bab 16

858 Words
50 persen acara pernikahan kami pun sudah berjalan, pagi ini sidang ke dua pernikahan kami di kantor. Tanggal 12 November 2012. Hari ini adalah hari yang spesial aku berserta orang tua dan adikku, beserta Silvia dengan kedua orang tuanya, kami bersiap menghadiri acara sidang pernikahan kami. Aku menggunakan pakaian kerja yang formal, sedangnya Silvia memilih menggunakan kebaya warna merah dan kain batik. Agak tergesa-gesa untuk persiapan diri ke salon, karena acara kami lumayan cukup pagi. Jam 09.00 WIB, kami sudah harus berada di markas Brimob Bandar Lampung. Sekitar 40 menit perjalanan kami dari rumah, dengan dua rombongan mobil pengantin, sudah boleh kami sebut begitu. Kebetulan ada 2 calon pasangan pengantin yang ikut sidang hari ini. Jadi kami lebih merasa tenang dan nyaman. Dan Alhamdulillah setelah acara sidang yang resmi, kami di umumkan berhasil dan lolos, dan berhak melakukan pernikahan umum kami pada bulan Desember nanti. Acara sakral dan simbolik yang kami tunggu-tunggu pun kini tiba, semua pasukan teman-teman dalam satu Team kami yang bertugas di sini hari ini membuat barisan dan merentangkan senjata ke atas secara berjajar sebagai acara penghormatan kepada pasangan pengantin. Dan kami kedua pasang calon pengantin pun jalan di antara mereka. Ucapan, tepukan riuh terdengar di dalam Aula. Dan aku beserta Silvia berjalan bergandengan menyusuri mereka. Dengan rasa bahagia, suka cita dan penuh rasa cinta. “Alhamdulillah ya Mas, akhirnya sidang pernikahan kita berjalan lancar.” “Iya Sil Alhamdulillah, Aku sangat bahagia sekali hari ini.” "Iya Mas, sama Aku juga sangat bahagia untuk sidang ke dua pernikahan kita ini." Aku dan Silvia, berjalan mendekati bapak, ibu, mertua dan keluarga yang turut hadir menyaksikan acara kami ini. Dan yang paling penting dari segalanya adalah memohon restu dari kedua orang tua kami. “Selamat ya Mbak dan Mas, semoga lancar sampai hari pernikahan tiba kelak.” “Amiin...” Kami menyahuti seruan Ayu. Begitupun bapak, Ibu dan keluarga yang lain pun saling memberikan ucapan bahagia dan doa bagi kami. Tampak sahabat-sahabat satu team dan pak Komandan kami pun bergabung untuk mengucapkan selamat kepada kami, dan satu pasangan lainnya. Acara resmi kami pun di tutup dengan acara makan-makan bersama di Aula kantor ini. Secara kantor kami sudah 100 persen lolos dan di izinkan untuk menikah secara agama dan adat. Silvia mendekat kepadaku, satu pelukan hangat aku berikan kepadanya. Ingin rasanya aku bilang kejutan besar dari aku tentang rumah yang telah aku pilih dan belikan. Tapi mungkin, akan lebih spesial jika aku ceritakan saat kami sudah menikah saja. “Vi, nanti malam kita kencan yuk?” “Boleh, mau ajak Aku main ke mana?” “Bagaimana jika makan malam di kafe yang bisa memandang pantai?” “Boleh, kebetulan malam ini malam minggu kan, nanti Aku akan ijin ke mama dan papa dahulu.” “Ya boleh, tapi ingat Sayang Kamu 50 persen sudah menjadi milikku.” “Iya-iya tapi belum seutuhnya juga kan?, Halalkan Aku...” “Halalkan dengan apa? Bukankah sebentar lagi?” “Halalkan Aku dengan bismillah.” “Insya Allah, satu sampai akhir.” “Walau panas, hujan atau pun salju datang, jadikan Aku satu-satunya wanita dan yang Kau cintai selain Allah.” “Tentu Aku janji.” Malam romantis pertama kami. Malam ini, aku pun jadi membawanya ke kafe romantis yang aku janjikan. Kafe di pinggiran kota Bandar Lampung, tepatnya di daerah Pesawaran, dataran tinggi, di pinggiran tebing yang belakang nya adalah pantai yang memanjang. Nama Kafenya Kafe Pesona. “Bagaimana? Suka dengan suasananya?” “Suka Mas, sangat romantis, terima kasih.” “Iya, dari dulu ingin sekali mengajak Kamu main, atau sekedar santai di sini.” “Terus?” “Baru beraninya sekarang.” “Kenapa?” “Habis kan Kamu terkenal agak judes dan galak Vi.” “Hahaha...Mas ada-ada saja deh, Mas buat Aku malu ah.” “Kenapa harus malu, mulai hari ini belajar mulai jangan malu-malu lagi dengan calon suamimu.” “Iya.” “Tapi, belajarlah untuk mencintai Aku, berbagi suka dan duka dan belajar menghormatiku sebagai sosok imam Kamu kelak.” “Iya, jangan capek untuk terus membimbingku.” “Calon istriku bolehkah malam ini Mas bertanya? Kamu mau Mas belikan apa sebagai mas kawin Kita nanti?” “Aku belum siap jika di hadiahkan seperangkat alat shalat dan Alquran Mas, mungkin perhiasan saja Mas.” “Mau berapa gram Vi?” “Yang sekiranya Mas mampu, dan tidak memberatkan Mas.” Aku menggenggam tangannya, dan untuk ke sekian kali aku cium jari-jemari dan lengan kekasih hatiku ini. Sungguh baik hati gadis ini, benar-benar tidak pernah ingin membebaniku. Dalam satu sisi ada karakter sombong dan judes akan dirinya, tapi setelah dekat dan mengenalnya aku menganggap itu seperti duri pada bunga-bunga mawar. Yang setelah aku petik, barulah aku sadar akan wangi dan kebaikan hati yang di milikinya. Sepanjang jalan pulang, karena hari pun sudah bisa di bilang malam hari, dengan cuaca yang dingin di pinggir pantai. Aku memberinya jaket yang lebih tebal. Aku tidak ingin bila dia sakit, dan sepanjang jalan dia memeluk tubuhku dengan eratnya. Karena aku pun harus membawa motor dengan kecepatan yang lumayan kencang. Dan memastikan agar kami segera sampai rumah dengan selamat. Dalam hatiku kini cuma ada satu rasa, bahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD