Satu hari aku mengurung diri di kamar, menghabiskan air mata sampai tidak bersisa. Membiarkan diriku melemah dan hancur agar aku bisa segera bangkit walau dengan kaki terseok-seok. Hanya butuh satu hari untuk membuatku ada di titik terlemah dalam hidup. Tidak … sudah berapa kali aku ada di titik terlemah. Tak seharusnya aku terus meratapi nasib dengan menangis dan mengharapkan bantuan dari orang lain. Pagi ini, meski mataku masih sembab dan wajahku masih bengkak karena menangis kemarin, aku memaksakan diri untuk keluar kamar. Tak mudah menahan air mata yang selalu ingin keluar. Sulit untuk melepaskan kesedihan, tapi aku terus mengatakan pada diriku sendiri untuk segera melakukan sesuatu. Di ruang makan, semua terkejut melihatku. Bahkan Herdy melihatku dari datang sampai duduk di sebelah

