10.Baper Baperan

2413 Words
Nina POV. “Udah gak usah izin sama om, cukup izin sama tante. Sama aja. Lagian om bakalan kasih izin kok” itu jawaban bunda saat bang Aiden minta izin. Dan jujur buat aku tidak bisa menolak keinginan bang Aiden untuk dinner ke luar. “Kamu maukan di ajak pergi dinner sama Aiden?” tanya bunda saat melihat bang Aiden mengangguk. Aku jadi mengangguk. “Ya sudah, sana siap siap sekalian sholat dulu kali ya. Biar tenang pergi dinnernya” perintah bunda. Aku langsung menatap bang Aiden. “Iya sana siap siap. Siapa tau malah bisa ketemu ayah kamu, jadi sekalian pamit juga” kata bang Aiden. “Abang gak apakan sama bunda dulu?” tanyaku memastikan. Lagi lagi takut salah akunya. “Aiden laki gentleman, pasti bersedia menunggu kamu bersiap. Yakan Ai?” malah bunda yang jawab. Bang Aiden malah tertawa menanggapi. Tuhkan bisa tertawa kalo sama bunda. Kalo sama aku doang kenapa susah banget ketawa??. “Aku mandi dulu ya bang, sekalian sholat dulu” pamitku. Bodo amat deh kalo bang Aiden marah. Gak mungkin jugakan aku pergi dinner trus tidak mandi dulu. Kalo dandan, aku tidak terlalu suka dandan yang macam macam kok. Cukup pakai bedak, lipstick dan pensil alis. Cukup supaya tidak kelihatan pucat aja dan bukan untuk kelihatan cantik paripurna. Memangnya aku mau jadi pengantin yang harus di make up full supaya pangling. Eh, kenapa aku malah bicara soal aku jadi pengantin?. Siapa juga yang mau lamar aku?. Bang Aiden?, masih terlalu jauh kali soal itu. Aku bilang pacaran aja, bang Aiden bilang kejauhan kalo berpikir kami pacaran. Sekalipun jelas tujuan bang Aiden dekatin aku, untuk jadi calon istrinya sesuai keinginan mamanya atau bundaku. Lalu siap siaplah aku. Tapi sempat bingung harus pakai baju apa setelah aku selesai mandi. Masa iya pakai jeans?. Bang Aiden aja pakai setelan macam kemeja lengan panjang dan celana pantolan seperti outfit orang kerja. Masa iya aku pakai celana jeans. Bisa jadi karena dia baru pulang kerja lalu langsung jemput aku. Walaupun aku ragu soal itu, karena kemeja dan celananya tidak kelihatan kusut. Hadeh…kenapa aku pikirin banget ya soal ini??. Akhirnya aku putuskan memakai dress yang suka aku pakai kerja. Cukup sopan dan terlihat resmi. Nanti aja kalo aku salah kostum, ayah sama bunda tegur aku lagi. Setelah mengeringkan rambut, aku sholat dulu, setelahnya baru deh aku dandan secukupnya aja. Baru aku keluar kamar. Dan ternyata sudah ada ayah bersama bang Aiden. “Nah, akhirnya rapi juga putri om dandan. Silahkan Ai kalo memang mau berangkat, takut kamu sudah kelaperan. Kamu dari tempat kerja langsung jemput Nina kan?” komen ayah. “Sempat pulang om, tadi kerjaanku tidak terlalu banyak” jawabnya. “Okey…” jawab ayah lalu bangkit berdiri di ikuti bang Aiden. “Ayah udah kasih izin aku pergikan?. Aku pamit ya yah?” kataku sebelum bunda bergabung dengan kami. “Gemes lihat kalian, dulu kecil sama sama, eh tau tau udah bujang sama perawan” komen bunda saat aku ganti mencium tangannya. Bang Aiden yang tertawa menanggapi seperti ayah, sementara aku enggan menanggapi. Bunda nanti semakin ledek kalo aku tanggapi. “Aku pamit ajak Nina keluar dulu ya om, tante?. Asalamualaikum” pamit bang Aiden. “Walaikumsalam” jawab ayah dan bunda. “Okey, hati hati ya” kata bunda dan ayah hanya mengawasi. Berlalulah kami berdua setelah bang Aiden mempersilahkan aku jalan duluan. Gentleman sih bagian ini, termasuk dia bukakan pintu rumah untukku lalu dia menyusul keluar lalu menutup pintunya. “Abang gak komen apa apa soal penampilan aku?” tanyaku dulu menjeda langkahnya menuju mobilnya di luar pagar rumahku. Dia jadi berhenti melangkah lalu berbalik menatapku. “Cantik” jawabnya singkat padat dan jelas. Entah kenapa efeknya membuatku tersenyum, padahal orang yang memujiku langsung lanjut jalan lagi. Buru buru dong aku susul karena dia membukakan pintu mobilnya lagi untukku. “Makasih bang” kali ini aku mengucapkan terima kasih dan dia hanya mengangguk lalu membantu menutup mobilnya setelah aku berhasil masuk mobil. Setelahnya menyusulku masuk mobil. Lalu hening lagi di antara kami. Tidak ada juga pertanyaan soal tempat dinner yang kami akan datangi. Aku juga enggan tanya. Aku toh pemakan segala. Terus karena pasti di traktir, ya cukup duduk manis sampai tempat tujuan kami makan malam. Ternyata makan malam di restoran Queens Hotel milik om Nino yang juga abang kandung mamanya. Semakin aku enggan banyak tanya. Soalnya aku sudah sering juga makan di restoran Queens hotel. “Ayo udah sampai Nin” akhirnya bersuara juga setelah tiba di loby hotel. Aku mengangguk lalu membereskan penampilanku dan tas yang aku bawa saat bang Aiden lebih dulu keluar mobil lalu petugas valet parking menggantikan bang Aiden membukakan pintu mobil untukku. “Selamat malam Nona” sapa petugas menyambutku setelah keluar mobil. “Selamat malam” jawabku tepat bang Aiden mendekat lalu berdiri di sebelahku. Tentu setelah dia menyerahkan kunci mobil pada petugas valet parking. “Silahkan nona…tuan…” kata si petugas mempersilahkan lagi untuk kami masuk loby hotel. “Terima kasih” bang Aiden yang jawab lalu tanpa kata menggenggam tanganku. Ya aku hanya tersenyum sebagai ucapan terima kasihku. Habisnya tanganku sudah di tarik masuk pintu loby hotel. Kenapa panggilnya nona dan tuan sih?. Kenapa gak panggil mba sama mas aja?. Atau panggil bapak dan ibu?. Gara gara aura bangsawan bang Aiden kali ya??. Tapi lalu aku agak kedodoran mengikuti langkah bang Aiden menuju bagian restoran hotel. Sampai aku kesal sekali. “ABANG!!” jedaku. Baru dia berhenti di lorong menuju restoran. “Ada apa?” tanyanya setelah menghentikan langkahnya. Langsung aku cemberut menatapnya. “Kecepatan jalannya. Aku kedodoran ikutin langkah abang” jawabku lalu memaksakan diri melepas genggaman tangan bang Aiden pada tanganku. Dia lalu menghela nafas menanggapi. “Lagian aku kaya bocah yang di suruh pulang bapaknya gara gara keasyikan main. Soalnya muka abang galak banget” tambahku. Kali dia ketawa mendengar gurauanku. Cuma geleng geleng doang. Beneran mukanya datar gitu. Poker Face!!. “Maaf…ayo!!” bersuara juga akhirnya lalu mengulurkan tangannya lagi ke arahku. “Gak usah, aku jalan sendiri aja. Biar aja aku ketinggalan” tolakku. “Abang bakalan pelan pelan jalannya” jawabnya. Aku diam dulu menatapnya. “Ayo dong Nin…Yuk sayang…” katanya lagi. Rayu aku pastinya, gak mungkin banget kalo bukan rayu aku supaya mau dia pegang lagi. “Pelan pelan jalannya” kataku menyerah juga menyambut uluran tangannya. Lagi lagi tidak bersuara, hanya menggenggam tanganku lagi. Betterlah kalo kemudian langkahnya lebih pelan pelan dan aku bisa imbangin. “Atas nama Aiden Sumarin Tedja” katanya di meja reseptionis restoran. “Oh ya. Silahkan….” jawab karyawan resto dan kelihatan banget berlebihan kalo sampai setengah merunduk mempersilahkan masuk bagian dalam resto lalu dua atau malah tiga pelayan resto menunjukkan meja untuk kami di luar area resto bagian dalam. Sampai bangku aja di tarik mundur oleh pelayan untuk kami. “Biar saya aja” jedanya untuk kursi bagianku. Aku sampai merasa risih karena para pelayan yang melayani kami kompak senyam senyum melihat tuan muda, bagian dari keluarga pemilik hotel, menarik mundur kursi untuk aku duduki. “Makasih” kataku lagi pada bang Aiden. Dia hanya mengangguk lalu duduk di kursi bagiannya. Baru deh pelayan yang menyusul sambil membawakan buku menu memberikan buku menu untuk kami. “Silahkan kamu pesan duluan” pintanya padaku. Bagian dari manner ini mah, kalo lelaki mempersilahkan perempuan yang jadi teman dia makan memesan duluan. Ya aku pesan duluan dong yang mau aku makan dan minum. Lalu gantian bang Aiden setelah aku bilang cukup pesananku. “Beneran udah cukup pesananmu, Yang?” tanyanya. Rasanya mau aku lempar wajah kakunya saat tanya itu. Yang, yang lagi. Tapi kalo gak ada orang aja, diam aja gak ngomong apa apa. Jadi aku menggeleng dan enggan bersuara. Dan beneran diam aja begitu pelayan berlalu dari hadapan kami, padahal aku awasi terus loh, dan bukan aku awasi diam diam. “Kenapa?” tanyanya bersuara juga. “Abang marah ya sama aku?” tanyaku. “Gak” jawabnya singkat. Aku langsung menghela nafas karena dia bungkam lagi setelah itu. “Iya juga sih, mana mungkin marah kalo sampai dua kali panggil aku sayang. Iya gak sih?” tanyaku setengah mengingatkan dan mencari tau beneran dia panggil aku sayang, atau yang. Nanti aja aku udah kepedean, ternyata maksudnya bukan sayang aku beneran. “Memang” jawabnya singkat lagi. “Maksudnya?” kejarku jadi sdikit juga ngomongku. “Biar kamu bisa juga panggil abang sayang” jawabnya. Astaga…sampai aku ternganga mendengar jawabannya. Sayang pelayan yang membawakan pesanan minuman kami menjeda obrolan yang berhasil sekali buat aku mendadak grogi sampai mulutku ikutan terkunci. Malu juga untuk bahas lebih lanjut kalo kemudian bang Aiden minum lalu menjawab pesan di handphonenya. Bang Aiden tuh gak mikir apa ya?, mana mungkin juga aku berani balik panggil dia, sayang. Selesai sibuk dengan pesan di handphonenya berganti pesanan makanan kami di antar. Beneran hotel bintang 5, kalo cepat sekali melayani pesanan makanan dan minuman kami. “Ayo makan, nanti keburu dingin” perintahnya. “Gak pake panggil aku sayang lagi?” celetukku lalu reflek menutup mulutku. “Ayo makan, sayang. Nanti keburu dingin” jawabnya malah mengulang perkataannya tapi ya tetap dengan wajah datar. Hadeh….antara bikin melayang sama bikin eneg. Coba bilang sayangnya dengan wajah senyum dikit aja. “Makasih ya, Yang” jawabku lebih ke arah meledek karena setelah itu langsung menghindari tatapannya lalu focus makan. Dia ajak kelihatan aneh aku panggil Yang, dengan wajahku yang tanpa senyum. Apa malah eneg kali kaya aku. Soalnya geleng geleng gitu menanggapi jawabanku. Memang gak usah bicara banyak kalo di hadapan orang yang pelit ngomong. Macam sia sia, kalo dia kemudian malah diam. Lalu bersuara lagi setelah kami selesai makan. “Kamu cape ya?” tanyanya. Aku buru buru mengangguk. “Mau pulang aja?” tanyanya lagi. “Emang boleh, abang gak marah?” jawabku. “Yuk!!. Abang bayar dulu” jawabnya. Aku awasi bang Aiden membayar tagihan makan kami sampai dia bangkit lalu membantuku bangkit. Bagian ini yang buat aku cape. Buat aku deg degan terus. Mau kesal karena bang Aiden banyak diam dan memasang poker face tapi dia tau caranya memperlakukan perempuan dengan baik. “Rangkul lengan abang ya, kamu kelihatan ngantuk” pintanya. Gak habis habis buat aku deg degan. Dari tiba tiba manggil sayang, entah maksudnya merayu atau sekedar panggil aku sayang. Sekarang malah pinta aku rangkul lengannya. Dia enak bisa bersikap biasa aja, malah kembali pasang wajah datar tanpa ekspresi apa pun saat aku menurut merangkul lengannya lalu jemari tangannya yang lengannya aku rangkul malah menggenggam jemari tanganku. Bagus aku masih bisa mengusai diriku dan ikut berjalan mengimbangi langkahnya menuju loby hotel. Kalo tiba tiba kena serangan jantung terus aku meleot di lantai gimana?. Dan alangkah bersyukurnya aku kalo akhirnya tiba di loby hotel lalu bisa melepaskan diri dari bang Aiden ketika mobil bang Aiden di antar ke loby. “Udah terpasangkan sabuk pengamannya?” tanyanya mengingatkan itu sebelum beranjak keluar area hotel. Aku mengangguk saja. Udah cukup debar jantungku berlompatan karena dia sempatkan diri menurunkan jok mobil supaya aku bisa bersandar lebih dalam karena dia pikir aku ngantuk atau kecapean. Bagusnya cukup dengan anggukanku membuat bang Aiden kembali focus pada setir mobil lalu membawaku beneran keluar area hotel. Tapi ternyata aku salah. Saat mobilnya terjebak lampu merah malah buat aku lebih deg degan lagi karena kelakuannya yang di luar dugaanku. “Harusnya kamu nolak abang ajak dinner kalo kamu ternyata cape, Nin….” tegurnya. Mending tegur doang. Ini sekalian sambil usap kepalaku. Sampai aku tidak bisa berkata kata lagi. “Jangan gini lagi ya?. Lain kali kalo memang cape, bilang sama abang. Kamu tuh kebiasaan banget, apa aja gak mau cerita sama abang” katanya lagi dan bertahan mengusap kepalaku. Mendadak aku merasakan kehangatan sikap ayah padaku lewat usapan lembut tangan bang Aiden di kepalaku. “Nin…” tegurnya menjeda diam dan tatapanku padanya. “Iya bang…” jawabku lirih. “Good” jawabnya lalu focus lagi pada setir mobil karena lampu sudah berubah hijau. Meninggalkanku yang terus mengawasi wajahnya dari samping. Apa karena bentuk rahangnya yang terlihat lebih menonjol yang buat wajah bang Aiden terlihat tidak ramah ya??. Bisa jadi sih. Yakan ada juga yang memiliki rahang seperti wajah ayah, yang buat ayah terlihat ramah. Kalo itu bagian kekurangan bang Aiden, rasanya bisa aku maklumi. Kalo bang Aiden yang pelit bicara, rasanya lelaki lebih baik begitu. Kalo cowok cowok malah bawel, rasanya malah jadi menyebalkan yakan??. “Akhirnya sampai juga” katanya begitu sampai depan rumahku lalu mematikan mesin mobil. Tapi malah aku mendadak malas turun dari mobil. “Ayo Nin, udah sampai rumah kamu” katanya karena aku bertahan bersandar di jok mobilnya. “Tunggu bang” jedaku mencekal tangannya. “Kenapa?” tanyanya jadi menatapku. Aku menghela nafas dulu. Lalu entah keberanian dari mana, aku masa berani menyentuh rahang wajahnya. “Nin…” desisnya mendadak terlihat grogi. “Kalo abang nanti beneran sayang aku, pelan pelan belajar jangan pasang muka kaku kaya gini ya?. Gak apa abang diam aja, atau sedikit bicara. Tapi minimal senyum dikit aja” pintaku. Akhirnya senyum juga walaupun bukan tertawa seperti sebelumnya saat bicara denganku sebelum dia merasa kesal padaku. Ya aku gak ngerti sih apa yang buat bang Aiden kesal sama aku. Tapi pasti aku sudah buat dia kesal. Orang setenang bang Aiden mirip ayahku yang kalo kesal lebih suka memilih diam, di banding meledak ledak. Apa lagi yang buat kesal orang terdekatnya. Lebih berbahaya sebenarnya marahnya orang yang sikapnya tenang. Bunda aja kalo ayah mulai banyak diam, pasti langsung mikir bunda buat salah, setelah biasanya ayah ada tertawanya juga. “Nah gitu, senyum…” pujiku. Lagi lagi bang Aiden senyum lalu tangannya lagi lagi bergerak mengusap kepalaku. “Kalo abang beneran sayang kamu, bakalan kamu balas sayang abang gak?” tanyanya membalas. “Bisa jadi. Cewekkan gampang baper” jawabku. Senyum lagi dong, dan aku suka. “Okey…” jawabnya lalu beneran buat aku baper kalo kemudian bang Aiden mencium keningku. Entah gimana warna wajahku di cium bujang keceh beraura ninggrat abis. “Yuk sayang abang, abang antar kamu masuk rumah, biar kamu bisa istirahat. Besok besok kita beneran kencan ya” ajaknya seakan tidak berhasil buat tubuhku mendadak kaku karena ciumannya di keningku. Mana wangi banget ya Tuhan…. Kencan apaan, kalo aku malah di tinggal kerja keluar kota lama banget. Mana gak ada telpon atau chat aku untuk kasih aku kabar. Ada kali dua minggu, masa iya aku yang cari duluan. Pacar aja bukan. Apa marah ya karena lihat aku berduaan bang Naka di teras rumahku pas dia datang lagi menemuiku hari minggunya??. Ujungnya aku uring uringan gak jelas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD