14. Tidak Tenang

2254 Words
Nina POV. “Abang pulang dulu ya. Baik baik selama abang ke Malang. Nanti abang temuin kamu lagi” pesan bang Aiden setelah pamit pada ayah dan bunda sepulang kami dari mall dan main di pusat permainan lalu makan malam berdua. Aku mengangguk menanggapi, lalu aku menahan nafasku saat bang Aiden bergerak mencium pipiku. Tidak bisa nolak apalagi ngamuk juga, kalo sebelumnya aku sudah berani mencium pipinya sebelum turun dari mobil lalu masuk rumahku untuk bang Aiden pamit pulang ke ayah dan bunda. “Abang pergi ke Malangnya kapan?” tanyaku bersuara mencari tau. “Besok sore atau selasa pagi. Ada yang mesti di urus dulu di sini sebelum abang berangkat ke Malang. Nanti abang kabarin kamu ya kalo abang berangkat ke Malang” jawabnya. Aku mengangguk lagi. “Ya udah, abang pamit ya. Asalamualaikum” lalu beranjak menuju pintu pagar rumahku dan aku mengekornya sampai batas pagar untuk mengunci pintunya. Sempat melambaikan tangan juga saat bang Aiden membunyikan klakson mobil lalu berlalu pergi dari rumahku. Setelahnya aku masuk rumah lalu pamit tidur pada ayah dan bunda yang bersiap masuk kamar juga. Besok hari kerja, tentu harus segera istirahat. Masih aku santai tidak ada kabar apa pun dari bang Aiden sampai esok harinya. Setelah hari selasa datang dan belum ada kabar juga, aku mulai gelisah. Gak tau juga kenapa?. Mungkin tanpa sadar aku berharap bang Aiden mengabariku soal keberadaannnya saat ini. Mau aku yang duluan tanya, kok ya aku malu. Jadi aku diam saja dan memilih cepat tidur. “Aiden ke Malang ya sayang?” malah bunda tanya rabu pagi sebelum aku berangkat kerja. Aku mengangguk menanggapi. “Mamanya kasih tau bunda juga kalo kemarin pagi Aiden berangkat ke Malang” kata bunda lagi. Ada rasa kesal sih kalo tau kabar bang Aiden dari bunda yang di telpon mamanya. “Kalo kamu udah tau Aiden ke Malang, udah jangan ganggu. Biar dia selesaikan dulu pekerjaannya. Nanti kalo udah selesai kerja juga akan cari kamu lagi. Fokus kerja aja kamu sama kerjaanmu juga, biar gak kangen” ledek bunda. Masih aku tertawa saat itu. “Jangan jangan bunda yang kangen sama bujang keceh anak bestie bunda” ledekku membalas. Gantian bunda tertawa. Sudah sebatas itu obrolan soal bang Aiden. Lagi lagi aku menurut pada perkataan bunda untuk tidak ganggu bang Aiden dengan tanya tanya kabarnya di Malang. Apalagi tanya soal kesibukannya di Malang. Orang kerja ya pasti sibuk kerja. “Manage diri untuk tidak gampang over thinking. Percaya aja kalo memang pamit kerja ya pasti sibuk kerja. Lihat bunda, kalo ayah pergi keluar kota untuk urus kerjaan, bunda gak ribet ganggu ayah sampai ayah yang cari bunda karena ayah kangen” ayah sampai ikutan ngomong saat pulang bareng aku di hari jumat sore dari rumah sakit. Mungkin karena biasanya aku di jemput bang Aiden pulang kali ya. Dan aku memilih tertawa menangapi perkataan ayah. “Tapi sebenarnya ayah cuma bisa teori doang” kata ayah lagi menjeda tawaku. “Maksud ayah?” tanyaku. “Kenyataannya ayah selalu kalah dengan rasa rindu” jawab ayah. Tertawalah lagi aku dan ayah juga. “Ayah selalu kangen bunda, kangen anak anak ayah kalo ayah sedang jauh dari rumah. Sesibuk apa pun ayah dengan pekerjaan. Pasti setelah ayah sendiri langsung cari bunda. Dengar suara bunda aja, rasanya senang sekali, di tambah bunda selalu laporan kalo selain bunda kangen ayah, anak anak ayah juga kangen ayah” jeda ayah pada tawaku. Aku langsung tersenyum menatap ayah lalu mencium pipinya. “Kamu udah mulai merasa kangen gak sama Aiden?” tanya ayah. Gelagapan dong aku dengan menghindari tatapan ayah. “Hei…ayah tanya” jeda ayah dan buat aku menoleh menatap ayah yang dudu di sampingku di bangku belakang mobil ayah. “Aku gak tau yah….” jawabku. Menghela nafaslah ayah lalu menatap ke depan. Apa ayah tidak yakin dengan jawabanku?. “Yah…” tegurku. Ayah sih jadi diam. “Ayah tanya aja. Ayah sebenarnya selalu menahan diri dan menahan bunda juga untuk tidak kepo urusanmu dengan Aiden. Terlepas ayah tau dan percaya, kalo Aiden lelaki baik. Ayah kan ayahmu, ayah selalu harus memastikan apa kamu happy dengan apa pun yang kamu jalani saat ini. Mau urusan pekerjaan, urusan kebutuhanmu sebagai putri ayah. Harusnya stop urusan ayah untuk kepo di dua masalah itu, karena kamu sudah beranjak dewasa. Apalagi ayah sudah janji untuk menyerahkan segala urusan dalam pencarianmu untuk pasangan hidup dan masa depanmu di tanganmu sendiri. Tapi…maafkan ayah nak, kalo selalu merasa khawatir, takut kamu gak happy jalaninya, karena merasa kamu di jodohkan” jawab ayah. “Yah…im okey. Aku happy juga kok jalani proses pendekatanku dengan bang Aiden” kataku supaya ayah berhenti khawatir. “Iyakah?. Kamu gak bohong sama ayah?” tanyanya sampai berbalik badannya sedikit untuk serius menatapku. Aku buru buru mengangguk. Lalu ayah tersenyum. “Syukurlah kalo kamu happy dan tidak merasa terbebani” jawab ayah lalu mengusap pucuk kepalaku dulu sebelum aku akhirnya rebah di bahu ayah setelah merangkul lengannya. Yang jadi masalah dari obrolanku dan ayah. Apa aku juga seperti ayah yang kalah dengan rasa rindu?. Masa aku jadi sering menatap handphoneku yang sebelumnya selalu aku abaikan selama aku libur kerja. Aku sudah bilang sebelumnya kan?. Aku tidak segitunya suka main hanphone. Aku selalu merasa buang waktu. Aku juga tidak punya teman akrab siapa pun, kalo anak anak teman ayah dan bunda, tidak ada yang seangkatan denganku. Ada bang Naka yang aku sempat akrab, tapikan cowok cowok. Mau chat adik adikku, mereka sibuk dengan pendidikan dan kuliah mereka. Loki si bontot aja sampai jarang pulang ke rumah karena banyak tugas kuliah dan kadang ayah dan bunda yang justru menemuinya di kos kosan untuk mengirim makanan dan menengok Loki. Kadang aku ikut, kadang aku tidak ikut, sesuai mood aku aja. Paling kalo bunda dan ayah pulang, Loki yang akan telpon aku dan protes karena aku tidak ikut ayah dan bunda menemuinya. Rasanya menyedihkan sekali ya hidupku?. Tapi ya mau gimana lagi. Dari dulu aku begitu. Mau gabung dengan circle pertemanan cewek cewek di sekolahku dulu, aku merasa tidak nyambung kalo aku lebih suka latihan menembak dan latihan taekwondo. Mereka pikir aku laki banget. Padahal untuk gabung main dengan circle pertemananku dengan cowok cowok, macam kaka Puput adik bang Aiden yang punya teman baik tiga lelaki, kok rasanya aku jengah. Aku gak ada manis manisnya jadi cewek, persis yang teman teman cowokku di sekolah bilang. “Mba Nin…ada pacar mba Nin di TV” tegur bibi pembantu menjeda diamku di ruang tengah rumah di saat ayah dan bunda tidak ada di rumah karena pergi ke rumah eyang. “Pacar aku?” tanyaku lalu beralih juga menonton ke arah TV yang tadi aku abaikan. “Iya…tadi ada iklannya. Nanti ada lagi deh” jawabnya. Ternyata bibi sedang menonton acara infotainment yang sekarang sedang iklan. Jadi ikutan menunggu iklan selesai juga akunya. Dan beneran ada penampakan bang Aiden di antara artis yang ternyata terlibat dalam acara pembukaan turnamen futsal tingkat nasional. Ya kerena acaranya skala nasional kali ya, jadi di liput media. Sampai bang Aiden di wawancara dengan kapasitasnya sebagai salah satu sponsor utama acara. Senyum sih aku melihat wawancaranya. Ya semua gara gara wajah kakunya yang aku kenali saat dia bicara di depan media. Terlihat pintar dan sopan sudah pasti. Tapi kenapa selalu sulit memasang tampang ramah. Saat selesai wawancara aja, hanya senyum sedikit sekali lalu mundur begitu saja. Aku anggap tidak PD kok ya bisa segitu pintarnya menjawab pertanyaan apa pun dari wartawan. Dan gak pantas di anggap gak PD juga, dengan segala pencapaiannya, latar belakang keluarganya, juga tampang gantengnya yakan??. “Pacar mba Nina yakan?” tegur bibi lagi. Tertawalah aku dan bibi mengikuti. Itu sebelum akhirnya aku uring uringan tidak jelas karena tidak ada juga kabar dari bang Aiden. Rasanya apa aja jadi salah. Cari buku yang sedang aku baca dan aku lupa taruh aja, aku langsung ngomel pada bibi. Sampai ke urusan jas dokterku yang sebenarnya rapi di setrika bibi pun, aku ngomel juga. “Nak…ada apa?. Kamu lagi PMS?” sampai bunda tegur aku. Baru aku berhenti ngomel dan memilih diam lalu melanjutkan sarapanku karena sudah masuk hari kerja lagi, dan artinya seminggu bang Aiden tanpa kabar apa pun. “Kamu gak setuju di pindah dari ruang UGD lalu di alihkan jadi dokter visit di kamar kelas 3?. Lebih cape ya?” tegur ayah yang pastinya tau soal ini. Aku langsung menggeleng saat ayah tanya. Mana mungkin aku tidak setuju kalo itu bagian dari kemajuan dari kinerjaku di rumah sakit?. Soalnya kalo di pindah sebagai dokter visit di kamar kelas 3 sekalipun, itu artinya aku sudah di percaya untuk mengawal data kesehatan pasien di setiap kamar kelas 3 di rumah sakit. Kalo aku di tempatkan di UGD kan hanya memberikan pertolongan pertama dan mendiagnosis kondisi pasien sebelum pasien di putuskan pulang atau rawat inap. Setelah itu lepas tanggung jawabku dari pasien itu dan beralih pada dokter yang di tempatkan di setiap unit kamar. Hanya resikonya, aku harus menerima kapan pun ada panggilan dari rumah sakit saat ada masalah pada pasien di bawah tanggung jawabku. Juga harus bersedia di shiff kerja pagi dan malam hari. Dan aku terima semua sebagai tanggung jawabku sebagai dokter. Dan kerennya bukan ayah yang memutuskan semua, tapi dokter yang lebih senior dari aku atau kepala unit. Jadi aku harus merasa bangga karena termasuk penilaian objektif dan bukan semata mata karena aku anak ayah yang jadi direktur rumah sakit. Tapi ayah tetap tau semua itu karena pasti laporannya sampai ke ayah. Dan butuh waktu sampai setahun di UGD sebelum aku di pindah. “Gak masalah soal itu yah” jawabku buru buru. “Lalu ada apa?. Kamu seperti tidak tenang?” tanya ayah dan bunda mengawasiku dalam diam. “Aku PMS kali” jawabku asal. Menghela nafaslah ayah dan bunda. Dan aku memilih sibuk menghabiskan sarapanku lalu mengajak ayah buru buru berangkat ke rumah sakit. “Tenang nak…jangan demam panggung. Percaya pada kemampuanmu” kata ayah sebelum kami berpisah lokasi tempat kerja. Masa iya aku tidak tenang atau grogi karena pekerjaan yang bisa aku tangani, walaupun butuh waktu untuk adaptasi dengan lingkungan kerja baru dan over alih data pasien dari dokter sebelumnya. Tapi lalu kesibukan di lokasi tempat kerja baru malah memberikan aku ruang dan waktu untuk skip dari urusan pekerjaan bahkan di saat aku sedang kerja memeriksa data pasien yang aku tangani. Tentu berbeda dengan suasana ruang UGD yang selalu hiruk pikuk dengan lokasi kerjaku sekarang yang membuat aku punya ruangan kerja sebelum aku melakukan kegiatan visit pasien di jam 10 pagi dan jam 3 sore di shiff pagi, dan melakukan visit pasien di jam 9 malam dan jam 7 pagi di shiff malam sebelum aku pulang kerja. Lebih santai pokoknya berbeda dengan di UGD. Lalu orang yang membuatku tidak tenang karena tidak ada kabar keberadaannya selama di Malang, baru muncul hari selasa pagi dan menyusul ke ruanganku. Sampai aku kaget menemukannya datang dan menungguku di meja counter untuk suster karena aku sedang shiff malam. “Morning bu dokter…” sapanya seakan tidak merasa bersalah sudah mengaabaikanku. Aku langsung menghela nafas menanggapi dan mengabaikan suster jaga yang senyam senyum menatap kami. “Morning…” jawabku bersuara. Baru dia tersenyum sedikit sekali dan aku tanggapi dengan canggung. Berharap aku jingkrang jingkrang?. Yang ada aku mau sekali mencakar wajah kakunya. “Makasih suster, sudah ketemu juga saya dengan dokter Nina. Saya permisi dulu ya” pamitnya pada suster lalu beralih padaku lagi. Aku masih diam mengawasi sampai dia mengulurkan tangannya ke arahku. “Ayo sayang…aku antar pulang” ajaknya. Mau aku tolak uluran tangannya, tentu tidak sopan. Jadi aku sambut uluran tangannya lalu pamit pada suster yang semakin senyam senyum penuh arti padaku. Setidaknya sampai menuju lift turun aku biarkan dia genggam tanganku. Dan saat dia harus memencet tombol lift, langsung aku melepaskan diri dari pegangan tangannya lalu memeluk tas dan jas dokter yang aku bawa. “Silahkan dokter” katanya gentleman seperti biasanya mempersilahkan aku masuk lift. Ya aku masuk lalu kami berdiri berdampingan dan tidak ada siapa pun, karena masih jam 8 pagi. Aktifitas rumah sakit pun masih berjalan lambat. “Cape ya kamu?” tanyanya memecah hening. Aku menggeleng. “Terus kenapa diam aja?” tanyanya lagi. Ya diam lagi aja akunya dan mengabaikan helaan nafasnya. Lalu kami beneran diam sampai aku membiarkan dia merangkul bahuku saat kami keluar lift lalu bergerak menuju pintu keluar loby rumah sakit. Terserahlah dia mau berbuat apa. Tuan muda macam REGNALA AIDEN SUMARIN TEDJA, bebas berbuat semaunya. Apalah aku ini?. “Yang…” tegurnya lagi setelah kami sampai parkiran mobilnya. Bagian ini tuan muda macam dirinya tidak berlalu di rumah sakit. Bisa jadi karena tidak pakai jasa supir seperti ayah atau kedua orang tua atau keluarganya saat datang ke rumah sakit jadi tidak ada yang mengantarkan mobilnya ke depan loby. Dan aku abaikan tegurannya karena dia tidak bersuara lagi juga. Hanya buru buru membukakan pintu mobil untukku seperti biasanya lalu aku masuk mobil lalu dia menyusul masuk mobil juga. “Kita cari tempat untuk sarapan dulu ya?. Abang udah izin kok sama ayah dan bunda kamu. Setelah itu abang antar kamu pulang supaya bisa istirahat” katanya bersuara lagi. Aku mengangguk saja. Memangnya bisa nolak?. Sekali lagi, tuan muda, bebas mau ngapain aja sekehendak hati dia. “Nin…” tegurnya lagi karena aku tetap diam setelah aku mengangguk. Mesti banget usap kepalaku lagi. Maunya apa sih?. “Ayo udah jalan bang, katanya mau sarapan” jedaku supaya dia berhenti mengusap kepalaku. Setelah tidak ada kabar, kami terpisah cukup lama, kok ya masih berhasil sekali buat aku deg degan terus. Semakin kesal akunya, atau malah benci. Entah kebencianku pada apa atau pada siapa?.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD