Nessa kini pergi ke pasar meninggalkan Revan sendiri di rumahnya. Setelah enam puluh menit kepergian Nessa, kini Revan mulai tersadar. Revan mulai membuka matanya perlahan, rasa sakit yang ada di kepalanya kini masih terasa nyeri saat ia menoleh ke samping.
Kepala belakang Revan sakit akibat pukulan kayu yang diberikan oleh preman itu, begitupun dengan keningnya yang kini sudah diberi perban oleh Nessa. Tangan Revan mulai memegang kepalanya perlahan dan ia menyadari kalau di kening- nya sudah ada yang mengobati karena ada perban yang sudah menempel di keningnya.
Revan juga mulai tersadar saat ia melihat baju yang kini dipakai olehnya, bersih dan entah siapa orang yang telah menolong dirinya.
Perlahan Revan mulai bangun dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumah itu. Mata Revan kini menyusuri setiap sudut ruangan yang tidak ia kenal. "Aku dimana? Ini rumah siapa?" Revan nampak bingung dengan semua ini, laki-laki itu bahkan tidak ingat lagi dimana dirinya kini berada.
"Sepi?" ucap Revan. Ia bicara sendiri karena tidak ada orang lain yang ada di rumah itu.
Perlahan kini Revan mulai menurunkan kedua kakinya, Revan ingin berjalan mencari pemilik rumah ini. Namun saat laki-laki itu menurunkan kakinya ternyata kedua kaki laki-laki itu masih terasa sakit saat ia mencoba untuk berjalan. Alhasil Revan harus kembali berbaring di sofa itu lagi untuk istirahat karena seluruh badan laki-laki itu sakit dan nyeri.
Setelah beberapa saat kemudian kini Revan mulai mendengar suara seseorang membuka kunci pintu depan, karena Revan kini sedang tiduran di sofa ruang tamu milik Nessa jadi laki-laki itu tahu kalau ada seseorang yang kini sedang membuka kunci. Jadi Revan mulai memejamkan matanya kembali dan berpura-pura tidur.
Ceklek!
Suara pintu terbuka. Setelah membuka pintu kini Nessa mulai masuk kedalam rumah miliknya, gadis itu melihat orang yang ia tolong masih terbaring lemah di sofa ruang tamu miliknya.
Nessa mulai menatap laki-laki itu dengan tatapan iba. "Kasihan dia masih belum sadar juga." ucap Nessa lirih. Setelah itu ia kembali menutup pintu rumahnya dan mulai memasak di dapur.
Hari ini rencananya Nessa tidak mencari kerja dulu karena Nessa mau membantu orang yang telah ditolongnya itu.
Gadis itu mulai menyusun barang belanjaan miliknya ke dalam kulkas yang ada di rumah kontrakan itu, Nessa mulai memasak capcay untuk menu sarapan pagi ini. Setelah selesai masak sesekali Nessa melihat laki-laki yang masih terbaring lemah di ruang tamu miliknya.
"Semoga kamu segera sadar, aku sudah siapkan makanan untuk sarapan pagi ini," setelah mengucapkan itu Nessa kembali ke dapur dan mulai membersihkan peralatan yang tadi ia gunakan untuk memasak.
Sedangkan Revan yang pura-pura tidur di ruang tamu mulai mencium aroma masakan yang menggoda indra penciumannya. Revan mulai membuka matanya dan perut laki-laki itu mulai berbunyi meminta di isi.
Revan mulai memegangi perutnya dan berusaha untuk menahan rasa lapar itu.
Setelah selesai membersihkan dapur dan peralatan masak, kini Nessa mulai membawa masakan itu ke meja ruang tamu. Karena memang rumah kontrakan itu kecil dan tidak ada ruang makan jadi Nessa makan di ruang tamu miliknya.
Nessa mulai duduk di kursi yang ada di samping Revan. Gadis itu mulai mengambil satu centong nasi dan menaruh dipiringnya tak lupa ia juga mengambil capcay untuk lauk makan.
Perlahan Nessa mulai menyantap makanan itu dengan bahagia tak lupa ia berdoa dulu sebelum makan, baru hari ini ia bisa makan enak setelah beberapa hari lalu hanya mie instan yang selalu mengisi perutnya.
'Kruk, kruk,' Perut Revan semakin berdemo minta di isi makanan, apalagi aroma makanan yang sedap itu kini berada tepat di sampingnya.
Jangan tanya seberapa kuat Revan menahan rasa lapar yang kini melanda perutnya. 'Ya Tuhan aku lapar sekali,' batin Revan dalam hati saat mendengar dentingan sendok dan piring Nessa yang sedang beradu di sampingnya membuat Revan semakin tidak kuat lagi.
'Kruk, kruk,' suara perut Revan kembali berbunyi. Dan akhirnya laki-laki itu bangun perlahan sambil memegangi perutnya yang lapar.
Revan menelan salivanya dengan susah payah saat melihat Nessa memasukkan makanan ke mulutnya.
Nessa belum menyadari kalau saat ini ada seorang laki-laki yang sedang melihatnya makan, karena memang Nessa makan sambil menunduk dan tak melihat selain makanan yang ada di depannya.
Hingga saat makanan yang ada di piring Nessa sudah habis barulah gadis itu menyadari kalau dirinya diperhatikan oleh seseorang.
Saat gadis itu menoleh ke samping ia terkejut ternyata orang yang ia tolong sudah bangun. "Aaa...!" Nessa terkejut saat melihat Revan bangun.
Revan hanya diam saja menatap Nessa yang terkejut. "Kamu sudah sadar? Alhamdulillah." ucap Nessa setelah ia ingat kalau tadi pagi menolong orang pingsan di jalan.
Gadis itu kini melihat Revan yang sedari tadi melihatnya dengan diam sambil memegang perutnya, apa mungkin dia lapar? Atau perutnya sakit? itulah yang ada di pikiran Nessa saat ini.
"Apa kamu lapar? Atau perutmu sakit?" Revan tak menjawab pertanyaan Nessa, laki-laki itu hanya mengangguk pelan kemudian menggeleng.
"Oh, kamu lapar? Sebentar aku ambilkan piring ke dalam dulu ya?" Nessa beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke dapur mengambilkan piring untuk Revan.
Tak lama kemudian Nessa sudah datang membawa satu piring dan sendok untuk Revan makan dan tak lupa ia membawa satu gelas untuk Revan minum.
"Ini piringnya, aku ambilkan nasi dulu ya," ucap Nessa sambil mengambilkan nasi ke piring Revan.
"Ini nasinya dan tempat ini lauknya, silahkan sarapan ya, kamu pasti lapar." Nessa memberikan piring yang berisi makanan itu untuk Revan.
Tak menunggu lama Revan langsung saja makan makanan itu dan berhenti sejenak. 'Enak,' batin Revan dalam hati, lalu ia melanjutkan makannya dengan sangat lahap seperti kucing yang kelaparan karena beberapa hari tidak dapat makanan.
Nessa melihat Revan dengan sangat heran, kenapa laki-laki itu makan dengan sangat rakus? Nessa tak mau bertanya karena mungkin laki-laki itu baru sadar dan mungkin sangat lapar.
"Uhuk- uhuk!" Revan tersedak makanan karena makan dengan sangat terburu- buru.
Saat melihat Revan tersedak dengan cepat Nessa mengambilkan minum untuk Revan. "Ini minumnya."
Tanpa banyak bicara Revan mengambil minuman itu dengan cepat lagi itu menghabiskan air putih yang ada di dalam gelas.
Revan kembali melanjutkan makannya, tak terasa kini nasi yang ada di piringnya sudah habis. 'Kruk kruk,' suara perut Revan masih berdemo untuk meminta isi lagi.
Nessa yang mendengar itu langsung saja mengambilkan nasi lagi ke dalam piring Revan. Tanpa berucap Revan kembali menyantap makanan itu dengan lahap. Ya sejak pulang dari Luar Negeri laki-laki itu tidak makan sama sekali karena yang ada di pikirannya hanya Adellia kekasihnya.
Setelah beberapa saat kini Revan selesai makan, ia bersendawa dengan begitu kerasnya tanda kalau ia sudah kenyang. Nessa membereskan piring kotor dan makanan yang ada di meja itu lalu pergi ke dapur meninggalkan Revan sendiri di ruang tamu.
Revan menatap punggung Nessa saat gadis itu berjalan meninggalkan dirinya. 'Siapa dia? Seperti mirip seseorang yang aku kenal?' batin Revan.
Tak lama kemudian Nessa kembali ke ruang tamu dan duduk di samping Revan, sedangkan Revan kini sedikit risih saat gadis itu menatap dirinya sambil tersenyum.
"Kamu sudah sadar?" tanya Nessa setelah gadis cantik itu duduk.
"I-iya, terima kasih," jawab Revan dengan sedikit gugup.
"Bagaimana keadaanmu apa kamu sudah sembuh?" tanya Nessa sambil menyentuh kening Revan.
Revan hanya diam menatap Nessa dengan heran, untuk sejenak pandangan mata mereka bertemu, dan laki-laki itu mulai mengingat sesuatu namun tidak bisa.
"Siapa namamu?" lanjut Nessa.
"Nama?"
"Iya nama kamu siapa?"
"A-aku ... Namaku ... Rev..." laki-laki itu tiba-tiba saja diam.
"Apa kamu ingat namamu?" tanya Nessa lagi.
"Namaku ... Rev ... Revky. Iya namaku Revky," jawab Revan dengan sedikit tersenyum.
"Oh ... Nama kamu Revky?"
"I-iya Revky, itu namaku he..." Jawab Revan sambil nyengir dan menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Kenalkan namaku Vanessa, panggil saja Nessa ya," ucap Nessa dengan ramah. Lalu mereka berdua kini berjabat tangan.
______________________________________
Hai kak say.. Karena banyak yang minta up cerita 90 Days Married To Mr.CEO ini akhirnya aku update juga ya..
Bagaimana nih apakah Revan hilang ingatan?...
Tambahin lovenya dong biar aku semangat menulis. Untuk kalian yang baca cerita ini jangan lupa tinggalkan jejak komentar disini ya.. Kalau komentarnya banyak besok aku update lagi deh...
Salam dari saya : Isna Auliya Riyadi.