Irvan.
Sekarang aku sudah lulus dari Sekolah Dasar, nilaiku cukup baik walau memang ada perasaan kurang puas. Dan hasilnya nilai teman-teman juga tidak seragam. Dan pastinya kami tidak bisa masuk ke sekolah Menengah Pertama yang sama. Ada yang mau masuk SMPN 1, SMPN 2 dan SMPN 3 Metro, lain hal nya denganku yang berasal dari keluarga sederhana. Ingin masuk sekolah tidak akan bebas, harus menghitung jarak, menghitung ongkos. Ya biarlah, aku akan sekolah di sini saja, yang dekat dari rumah dan mungkin aku bisa ke sekolah menggunakan sepeda saja, dengan siapa lagi kalau tidak dengan sahabatku Sarinto. Kebetulan Chandra, Silvia dan teman-teman lain mereka pun masuk ke sekolah yang berbeda-beda. Dan kami benar-benar terpisah-pisah kini.
Setelah beberapa bulan ini, kasihan melihat Sarinto, sepertinya dia benar-benar suka dengan Silvia dan bukan sekedar mainan, dan aku pun dengar di sekolah yang baru si gadis kecil itu sudah punya banyak teman dan sahabat baru. Tampak wajah Sarinto yang terus memikirkan dan hatinya yang makin gundah karena tidak berani mendekati Silvia lagi seperti dahulu. Dan pasti saingan dia dan sainganku pun untuk dekat dengan Silvia semakin banyak saja, dan aku pun semakin jauh dengan sosok Silvia. Perasaan takut, mau main ke rumahnya ada perasaan tak enak dengan kedua temanku Tian dan Sarinto, mungkinkah harus benar-benar aku kubur dalam-dalam perasaan ini. Dan aku mulai mencari teman wanita istimewa lain untuk menghibur dan mengisi hariku.
Sekolahan yang baru dengan suasana baru, sekolahku hanya sederhana SMPN 1 Trimurjo. Dan seperti yang aku bilang aku selalu berangkat ke sekolah dengan sepeda kesayanganku. Menyusuri perumahan-perumahan dari kampungku ke kampung-kampung yang lainnya. Di temani dengan dia, Sarinto, sahabat atau bahkan saingan diam-diam untuk bisa mendapatkan Silvia gadis incaran kami itu.
“To bagaimana perasaanmu dengan Silvia To?”
“Ah Van, ya tetap sama Aku sih masih suka, tapi kok kayaknya mau dekat saja susah ya?”
“Iya, yang sabar To, mungkin nanti kalau sudah dewasa, dan kalau ada jodoh.”
“Hahaha ya lah Van, jangan terlalu di pikir cuma cinta monyet kok.”
“Yakin?”
"Iya, mungkin."
Aku lihat wajah Sarinto agak tertunduk sedih kali ini, saat aku bertanya tentang perasaan kepada Silvia yang nyaris sudah bertahun-tahun hanya bertepuk sebelah tangan saja.
Begitulah, tahun demi tahunpun berlalu, Sarinto masih ada sedikit rasa suka dengan Silvia, sama halnya dengan aku yang tetap bungkam dan tak berani berkata yang sebenarnya baik dengan sahabatku itu atau dengan wanita yang sama-sama aku suka.
Malam ini bapak dan ibu bertanya kepadaku, tumben sih mereka bilang nanti kalau aku dewasa aku ingin jadi apa?
Cita-cita, terbayang sih aku ingin jadi tentara atau polisi, atau boleh salah satu di antaranya, karena mungkin cita-cita aku sejak kecil dulu. Dan mereka bilang kalau aku harus benar-benar belajar, biar nilaiku bagus, biar saat sekolah Bintara pun aku bisa masuk. Dan mereka bilang tahap sekolahnya akan lebih susah seperti sekolah yang lainnya karena aku harus tes kesehatan dan fisik juga. Baiklah, mulai sekarang aku harus mulai melatih fisikku, kesehatanku, biar setelah lulus SMA nanti semuanya siap dan aku bisa lulus masuk dan menjadi apa yang aku inginkan itu. Menjadi tentara, menjadi seorang Brimob atau apa pun itu sesuai yang aku cita-citakan sejak kecil yang sudah benar-benar menggebu di hatiku.
Tidak menampik, ada rasa yang masih sama, dan jujur aku masih ingat dengan Silvia, walau sekarang sudah tidak seperti dulu betul-betul sudah mulai bisa melupakan. Atau terkadang ingin sekali aku pacu sepedaku untuk main ke rumah nya, mungkin untuk sekedar main atau benar-benar mengatakan aku suka dengan dia. Dan lagi-lagi aku belum berani mendekatinya lagi. Cukup, cukup diam dan terus mengaguminya, dan mencari kabarnya saja aku sudah sangat senang sekali.
Seperti hari ini, diam-diam aku sambil latihan fisik berkeliling menyusuri rumahnya, aku ingin mampir tapi aku takut, andai saja dia ada di luar. Tapi tetap sama, gadis ini sangat jarang keluar dari rumahnya, atau mungkin dari kamarnya jika tak ada teman-teman atau sahabat dia yang berkunjung. Dan aku entah kapan memiliki keberanian untuk main ke rumahnya. Menyapanya untuk sekedar bilang "halo Silvia apa kabar?" dan seperti hari-hari berikutnya aku pun kembali mengayuh sepedaku untuk bergegas pulang dan menunggu keberanian itu ada di hatiku. Keberanian untuk bilang, "Silvia Aku suka Kamu sejak kecil." Dan aku harus puas hanya melihat rumahnya, pagar rumahnya atau gang dan jalan yang menuju rumahnya gila dan lucu, ya benar-benar lucu dan di luar keberanianku saat ini.