بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Seorang perempuan sedang memasangkan cadarnya di depan cermin, hari ini akan ada laki-laki yang datang ke rumah untuk mengkhitbahnya. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, sekarang dia merasa ragu. Pikirannya berkecamuk sekaligus resah.
Sebenarnya hari ini ia sedang tidak ingin melakukan apa-apa. Tapi keadaan tidak mendukung. Ada sesuatu yang menghantam d**a dengan sedemikian kuat. Ada satu kebenaran, yang membuatnya lebih banyak melamun.
Seharusnya ini menjadi hari bahagia, tapi malah berbanding terbalik.
"Claudia ... " panggil seseorang yang jauh lebih tua, dia menghampiri gadis yang ia panggil Claudia itu.
Claudia mengalihkan perhatiannya ke samping, wanita yang notebanenya adalah bibinya kini sedang tersenyum bangga kepadanya.
Sekarang Claudia tinggal bersama paman dan bibinya dari keluarga sang Papa yang sudah tidak ada. Paman adalah adik dari papanya.
Empat tahun lalu beliau meninggalkan Claudia akibat kecelakaan pesawat.
Saat itu Claudia benar-benar terpukul.
Bagi Claudia kehilangan Yunus adalah cambukan terbesar untuknya. Seperti sedang diberi azab yang mendera dengan sedemikian rupa.
Sangat disayangkan, papanya meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada Tuhannya. Claudia sangat menyesali itu. Jika saja ia sempat mengajak sang Papa untuk mengikuti agama yang ia anut, pasti Claudia tidak akan serapuh ini.
Resmi menjadi yatim piatu, Claudia memilih untuk mendekatkan dirinya pada zat yang telah menciptakan langit dan bumi.
Hanya itu satu-satunya cara untuk menghilangkan segala sesak.
Claudia sadar bahwa hanya kepada-Nya dia mampu bersandar dan mengeluarkan semua keluh kesahnya.
Hatinya merasa tenang dan damai.
Perlahan-lahan dia mulai belajar Al-Quran, melaksanakan salat dengan khusyuk, dan bersimpuh dan bermunajat di atas sajadah untuk memohon ampunan.
Ia tahu selama ini dia sudah banyak berdosa, maka dari itu izinkanlah dia bertaubat untuk kesekian kali.
Kepada Aiza. Kepada Mario. Dia memohon maaf yang sebesar-besarnya.
Terutama kepada Allah.
Claudia merasa betuntung, adik dari papanya adalah seorang mualaf. Untuk menikahi Bibi, dia rela memasuki agama Islam dan meninggalkan agama sebelumnya. Dia memutuskan untuk menjalani hidup sederhana bersama istrinya. Seiring berjalannya waktu, niat
Betapa senangnya Bibi dan Paman ketika Claudia juga memasuki agama Islam. Mereka sempat dibuat kaget dan tidak percaya.
Tapi, memang begitulah kenyataannya.
Allah berhak memberikan hidayah pada siapa saja yang Dia kehendaki.
"Apa kamu sudah siap untuk segera melepas status lajangmu, Clau?"
"In syaa Allah, Bibi...." Claudia menjawab lirih.
Claudia seperti sedang berjalan menuju rumah baru dengan keraguan yang terus bergelayut dalam jiwa. Sebab dalam hati kecilnya ia belum ingin meninggalkan rumah sebelumnya yang telah membuat dirinya merasa nyaman. Tapi sayang, rumah itu enggan menerima kehadirannya lagi. Tuan rumah sudah mengusirnya jauh-jauh.
Antara terus berjalan, atau kembali.
Antara terus berjalan, atau berjuang untuk meluluhkan hati.
"Bibi senang, akhirnya kamu akan segera memiliki calon pendamping hidup. Kamu tidak akan merasa sendirian dan kesepian lagi. Kamu akan ditemani olehnya, ke manapun kamu pergi dan di manapun kamu berada, dia akan berdiri di sisimu, bagai pion yang akan terus melindungimu."
Claudia tersenyum tipis di balik kain penutup wajahnya yang berwarna abu-abu.
Semenjak tahu bahwa kecantikan muslimah tidak pantas untuk dipublikasikan, Claudia memutuskan untuk bercadar. Ia ingin meminimalisir dosa, walaupun ilmu agamanya tidak setinggi wanita bercadar lainnya.
Claudia, paman dan bibinya sudah duduk di ruang tamu, begitu pula dengan lelaki yang datang bersama kedua orang tuanya untuk menyampaikan maksud tertentu. Pertemuan mereka diawali dengan obrolan-obrolan ringan untuk mempercair suasana.
Sebelum dimulai, Claudia mengucapkan sesuatu yang membuat semuanya terdiam.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu, Dean."
Ya, pria itu adalah Dean. Lelaki yang dulu mampu menyadarkan Claudia kalau dirinya tidak bisa bersama Mario dalam keadaan Mario yang sangat mencintai Aiza. Sebab itu akan sangat merugikan Claudia.
Dia juga lelaki yang mendukung proses hijrah Claudia melalui doa-doanya. Pelajaran hidup telah membuatnya sedikit-demi sedikit mendalami ilmu agama.
Jika Claudia ingin memperbaiki, maka Dean juga harus mau memperbaiki diri agar mendapatkan jodoh yang setara.
"Lebih baik kamu hentikan semua itu, Clau. Percuma, kamu tidak akan bahagia hidup bersamanya."
"Mengapa aku harus mundur? Aku sangat mencintai Mario, aku berhak memiliki dia." Claudia nyaris frustrasi setelah tadi ditinggalkan Mario begitu saja. Mario juga mengatakan pengakuan yang menohok hati.
"Tidak, kamu tidak berhak."
"Maksudmu apa?"
"Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari Clau. Kamu tahu kan aku pernah mengatakan kalau aku sangat mencintai kamu?"
Claudia melempar pandangan ke sembarang tempat. Ke mana saja asal tidak pada wajah Dean. Dia malas membahas soal itu. Bukan waktunya.
"Jangan sampai kamu menyesal seperti aku. Aku pernah meninggalkan orang yang benar-benar tulus mencintai aku, demi mengejar kamu. Tapi ketika aku tidak melihat cinta apa pun darimu, dan melihat kamu begitu tergila-gila dengan Mario, aku merasa tidak berarti. Aku telah menyakiti seorang wanita karena keegoisanku." Dean tampak menyesal.
"Jadi maksudmu, kamu ingin aku menerima kamu agar nanti aku tidak menyesal?" tanya Claudia tidak paham dengan jalan pemikiran Dean. Jujur dia tidak bisa mencintai pria lain selain Mario.
"Bukan seperti itu. Aku hanya ingin kamu tahu, memaksakan Mario untuk mencintai kamu lagi itu percuma. Aku hanya ingin melihat kamu bahagia dengan lelaki yang benar-benar mencintaimu sepenuhnya. Ingat, Clau, lebih baik dicintai, daripada mencintai."
Claudia hanya diam. Ya, dicintai lebih baik dari mencintai. Tapi, salahkah jika ia menginginkan keduanya?
"Itu hanya saranku saja," sambung Dean lagi.
Claudia mulai berpikir keras. Ia seperti sedang dihadapi dengan pilihan sulit. Layaknya anak sekolah yang diberi soal matematika pilihan ganda. Begitu rumit dan membuat kepala ingin pecah.
"Aku sudah kehilangan orang yang benar-benar tulus mencintaiku, aku pun tidak bisa menggapai dia yang aku cintai. Pada akhirnya aku tidak mendapatkan dua-duanya. Dan, aku tidak mau hal itu terjadi padamu."
Ketika Dean memutuskan hubungan dengan kekasihnya, itu berhasil membuat kondisi wanita yang sedang dirawat di rumah sakit itu drop.
Waktu itu Dean benar-benar keterlaluan, cintanya pada Claudia sudah membutakan segalanya, menghancurkan segalanya, termasuk membinasakan dirinya sendiri. Hidup Dean hancur.
Dean dan Claudia sama-sama dilanda kegundahan tak berkesudahan.
Setetes air mata Claudia jatuh. Ucapan Mario kembali terngiang di telinga. Ucapan itu seperti racun yang membinasakan harapan sampai tidak bersisa.
Dean mengusap punggung Claudia, lalu pergi meninggalkannya sendiri.
Claudia menangkup wajah, ia menangis tersedu-sedu di sana. Sendirian. Tanpa teman. Tanpa sandaran.
"Kamu mau menanyakan apa?" tanya Dean mulai memasang wajah serius.
"Bagaimana Mario dan Aiza? Hubungan mereka baik-baik saja, kan?"
Hening. Dean tertegun. Raut wajahnya berubah kaku selama seperkian detik kemudian. Ruangan itu tidak bersuara sama sekali. Semuanya diam. Pertanyaan Claudia umpama busur panah yang menancap tepat pada sasaran.
"Jawab aku, De. Apa Aiza sudah meninggal?" Claudia bertanya dengan diplomatis, takut salah bicara. Ia takut orang yang kemarin dia lihat bukan Mario. Ia takut salah sangka. Claudia butuh kepastian atas kebenaran yang baru saja ia ketahui kemarin sore.
"Kamu tahu dari mana?"
Claudia mengembuskan napas setelah ditahan mati-matian. Kepalan di tangan terbuka dengan sempurna. Otot-ototnya kembali mengendur. "Tidak perlu tahu dari mana aku tahu kebenaran ini. Tapi yang jelas, pertanyaan kamu barusan sudah menjawab semuanya." Kebenaran sudah terungkap, dan Claudia merasa shock luar biasa. Dia diam selama beberapa menit, ini berita yang mengguncang sukmanya.
"Clau ... "
"Selama ini kamu tidak pernah menceritakan yang sebenarnya. Aku tahu, kamu pasti tahu soal Aiza sejak dulu." Claudia mulai emosi. Air matanya mulai timbul.
Dean hanya bisa diam. Claudia berhasil membuatnya terpaku.
"Mengapa kamu menyembunyikan hal ini dariku? Aku tahu, masalah ini memang tidak penting untuk aku ketahui, tapi aku berhak tahu, dan menurutku ini sangat penting, De." Ada nada kecewa dalam suara Claudia. Paman dan bibinya memasang wajah heran, apa yang sedang dibicarakan Claudia dan Dean? Topik apa yang sedang mereka selisihkan? Mengapa jadi berubah keruh seperti ini?
"Mengapa kamu berhak tahu? Kamu sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan mereka."
"Iya, tapi tetap saja, sampai detik ini aku masih memedulikan Mario. Dia orang yang aku kenal, dia juga yang pernah singgah dalam hidupku dan memberikan aku kebahagiaan walaupun hanya sementara. Dan Aiza? Dia yang telah membuatku menjadi seperti ini. Jadi bagaimana mungkin aku tidak berhak tahu? Bagaimana mungkin?"
"Kamu masih mengharapkan dia?"
"Bukan kata-kata itu yang aku harapkan. Bukan masalah itu yang harus kamu tanyakan."
"Clau...."
"Maaf, De. Aku rasa, aku tidak bisa melanjutkan acara ini. Beri aku waktu untuk berpikir lagi." Claudia memotong.
Ucapan Claudia membuat orang tua mereka terkejut.
"Jangan seperti ini, Clau. Jangan membuat kami semua malu. Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Paman belingsatan.
"Ini yang aku takutkan, jika kamu mengetahui hal ini, kamu akan berpaling dariku, Clau," timpal Dean mulai kalang-kabut.
"Aku tidak menolakmu, Dean. Tapi tolong beri aku waktu, izinkan aku untuk beristiqharah."
"Claudia ... "
"Tidak apa, Om." Dean menyanggah ucapan Paman selanjutnya. "Aku tahu Claudia sedang kecewa, aku bisa menerima dan mau menunggunya lagi."
Semuanya yang berada di sana terdiam, suasana hening dengan pikiran masing-masing.
Seberat inikah ujian cinta Dean? Dia sudah mau menunggu Claudia sejauh ini, tapi mengapa satu masalah datang dan menumpu semua mimpi?
Ya, Dean harus lebih bersabar lagi.
Mungkin Claudia memang shock dengan berita ini.
Dan itu wajar.
Aku melenggang masuk ke kamar, aku tahu ini perbuatan yang buruk, namun amarah sedang mengendalikanku. Saat itu aku benar-benar bimbang. Aku memang tidak berhak marah pada Dean, tapi aku tidak suka Dean telah menyembunyikan semuanya dariku. Aku tidak terima.
Mengapa aku baru mengetahuinya sekarang?
Pasti kematian Aiza sudah membuat Mario terpukul.
Mengapa jadi seperti ini?
Aku jamin, jika aku masih seperti dulu, aku akan merayakan kematian Aiza.
Tapi sekarang, demi Allah aku ikut merasakan kepedihan.
Wanita sebaik Aiza harus pergi secepat itu, meninggalkan putranya yang sangat cerdas dan pintar.
Saat itu aku sedang mengajar di salah satu madrasah. Aku menemukan anak laki-laki yang pintar sekali membaca Al-Quran. Aku merasa kagum padanya, pasalnya di umur yang sangat belia, dia sudah menghafal beberapa juz Al-Quran. Tapi sayangnya, dia sudah tidak memiliki Ibu. Dia bilang bundanya sudah lama meninggal dunia, jadi dia hanya tinggal bersama sang Ayah dan nenek yang sangat menyayanginya melebihi apa pun.
Ketika pelajaran selesai dan semua anak-anak bubar, aku melihat ke jendela, anak yang tadi aku peluk, anak yang tadi mengatakan kalau bundanya sudah tiada, sedang bersama lelaki yang membuatku sedikit penasaran.
Bagaimanakah sosok Ayah yang mendidik Abyan dengan sedemikian baik?
Tunggu-tunggu, aku merasa kenal dengan wajah itu.
Mario?
Nama itu tiba-tiba terlintas dalam benakku.
Awalnya aku menganggap itu hanya kebetulan mirip, tidak mungkin jika itu Mario, karena Mario masih memiliki Aiza.
Tapi saat aku melihatnya lebih lama, aku yakin itu adalah Mario.
Mario?
Aku terenyak.
Jadi, Abyan adalah putra Mario?
Jika Abyan mengatakan bundanya sudah meninggal, itu artinya ... Aiza?
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Aku menutup mulut tidak percaya, petir delusi menyambar di langit, tubuhku nyaris terhuyung.
Aiza?
Aiza sudah meninggal?
Tiba-tiba rasa panas menjalar di mataku yang mulai berkaca-kaca.
Bagiku Aiza adalah penyelamat.
Dia manusia yang dikirim Tuhan untuk menyelamatkan nyawaku. Dia rela berbagi suami agar aku tetap mempertahankan nyawaku.
Jika saja Aiza tidak memiliki hati yang baik, mungkin aku sudah mati karena bunuh diri.
Ya Allah.
Aku sungguh tidak menyangka.
Ini benar-benar membuatku terkejut.
Jadi Mario membesarkan anak mereka sendirian?
Di kamarnya Claudia dirundung kegelisahan tiada henti.
Roh jahat dalam dirinya berbisik sesuatu. Dekati saja Mario, tidak masalah jika kamu mendekati dia, karena istrinya sudah meninggal. Kamu bisa meninggalkan Dean dan menjemput cintamu.
Roh baik menimpali. Lebih baik kamu segera menerima Dean yang mencintaimu, dia bahkan rela setia menunggumu. Tidak apa-apa jika sekarang kamu tidak mencintainya, tapi cinta bisa datang setelah kalian melakukan akad.
Terjadilah pertarungan sengit di antara kedua roh itu, yang membuat Claudia semakin pening. Bukannya jernih, malah semakin keruh.
Dia menutup kedua telinga seraya menggeleng-gelengkan kepala.
Kemudian Claudia mendesah.
Di satu sisi dia masih sangat mencintai Mario, tapi di sisi lain ia tidak ingin menyakiti Dean yang sudah begitu baik kepadanya.
Mengapa cinta bisa serumit ini?
Antara mencintai dan dicintai.
Manakah yang harus ia pilih?
Mungkin seperti apa kata Dean dulu.
Dicintai lebih baik. Agar hati tidak tersakiti.
Maaf untuk yang kecewa dengan ceritanya.
Yang udah nggak minat nggak papa bisa tinggalkan cerita ini.
Yang masih minat, alhamdulillah sudah mau bersabar mengikuti alur ceritanya ke depan. Aku nggak bakal asal-asalan ngetiknya kok.
Aku nggak akan serta-merta menyatukan Claudia dengan Mario begitu saja. Aku paham, itu akan terkesan tidak cocok.
Untuk mencapai itu masih harus membutuhkan proses.
Dan proses itulah yang akan membuat hati pembaca perlahan-lahan luluh terhadap Claudia.
Jika tidak, mungkin kesalahan ada di si penulis. Dan aku mohon maaf sebesar-besarnya kalau itu sampai terjadi.
Sekali lagi author minta maaf....
Jazzakumullah khairan