Part 06. Pertolongan dari Nessa

1037 Words
Suara ayam berkokok menandakan hari sudah pagi. Nessa yang masih berbaring di atas tempat tidurnya kini mulai membuka matanya secara perlahan. Gadis cantik berambut panjang itu kini bangun dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi yang ada di dalam rumah kontrakan yang ia tinggali. Setelah selesai mandi dan melaksanakan solat. Rencananya pagi ini Nessa ingin membeli bahan makanan di pasar, karena memang sudah beberapa hari ini Nessa sibuk mencari pekerjaan jadi ia tidak sempat berbelanja ke pasar. Matahari masih belum menampakkan sinarnya namun entah mengapa gadis itu ingin segera berangkat ke pasar untuk berbelanja. Nessa kini keluar dari rumahnya tak lupa ia mengunci rumah itu dari luar. Gadis cantik berambut panjang itu melangkahkan kakinya menuju halaman, rencananya Nessa ke pasar dengan berjalan kaki karena uang yang ia miliki semakin menipis, gadis itu terus berusaha mencari pekerjaan namun masih belum juga dapat pekerjaan saat ini. Tak terasa sudah tiga minggu Nessa berada di kota Jakarta mencari kakaknya, tapi ia belum juga bertemu dengan kakak laki-lakinya, Nessa mencari dan terus mencari kakaknya setiap hari sekalian ia juga mencari pekerjaan namun hidup di ibu kota ini sangatlah sulit dan tak semudah yang Nessa bayangkan. Nessa terus melangkahkan kakinya di pinggiran jalan raya lalu lalang kendaraan yang lewat di depannya membuat gadis itu takut dan akhirnya Nessa memilih jalan lain. Tak jauh dari jalan yang Nessa lewati ada sebuah gang, gadis itu segera masuk ke jalan itu untuk menuju ke pasar, dari pada harus lewat pinggiran jalan raya yang banyak sekali kendaraan ia lebih memilih lewat di jalan perumahan. Karena sudah tiga minggu Nessa berada di kota ini dan setiap hari ia mencari pekerjaan dan mencari kakaknya jadi secara tidak langsung Nessa sudah sangat hafal dengan jalan yang ada di daerah sini. Hembusan angin pagi ini terasa dingin namun Nessa dengan semangat berjalan kaki menuju ke pasar. Dari kejauhan Nessa melihat seseorang yang sedang tertidur di jalanan, ia menyatukan alisnya gadis itu sedikit heran dengan apa yang di lihatnya dari kejauhan seperti orang atau karung karena memang hanya terlihat putih. "Itu orang apa karung ya. Kenapa ada di tengah jalan seperti itu?" gumam Nessa, gadis itu bicara sendiri saat ini. Nessa sangat penasaran, gadis itu mulai mempercepat langkahnya untuk melihatnya dari dekat. "Masya Allah!" seru Nessa saat ia sudah dekat dengan seseorang yang sedang terbaring lemah di jalanan. Nessa menutup mulutnya dengan kedua tangannya, gadis itu sangat heran karena pagi-pagi begini belum ada orang yang lewat di jalanan ini, karena memang jalanan ini sepi masih banyak pohon- pohon yang tumbuh di kedua sisi jalan ini. "Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Bagaimana ini." Nessa kini bingung apa yang harus ia lakukan menolong atau membiarkannya di jalanan seperti ini. Nessa mulai menyentuh tangan laki-laki itu, ia mulai memeriksa denyut nadinya, Nessa membuang napas lega karena laki-laki yang ada didepannya masih hidup mungkin hanya pingsan. Nessa diam dan memandangi laki-laki yang kini ada di depannya, gadis itu mulai berpikir sejenak. Tiba-tiba saja ia berpikir kalau ia harus menolong orang ini karena di kota asing ini siapa lagi orang yang akan mau menolongnya nanti. Dengan susah payah Nessa membantu laki- laki itu berdiri dan menarik salah satu tangannya dan di lingkarkan ke leher Nessa, ia mulai berjalan dan memapahnya dengan hati- hati karena tubuh laki- laki itu sangat besar sedangkan tubuh Nessa kecil. Jalanan masih sepi karena sang surya masih belum menampakkan sinarnya. Nessa terus membantu laki-laki itu dan berniat membawanya ke rumahnya untuk mengobati luka yang ada dikepala laki-laki itu. "Aduh berat sekali," Nessa membawa laki-laki itu dengan susah payah. Napas Nessa mulai tak beraturan saat ini namun gadis itu tetap bersabar dan tetap berusaha membawa laki-laki itu kerumahnya. Nessa kini sudah sampai di depan rumahnya, ia mulai membuka pintu itu dan membawa laki-laki itu masuk ke dalam rumah, Nessa mulai membaringkan tubuh laki-laki itu di atas sofa ruang tamu dengan sangat hati- hati, karena memang rumah yang ia kontrak cuma punya satu kamar dan tidak mungkin Nessa membaringkan orang yang baru di kenalnya di kamar, karena Nessa tidak mengenal laki-laki itu dan baru pertama kali melihatnya. Nessa mulai mengambil baskom berisi air hangat dan juga handuk kecil untuk membersihkan luka dan darah yang ada di kepala laki-laki itu, tak lupa juga ia membawa kotak P3K untuk mengobati luka yang ada di kepala laki-laki itu. "Kasihan sekali kamu," ucap Nessa saat ia memasangkan perban di kening Revan. Ya laki-laki yang kini di tolong oleh Nessa adalah Revan. Nessa dengan sabar mengobati luka yang ada di kepala Revan, gadis itu juga mengganti kemeja Revan dengan kemeja kakaknya yang dia bawa, karena saat Nessa merindukan Varrel ia selalu memakai kemeja milik kakaknya dan saat ia pergi ke Jakarta ia membawa dua kemeja milik kakaknya dan memakainya saat rasa rindu itu ada di hatinya. "Alhamdulillah sudah selesai, semoga cepat sembuh ya mas," ucap Nessa saat ia selesai mengobati Revan. Kini Nessa berdiri dan membawa kemeja milik Revan ke kamar mandi dan mencucinya. Setelah selesai mencuci dan menjemurnya kini ia kembali ke dalam rumahnya dan melihat kembali Revan yang masih terbaring lemah di atas sofa. Nessa baru ingat kalau dirumah sudah tidak ada lagi sisa makanan, kemudian ia memutuskan untuk kembali pergi ke pasar dan meninggalkan Revan sendiri di rumahnya, Nessa juga mengunci rumah itu dari luar. Nessa berpikir kalau ia tidak pergi ke pasar nanti akan makan apa hari ini, bagaimana kalau laki-laki itu bangun dan tidak ada makanan? Pasti Nessa sangat malu. ***** Di kediaman keluarga Ardani. Roy masih terus memantau perkembangan pencarian Revan, laki-laki itu terus saja menghubungi anak buahnya yang mencari keberadaan Revan di sekitar stasiun kereta, dimana di tempat itulah mobil dan barang- barang Revan di temukan. "Bagaimana Roy apa Revan sudah ketemu?" tanya Tuan Ardani yang tiba-tiba saja berada di belakang Roy. Roy sangat terkejut saat mendengar bosnya menanyakan Revan. Laki-laki itu sedikit takut karena dari kemarin belum juga menemukan Revan. "B-belum bos," jawab Roy sambil menundukkan kepalanya. "Semoga Revan cepat ditemukan, dan terus cari dia sampai ketemu." tuan Ardani kini keluar dari rumahnya dan berangkat ke kantor. "S-siap bos." Setelah Tuan Ardani pergi kini Roy melanjutkan teleponnya, ia menelepon anak buahnya yang masih mencari Revan di sekitar stasiun kereta. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD