15.Datang Dan Pergi Seenaknya

2346 Words
Nina POV. Masih bersama bang Aiden dan kami sudah berlalu keluar dari area rumah sakit. Sudah pasti juga sempat terjeda kemacetan jalan di pagi hari jam kerja seperti saat ini. “Sarapan apa ya, Nin….” bersuara juga bang Aiden setelah kami diam saja. “Terserah abang” jawabku. “Nahkan semakin bingung deh kalo kamu ngomong terserah abang” keluhnya. Bodo amat. Tuan muda memang bisa di lawan?. Ujungnya kami berakhir di warung soto ayam lamongan yang cukup ramai di datangi orang yang berniat sarapan juga. Jadi buat aku agak risih karena banyak orang yang diam diam mengawasi kami. Bang Aiden mana mungkin perduli kalo penampilannya yang mencolok karena terlihat banget bule jadi pusat perhatian orang sekeliling kami. Padahal biasa aja juga penampilannya, hanya pakai kemeja salur biru garis putih dan biru muda, juga celana jeans biru juga sepasang sepatu kets. Ini bedanya aura tuan muda dan dokter sekelas aku yang kucel karena tugas malam dan belum mandi. “Kamu ngambek apa cape sih?” tegurnya setelah kami mulai makan dan aku memang diam saja selain mengangguk atau menggeleng saat di tanya apa pun soal pesanan makanan dan minumanku. “Cape bang” jawabku supaya dia berhenti bertanya. “Okey…setelah itu abang antar kamu pulang kok, terus kamu tidur ya” jawabnya. Aku lagi lagi hanya mengangguk. Udah, setelah itu kami kembali diam dan sibuk menghabiskan sarapan kami. Hanya bang Aiden sempat sih menjawab panggilan atau pesan di handphonenya dan aku abaikan. Setelah selesai lalu ya jelas antar aku pulang, dan masih hening di antara kami. “Kenapa bang?” tanyaku bersuara saat bang Aiden menghela nafas kasar lalu memijat keningnya begitu sampai depan rumahku. “Gak enak badan, cape juga kayanya” jawabnya lalu bersandar di jok mobil yang dia duduki tentunya. Reflek aku menyentuh dahinya dan dia biarkan. Agak hangat sih. Bisa jadi beneran tidak enak badan. “Abang baru datang tadi malam jam 12 dari Malang. Udah tidur padahal, tapi kok kepala abang berat ya?” keluhnya lagi. Entah aku kasihan atau karena naluri dokterku kali ya?. “Ayo turun, aku periksa abang dulu” ajakku. “Kamu kan cape” jawabnya. “Udah ayo. Gak mungkin juga aku biarin abang pulang dalam kondisi kurang enak badan” paksaku. Dia menghela nafas dulu lalu mengangguk setuju. Jadi mampir juga ke rumahku. “Loh…sudah pulang kamu Ai?” tanya bunda yang pastinya ada di rumah. “Udah tante” jawabnya lalu mencium tangan bunda lalu aku menyusul. “Bun, aku bawa bang Aiden istirahat di kamar tamu ya?. Gak enak badan” pamitku pada bunda. “Sakit kamu?” malah jadi panik khas emak emak mendengar pamitku. Bang Aiden hanya meringis menanggapi. “Ayo sana bawa rebahan dulu, biar tante buatkan teh hangat. Nanti biar Nina periksa kamu” kata bunda pasti menyetujui permintaanku. “Aku jadi ngerepotin tante sama Nina” keluh bang Aiden lagi. “Ayo bang….” paksaku sampai menarik tangannya untuk masuk kamar tamu yang pintunya selalu terbuka di dekat ruang keluarga rumahku. “Ayo sana Ai. Gak merepotkan kok” kata bunda membantu sekali. “Permisi tante” jawabnya akhirnya menurut. Aku hidupkan AC dulu dan membiarkan bang Aiden yang rebahan di ranjang lalu aku mendekat padanya. “Aku mandi bentar ya bang, abis itu aku periksa abang. Abang rebahan dulu aja dan minum teh hangat yang bunda buatkan” pamitku. “Makasih Nin…” jawabnya lalu membiarkan aku berlalu keluar kamar. Aku pamit mandi dulu pada bunda sebelum memeriksa kondisi bang Aiden. Bagusnya selalu ada peralatan dokter standart lengkap macam stetoskop, thermometer, alat pengukur tekanan darah juga ada. Ayah memang suka membantu tetangga yang tiba tiba butuh bantuan. Entah anak mereka yang sakit, atau anggota keluarga kami yang sakit. Namanya dokter, nalurinya selalu tergerak kalo melihat orang sakit. “Tante tinggal ya Ai. Tante lagi masak. Ada Nina yang temanin kamu” kata bunda pamit setelah aku menyusul bang Aiden ke kamar tamu lagi. “Makasih tante” jawabnya. “Periksa dulu nak kondisinya, nanti kalo butuh obat, bunda bisa telpon ayah biar kirim obat yang kamu resepkan untuk Aiden” kata bunda sebelum keluar kamar tamu. “Iya bun” jawabku lalu duduk di tepi ranjang untuk memeriksa kondisi bang Aiden. Aku abaikan tatapannya yang mengawasi gerakanku. “Maaf ya bang…” kataku karena harus membuka satu atau dua kancing kemejanya untuk melakukan pemeriksaan menggunakan stetoskop. Menurut lagi tanpa perlawanan dengan membiarkan aku membuka dua kancing kemejanya. Lalu aku lanjutkan memeriksa suhu tubuh dan tekanan darahnya. “Aku mendadak berharap jadi bang Noah” katanya menjeda fokusku. “Kenapa?” tanyaku jadi harus menatapnya yang sejak tadi aku abaikan dan mengawasiku trus. “Setidaknya karena punya istri dokter gigi, jadi tidak harus pusing kalo punya keluhan atau sakit gigi” jawabnya. Aku mengangguk setuju, karena aku kenal baik dokter Bella yang jadi dokter specialis gigi di Twins hospital, sama sepertiku. Hanya bedanya dokter Bella sudah jadi menantu keluarga pemilik rumah sakit karena menikah dengan bang Noah yang abang tertua bang Aiden. “Aku boleh gak sih berharap jadi bang Noah yang punya istri dokter. Gak apa bukan dokter gigi, tapi dokter umum macam kamu?” jedanya lagi. Aku langsung menghela nafas. “Nin…” tegurnya karena aku tidak tanggapi. “Istirahat abangnya. Walaupun abang cuma kecapean karena tekanan darah abang cukup rendah. Dan kayanya kurang tidur jadi kepala abang pusing” jawabku. Bang Aiden lalu menghela nafas menanggapi setelahnya dia mengangguk. “Aku ambil obat dulu ya, abang minum, supaya pusing abang hilang” kataku lagi. “Okey…” jawabnya lalu membiarkan aku membereskan alat pemeriksaan lalu keluar kamar. Kalo hanya obat untuk gejala sakit ringan, ayah punya stok di rumah. Jadi aku tidak perlu minta obat itu ke rumah sakit. Ada stok vitamin juga. Jadi aman tidak perlu nunggu untuk mengobati bang Aiden. “Ayo minum obatnya bang” kataku karena sudah bilang bunda juga kalo kami sudah sarapan sebelum pulang ke rumah. Menurut lagi dengan bangun terduduk lalu minum obat yang aku berikan. “Coba tidur ya, supaya kondisi abang enakan” pintaku. “Kamu mau kemana?” tanyanya dulu mencekal tanganku. “Aku mau tidur juga mau istirahat” jawabku. “Memangnya gak apa abang tidur di sini dulu Nin?” tanyanya lagi. “Bunda yang suruh, nanti kalo udah enakan baru abang pulang. Aku udah siapin obat untuk abang bawa pulang kok” jawabku. “Okey…” jawabnya lalu menurut rebahan lagi dan aku selimuti. “Makasih ya Yang…” jawabnya. Aku mengangguk saja. Masih aja panggil sayang. Tapi berhari hari aku di abaikan. “Aku tidur juga ya bang. Met rehat” pamitku lalu bangkit keluar kamar tamu dan aku tutup pintunya. Aku lalu pamit tidur juga pada bunda lalu masuk kamar. Ternyata adu balap tidur kalo sampai jam 2 siang lewat, bunda baru membangunkanku. “Sayang sholat dulu, Aiden juga udah bangun. Kamu kan mesti makan siang juga” kata bunda. Sontak aku langsung terbangun walaupun masih terasa ngantuk. Aku lalu sholat zuhur yang hampir ketinggalan lalu bergabung untuk makan siang dengan bang Aiden dan bunda yang melayani kami. Masih tidak ada obrolan berarti sekalipun bunda ikutan nimbrung. Aku soalnya terus diam juga. Yang penting untukku, bang Aiden sudah terlihat lebih segar. Memang kecapean aja sih kayanya. “Tante aku pamit sholat asar lagi ya. Trus aku bakalan lebih lama di rumah tante, soalnya mau antar Nina ke rumah sakit lagi, sekalian ketemu om Rey” katanya. “Okey nak. Tante senang malahan, jadi Nina ada yang temani, dan tante bisa istirahat sampai om pulang” jawab bunda lagi lagi kasih izin. Aku malas bicara apa pun, malah harus berduaan dengan bang Aiden di tengah rumah setelah kami sama sama sholat asar dan bunda pamit istirahat. “Nih kamu udah istirahat. Tapi tetap gak bersuara dari tadi. Artinya kamu ngambek bukan sih?” tegurnya memulai mengajakku bicara. “Aku gak ngambek” jawabku dan aku hindari tatapan bang Aiden dengan menonton TV. Aku dengar helaan nafasnya di sebelahku. “Abang keasyikkan urus kerjaan, sampai kadang cape banget terus begitu sampai hotel langsung tidur” katanya lagi. Masih aku diam. “Kadang malah diskusi soal acara turnamen futsal dan kemungkinan kerja sama lain di bidang olah raga juga, terus lagi lagi cape terus sampai hotel langsung tidur lagi. Tapi bukan berarti abang gak ingat kamu” katanya lagi dan lagi. Aku sontak menghela nafas. “Kamu juga sih gak ada cari abang. Telpon kek, atau chat deh” katanya malah menyalahkan aku. Sampai aku menoleh menatapnya. “Kamu….” “Mungkin gak sih kita nikah, kalo abang sibuk sama kerjaan abang terus abang lupa sama aku?” potongku enggan mendengar perkataannya yang terkesan menyalahkanku. Dia yang laki, harusnya dia yang kasih kabar aku. Terlepas aku cewek dan malu mencarinya duluan. Aku juga takut ganggu kesibukannya seperti yang bunda bilang untuk tidak ganggu bang Aiden selama dia mengurus pekerjannya. Jadi diamkan dengar perkataanku?. “Apalagi sekarang aku sudah tidak di tempatkan di UGD dan harus menjalani shiff kerja malam. Akan seperti apa rumah tangga kita kalo akhirnya kita sibuk dengan urusan pekerjaan masing masing, yang mungkin saja waktunya gak sama” tambahku. Baru deh bang Aiden menghela nafas dan aku diam dulu. “Percuma nantinya kalo abang suka aku, dan aku suka abang, kalo kita gak punya titik temu. Anggap aku memang cuek sekali jadi perempuan, sampai aku gak cari cari abang. Terus kalo abang selalu lupa diri dan lupa waktu lalu tenggelam dengan pekerjaan abang terus gak cari cari aku juga. Terus ngapain kita menikah seperti yang kedua orang tua kita harapkan?” jedaku pada diamnya. Gantian malah dia yang diam terus, sampai aku kesal sendiri. “Abang gak mau ngomong apa?” tegurku setengah kesal karena kau menahan diri untuk tidak bicara lebih banyak dari apa yang mau aku sampaikan. “Abang lagi dengar kamu ngomong Nin” sanggahnya. Aku jadi malas lagi untuk ngomong. Masa gak ada tanggapan langsung apa pun, dan memilih dengar aku ngomong?. Dia aja kesal saat kami sebelumnya intens komunikasi lewat telpon lalu aku yang pasif menanggapi. Ya sekarang aku juga kesallah, karena dia juga pasif menanggapi. “Aku udah cukup ngomongnya” jawabku. Bang Aiden menghela nafas menanggapi. “Okey, nanti abang cari cara tau apa mungkin kita nikah dengan kondisi yang kamu khawatirkan karena kita sama sama sibuk. Lalu jam kerja kita tidak selalu sama” jawabnya. Aku mengangguk saja. Padahal aku gak ngerti gimana caranya memcari tau apa kalo kami menikah akan berhasil awet dan langgeng sampai kami menua. Masa iya menikah terus untuk cerai?. Yakan tidak mungkin. Apa kata orang tua kami?. “Tenang Nin…” katanya lagi lagi mengusap pucuk kepalaku. Tapi kali ini aku hindari. Bisa banget usapin kepalaku terus. Tapi tidak kelihatan marah sih karena aku menghindar sentuhan tangannya di pucuk kepalaku. Malah kelihatan tenang dengan bergerak mengambil cangkir teh yang aku sediakan untuknya lalu dia minum sebelum akhirnya focus menonton TV. Aku yang malah gak focus karena sibuk dengan pikiranku sendiri. Sampai aku tidak bisa menghindar saat bang Aiden merebahkan kepalanya di pangkuanku setelah menaruh bantal sofa di atasnya. “Masa pusing lagi bu dokter” keluhnya sambil menjambak rambutnya. Lagi lagi aku luluh. “Minum obat lagi deh bang” kataku bersuara. “Gak, mau di pijitin kamu aja. Lebih ampuh kayanya” jawabnya memaksa karena menarik tanganku untuk menyentuh kepalanya. Sekali lagi, tuan muda, siapa yang bisa menolak permintaan tuan muda?. Kalo aku lihat interaksi dokter Bella dan bang Noah suaminya yang sering jemput di rumah sakit, selalu kelihatan sabar dan nurutin juga maunya suaminya. Semua orang juga tau, betapa bawelnya bang Noah dan bertolak belakang dengan bang Aiden yang selalu bersikap tenang. Ternyata tidak jaminan tidak akan bersikap menyebalkan kalo laki speck tuan muda tuh. Aku aja jadi kesal terus. Dari wajahnya yang selalu kelihatan kaku dan dingin, jadi aku ralat soal bang Aiden yang selalu kelihatan tenang. Kalo raut wajah papanya om Radit baru pantas di bilang tenang, karena raut wajahnya tidak sekaku bang Aiden putranya. Dan karena bang Aiden sekarang tidur di pangkuanku sehingga wajahnya tepat menghadap tatapanku kalo aku menunduk, jadi aku bisa dengan jelas melihat penampakan garis wajahnya yang kaku di bagian rahang dan hidungnya yang memang tinggi. Sepasang matanya pun cenderung cekung ke dalam, jadi sekalipun bentuk matanya besar, tapi matanya tidak belo. Sepasang alisnya sih yang keren, karena berhasil membuat tampilan dahinya yang menonjol tidak terlihat jenong. Lalu lagi lagi kepergok ayah yang pulang kerja, lalu aku abaikan lagi. Habisnya langsung sibuk ngobrol dengan ayah soal macam macam, sampai aku pamit mandi lalu bantu bunda siapkan makan malam menjelang magrib. Azan magrib, baru aku siap siap untuk berangkat kerja lagi. Memang makan malamnya jadi maju semenjak aku shiff kerja malam, supaya jam 7 aku berangkat kerja dalam kondisi sudah makan malam. Dan kali ini di antar bang Aiden ke rumah sakit, karena sebelumnya di atar supir ayah. Aku bisa nyertir mobil, tapi kalo malam hari, ayah jarang kasih izin, sekalipun percaya aku bisa menyertir mobil dengan baik. “Diam diam dan jangan macam macam ya. Abang bakalan temui kamu lagi setelah abang dapat jawaban atas pertanyaanmu. Abang lelaki, biar abang yang pikirkan semua dan cukup kamu diam tunggu abang. Sebisa mungkin, abang akan berusaha supaya tidak mengecewakan siapa pun, terutama mengecewakan kamu” pintanya lalu mencium keningku sebelum melepasku turun dari mobil saat sudah sampai di loby rumah sakit. Masalah diam dan jangan macam macam, memangnya aku mau macam macam seperti apa?. Aku bahkan tidak punya waktu untuk sekedar bersenang senang di luar selepas aku kerja. Paling tidur di rumah. Yang jadi masalah harus menunggu sampai batas mana?. Kalo lebih dari dua minggu bang Aiden sama sekali tidak datang menemuiku lagi. Tidak ada kabar juga darinya. Dan mendadak ayah dan bunda sama sekali tidak ada yang membicarakan bang Aiden di rumah. Ya sudah, aku anggap perjodohanku dengan bang Aiden, bisa jadi tidak akan pernah terjadi. Bisa apa aku?. Tuan muda selalu bisa berkelakuan seenaknya kan??. Dan jujur aku sakit hati. Bukan karena aku merasa kehilangan sosok bang Aiden. Semua hanya karena aku merasa bang Aiden seperti jelangkung yang datang tanpa di undang lalu pergi tanpa perlu pamit lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD