9.Poker Face

2433 Words
Nina POV. Setelah menemuiku lagi di rumah lalu pulang dan tidak mengajakku kemana mana walaupun hari sabtu malam minggu, besoknya aku harus meladeni telpon bang Aiden. Itu pun setelah aku ladeni chatnya yang menanyakan keberadaanku dan kegiatanku. Gak penting banget menurutku karena aku memang tidak melakukan kegiatan berarti di rumah selain mager mageran dan membaca buku. “Tadi abang udah chat” jawabku setelah mengangkat telponnya dan saling menjawab salam. “Emang ga boleh abang telpon kamu?” tanyanya menanggapi. “Ya boleh sih, cumakan yang abang mau tau dari aku udah aku jawab semua” jawabku. Terdengar helaan nafasnya. “Kamu mau ketemu abang lagi?. Kita kemana kek mumpung kamu libur dan abang juga libur” katanya berikutnya. “Eh gak usah, mending saving tenaga buat besok kerja” tolakku. “Okey” jawabnya. Lalu kami diam. Yakan dari chat chatan sebelumnya memang sudah tanya kegiatanku di rumah dan aku juga sudah tau kalo dia masih di rumah mamanya lalu nanti besok pagi berangkat kerja dari rumah mamanya. “Bang!!” tegurku karena dia lama juga diamnya. “Bingung Nin, mau ngobrol apa lagi” jawabnya. Aku sontak tertawa. “Makanya tadi aku tanya kenapa abang telpon aku. Kan udah tau aku ngapain di rumah dan aku juga udah tau abang di rumah ngapain” jawabku. “Iya juga sih” jawabnya membenarkan. Trus kami diam lagi. “Ya udah deh. Nanti besok besok abang chat dan telpon kamu lagi. Baik baik di rumah, istirahat yang cukup sebelum tempur lagi di ruang UGD” pamitnya. “Okey bang. Abang juga ya, istirahat yang cukup, sebelum giat lagi kerja hari senin besok” jawabku. “Makasih Nin. Asalamualaikum” pamitnya. “Walaikumsalam” jawabku. Terputuslah sambungan kami. Lalu hening tidak ada chat atau telpon dari bang Aiden lagi sampai besok paginya baru chat aku untuk bilang selamat pagi dan selamat beraktivitas. Tentu aku balas hal yang sama. Lalu sibuklah aku dengan pekerjaanku sampai jam makan siang lalu bang Aiden telpon aku. “Kenapa bang?” tanyaku. “Kamu udah makan?” tanyanya. “Ini baru mau makan siang, karena udah ada dokter pengganti” jawabku. “Mau makan apa?. Mau abang kirim pakai ojek online?” tanyanya lagi. Tapi aku malah tertawa menanggapi. “Abang serius, bukan basa basi tanya kamu udah makan doang. Abang kirim sekalian makan siang kamu. Biar kamu gak mikir abang basa basi” jedanya pada tawaku. “Gak usah repotin abang. Di kantin banyak makanan dan bisa langsung aku beli tanpa mesti tunggu lagi. Abang aja jangan lupa makan siang ya. Nanti abang sakit” jawabku. “Kamu tuh di perhatiin sama abang, kok ya gak mau sih” protesnya. Lah lucu ya?. Malah mau repot repot. “Bukan gitu maksud aku bang. Abangkan sibuk banget pastinya sama kerjaan abang. Masa mesti aku tambahin kesibukan abang dengan pesanin aku makanan, kan jadi mesti mastikan juga makanan yang abang pesen buat aku sampai atau gak ke aku. Gak enak akunya” jelasku. Diam dong bang Aiden. “Bang…jangan marah” jedaku pada diamnya. “Gak kok” jawabnya. “Nanti aja deh, kalo abang sempat ketemu aku, terus traktir aku makan, gimana?” kataku jadi merasa gak enak menolak perhatian bang Aiden. “Okey. Tapi abang bisanya weekend. Kalo hari kerja, jam kerja abang gak jelas kapan pulangnya” jawabnya. “Iya, aku ngerti kok” jawabku. Lalu diam lagi bang Aiden. “Ya udah ya bang, aku makan dulu, sama sholat dulu” pamitku. “Okey. Baik baik ya di rumah sakit. Terus kalo ada apa apa bilang abang” pesannya sebelum mengucapkan salam lalu panggilan kami terputus. Kalo ada apa apa bilang bang Aiden?. Di rumah sakit ada ayah. Masa iya aku minta bantuan pada orang yang keberadaannya jauh dari aku?. Apalagi belum punya kewajiban bertanggung jawab atas diriku. Ya atuh mending minta tolong ayah yang jelas jelas memang berkewajiban penuh atas diri aku. Tapi ya sudahlah. Pemikiranku biar aku simpan sendiri. Kalo aku bilang nanti malah mikirnya aku tidak suka di beri perhatian. Aman tuh tidak ada chat atau telpon dari bang Aiden lagi sampai aku pulang ke rumah bersama ayah. Baru telpon aku di jam aku bersiap tidur. “Trus ada kejadian apa di ruang UGD hari ini?” tanyanya setelah saling mengabarkan kalo sudah di tempat tidur dan bersiap tidur. “Gak ada kejadian apa apa sih bang. GItu gitu aja. Pasien hari ini yang masuk ruang UGD cuma pasien dengan gejala penyakit yang bisa segera di tangani oleh dokter jaga dan perawat” jawabku. “Jadi kamu berharap ada pasien dengan penyakit parah gitu?” jawabnya menanggapi. Aku tertawa menanggapi. “Kok ketawa sih?” protesnya. “Ya gak bang. Aku malah berharap ruang UGD tidak pernah di datangi pasien. Artinya semua orang dalam kondisi sehat dan tidak dalam kondisi yang mengharus dapat pertolongan segera dan intensivekan?” jawabku. Lucu ya?. Dia yang awalnya tanya, kok ya pas aku jawab malah komentarnya gitu. Padahal aku rasa setiap dokter di dunia ini, malah berharap semua orang sehat, jadi tidak butuh pertolongan atau perawatan medis. “Iya juga sih” komennya. “Kalo abang, gimana kerjaan abang hari ini?” tanyaku. “Kerjaan abang mah gitu gitu aja. Paling abang kroscek laporan apa pun yang di berikan karyawan, tanda tangan setumpuk berkas trus udah gitu aja. Yang jadi lama tuh jam kerja abang, yak arena mesti teliti satu persatu laporan dari karyawan. Gak bisa asal tanda tangan doang” jelasnya. Aku mengangguk mengerti sekalipun bang Aiden tidak melihatku. “Paling seru dan menantang kalo sedang berencana membuka cabang sport center baru. Soalnya suka ada aja dramanya. Dari pembangunan gedung, perekrutan karyawan, atau trainer. Promo sana sini. Tapi setelah di buka, ya paling di awasi apa berjalan seusai yang di harapkan atau gak. Bagian ini mesti putar otak, gimana caranya supaya orang tertarik jadi member” jelasnya. “Keren” pujiku jujur dan serius. Kok bang Aiden malah tertawa. “Kok abang ketawa sih?. Aku serius loh puji kemampuan abang kerja” protesku. “Iya…makasih ya” jawabnya. Udah begitu doang setelah itu kami mungkin sama sama tidur. Aku gak tau sih bang Aiden beneran tidur sepertiku atau masih melakukan aktifitas lain, kan bukan urusanku dan aku juga tidak lihat langsung. Besok besoknya ya sama begitu lagi. Chat ucapan selamat pagi dan selamat bekerja, siang tanya soal makan siang atau istirahat siang, malamnya telpon sebelum aku tidur. Ya aku ladenin terus, sampai dua hari kemudian aku abaikan telpon atau chatnya karena aku tidur cepat. Eh malah paginya ngomel. Sampai aku tidak enak karena ada ayah di sampingku karena kami berangkat kerja bareng. “Kenapa gak balas chat abang, atau angkat telpon abang?. Kamu memang kemana?” tanyanya bertubi tubi. Sampai aku meringis mendengarnya. Nada suaranya galak banget soalnya. “Aku nanti jelasin ya kalo sudah sampai rumah sakit” jawabku. Terdengar helaan nafasnya di sebrang sana. “Okey. Abang tunggu” jawabnya lalu mengucapkan salam. “Ada apa?. Aiden?” tanya ayah sampai kepo tanya tanya. Aku mengangguk. “Kalian…” “Gak kok yah, kami baik baik aja” potongku supaya ayah tidak tanya tanya lagi. “Okey” jawab ayah. Eh malah aku tidak sempat menelponnya karena langsung sibuk urusan pekerjaan di ruang UGD karena ada pasien yang aku tangani sebelumnya bertahan di ruang UGD dari semenjak aku tinggal pulang. Terkadang ada pasien begitu, yang menunggu hasil lab, menunggu keputusan dokter specialis penyakit yang di derita si pasien, sampai menunggu jadwal operasi jadi bertahan di ruang UGD. Lalu berujung bang Aiden yang ngomel di telpon di jam makan siang. “Mana?, katanya kamu mau telpon abang untuk jelasin kenapa gak balas chat dan angkat telpon abang semalam?” omelnya memulai. “Aku semalam tidur cepat karena cape banget” jelasku. “Itu sih kenapa gak jawab pas kamu bangun tidur. Abang bakalan ngerti kok. Ini malah tunggu abang cari kamu lagi” omel atau prosesnya. “Yakan waktu udah lewat juga. Abang chat dan telpon aku semalam, masa baru aku jawab paginya. Basi kali bang” jawabku. “Astaga…” desisnya. Aku sampai meringis menanggapi desisnya. “Lagian kenapa susah banget sih buat kamu cerita ada kejadian apa di tempat kerja kamu?. Abangkan suruh itu. Jadi kalo sampai kamu gak jawab chat atau telpon abang, jadi abang tau alasannya” omelnya lagi. Aku langsung diam. “Ini yang abang maksud komunikasi Nin” katanya lagi. Aku tetap bertahan diam. “Mungkin terkesan sepele untuk kamu karena itu keseharian kamu menangani berbagai pasien di ruang UGD, tapi gak untuk abang. Lalu gimana abang bisa lebih mengenalmu kalo kamu pelit cerita” keluhnya sekarang. “Maaf…” desisku lebih ke arah gak enak. “Abang jadi bingung mesti gimana supaya kita bisa saling mengenal lebih baik lagi dari sebelumnya. Abang mau cerita keseharian abang atau apa yang abang lewati setiap hari pun, jadi gak bisa karena abang takut kamu anggap gak penting” katanya lagi. “Ya gak gitu bang. Aku suka kok dengar abang cerita soal kekerjaan abang dan keseharian abang” sanggahku. “Ya abang juga suka dengar kamu cerita soal kesibukanmu jadi dokter. Tapi masalahnya kamu pelit cerita. Jadinya abang juga malas cerita soal abang ke kamu. Gak ada tek tokan jadinya” keluhnya lagi. Aku yang lebih bingung mesti gimana. “Kemarin lalu kamu bisa tanya gimana kerjaan abang, terus kenapa gak kamu mulai dari situ. Malah kamu gak pernah tanya lagi?” keluhnya lagi. “Maaf….” desisku semakin tidak enak. “Ya udah deh, kayanya cara yang kita sepakati sebelumnya kayanya memang gak guna. Abang nanti cari cara lain untuk kita saling mengenal satu sama lain” katanya. “Caranya?” tanyaku. “Nanti abang pikirin terus kasih tau kamu. Sekarang kamu mendingan makan siang dulu, sholat lalu sempatkan istirahat” jawabnya. Ya sudah aku nurut. Tapi aku tidak expect kalo bang Aiden jadi berhenti chat atau telpon aku juga. Jadi aneh juga tidak mendapati chat atau telponnya setelah aku di rumah menjelang aku tidur. Paginya pun tidak ada chat atau telpon aku. Siangnya juga, sampai aku pulang lagi gak ada chat atau telponnya, sampai aku pikir bang Aiden marah sama aku. Itu yang buat aku takut juga cari bang Aiden lewat chat apalagi telpon. Sampai aku takut saat menemukannya di rumah sakit lalu menyusulku di ruang UGD. “Kamu udah selesai belum kerjanya?. Apa abang mesti tunggu lagi sampai kamu selesai kerja?” tanyanya saat aku temui. Mimik mukanya itu loh kembali kaku dan terkesan galak gimana gitu. “Udah selesai kok bang. Aku cuma mesti ambil tasku sama bersih bersih” jawabku. “Ya udah, abang tunggu sambil abang sholat dulu. Nanti ketemu di loby ya” buru buru aku mengangguk. Lalu dia berlalu meninggalkan aku. Buru buru juga aku kembali ke ruang khusus dokter lalu sholat asar juga. Dan itu yang buat bang Aiden akhirnya menungguku di loby, karena dia yang lebih dulu selesai. “Udah selesai?. Kita bisa pulang sekarang?” tanyanya. Aku mengangguk. Lalu dia beranjak mendahuluiku dan aku memilih mengekor dalam diam. Mau tanya juga aku takut. Tapi begitu sampai mobil, akhirnya aku tanya juga. “Abang kenapa jemput aku?” tegurku sampai dia batal menyalakan mesin mobil. “Kok tanya gitu sih Nin?. Emang gak suka abang jemput kamu?. Apa gak boleh abang jemput kamu?” jawabnya dengan nada suara kesal yang kentara. Aku buru buru menggeleng. “Gak kok, aku tanya doang” sanggahku buru buru. “Ya lagi kamu aneh kenapa tanya begitu. Abang bela belain loh untuk jemput kamu. Bukannya kamu bilang makasih malah kaya gak senang abang jemput pulang” ini ngomel apa ngeluh ya?. “Maaf….” jawabku cari aman. Bang Aiden langsung menghela nafas. “Kan abang udah bilang bakalan cari cara supaya kita tetap bisa saling kenal lebih baik, setelah lewat cara komunikasi telpon tidak berjalan baik. Mungkin dengan abang temuin kamu terus kita habiskan waktu bareng, kita bisa lebih terbuka. Kita coba aja dulu” jawabnya. Aku buru buru mengangguk. “Ya udah, abang antar kamu pulang dulu” katanya lagi. “Terus?” tanyaku takut takut. “Ya gak tau, kalo memang di kasih izin ajak kamu keluar rumah, ya kita keluar rumah. Kalo ternyata gak di kasih izin, ya kita ngobrol aja di rumah kamu” jawabnya. Aku buru buru mengangguk. “Okey…” jawabku pasrah. Padahal aku mau banget bilang atau minta supaya bang Aiden senyum kek dikit. Malah semakin pasang wajah kaku yang buat aku males untuk sekedar buka suara. Bukan apa. Takut malah buat bang Aiden semakin kesal. Aku mungkin jago nembak atau taekwondo, tapi bukan berarti aku berani menghadapi orang yang emosinya kentara sekali. Soalnya orang kalo sudah emosi itu bisa hilang akal sampai kalap. Bukan aku takut di apa apain juga. Aku bisa lawan kok kalo aku di apa apain. Hanya aku selalu ingat pesan eyang Edward. “Sebisa mungkin jangan pernah kamu berusaha memancing emosi atau kemarahan siapa pun. Kita gak pernah tau seberapa gentleman orang yang emosinya terpancing karena kamu. Masih mending kalo saat orang itu emosi trus mengajakmu tarung atau menyerangmu secara fisik. Kalo ternyata orang itu tidak gentleman lalu main belakang karena merasa dendam, nanti kamu tidak sempat mempersiapkan diri untuk memberikan perlawanan” kata eyang Edward gitu. Dan bunda cerita, kalo eyang Edward selalu berpesan begitu, karena aku dan bunda sempat hampir celaka saat ada orang yang dendam pada eyang di masa lalu, terus tidak gentleman membalas rasa sakit hatinya pada eyang Edward lalu menyerang bunda dan aku sewaktu aku kecil. Untuk itu aku selalu memilih diam kalo di hadapkan pada siapa pun yang mungkin emosinya terpancing karena sikap atau perkataanku. Sekali lagi, bukan sepenuhnya aku takut hadapi amarah orang itu. Hanya tidak mau menimbulkan dendam di diri seseorang. Kalo mengajakku gelud atau perang secara terbuka, pasti aku jabani mau dengan cara apa pun. Yang bahayakan memang musuh dalam selimutkan?. Tapi anehnya saat berhadapan dengan bundaku di rumah, karena ayah masih di rumah sakit, bang Aiden bisa tersenyum ramah. “Jadi di jemput bujang keceh lagi perawan bunda?” ledek bunda. Bisa loh ketawa. “Sekalian mau izin tante, kalo boleh, aku mau ajak Nina dinner. Apa aku harus telpon om Rey juga untuk minta izin ajak Nina dinner di luar?” jawabnya dengan wajah sumringah dan jauh dari kesan kaku. Mendadak aku kesal sendiri. Kalo sama aku aja, kenapa stel muka macam ngajak perang. Mana diam terus juga, seakan aku gak ada. Kesalkan ya??. Dan aku sesali dengan setuju pergi dinner keluar berdua kalo aku seperti di abaikan dan dia banyak diam. Bagus masih pegang tanganku saat kami harus jalan kalo gak, mungkin aku pikir sedang jalan dengan manusia tidak kasat mata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD