Nina POV.
“Sayang sayang bunda, akhirnya pulang juga” sambut bunda memang selalu seceria ini dan selalu berhasil membuat rasa lelahku dan ayah setelah seharian di rumah sakit lenyap begitu saja.
“Sayang ayah…sibuk apa hari ini?” tanya ayah selalu sehangat itu sebelum akhirnya merangkul bahu bunda masuk ke dalam bagian dalam rumah setelah aku mencium tangan bunda tentunya.
Lalu bunda akan sibuk bercerita dan ayah akan terus mendengarkan lalu sesekali menjeda dengan komentar menanggapi cerita bunda sampai ayah duduk di sofa ruang tengah lalu bunda akan teriak minta di ambilkan minum untuk ayah. Aku pasti memilih pamit masuk kamar dan sedikit pun tidak berniat menjeda bunda dan ayah yang pastinya kangen kangenan. Kasihan bunda soalnya. Setelah anak anaknya tumbuh besar dan sibuk sekolah, bunda setiap hari di rumah. Mau sering telpon ayah, ya tidak bisa, karena ayah selalu sibuk di rumah sakit. Mau susul ayah ke rumah sakit pun, pasti ayah cuekin karena kesibukan tadi. Jadi bunda seringan di rumah. Waktu anak anak ayah dan bunda kecil termasuk aku, mungkin bunda, ibu yang paling sibuk karena harus mengurus empat anak termasuk aku dengan jarak umur kami yang hanya selisih 1 atau dua tahun. Sekarang setelah satu persatu tumbuh dewasa, jadi tinggal bunda sendiri di rumah.
Dari tadi aku sampai lupa mengenalkan diriku. Dan aku janji cerita bukan??. Mulai dari siapa aku kali ya?. Namaku Karenina Dirgantara Wahab. Ya…aku anak adopsi dari kedua sahabat baik ayah bundaku. Papaku dokter specialis syaraf, dokter Nirham Dirgantara Wahab. Dan papaku itu separuh turunan arab, , sama seperti Farah mamaku, yang sahabat waktu kecil dari bundaku. Mamaku dan bunda memang bersahabat karena sama sama putri tentara. Sampai kecelakaan itu terjadi dan membuat kedua orang tuaku meninggal, sementara ayah tetap hidup sehat sampai hari ini. Lalu karena tidak ada yang memungkinkan mengurus aku, juga karena wasiat papa dan mamaku yang maunya aku di urus ayah dan bunda yang jadi sahabat mereka, akhirnya aku di adopsi sebagai putri mereka, setelah ayah dan bunda menikah.
Dari pernikahan bunda dan ayah, mereka akhirnya punya tiga anak lelaki yang aku anggap adikku sampai saat ini. Ada Thor, yang paling besar dan umurnya beda 2 sampai 3 tahun dariku, dan sekarang sedang menjalankan pendidikan jadi tentara, seperti Wolverine atau Rine yang juga mengikuti pendidikan untuk jadi tentera. Kedua adikku tidak sekandung itu memang bercita cita jadi seperti eyang kung yang mantan tentara dengan pangkat terakhir jendral. Lalu adikku yang terakhir Loki namanya. Yang memilih jadi dokter sepertiku dan ayah. Lucu ya nama panggilan ketiga adikku?. Ya memang mirip nama tokoh fiksi the Avengers. Semua gara gara, ayah selalu bilang bunda kami itu Wonder Woman, dan bunda selalu bilang ayah itu Superman. Jadilah keluarga kami seperti kumpulan super hero.
Kalo di tanya apa aku sayang ayah dan bunda berikut tiga putra mereka?. Jelas aku sayang sekali, seperti mereka yang sayang aku juga, dari semenjak kami kecil sampai dewasa sekarang. Padahal dari semenjak ketiga adikku kecil, mereka sudah mengerti kalo aku bukan kakak perempuan kandung mereka. Memang ayah dan bunda sejak awal tidak pernah sembunyikan jati diriku yang sebenarnya dari aku kecil juga. Malah secara rutin ayah dan bunda setiap sebulan sekali selalu mengajakku mendatangi rumah peninggalan kedua orang tuaku sambil bercerita soal siapa mereka dan gimana mereka semasa mereka hidup padaku. Jujur aku sangat recpeck dan menghargai benar keputusan ayah dan bundaku soal ini.
“Ayah kakak dokter hebat yang juga sahabat ayah. Dan mama kakak itu sahabat bunda yang paling bunda sayang. Jadi gak ada alasan bunda dan ayah untuk tidak ceritakan mereka berdua ke kakak. Supaya kakak tau juga, kalo bunda dan ayah sayang dan bangga sekali karena pernah jadi sahabat kedua orang tua kakak” kata bunda selalu tiap kali datang ke rumah peninggalan orang tuaku semasa mereka hidup.
Ayah pasti akan mengangguk membenarkan sebelum akhirnya mereka bergantian bercerita hal baik soal sosok kedua orang tuaku. Tapi ya terkadang, aku tidak bisa menyingkiran kenyataan kalo aku hanya anak adopsi ayah dan bundaku. Apalagi saat aku di larang jadi tentara.
“Pasti karena aku bukan beneran cucu eyang, makanya bunda sama ayah gak izinkan aku jadi tentara” protesku kesal saat di larang jadi tentara.
Malah bunda nangis saat aku berkata begitu.
“Kak…” jeda ayah selalu sesabar itu tiap kali aku protes kalo keinginanku tidak mereka kabulkan.
“Benarkan yah?. Aku bukan anak ayah sama bunda, artinya aku juga bukan cucu eyang kung. Makanya aku gak boleh jadi tentara” protesku.
Dan aku sempat abaikan airmata bunda saat itu.
“Kakak harus tau, kalo kakak sakitin hati bunda dengan bilang kalo kakak bukan anak bunda dan ayah” kata bunda dan buat aku akhirnya diam lalu kabur masuk kamarku.
Ada kali 2 atau 3 hari, aku mengurung diri di kamar sampai eyang kung menyusulku. Eyang kung itu ayah dari bundaku yang aku bilang pensiunan jendral. Waktu itu aku baru selesai ujian SMA, dan mengutarakan niatku ikut pendidikan untuk jadi tentara.
“Eyang kung mau apa?. Aku malas ngomong” tolakku pada eyang kung.
Eyang kung malah tertawa.
“Eyang mau cerita sama kakak. Jadi gak apa kalo kakak gak mau ngomong sama eyang kung” jawab eyang kung waktu itu.
Rasa sayang dan hormat pada eyang kung jugalah yang buat aku duduk juga di tepi ranjangku menghadap eyang kung yang duduk di kursi belajarku. Dan harus aku kasih tau pada kalian. Eyang kung itu jugalah yang mengajarkan aku latihan menembak dan taekwondo. Sampai aku cukup mahir, walaupun tidak sehebat bundaku untuk keahlian menembak, dan tidak sehebat ayahku untuk urusan taekwondo.
“Kakak taukan dari cerita bunda dan ayah, kalo eyang kung kakak dari mama kakak itu juga seorang tentara??” kata eyang kung Edward Tanjung namanya.
Aku mengangguk.
“Jadi orang pun akan yakin kalo kakak pasti bisa jadi tentara sehebat eyang kakak” jawab eyang Edward.
“Tapi kenapa aku gak boleh jadi tentara?” tanyaku akhirnya bersuara.
Eyang Edward lalu tersenyum menatapku.
“Bukan gak boleh. Tapi karena bunda dan ayah takut harus jauh dari kakak dalam waktu yang lama. Soalnya jadi tentara itu sama saja seperti jadi abdi negara yang harus bersedia di tempatkan di mana saja bukan?” jawab eyang kung.
Aku langsung diam.
“Kakak anak perempuan ayah dan bunda satu satunya. Semua adik kakak lelaki. Kalo lalu ketiga adik kakak nanti jadi tentara seperti eyang kung, lalu ayah dan bunda siapa yang temeni?” kata eyang Edward lagi.
Aku bertahan diam.
“Eyang dan bunda setuju kakak belajar menembak dan taekwondo, sebenarnya bukan tanpa alasan. Selain untuk bekal kakak untuk menjaga diri kakak. Juga untuk bekal kakak kalo kalo harus menjaga dan menemani bunda saat ayah tidak ada, dan ketiga adik lelaki kakak tidak ada. Begitu maksudnya. Ayah dan bunda setuju dengan pemikiran eyang yang dulu juga membekali kemampuan menembak dan bela diri pada bunda dan tante Alice supaya baik bunda atau tante Alice bisa menjaga diri sekalipun jauh dari eyang. Kakak ngerti sampai sini?” tanya eyang kung.
Aku lalu mengangguk.
“Kenapa kakak gak coba jadi dokter seperti ayah. Papa kakak juga dokter hebat, jadi kemungkinan kakak bisa jadi dokter hebat” kata eyang Edward lagi.
Tersugestilah aku untuk jadi dokter. Di tambah aku lulus masuk fakultas kedokteran almamater ayah dan papaku dulu juga. Dan mungkin karena aku tipe yang suka tantangan, jadi aku semakin tertarik jadi dokter, di tambah di support penuh oleh ayah. Rasanya semua di permudah untuk jalanku jadi dokter. Namanya punya ayah yang sudah jadi professor dokter, apa yang aku butuhkan untuk menunjangku jadi dokter tentu jadi mudah. Mulai dari buku buku, bahan praktek sampai urusan skripsi pun, cukup ayah yang bantu aku, sampai kadang aku merasa tidak butuh dosen. Ayahku dulu juga dosenkan??. Jadi sudah cukup ya aku cerita soal latar belakang diriku dan keluargaku. Sekarang kita kembali ke masa kini setelah aku bersama ayah bunda selesai makan malam dan ibadah masing masing. Ayah dan bunda itu di bilang religious sekali ya gak, tapi memang selalu mencontohkan ibadah yang baik sebagai seorang muslim. Tapi tidak selalu juga kami mesti ibadah bersama. Ayah dan bunda tetap disiplin sholat di kamar mereka, dan tetap mengingatkan anak anak mereka soal ini.
“Ayah bilang tadi tante Adis bicara sama kakak?” tanya bunda setelah kami bersantai di ruang tengah rumah dan ayah pamit untuk masuk ruang kerjanya.
Ayah memang begitu. Setelah melayani keluhan atau cerita bunda, pasti memberikan kesempatan bunda dan anak anak, sampai anak anak tidur dan bunda mencari ayah untuk mengajak tidur juga.
“Iya bun” jawabku.
“Terus kakak maukan kalo ketemu Aiden dulu?” tanya bunda.
Aku mengangguk dan bersoraklah bunda.
“Tapi aku tetap tunggu tante Adis kirim nomor bang Aiden, dan jangan suruh aku tanya itu ke tante Adis sebelum tante Adis kabarin aku” jedaku pada sorak bunda.
“Harus gitu dong, kan kamu ciwi ciwi” jawab bunda.
“Ya iyalah, masa aku yang maju duluan. Kok ya jadi laki ogah amat berjuang” komenku.
Tertawalah bunda.
“Memang anak perawan bunda pinter banget. Sayang banget bunda sama kakak” komennya lalu memelukku dan menciumi pipiku sampai aku tertawa.
Jadi tidak perlu meragukan kasih sayang bunda dan ayah padaku ya.
Dan karena tidak ada pembicaraan apa pun lagi soal Aiden juga karena tidak ada kabar dari tante Adis soal kelanjutan dari permintaannya padaku, jadi aku tidak memikirkan soal itu lagi. Sampai Aiden yang telpon aku.
“Ini Nina bukan?. Karenina putri dokter Rey?” tanyanya saat aku selesai menjawab salamnya.
“Iya…ada apa ya?” karena aku belum tau siapa yang menelponku.
“Aku Aiden, kamu taukan?” jawabnya.
Mendadak aku jadi deg degan.
“Iya…terus…” kataku semakin deg degan gak jelas.
Suaranya itu loh. Kok ya…gimana gitu.
“Keberatan gak kalo aku ajak ketemu kamu?” tanyanya menjawab.
“Kapan?” tanyaku spontan dan aku sesali.
Kok ya jadi terdengar antusias.
“Kamu bisanya kapan?. Nanti aku jemput kamu” jawabnya.
Aku diam dulu kali ini. Harus aku pikirkan dong, jawaban yang memungkinkan terdengar tidak antusias sekali, tapi tidak juga terdengar enggan.
“Aku lagi di jadwal praktek siang di UGD. Jadi sekitar jam 5 sore, aku sudah selesai kerja. Kalo harinya bebas sih selama seminggu ini, soalnya minggu depan aku ada jadwal praktek malam” jawabku lalu menggigit bibirku karena semakin deg degan.
Belum ketemu aja rasanya sudah buat aku susah.
“Weekend kamu libur praktek gak?” tanyanya menjawab.
“Libur sih….” jawabku menggantung.
Kalo kami ketemu di hari weekend, kok macam mau kencan aja. Iya gak sih??. Aku belum pernah pacaran sebelumnya, terus aku mesti gimana kalo di ajak kencan cowok??. Ampun…
“Kalo gitu jumat sore aku jemput kamu ya di rumah sakit. Jadi kalo pun kita ngobrol sampai waktu makan malam, jadi besoknya kamu tetap bisa istirahat. Gimana?” jawabnya.
Menghela nafaslah aku.
“Okey” jawabku.
“Okey, makasih ya Nina. Asalamaualaikum” pamitnya.
“Walaikumsalam” jawabku.
Selesai sudah pembicaraan kami di telpon dan buru buru aku save nomornya. Supaya kalo dia telpon lagi, aku bisa mengusai diriku dulu sebelum menjawab telponnya. Bahaya soalnya kalo belum ketemu aja, udah buat aku deg degan gak jelas. Dan bersyukurnya aku, karena kesibukan kerja, jadi buat aku lupa juga soal acara janjian temu kami. Aku juga bukan tipe yang suka main handphone lama lama. Buang waktu menurutku. Lebih baik tidur kalo memang aku punya waktu luang, atau ngobrol dengan ayah atau bunda di rumah. Fungsi handphone toh untuk alat komunikasi dan bukan untuk bersosialisasi. Buat apa bersosialisasi dengan orang lain di dunia maya, lebih baik berinteraksi dengan orang langsung di dunia nyatakan??. Menurutku begitu. Jadi jangan tanya aku apa yang sedang viral di media sosial mana pun, aku tidak tau soal itu, dan tidak penting juga.
Waktu dan kemampuan yang aku punya lebih baik aku gunakan untuk mengurus orang orang sakit yang butuh bantuanku supaya mereka sembuh. Atau aku gunakan untuk berdiskusi dengan ayah tentang kasus penyakit pasien yang semakin beragam saat ini. Lebih berguna menurutku. Tapi ya terserah kalo kalian suka dan penggiat media sosial. Itu soal pilihan dan prinsip masing masing orang. Dan beneran hampir aku lupa soal janji temu dengan bang Aiden andai tidak di tegur suster yang mengatakan ada orang yang mencariku saat aku bertugas di UGD rumah sakit.
Masya Allah….dalam hati ya, saat aku mendekat pada sosok lelaki yang berjanji menemuiku. Astaga…kok ya ada lelaki sekeren Aiden. Eh bang Aiden, lebih tua dari aku. Padahal penampilannya biasa aja, gak rapi banget juga, kalo hanya pakai kemeja biru tua tanpa dasi dengan celana pantolan hitam dan sepatu hitam mengkilat lalu kelihatan celingukan mengawasi kesibukan ruang UGD. Beneran tuan muda Sumarin Tedja ini mah. Auranya bangsawan banget. Persis om Nino, abang tante Adis yang suka aku temui di rumah sakit saat bersama ayah. Mau om Nino pakai kaos dan jeans doang aja, tetap aja kelihatan mahal.
“Hai!!!” sapaku menjeda tatapan bang Aiden lalu dia menatapku.
Sontak aku menggigit bibirku.
“Hai, Nin. Sudah selesai jam kerja kamu?” tanyanya setenang yang aku tau sejak kami kecil.
Hanya bedanya wajahnya sekarang sudah kelihatan seperti pria dewasa yang rambutnya rapi mendekati klimis. Lalu pakaiannya tentu bukan macam dia kecil yang pakai kaos dan celana pendek atau saat dia ABG yang pakai hoodie dan celana jeans sobek.
“Hmm…belum sih, masih harus tangani beberapa pasien. Jadi aku belum tau kapan selesainya sebenarnya” jawabku takut takut karena memang sedang banyak pasien di ruang UGD saat ini.
“Gitu ya….” jawabnya lalu menyapu tatapannya ke keliling ruang UGD.
“Trus abang mau gimana?. Gak apa kok kalo abang gak bisa nunggu aku selesai. Bisa lain waktu” jawabku karena merasa tidak enak.
Dia lalu menatap jam tangannya.
“Tanggung lagi, aku udah ke sini. Jadi aku tunggu aja sampai kamu selesai dengan pekerjaanmu. Aku bisa sholat magrib dulu sampai tunggu kamu selesai. Gimana?” jawabnya lalu menatapku lagi.
Aku langsung mengangguk.
“Abang mau tunggu aku di mana?. Mau di ruangan ayah?. Maksud aku dokter Rey?” ralatku.
“Gampanglah. Takut ganggu ayah kamu juga kalo tunggu di ruangannya” jawabnya.
“Terus tunggu di mana?” tanyaku lagi.
“Aku tunggu kamu di loby aja. Jadi gampang untuk kamu cari aku” jawabnya.
Aku mengangguk lalu dia pamit keluar ruang UGD. Dan aku tidak sepenuhnya berniat membiarkan bang Aiden menungguku sampai jam 9 malam, kalo kemudian ada pasien kecelakaan yang masuk ruang UGD dan buat semua dokter sibuk melakukan usaha menyelamatan ke empat korban kecelakaan. Sampai aku kasihan melihatnya beneran menungguku dengan sabar.