bc

Perjalanan Mamaku

book_age18+
3
FOLLOW
1K
READ
family
age gap
sweet
friends with benefits
like
intro-logo
Blurb

Seorang Ibu sekaligus seorang guru, baru saja menyelesaikan masa pensiunnya, dan memilih untuk melanjutkan hidup dengan menjadi guru les dan juga menjalankan usaha kecil dari rumah. Namun, karena kecantikan dan penampilannya, lambat laun Ia terbawa arus menuju hal yang "nakal" dan "kotor", tetapi ternyata hal tersebut membangkitkan hasrat lain dalam dirinya.

chap-preview
Free preview
Pengalaman Mamaku 1 - Awal Mula Nakalnya Seorang Guru
Cerita ini hanya cerita fiksi saja. Apabila ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian, itu hanya kebetulan saja. Baik, kita mulai ceritanya. Dimulai dari ketika aku di kelulusan SMA, dan di situ pula mamaku, yang mengajar di sekolahku sebagai guru Matematika di SMP (sekolahku dari TK sampai SMA jadi satu), juga pensiun karena memilih untuk kerja sendiri dari rumah. Aku sendiri, Ardan, saat itu berumur 17 tahun, dan mamaku, Agnes, berumur 45 tahun. Memang terbilang cukup dini untuk pensiun, apabila untuk menjadi guru yang sebenarnya bisa mengabdi hingga nanti, namun Mama punya rencana lain, yaitu untuk melanjutkan bisnis mama menjual pakaian dari rumah, dan mama juga akan membuka les kecil-kecilan untuk anak SD dan SMP, terutama pada mata pelajaran matematika. “Dan, kamu masih di sekolah?”, tulis mamaku lewat pesan w******p. “Masih, Ma. Ini masih sama Andre, Agung, sama Aloy. Kenapa Ma?” “Oh nggak apa-apa, Mama udah kepengen pulang. Udah mau jam 7 malam ini, Mama masih di ruang guru masih pamitan sama guru-guru yang lain.” “Oh yasudah, Ma. Nanti jam 7.30 aku ke ruangan Mama ya. Nanti aku kabarin.” “Oke, sayang. Have fun ya sama temen-temenmu!” Untuk yang bertanya-tanya mama seperti apa, mungkin tidak akan menjadi idola atau selera orang-orang Indonesia. Mama punya rambut yang pendek seleher panjangnya, warnanya agak coklat. Badan Mama juga kurus langsing, dengan ukuran Bra sekitar 34B, pinggang langsing, kaki jenjang dan juga kulit yang putih bersih. Mungkin karena Mama punya keturuan Manado dari Kakekku. Mama orangnya santai tapi serius. Murid-murid SMP sekolahku tahu bagaimana sifat Mama apabila mengajar, Mama orang yang tegas tapi juga fair. Kalau salah diberitahu yang benar, kalau benar dipuji, tetapi kalau nakal atau bandel maka akan dihukum oleh Mama. Selesailah aku dan teman-temanku mengobrol dan kami berjanji untuk bertemu lagi weekend nanti, apalagi kami bertiga tidak akan berkuliah di kota yang sama. Aku di Kota Y, Andre di Kota B, Agung di Kota M, dan Aloy di Kota D. Kami berempat sudah saling kenal sejak kami SD, dan orang tua kami pun tahu persahabatan kami selama ini, jadi tidak akan mencari di mana kami berada apabila kami main dengan satu sama lain, atau pergi ke rumah satu sama lain. “Gais, gua udah harus balik ya! Udah ditungguin Mama gua nih!” “Oh iya, aman aja, ‘Dan. Salam ya buat Tante Agnes”, timpal Agung. Akhirnya kutinggalkan mereka yang masih berbincang di warung biasa kami nongkrong sepulang sekolah. Waktu menunjukan pukul 7.30 malam, dan aku langsung berjalan ke ruang guru tempat Mama dan guru-guru yang lain sedang mengobrol. Sesampainya di sana, hanya tersisa 3 orang, termasuk Mama. Di sana ada Mama, Bu Yui, guru Bahasa Inggris, dan Bu Vonny, guru Fisika. Bu Yui hampir seumuran Mama, sekitar umur 40-an atau 40 awal, dengan badan yang cukup tinggi dan langsing, kulit putih, dan rambut yang selalu dikuncir kuda. Untuk ukuran buah dada, Bu Yui kalah dari Mama karena lebih kecil sedikit, tapi untuk bokong dan pinggang, memang Bu Yui lebih daripada Mama. “Halo, ‘Dan! Selamat ya sudah lulus! Keren anak ibu satu ini, hahaha. Rencana lanjut di mana ‘Dan?”, sahut Bu Yui saat melihat aku masuk ke ruang guru. “Haha, makasih, Bu Yui. Rencana sih aku mau ambil di Kota Y, mau ambil jurusan xxx. Udah ngobrol kok sama Mama.” “Oh bagus dong ambil jurusan itu. Kalau mau tanya-tanya ke aku juga bisa ya ‘Dan.” Di meja sebelah, Bu Vonny hanya melempar senyum tipis dan melambaikan tangan. Ia tampak sibuk dengan tumpukan berkas di depannya. Bu Vonny ini lebih muda daripada kedua guru yang ada di ruangan itu. Kukisar Ia ada di akhir umur 28, dan sejauh yang ku ketahui, Ia belum menikah dan aku tidak pernah juga lihat dia diantar atau dijemput oleh laki-laki. Baik saat musim sekolah biasa, atau saat acara sekolah dan juga acara luar sekolah. Bu Vonny ini bertubuh kecil pendek, lebih berisi sedikit dibandingkan Mamaku dan Bu Yui, namun tetap terbilang kurus karena dia terlihat kecil. Ukuran buah dada juga lebih kecil dibanding mereka berdua, tapi Bu Vonny ini sangat manis, dengan kulit puith, rambut bondol dan kacamatanya yang selalu melekat di wajahnya. “Udah, sayang, main sama temen-temennya?”, tanya Mama. “Udah, Mah. Mama udah beres urusannya?” “Udah nih. Mau langsung pulang? Biar Mama keluarin dulu mobilnya ya. Bye, Ibu-Ibu. Makasih ya Yui, Vonny.”, seraya Mama cipika cipiki dengan kedua rekan kerjanya itu. Mama kemudian beranjak dari meja kerjanya, mengambil tas dan menyodorkan kotak kue kepadaku, mungkin hadiah perpisahan dari teman-temannya. Mama hari ini terlihat sangat cantik dengan kaos putih yang cukup membalut tubuh bagian atasnya dengan apik, ditambah dengan blazer abu-abu untuk outernya. Sedangkan untuk menutupi bagian bawah, Mama mengenakan rok pendek senada dengan blazernya. Namun aku tau Mama sudah mengganti alas kakinya, yang tadinya merupakan sepatu hak berwarna hitam menjadi sepatu kets berwarna putih dan biru. Sesampainya di parkiran mobil, Mama membuka pintu belakang dan menaruh tasnya dan aku juga menaruh boks kue yang Mama berikan tadi. Saat masuk mobil, mama menghela nafas sejenak. “Mama buka luarannya ngga papa ya? Panas soalnya, Mama gerah.” Aku yang hanya terpaku pada gawaiku menjawab seadanya, tapi sebenernya juga sedikit deg-degan, “Buka aja ngga papa Mah. Emang panas banget sih ini mobil. Ngga diparkir di bawah pohon atau apa gitu sih yang teduh.” “Ya maaf sayang, tadi kan yang kosong cuman di sini.”, sambil Mama melempar Blazernya ke jok belakang dan mulai menyetir keluar gerbang parkir. “Malam, Pak Hartono.”, sambil Mama menyerahkan secarik uang 50 ribu dan sebungkus makanan kepada Pak Hartono. “Eh malam, Bu Agnes. Baru pamitan sama orang sekolah ya, Bu? Eh apa nih, Bu? Wah makasih banyak ya, Bu.” “Iya nih, Pak. Udah minggu terakhir, takut ngga bisa ketemu lagi, jadi sekalian pamitan aja sama semuanya. Ini ada makanan dari saya. DImakan ya.” “Terima kasih, Bu. Emang ngga salah ‘Dan, Mamamu udah cantik, pinter, baik lagi. Mari bu.” Setelah berbincang dengan Pak Hartono, Mama langsung melajukan mobil ke jalan dan bertanya kepadaku, “Mau langsung pulang apa cari makan dulu, sayang?” “Langsung pulang saja, Mah. Aku sudah makan tadi sama temen-temen.”, kini aku berani melihat mamaku. Dari samping Ia terlihat sangat seksi dan cantik. Dengan baju agak ketat dan tipis, aku dapat melihat lekukan badan mama, dan rok yang dipakainya juga agak tersingkap ke atas karena Mama duduk agak bersender ke kursi. Sepanjang perjalanan kami terus mengobrol, namun aku cukup lelah karena acara sekolah yang berjalan dari pagi hingga malam, sehingga aku tertidur. Setelah sampai di rumah, Mama membangunkanku agar aku membukakan gerbang rumah dan Mama dapat memasukan mobil ke garasi. Mama langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengganti pakaiannya menjadi tanktop hitam tanpa bra dan juga celana pendek yang cukup ketat dengan warna senada dengan tanktopnya. Lalu Mama membuka gawainya dan mulai mengetik sesuatu. “Mama mau pesan ayam Kentucky nih, kamu mau ngga?” “Boleh, Mah. Yang pedas ya buatku.”, lalu kami berdua menonton acara TV di ruang depan. Oiya sebelumnya aku juga punya ayah, adik laki-laki dan juga kakak perempuan, namun itu akan menjadi kisah di lain waktu. Tak berapa lama, seseorang menelpon gawai Mama dan Mama langsung mengangkatnya, “Oh iya, sudah di depan ya, Mas. Sebentar ya.”, Mama langsung bergegas ke garasi untuk mengambil makanan yang sudah datang. Aku sedikit mengikuti Mama namun hanya sampai ambang pintu menuju garasi. Mama membuka sedikit pintu dan muncullah seorang pria, mungkin masih berumur 20-an awal. Ia nampak sedikit terkejut dengan penampilan Mama karena tidak siap untuk mengantarkan makanan kepada seorang wanita jam 9 malam, dengan pakaian yang cukup terbuka. “Sudah semua ya, Mas. Saya sudah bayar juga lewat aplikasi ya.” “Eh iya, Bu, sebentar. Saya cek dulu.”, pria ini tampak sedikit mencuri pandang ke arah Mama. “Heh, itu ngecek bayaran udah masuk apa ngecek saya? Hahaha. Kok matanya ke saya terus?”, canda Mama kepada pria tersebut. “Eh iya, Bu. Ini sudah masuk bayarannya. Terima kasih, Bu.” Mama menyudahi percakapan dengan tertawa kecil sambil menutup pintu gerbang, yang kemudian melihat aku sedang menunggunya di ambang pintu, “Hayo, kamu ngapain di situ? Mikir Mama bakal kenapa hayo? Udah masuk sana, siapin piringnya.” Setelahnya, kami makan malam bersama sambil menonton TV, lalu Mama lanjut mencuci piring dan kembali ke ruang TV, sebelum masuk ke kamarnya untuk tidur. “Oh iya, ‘Dan, ‘kan Mama udah pernah ngasih tahu kamu soal Mama mau buka les Matematika buat Anak-Anak SD sama SMP, kemungkinan besok siang sampe malem Mama bakal ada di ruang situ ya buat ngajar mereka. Kamu terserah mau di rumah atau keluar asal jangan berisik dan jangan gangguin mereka.”, kata Mama sambil menunjuk ruang tamu yang memang agak jauh dari pintu masuk (kadang tamu kita terima di ruang TV). “Oh oke, siap, Mah.” Besok Siang “Jadi kalau perkalian seperti ini, dikalikan dulu belakangnya, baru nanti dikalikan dengan depannya ya.”, terdengar sayup-sayup suara Mama dari lantai bawah sedang mengajar. “Hah, memang jam berapa sekarang? Hah? Sudah jam 2? Lama banget aku tidur.”, kataku sambil berjalan cepat ke bawah untuk ke kamar mandi. Saat ingin berjalan ke kamar mandi, sekilas aku melihat Mama sedang mangajar 3 orang laki-laki, perkiraanku masih SMP kelas 1. Tapi yang menjadi pusat perhatianku adalah pakaian Mama yang hampir sama dengan tadi malam, hanya saja kini Ia mengenakan rok yang Ia pakai saat malam di sekolah kemarin (Atasan tanktop hitam, kali ini dengan bra, dan juga rok pendek abu-abu). Kurasa ketiga anak itu tidak akan fokus diajarkan oleh Mama, karena aku pun mulai merasa tegang di bagian bawah hahaha. Lanjut aku mandi dan membersihkan diri, lalu mengambil sarapanku sambil menonton TV yang kurang lebih bersebelahan dengan ruangan di mana Mama mengajar ketiga anak itu. Ketika aku akan menaruh piring ke dapur, aku melihat kini Mama berada di tengah-tengah mereka dan seringkali mereka mengintip ke balik tanktop Mama. Duh, Mah, bikin ngga tahan aja sihh! Setelah mencuci piring dan tangan, aku kembali ke ruang TV, sambil menyetel acara Tv dan bermain dengan gawaiku, lalu aku mendengar Mama berkata dengan tegas kepada mereka, namun tetap menjaga kelembutannya. “Ucup, kita belajar Matematika dulu ya. Kamu jangan liatin Ibu terus, ini bukan pelajaran biologi ya, Nak.”, yang kuyakin pasti anak bernama Ucup ini berusaha untuk melihat ke balik tanktop Mama karena posisi Mama menunduk di tengah-tengah mereka. Aku yang tidak bisa melihat posisi mereka hanya bisa membayangkan apa yang sedang terjadi di balik tembok ini. Setalah itu, Mama berjalan ke kamarnya dan meninggalkan mereka sejenak. Saat itu aku mendengar ketiga anak ini sedang berdiskusi, kudengar sayup-sayup mereka membicarakan soal Mamaku. “Lo liat ga tadi? Bu Agnes agak nunduk, keliatan dikit tt-nya bro. Putih banget.”, kata satu orang. “Iya, mana badannya bagus lagi, putih banget pasti itu.”, kata yang lainnya. “Gua ada ide. Tadi kan waktu gua curi-curi pandang ke tanktopnya Bu Agnes, dia ngga marah tuh. Malah nyebut pelajaran Biologi lagi, mana sambil senyum. Duh bikin gua nyut-nyutan atas bawah. Gimana kalau kita bikin kesepakatan sama Bu Agnes. Gua ada ide bagus, kalian ikutin aja.”, suara ini kuyakin pemiliknya adalah Ucup yang tadi disebut oleh Mama. Sekembalinya Mama dari kamar, Mama langsung menuju ruang tamu dan bertanya kepada mereka. “Gimana? Udah selesai belom 15 soal yang tadi udah Ibu kasih ke kalian?”, Mama melihat kertas jawaban yang kosong dan sedikit mengomel, mungkin karena Mama juga masih lelah akibat semalam pulang sampai malam, “haduh, kenapa belom dikerjain semua? Kan udah Ibu ajarkan semua tadi caranya.” Terdengar kembali suara Ucup membuka pembicaraan, “Jadi gini, Bu, kami bertiga bikin kesepakatan tadi, mungkin Ibu mau denger dulu.” “Apa?” “Tadi pas aku lagi liatin Bu Agnes, Ibu bilang ini pelajaran Matematika, bukan Biologi. Boleh ngga, kalau kami bertiga masing-masing minimal dapat nilai 60 di soal yang Ibu kasih, kami dapat tambahan pelajaran “Bioogi” dari Bu Agnes?” “Maksudnya?”, tanya Mamaku dengan nada kebingungan. “Iya, kami pengen liat “itunya” Bu Agnes, hehehe.”, tawa Ucup. Keheningan terjadi cukup lama, sekitar 1 menit tidak ada percakapan dari ruangan di balik tembok ini. “Kalau dari 15 soal yang Ibu kasih tadi kalian bisa benar 12 masing-masing, Ibu akan kabulkan permintaan kalian, tapi ingat, hanya lihat saja!”, tegas Mama, “sebentar, saya cek orang rumah dulu.” Aku langsung pura-pura memejamkan mata di sofa ruang TV sambil berpaling ke arah lain, lalu aku mendengar langkah kaki Mama menjauh dan terdengar bisik-bisik dari ruang sebelah, “Oke, sudah aman. Sekarang kalian kerjakan dulu soalnya, Ibu kasih waktu satu jam. Ibu mau ke kamar sebentar.” Setelah sekitar sejam berlalu, mereka bertiga kompak berteriak, “Selesai!” Tak berapa lama, Mama keluar dari kamarnya, kini terlihat seperti Mama sehabis touch up di mukanya, dan menjadi lebih segar dibanding sejam yang lalu, masih dengan menggunakan tanktop dan rok abu-abunya, Mama berjalan ke Ruang Tamu, “Sebentar ya, Ibu cek dulu”, setelah menunggu beberapa saat, kemudian Mama berkata, “Ucup, kamu benar 13 dari 15. Dani, kamu benar 12 dari 15. Dan kamu, Boni…, benar 12 juga dari 15.” Mereka bertiga kompak berkata “Yes!” “Jadi kami boleh lihat kan, Bu?” Mama menjawab dengan sedikit bergetar, “Iya, boleh. Tapi ingat, hanya lihat ya, tidak ada pegang dengan cara apapun, oke?” “Iya, Bu!”, jawab mereka serempak. Kemudian Mama mulai menaikan tanktop-nya dan memperlihatkan kedua bukit kembarnya di balik tanktop hitamnya itu. “Gila, bagus banget ya bentuknya!” “Bu, aku suka banget sama badannya Ibu. Bagus banget, langsing gitu, mana tetenya bagus lagi.” “Ahh, Bu Agnes, aku jadi ngga tahan nih!”, kata seorang Boni sambil mulai meraba penisnya dari luar celana. “Eh, kamu ngapain itu? Kok sampe mau dikeluarkan segala?”, jerit Mama panik kecil. “Ngga papa kan, Bu? Kan janjinya ngga boleh pegang ibu, bukan ngga boleh kayak gini.” Mama sedikit ragu dengan perkataan Boni tersebut, namun secara peraturan, Boni tidak salah, “Eumm…, gimana ya?” Bersambung.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Daddy's naughty Princess

read
3.2M
bc

Claimed By My Ex-Husband’s Enemies

read
3.2K
bc

Punished By Passion: His Dirty Submissive

read
9.0K
bc

Wild Temptation After Divorce

read
237.8K
bc

The Phoenix Knights MC: Strength of Love

read
82.6K
bc

Pop My Cherry Daddy!

read
105.8K
bc

Daddy's Sweet Little Poppy

read
17.9K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook