bab 17

1202 Words
Hari pernikahan yang telah kami tunggu-tunggu pun tiba, aku dan Silvia sudah mulai mengajukan cuti tahunan kami. Satu minggu cuti yang kami dapatkan dari kantor masing-masing. Dan lusa adalah hari pernikahan dan resepsi kami. Kami melaksanakan resepsi dan acara pernikahan secara bersama, di sebuah gedung sederhana yang di sebut dengan gedung wanita. Terletak di tengah-tengah Kota Metro, di sisi depan tampak masjid yang megah dengan nama Masjid Agung, dan di sisinya tampak taman Kota Metro. Sebuah kota kecil di provinsi Lampung, yang sangat asri namun tertata dengan rapi dan indah. Suasana pernikahan yang kami usung menggunakan warna tema putih dan emas. Semua tampak elegan, dengan hiasan bunga-bunga asli, yang tampak menarik, indah dan harum. Ya sebenarnya untuk semua pilihan itu lebih ke Silvia dan keluarga kami yang memilih, aku sih banyak hanya ikut saja dengan pilihan calon istriku itu. Karena bagiku, jika dia suka, aku pun akan suka. Hari ini aku ke toko perhiasan, seperti apa yang dia inginkan mas kawin kami adalah perhiasan. Aku membelikannya 25 gram perhiasan emas. Kenapa aku pilih angka 25, ya karena itu usia dari calon istriku sekarang. Hadiah spesial dariku 1 gram untuk 1 tahun penantiannya selama ini. Aku membaginya dalam beberapa bagian, ada kalung, cincin, gelang dan liontin. Kebetulan ada liontin yang berbentuk bunga mawar. Tepat sekali seperti karakteristik Silvia. Dan aku memilih pilihanku dengan baik dan berpikir keras, karena baru kali ini aku membeli perhiasan dalam seumur hidupku, khususnya bagi calon teman hidupku. Akupun memilihkan tempat perhiasan bagi semua mas kawin yang akan aku berikan, satu kotak yang berukiran gambar hati di atasnya, bentuknya simplle tapi sangat manis di pandang. Aku membungkusnya dengan sangat hati-hati. Walaupun dia belum menginginkan seperangkat alat shalat beserta Al-Quran untuk mas kawin kami, tapi apa salahnya jika aku menghadiahkan semua itu baginya. Aku bergegas pindah dan mencari toko yang menjual alat-alat sholat. Berkeliling dari satu toko ke toko selanjutnya, demi dia orang yang paling aku sayang. Dan akupun mendapatkan apa yang aku mau, sajadah, mukena dan Al-Qur'an untuk istriku kelak. Semoga saja, hadiah dan mas kawin yang aku pilihkan dan berikan ini dia terima dan di sukai. Jujur, ingin sekali mengajak dia hari ini untuk memilih semua hadiah ini, tapi dengan tegas dia menolaknya. Dan tetap pada prinsip, belilah, pilihlah sesuai dengan keikhlasan dan kemampuanku. Dan aku tidak bisa berkata apa-apa tentang prinsipnya itu. Hari pernikahan kami. Jam 06.00 tepat, kami bergegas merapikan diri, mandi dan bersiap, setelah sarapan kami sekeluargaku pergi ke gedung resepsi pernikahanku. Jujur untuk kali ini aku merasa gugup, karena hari ini aku akan mengucapkan ijab kabul. Perjalanan tidak memakan waktu lama, kami pun bergegas masuk ke ruangan make-up pengantin. Di sana masih tampak sibuk beberapa perias mempersiapkan riasan pihak keluarga dari Silvia, ya mereka sudah lebih dulu bersiap, mungkin sudah dari subuh mereka ada di sini. Dan kini giliran aku, bapak, ibu dan beberapa adik-beradikku yang mempersiapkan diri. Tampak di ruangan seberang bayangan Silvia dari cermin. Dia telah memakai pakaian pengantinya, baju kebaya putih panjang, dengan kain sidomukti yang telah dipilihnya beberapa bulan lalu. Dan siger adat Sunda telah terpakai di sanggulnya. Wangi kembang melati sangat tercium dari kejauhan. Wanginya calon istriku, sudah tak sabar rasanya ingin memandang langsung wajahnya yang cantik dan ayu. Tapi, aku harus merapikan riasan aku terlebih dahulu sebagai seorang calon pengantin putra. Satu jas pengantin berwarna putih, dengan pasangan kain sidomukti mulai aku kenakan, bendo dan tak lupa di sematkan keris di balik punggungku. Aku memandang ke cermin, aku tampak gagah dan berbeda hari ini, dan baru sekali dalam seumur hidup aku dandan, ya aku cukup memuji penampilanku sendiri di cermin yang lumayan sangat panjang ini. “Mas, ini kerisnya.” “Iya Mbak, silakan di pasangkan di mana Mbak.” "Baik Mas, Saya bantu sematkan ya Mas." Keris dengan balutan bunga melati, tampak harum dan segar sekali. Dan Mbak Ita membantu menyematkan di belakang pakaian pengantinku. “Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya apa yang dulu Aku cita-citakan ini, yang Aku harapkan selama ini, benar-benar Engkau Ridha sebagai jodoh dalam hidupku.” Selesai bersiap kami melangkahkan kaki ke Aula, tepat jam 09.00 acara pernikahan dan ijab kabul akan segera di mulai. Dan kini, aku sudah duduk di atas kursi ijab dan kabul kami, begitu pun keluarga dan beberapa tamu undangan telah hadir untuk memberikan doa dan saksi pernikahan kami. Pak penghulu juga sudah hadir. Dan pembawa acara pun mulai melangsungkan acara kami. Pak penghulu dan kedua orang tua dan saksi telah di hadirkan, dan akhirnya Silvia pun keluar untuk melaksanakan ijab dan kabul pernikahan kami. Dia berjalan perlahan, memasuki Aula, dia tampak cantik serta ayu dengan senyum yang begitu merekah. Dia berjalan untuk duduk di sampingku, dan di bantu oleh Ita sahabatnya yang merias kami, Silvi pun duduk di sampingku, Ita menutupkan selendang warna putih di atas kepala kami berdua. Dan terlihat dia mengemut bibirnya, tampak sedikit canggung atau gerogi menjalani acara sakral ini. Tak lama kemudian, pak penghulu meminta kami untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan ijab kabul kami pun berlangsung. “Saya terima Nikah dan Kawinnya Silvia binti Ahmad, dengan mas kawin perhiasan emas 25 gram di bayar tunai.” “Syah?” “Syah, Alhamdulillah.” Begitulah ijab dan kabul telah kami ikrarkan, tampak sedikit tetesan air mata bahagia dan haru dari Silvia, baik ibu dan ibu mertuaku pun sama mereka menangis karena bahagia dan terharu dengan acara pernikaham kami hari ini. Dia segera menghapus air mata dengan sebuah tisu di tangannya. Aku tersenyum memandangnya, dia pun membalasnya, dan aku menyerahkan kotak perhiasan sebagai mahar untuknya. Dan tak lupa aku kecup kening istriku ini. Bersyukur, dan terharu akan segala perjalanan takdir yang telah kami lalui. Tampak istriku menitipkan perhiasannya kepada pihak keluarga, dan kami melanjutkan acara resepsi pernikahan kami. “Vi, terima kasih ya.” “Terima kasih untuk apa?” “Terima kasih telah menjadi istriku.” “Sama-sama Mas, terima kasih telah memilihku untuk menjadi pendamping hidupmu.” Sampai sore hari, kami menjalani acara resepsi pernikahan. Banyak teman yang hadir, bahkan sahabat-sahabat kami saat Sekolah Dasar dulu. Ada Ima, Fitri, Nita, Sarinto, Tian, Wanda dan hampir seluruh sahabat kami hadir dan datang ke sini. Dan hal yang paling lucu serta mendebarkan adalah, di saat Sarinto mengucapkan selamat kepada kami berdua. Masih teringat kisah masa kecil dengan jelas dulu, tapi sahabat kecil kami itu dengan penuh hangat dan antusias mengucapkan selamat dan mendoakan pernikahan kami supaya langgeng, sampai akhir hayat dan samawa. Benar-benar jika sudah jodoh maka apapun dan kemanapun dulu kami terpisahkan kini kami di satukan dengan cara-Nya yang begitu indah. Kali ini kami telah menggunakan pakaian adat Jawa, dodot prodo, hiasan wajah, dan pernak pernik yang Silvia kenakan sungguh cocok sekali. Betul-betul perpaduan dan pilihan busana adat yang sangat pas dia kenakan. Dan kami pun bersiap meninggalkan gedung pernikahan kami, karena sore pun telah berganti malam. Tak terasa hari pernikahan kamipun telah usai dan kami bergegas untuk meninggalkan gedung resepsi. Malam ini, kami akan menghabiskan malam pertama kami di rumah Silvia, dengan alasan masih ingin dekat dengan mama dan papa nya yang kini telah menjadi mertuaku, dan aku harus membiasakan diriku agar tidak canggung lagi. Baiklah, sebagai suami harus mengalah, dan memberikan kenyamanan bagi Silvia istriku. Aku menatap wajahnya, dan dia tersenyum sangat manis hari ini kepadaku, senyuman yang terus ada di bibir mungilnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD