sedang memegang hukum wajib. Makannya gk pernah dilepas walaupun di waktu salat yang tempatnya terdapat banyak lelaki ajnabi. Sedangkan di DBN 2, Claudia memegang hukum sunnah. Mau wajib, mau sunnah, mau tidak sama sekali, itu tidak apa-apa. Yang salah itu yang tidak memakai jilbab. Semoga tidak ada kekeliruan lagi ya.. Jazakumullah khairan. Semoga bermanfaat :)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD