Bab 4 - Cinta Yang Sepihak

1437 Words
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Cinta sepihak bisa terjadi jika cinta itu jatuh pada manusia. Tapi, jika cinta dilabuhkan pada Allah, maka Allah tak akan membiarkanmu mencintai sendirian. Dia akan membalas cintamu melebihi rasa cintamu pada-Nya. Jika cintamu hanya setetes, maka cinta Allah layaknya air di lautan. -JaisiQ- Saat itu aku baru saja tiba di Jakarta, sebab aku harus melunasi janjiku pada seseorang. Aku harus memulai hidupku yang baru, dengan bekal ilmu agama yang telah aku pelajari selama lima tahun ini. Banyak sekali lika-liku hidup yang aku jalani dalam kurun waktu lama. Ada sedih, senang, kecewa, dan aku jadikan semua itu sebagai pelajaran hidup. Aku bingkai semuanya dalam pigura keikhlasan dan ketabahan hingga menjadikannya indah. Aku senang, bisa kembali ke tempat kelahiranku. Walaupun keadaannya sudah berbeda, semuanya tidak sama lagi seperti dulu. Dan aku merasa jauh lebih baik dengan kehidupanku yang sekarang. Ketika dalam perjalanan, ada sesuatu yang membuatku turun dari dalam taksi padahal aku belum sampai pada tujuan. Aku turun dengan kaki gemetar, barusan aku telah melihat seseorang. Yang membuatku nekat turun tanpa pikir panjang. Dia seseorang yang sangat aku cintai. Seseorang yang sampai detik ini, masih sangat aku cintai. Seseorang yang sampai saat ini, tidak pernah aku lupakan. Untuk memastikan bahwa dia benar-benar lelaki yang selalu ada dalam otakku, aku menerobos jalan hingga membuatku nyaris tertabrak hingga menimbulkan kegaduhan cukup besar. Aku tidak menyangka tindakanku telah membuat si pengendara mobil marah dan memakiku dengan telak di depan orang-orang. Aku seperti wanita bodoh yang pilon. Baru tiba, tapi kejadian memalukan langsung menimpaku. Memang sial, tapi ini memang murni kesalahanku. Tanpa disangka-sangka, seorang pria datang dan berusaha membelaku. Aku berucap alhamdulillah dalam hati. Aku pikir, mereka tidak akan peduli. Ketika aku melihat siapa dia, aku terkejut dalam diam. Sekujur tubuhku seperti tersetrum aliran listrik ratusan volt. Seperti ada yang mengungkungku sedemikian erat hingga membuatku kesulitan bergerak. Dia Mario. Benarkah itu dia? Apa memang mataku saja yang salah? Benarkah itu dia? Mantan kekasihku. Cintaku yang telah lama tidak bersua. Cintaku yang aku tinggalkan beberapa tahun silam. Cintaku yang tidak akan pernah bisa aku miliki. Jadi memang benar, lelaki yang tadi aku lihat sedang memberikan sumbangan pada pengemis itu adalah Mario yang barangkali bersanding dengan putranya. Aku terpaku. Bukan bapak-bapak galak itu yang telah membuat tubuhku gemetaran dan bercucuran keringat dingin, tapi Mario. Bukan bapak-bapak itu yang telah membuatku seperti mati rasa, tapi Mario. Bukan bapak-bapak itu yang telah membuatku diam tidak berkutik, tapi Mario. Bukan bapak-bapak itu yang telah membuatku seperti es beku, tapi Mario. Bukan bapak-bapak itu yang telah membuatku seperti robot kehabisa baterai, tapi Mario. Dia telah menggetarkan hatiku. Getaran itu kian memuncak, menghadirkan sebuah rasa yang seharusnya tidak aku rasakan. Aku merasa berdosa, karena masih menyimpan rasa pada lelaki yang jelas-jelas sudah bahagia dengan istrinya. Padahal aku sudah berusaha melupakan, tapi dia selalu hadir dalam ingatan. Apalagi sekarang, dia berada tepat di dekatku. Tapi Tuhan, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Lelaki yang sangat aku rindukan kini telah berada tepat di sisiku, membelaku, dan sungguh, dia semakin tampan dan dewasa. Aku tidak pernah menyangka, pertemuan pertama kami terjadi dalam konteks seperti ini. Dia pasti tidak akan mengenaliku, dia tidak akan pernah ingat siapa aku, baginya aku hanya masa lalu yang tidak berarti apa-apa. Aiza hebat, bisa mengubah Mario menjadi pribadi yang lebih baik. Sekarang aku sadar, mengapa dulu aku tidak disandingkan dengan Mario. Aku akan membiarkan hidupnya jalan di tempat. Aku tidak akan mengubah apa-apa, begitupun dengan diriku, aku tidak akan menjadi seperti ini. Seapik itu Tuhan menyiapkan skenarionya. Jika dulu aku selalu berprasangka buruk, tapi sekarang aku sudah mengerti Selalu ada hikmah di balik semua kejadian. Setelah Mario berhasil membuat bapak-bapak itu pergi, aku mengalihkan pandangan padanya dengan keadaan kaku luar biasa. Jika saja lelaki yang membantuku bukan Mario, sudah dipastikan aku akan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Namun dia Mario, yang telah membuat syaraf-syarafku mati. Dia mengucapkan kata sama-sama, padahal saat itu aku hanya diam. Suaranya mententeramkan hatiku. Bagai kidung nyaring yang selama ini aku rindukan. Setelah mengucapkan itu Mario berbalik. Dengan menghimpun keberanian, aku membuat langkahnya berhenti ketika Mario mulai pergi meninggalkanku, punggung tegapnya ingin aku rengkuh tapi aku tahu itu akan melanggar segalanya. Aku hanya ingin melihatnya sekali lagi. Aku belum ingin mengakhiri pertemuan ini. Tolong beri aku kesempatan sekali lagi, untuk bisa kembali menyelami wajahnya. Dia pun berbalik, Tuhan mengabulkan doaku. Aku mengucapkan terima kasih padanya, seraya memandangnya dalam-dalam. Tuhan, maafkan hambamu ini karena telah lancang melihat sesuatu yang telah membuat syahwatku tergugah. Kali ini saja maafkanlah aku. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Tidak ingin terus berlanjut, aku mengakhiri pertemuan singkat ini dengan sebuah kata semoga Anda selalu bahagia. Yah, bahagia bersama cintanya. Bersama Aiza. Bersama putra mereka. Bersama cinta mereka yang tak akan pernah hancur hingga akhir hayat. Aku cepat-cepat pergi meninggalkan Mario dengan membawa harapan agar aku tidak pernah dipertemukan lagi dengannya. Agar aku bisa lekas melupakannya. Melihat dia baik-baik saja rasanya sudah cukup, aku tidak mau dia tahu kalau wanita yang tadi telah ia bela adalah aku, Claudia. Wanita yang sempat ia benci karena telah berusaha menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya. Aku bersimpuh di atas sajadah, air mataku berjatuhan. Cinta ini menyiksaku. Cinta ini membelengguku. Cinta ini menderaku. Cinta sepihak dan terlarang ini benar-benar membuatku tidak berdaya. Aku masih ingat, ketika Mario mengatakan kalau cintanya hanya akan diberikan pada Aiza. Sedangkan cintanya yang sempat jatuh padaku sudah sirna ditelan realitas. "Kamu berpikir apa, Claudia? Apa kamu berpikir aku masih mencintai kamu jadi kamu bertekad untuk menjadi orang ketiga dalam pernikahan aku? Kamu manfaatkan kebaikan Aiza untuk melakukan itu?" "Katakan kalau apa yang baru saja kamu ucapkan itu adalah suatu kebohongan." "Aku tidak sedang berbohong." "Lalu bagaimana dengan perasaan kamu terhadap aku?" "Maafkan aku, Clau. Cinta itu sudah hilang entah ke mana. Aku pun tidak tahu." "Why? Aku nyaris saja menjadi istri kamu. Tapi segampang itukah hati kamu berpaling? Segampang itukah kamu menghempaskan aku ke dasar jurang?" "Allah yang membolak-balikkan hati manusia. Allah yang telah membuat hatiku berubah sedemikian cepat. Baiklah, saat perjanjian itu terjadi aku memang masih menyimpan rasa, tapi seiring berjalannya waktu, kebersamaan-kebersamaan yang aku lewatkan bersama Aiza malah membuat aku semakin jatuh hati pada Aiza. Dia telah membuat aku merasa sangat nyaman. Dia telah membuat aku lupa bagaimana caranya mencintai wanita lain selain dia. Bersama dia, aku bisa mendekatkan diri pada zat yang telah menciptakan aku, bersama dia, surga terasa semakin dekat." Aku tahu, dulu aku terlalu egois dan sangat jahat. Aku sangat menyesal pernah melakukan hal b***t itu. Aku juga masih ingat, ketika Mario memasang wajah cemas saat Aiza tiba-tiba pingsan sewaktu aku berkunjung untuk menagih janjinya yang mengizinkan aku untuk menikah dengan Mario. Saat melihat itu aku langsung mundur tanpa pikir panjang. Hatiku sakit, seperti diremas-remas. Aku kehilangan harapan. Semua ucapan Mario benar, bahwa tak ada satu tempatpun untuk menyimpan namaku di sana. Rasa sakit mengaliri setiap desiran darahku. Layaknya penyakit yang menggerogoti secara perlahan, merusak semua organ terutama pada bagian hati yang sensitif. Aku telah kehilangan cintaku. Aku kehilangan semuanya. Aku tidak mungkin hidup bersama orang yang tidak mencintaiku. Aku tidak mau memaksakan sesuatu yang tidak akan pernah menjadi milikku. Aku tidak mau tejebak dalam lingkar api kepedihan yang nantinya akan membakar seluruh jiwaku hingga menjadikanku abu yang tertiup angin. Terbengkalai dimakan waktu. Aku pun memutuskan untuk pergi dan tak akan pernah menemui mereka lagi, apalagi mencoba menghancurkan pernikahan harmonis mereka. Aku pikir, setelah aku pergi jauh dari kehidupannya, aku bisa melenyapkan semua rasa yang bersemayam di hati. Melupakan semua kenangan yang terukir di hati. Menghilangkan semua fragmen indah yang terpahat di hati. Tapi nyatanya tidak. Cinta itu malah semakin kuat. Cinta itu malah semakin dekat. Cinta itu malah semakin rekat. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain diam di tempat. Aku sadar, aku tidak bisa memiliki cintaku. Dia terlalu jauh untuk aku gapai, dan semestapun tak akan pernah merestui. Aku merasa sedang dipermainkan takdir. Ya Rabb, cepat hilangkanlah rasa ini. Cukuplah aku mencintai-Mu. Aku tidak mau berselingkuh lagi. Karena ini sangat merugikan, selingkuh hanya akan membuat hatiku semakin sakit. Aku akan segera melanjutkan hidupku dengan seorang pria yang telah setia menungguku, tapi mengapa hatiku malah terpaut pada dia yang jelas-jelas tidak akan pernah menganggapku ada? Akhirnya terungkap sudah siapa peran utama cerita ini. Aku harap kalian bisa menerimanya ya, karena orang yang paling buruk di masa lalu bisa berubah menjadi orang yang paling baik di masa depan. Ya walaupun dia masih dalam proses belajar. Ada yang kecewa? Aku harap nggak ada Lapak Aiza ada di DBN 1, sedangkan ini lapak Claudia. Kalau tetep mengenang masa lalu, nanti sakit loh:') Siap move on?:') Jangan lupa follow akun IG aku : @jaisiquatul Yang mau difollback DM aja Nantikan kejutan-kejutan lainnya... Jazakumullah khairan
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD