Aiden POV.
Seperti aku bilang sebelumnya, kalo aku akhirnya menemui Nina dan ternyata dia masih harus bertahan dengan urusan pekerjaannya. Jadi buat aku terpaksa menunggunya selesai.
“Aiden!!” tegur om Rey ayah Nina menjeda langkahku menuju masjid rumah sakit setelah keluar dari ruang UGD.
“Om Rey” jawabku lalu mencium tangannya.
“Kamu….”
“Aku mau ketemu Nina” potongku.
Tersenyumlah om Rey mendengar jawabanku.
“Lalu dimana putri om?” tanyanya.
“Masih di UGD om, kayanya masih mesti bertahan di situ. Jadi ya aku tunggu sampai Nina selesai” jawabku.
Om Rey manggut manggut menanggapi.
“Om mau kemana?” tanyaku.
“Mau ke masjid, sudah mau magrib. Takut malah terpaksa magrib di jalan. Om baru selesai kerja juga” jawabnya.
“Ayo sama sama kalo gitu” ajakku.
Dia mengangguk lalu berjalanlah kami beriringan menuju masjid dengan om Rey yang sesekali menjawab sapaan suster atau pekerja rumah sakit. Namanya direktur rumah sakit ini, pasti semua kenal sosok om Rey. Jadi tidak ada pembicaraan apa pun antara aku dan om Rey sampai kami selesai sholat magrib lalu bergerakk masuk gedung utama rumah sakit lagi.
“Kamu mau tunggu putri om dimana?. Mau di ruangan om da nom temani?” tanyanya setelah kami sampai loby lagi.
Aku langsung menggeleng.
“Aku tunggu di loby aja kalo om Rey ada pekerjaan lain” jawabku.
“No, om malah berniat pulang” jawabnya.
Aku mengangguk.
“Kalo gitu silahkan kalo om memang mau pulang duluan. Biar nanti Nina, aku yang antar. Sekalian aku izin sama om sekarang” kataku.
Om Rey lalu tertawa menanggapi.
“Om izinkan kalo memang kamu ingin bertemu putri om lalu kalian bicara. Tapi om harus bilang satu hal padamu” jawab om Rey.
“Soal?” tanyaku tidak mengerti maksud om Rey.
Om Rey malah menghela nafas.
“Putri om sejak dulu tidak pernah dekat dengan lelaki mana pun, sekalipun sekedar berteman. Jadi harap kamu maklum kalo putri om bersikap kaku atau malah jutek. Dia lemah bagian ini. Soalnya dia mungkin sulit bersikap manis layaknya gadis seusianya, apalagi menye menye. Kamu ngertikan maksud om?” jawab om Rey.
Gantian aku tertawa.
“Rasanya tidak akan jadi masalah untukku om, karena sejak dulu, seingatku putri om memang tomboy” jawabku.
Om Rey tersenyum menanggapi.
“Ok, om percaya padamu nak” jawab om Rey lalu menepuk bahuku dan buat aku tertawa pelan menanggapi.
“Kalo om sudah percaya kalo aku bisa menangani putri om, silahkan kalo memang om Rey berencana pulang ke rumah. Aku akan lanjut menunggu Nina sampai Nina selesai dengan urusannya di ruang UGD” jawabku.
“Okey. Om pamit dulu ya” pamit om Rey lalu sempatkan menepuk bahuku sebelum dia beranjak kea rah lift yang aku rasa kembali ke ruangan kerjanya dulu.
Ternyata om Rey memerintahkan OB rumah sakit untuk membawakan aku kopi.
“Untuk saya?” tanyaku pada OB yang menegurku di loby.
“Iya pak. Dokter Rey yang suruh. Silahkan” jawab OB perempuan itu dengan sopan.
“Terima kasih” jawabku sambil mencari keberadaan om Rey di area loby rumah sakit.
Tapi tidak aku temukan. Bisa jadi sudah pulang, jadi aku lanjut menunggu Nina. Dan masih aku sabar menunggu Nina selesai sambil main game online, dan mengabaikan keadaan sekelilingiku sampai terdengar azan Isya. Baru aku beranjak untuk sholat Isya dulu di masjid rumah sakit. Setelahnya sempat aku cari tau keberadaan Nina dengan mendatangi lagi ruang UGD, lalu bertanya pada suster di meja suster di tengah ruang UGD.
“Dokter Nina sedang ikut mengawal operasi korban kecelakaan pak. Ada pesan?” tanya suster itu padaku.
Aku buru buru menggeleng. Masih sibuk ternyata dan itu sudah hampir jam 8 malam. Lagi lagi aku keluar ruang UGD lalu duduk lagi di loby. Baru deh aku mengamati area loby rumah sakit yang malah ramai dengan lalu lalang orang. Pak satpam bilang karena waktu jam besuk pasien sudah berakhir jadi banyak orang yang bersiap pulang, karena itu suasana loby jadi ramai.
Di jam hampir jam 9 malam, baru aku mulai merasa bosan menunggu. Tapi lalu dilemma antara aku pulang atau bertahan menunggu Nina. Satu sisi aku cape karena terlalu lama menunggu, di sisi lain aku merasa tanggung juga, kalo akhirnya aku malah pulang setelah aku menunggu Nina selama berjam jam. Belum lagi aku sudah janji mengantar Nina pulang pada ayahnya. Terpaksalah aku menunggu lagi dengan main game online. Thanks to game online yang membantu sekali menemaniku sepanjang waktu sampai Nina selesai dengan urusannya di ruang UGD.
“Abang….” suara Nina jugalah yang menjeda fokusku pada handphoneku.
“Udah selesai?” jawabku lalu mengantongi handphoneku.
Dia mengangguk tepat aku bangkit berdiri.
“Kenapa?” tanyaku karena dia meringis menatapku.
“Hmm…abang tinggi banget….” jawabnya lalu meringis lagi.
Ada banyak hal yang bisa dia komentari kenapa malah komen soal tinggi badanku?. Jadi aku abaikan.
“Ayo pulang!!. Kamu kelihatan cape” ajakku.
Soalnya kelihatan sekali wajah lelahnya dari rambut ikalnya yang dia ikat asal, dan kemeja kerjanya yang juga terlihat kusut karena jas dokternya dia pegang dan tidak dia pakai lagi.
“Pulang?” tanyanya dengan nafas terangah sampai aku memperlambat langkahku menuju pintu keluar loby.
“Waktunya gak tepat untuk kita ngobrol. Kamu cape banget, kelihatan kok. Bisa lain waktu” jawabku.
“Tapi abang udah tunggu aku lama banget, aku jadi gak enak kalo malah gak jadi ngobrol sama abang” jawabnya sampai buat aku menghentikan langkahku lalu dia juga berhenti melangkah.
“Aku kasihan lo sama kamu, masa kamu gak kasihan sama diri kamu sendiri?. Kamu mau sakit kali?. Masa dokter kaya kamu gak ngerti caranya jaga kesehatan dengan istirahat atau tidur yang cukup?” jadi ngomel akunya.
Dia meringis lagi.
“Jadi ayo aku antar pulang” kataku lalu melanjutkan langkahku dan dia mengekor di belakangku sampai kami tiba di parkiran mobilku.
Tapi jadi tidak enak juga kalo akhirnya kami diam saja di dalam mobil, apalagi sempat terjebak kemacetan jalan. Malam weekend tentu jalan raya ramai dengan orang orang yang berniat menghabiskan waktu di luar rumah
“Jas doktermu kena darah?. Memang parah pasien kecelakaannya?” tanyaku memecah sunyi.
Nina lalu menghela nafas.
“Makasih Tuhan, akhirnya abang ngomong juga” jawabnya malah tidak sesuai pertanyaanku
Sontak aku tertawa pelan menanggapi.
“Ada 4 korban kecelakaan dalam mobil yang di antar ke UGD. Dua orang yang sepertinya duduk di bangku depan mobil mengalami pendarahan otak parah jadi harus di operasi untuk menghentikan pendarahan di kepalanya, dan sampai aku tinggal tadi masih belum sadarkan diri” jelasnya.
“Lalu dua korban lain?” tanyaku.
“Better sih dalam artian tetap mengalami patah tulang dan benturan di kepala, hanya tidak sampai mengalami geger otak” jawabnya.
Aku mengangguk mengerti lalu kami diam lagi. Bingung juga mau bicara apa lagi. Sampai suara perut Nina berbunyi karena dia kelaperan kali ya??.
“Kita makan dulu ya!!” kataku saat menoleh ke arahnya yang meringis menatapku.
“Aduh…kenapa jadi malu maluin gini sih?” keluhnya kemudian
Sontak aku tertawa saat menoleh lagi ke arahnya dan dia semakin meringis.
“Maaf ya bang…” desisnya
“Kenapa mesti minta maaf. Kamu pasti belum makan malam, jadi wajar begitu. Dan aku juga belum makan malam karena tunggu kamu tadi. Jadi gak perlu kamu minta maaf. Cukup beri kabar papa mamamu kalo kamu sama aku, dan kita mau makan malam dulu, setelah itu baru aku antar kamu pulang” jawabku.
“Okey…” jawabnya lalu mencari handphonenya di tas yang dia bawa.
Aku lanjut focus pada jalanan sambil mencari tempat makan yang nyaman untuk kami makan malam. Ujungnya masuk kafe yang aku temui di sepanjang jalan pulang. Pasti ada makanan berat, walaupun mungkin tidak banyak pilihan seperti kalo makan malam di sebuah restoran. Duduklah kami berhadapan di kafe itu, lalu diam setelah memesan makanan sampai makanan pesanan kami datang.
“Makan!!” perintahku karena aku menyadari kalo diam diam Nina terus mengawasiku saat aku harus membalas chat mamaku yang menanyakan keberadaanku dan Nina saat ini.
Memang kepo mama tuh. Harusnya aku tidak bilang kalo menemui Nina hari ini.
“Abang juga, taro dulu handphonenya” jawabnya.
Okey aku setuju. Jadi aku lepas handphoneku dan mulai makan.
“Memangnya begini cara makanmu?” tegurku karena lagi lagi Nina seperti mengawasiku terus dan buat dia makan dengan mode lambat.
“Kenapa memangnya?” malah tanya.
Jadi aku hentikan makanku lalu menatapnya sampai dia menunduk menghindari tatapanku. Beneran kaku seperti yang om Rey bilang soal putrinya. Kalo gadis lain mungkin malah akan terus bicara atau malah berusaha menarik perhatianku. Nina tidak seperti itu. Yakan aku pernah beberapa kali pergi makan dengan gadis yang aku kenal secara tidak sengaja. Tapi lalu aku tidak tertarik lagi karena terlalu bawel menurutku, atau malah terlalu agresif.
“Eyang kung aku bilang, cara kerja seseorang terlihat dari cara seseorang makan. Kalo cepat menghabiskan makannya, artinya cepat juga cara kerjanya atau gesit. Tapi kalo cara makannya lambat macam kamu gini, artinya cara kerjanya lambat atau lelet” jawabku.
Baru deh dia mengangkat wajahnya menatapku lalu berubah cemberut.
“Aku gak lelet. Gimana pasienku kalo aku tidak cepat menolong mereka” protesnya.
Aku tertawa pelan menanggapi.
“Terus kenapa kamu makan pelan pelan sekali?” tanyaku.
“Ya lagian abang…” jawabnya lalu diam dengan wajah yang bertahan cemberut.
Mendadak kenapa mirip mamaku atau Puput adikku yang kesel karena sesuatu. Pasti wajahnya manyun.
“Aku kenapa?” tanyaku tidak mengerti.
“Muka abang kaku banget kaya kanebo kering!!. Buat aku kehilangan selera makan” jawabnya.
“HAH!!!” cetusku spontan.
“Emang iya. Jidat abang berkerut, terus gak ada senyumnya sama sekali. Masa iya mesti aku kasih softener muka abang biar lembutan dikit” jawabnya.
“Astaga….” desisku tapi malah aku mau tertawa.
“Nah gitu, ketawa bang. Abang ganteng kalo ketawa” jedanya lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Sontak aku terbahak.
“Keceplosan lagi….” desisnya lalu ganti menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya.
Jelas aku terbahak lagi. Lucu banget ya??.
“Udah makan yang benar. Aku udah ketawa dan gak kelihatan kaku lagikan?” jedaku lalu buat dia menatapku lagi.
Tak lama dia mengangguk lalu mulai bisa menguasai dirinya dengan mulai melanjutkan makan dan lebih semangat dari sebelumnya. Ya walaupun tetap terlihat menghindari tatapanku dengan menatap makanannya. Tapi lalu buat aku punya kesempatan gantian mengawasinya diam diam.
Di luar dugaan sih, aslinya Nina itu cantik sih. Bukan berarti dulu tidak cantik. Cuma mungkin dulu tertutup dengan penampilannya yang tomboy karena suka sekali memakai celana jeans dan kaos oversize. Beda dengan teman cewek Puput yang lain, yang kelihatan ceweknya dengan memakai rok aau dress selutut dan aksesoris cewek macam kalung atau bando. Nina dulu tidak seperti itu. Malah suka sekali pakai topi dan hand band khas cowok ABG. Tapi sekarang dia bisa tuh pakai rok dan sepatu heels berhak pendek dan rambutnya yang panjang di ikat asal. Pakai make up juga walaupun standart macam lipstiks.
Sepasang matanya yang tidak berubah. Masih sebesar dulu, dengan iris mata besar. Jadi mirip Tata, putri bungsu papa Eno karena rambut Nina juga tidak lurus tapi ikal macam Tata.
“Bang…” tegurnya membuyarkan pikiranku yang berkelana ke masa lalu untuk mengingat gimana penampakan Nina dulu.
“Ya…” jawabku.
“Masa gantian abang yang makannya lelet banget” jawabnya.
Tertawalah aku, karena memang makananku belum habis sementara Nina sudah sudah menghabiskan makanannya.
“Kamu sih” jawabku lalu mulai makan lagi.
“Aku?” tanyanya.
Aku mengangguk karena mulutku penuh makanan.
“Aku kenapa?” tanyanya.
Aku diam dulu untuk menelan makanan di mulutku.
“Ternyata cantik, aku jadi gagal focus” jawabku.
Lalu terbahaklah aku saat melihat sepasang mata Nina yang terbelalak sampai seperti mau melocat keluar dengan wajahnya yang perlahan memerah.
“Abang modusin aku ya….” keluhnya malahan lalu wajahnya cemberut menatapku.
Lagi lagi aku terbahak lalu melanjutkan makanku. Masa modus, memang cantik kok. Jadi tidak perlu aku jawab keluhannya. Bagusnya Nina diam lalu membiarkan aku menghabiskan makananku. Ada live music juga di kafe yang kami datangi jadi Nina sesekali focus di situ.
“Yuks pulang!!. Udah malam, nanti aku gak enak antar kamu pulang” ajakku setelah membayar makan dan minum kami.
Dia mengangguk setuju lalu ikutan bangkit berdiri setelah menenteng lagi jas dokter miliknya juga tas yang dia bawa.
“Sini jas dokter kamu?” pintaku.
“Biar aku aja bang” tolaknya.
Aku langsung berdecak lalu buat Nina meringis menatapku.
“Terus gimana caranya pegang tangan kamu, kalo kamu pegang jas dokter kamu?” jawabku.
“HAH!!” cetusnya dengan wajah memerah lagi.
Beneran kaku banget jadi anak perawan.
“Aku gak niat modus. Biar aku tau kamu gak ketinggalan ikutin langkah aku. Kamu kan bilang sendiri kalo aku tinggi, jadi langkahku bisa jadi dua kali langkahmu. Jadi kalo aku pegang tangan kamu, aku yakin kalo kamu gak mungkin ketinggalan langkahku” jawabku lalu mengulurkan tanganku ke arahnya.
Dia tatap dulu uluran tanganku lalu menghela nafas.
“Come dokter” jedaku pada diamnya.
“Okey…” jawabnya menyerah dengan menyerahkan jas dokter yang dia sebelumnya dekap dalam dadanya, lalu dia berikan padaku juga.
Baru deh dia menyambut uluran tanganku untuk menggenggam jemari tangannya.
“Abang…kok aku deg degan…” keluhnya saat aku mulai beranjak membawanya keluar kafe.
Aku abaikan keluhannya dengan terus melangkah menuju pintu keluar kafe menuju parkiran mobilku. Aku harus memaklumi kekakuan sikapnya seperti yang aku janjikan pada ayahnya. Apalagi aku belum pernah pengalaman kencan atau punya pacar. Bisa jadi aku sama kakunya seperti Nina. Kalo pun aku pernah menghabiskan waktu beberapa kali dengan gadis yang aku temui sebelumnya, hanya sebatas makan bareng lalu setelah itu aku antar pulang. Tapi setelah itu tidak ada yang berkelanjutan. Bisa jadi karena aku membosankan untuk mereka, tidak seperti Keanu yang ngerti banget gimana memperlakukan teman perempuan, sampai akhirnya salah satunya bersedia jadi pacarnya. Kalo aku mana ada yang mau jadi pacarku.
Mungkin ada baiknya juga perjodohan aku dengan Nina. Kalo nantinya aku suka Nina, siapa taukan?. Soalnya… kok ya aku merasa waktu cepat sekali berlalu dan merasa tidak rela saat aku harus pamit pulang pada kedua orang tua Nina begitu kami sampai rumahnya. Kalo sampai semua terjadi lalu aku beneran jatuh cinta pada Nina, aku mungkin bisa minta tolong mama untuk buat Nina bersedia jadi istriku. Iya gak sih??.
Hadeh…kok ya pikiranku sudah jauh banget ya??. Kalo ternyata Nina tidak suka aku, kasihan juga kalo maksa Nina bersedia jadi pacarku dulu deh, jangan jadi istriku. Kok ya jadi mumet gini akunya??. Gara gara mama juga nih. Kenapa malah suruh aku PDKT sama dokter secantik Nina??.