Aku Menyukaimu

544 Words
"Kemana kau, di jam mata pelajaranmu?" Vena bertanya. Dia memang awalnya mau mencari Nara ke ruang guru. Jadi Vena menyalahkan Nara. Jika saja wanita itu datang tepat waktu, pasti peristiwa ini tak akan terjadi. "Kamu mau mencoba mengalihkan pembicaraan?" duga Nara. Berbicara dalam bahasa Tulip sehingga orang yang mendengar tidak akan mengerti. "Tidak. Ini semua berhubungan. Jika saja kau datang mengajar—" "Aku hanya guru sementara!" tegas Nara memotong. Mencoba menghentikan setiap ucapan Vena hingga gadis itu tak mampu melawan lagi. "Sementara?" Vena bertanya. Nara mengangguk. Dia mengira Vena sudah kalah bicara. "Kita akan pergi setelah—" "Meski begitu, sekarang posisimu adalah seorang guru!" Vena balik memotong. "Maka bersikaplah seperti seorang guru, kerjakan kewajibanmu sebagai guru. Sampai kata 'setelah' itu tiba." Vena menyenggol bahu Nara. Gadis itu keluar dari ruang BK dengan perasaan sebalnya. Dia melirik ke kanan dan kiri koridor, lalu berjalan menuju kelas. Kosong. Hanya tersisa tas Vena di bangkunya. Vena ke sana untuk mengambil itu, dan ketika melewati bangku Roze, Vena tertarik membaca semua tulisan yang tertera di atasnya. Jalang, anak haram, pengecut— Vena hanya menggeleng-geleng ketika membaca semua kata-kata kasar itu. Pikirannya berkata, oh ... ternyata ini yang namanya kehidupan sekolah. Spanduk yang terpasang di papan iklan biasanya menunjukkan sepasang siswa dengan senyum lebar, dan sebuah slogan 'Ramah anak' di atasnya. Membuat sepintas terbayang masa depan yang cerah dan bahagia. Tapi tenyata, baru dua hari saja Vena sudah merasakan ketidakadilan di sekolah ini. Apa hanya dia yang kaget? Karena Vena tak pernah bersekolah sebelumnya. Vena menyambar tas jinjingnya dan mengeluarkan sebuah minyak gosok. Dituangkannya minyak itu di atas meja Roze. Lalu Vena menggosoknya dengan sapu tangan hingga coretan itu hilang. "Aku tidak tahu kenapa harus repot melakukan ini. Serius," ucap Vena berbicara sendiri. Bibirnya menggerutu. "Itu hal yang bagus," sahut seseorang. Vena langsung berbalik melihat. Arata memperhatikannya di ambang pintu. "Pergi! Aku tak mau terlibat masalah denganmu," usir Vena. "Aku tidak mau membuat masalah. Aku ini anti masalah," ucap Arata. Vena benar-benar tak peduli. Laki-laki itu mendekat lalu meletakan bunga di meja Roze dengan maksud memberikannya pada Vena. "Apa ini? Godaan lainnya?" duga Vena. Dia mengambil bunga mawar itu lalu menghirup aromanya. Segar. Vena tahu ini baru dipetik. Arata menggeleng ketika Vena menatap padanya. "Ini hadiah karena kamu telah berbuat baik," jelas Arata. "Aku tidak berbuat kebaikan apapun. Aku barusan memancing keributan dan berantem dengan guru BK. Apanya yang baik dengan hal itu?" Vena menghirup bunga mawar lagi. "Tapi ... aku akan mengambil bunga ini." "Baguslah kamu menyukainya." Arata bersyukur. Dia kemudian melihat satu kata yang belum terhapus di meja Roze. Pengecut. "Orang kadang tidak sadar diri," kata Arata tiba-tiba. Vena mengernyit sambil melihatnya. Bertanya-tanya apa yang Arata maksud. "Yuki Sensei itu, suka mengejar orang-orang yang berlarian di koridor. Jadi yang tadinya cuma jalan cepat, jadi semakin cepat karena panik." Arata memberi jeda untuk terkekeh sesaat. "Yuki Sensei memarahi mereka, padahal dia sendiri senang berlari di koridor," lanjut Arata. Mulut Vena membentuk huruf O setelah mendengar penjelasan Arata. "Jadi maksudmu, orang yang menulis ini, sama pengecutnya?" tanya Vena. "Iya. Jika dia bukan pengecut, seharusnya hadapi dari depan. Seperti aku padamu," kata Arata. "Apanya yang aku padamu?" Vena mengambil duduk di sebuah kursi. Dia menyandarkan punggungnya sambil menatap langit-langit kelas. "Aku menyukaimu," ungkap Arata tiba-tiba.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD