Part 09. Ketulusan Nessa

2153 Words
Malam hari ini Revan belum bisa tidur. Laki-laki muda itu berbaring di atas kursi panjang yang ada di ruang tamu. Sedangkan Nessa sudah tertidur di dalam kamarnya. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Namun Revan belum bisa memejamkan matanya barang sekejap. 'Siapa gadis itu? wajah yang sekilas mirip dengan mamaku waktu masih muda dulu?' batin Revan terus bertanya- tanya. Laki-laki itu seakan melihat sosok ibunya dari dalam diri Nessa gadis cantik yang telah menolong dirinya saat ini. "Mama, kenapa tiba-tiba aku merindukanmu?" Revan menatap langit-langit ruang tamu. Tiba-tiba saja ia mengingat kejadian dua puluh tahun yang lalu saat ia dan Ibunya satu mobil saat pulang sekolah. Revan kecil senang karena ibunya menjemput ia pulang sekolah siang ini. "Revan sayang, Mama merindukanmu!" ucap wanita cantik berambut panjang yang terurai, memakai sepatu hak tinggi dan kacamata hitam. Wanita itu memanggil Revan kecil yang saat itu berumur lima tahun dan masih duduk di bangku sekolah taman kanak-kanak. "Mama...!" Revan kecil berlari dan langsung memeluk ibunya di depan kelas. Beberapa menit kemudian ibunya Revan tidak juga melepaskan pelukannya, membuat Revan semakin merasa gerah kalau lama-lama berada di pelukan ibunya. "Ma, lepasin Revan. Gerah ma," protes anak laki-laki berumur lima tahun itu sambil memajukan mulutnya namun tidak di lihat oleh ibunya. "Izinkan mama memelukmu sayang, mama merindukanmu." Wanita itu masih enggan melepaskan pelukannya. Namun Revan kecil yang aktif segera mendorong ibunya dan melupakan pelukan itu. "Revan gerah Ma." berlari menuju ke halaman sekolah dan langsung masuk ke dalam mobilnya. "Sayang, tunggu mama!" ucap ibu Revan sambil tersenyum melihat anak laki-laki yang kini sedang marah karena di peluk ibunya. Wanita itu kini berjalan menuju mobilnya dan menyusul Revan. Di dalam mobil Revan duduk sendiri di belakang dengan kedua tangan di lipat depan d**a, wajahnya kelihatan sangat marah namun justru malah terlihat lucu. Saat masuk ke dalam mobil, wanita itu tersenyum melihat anaknya di belakang. Setelah masuk dan duduk di depan, wanita itu langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Sayang, apa kamu marah sama mama?" tanya wanita itu pada Revan. Sedangkan Revan tak menjawab, laki-laki kecil itu malah memajukan mulutnya. "Baiklah, kalau kamu masih marah, jangan menyesal ya sayang, mama akan pergi mencari anak lain yang baik dan yang nurut sama mama, jangan menyesal ya Revan sayang," tersenyum melihat ke belakang sambil menyetir. Di jalan raya kota ini, jalanan terlihat sangat ramai, banyak mobil dan kendaraan roda dua yang lalu lalang membuat wanita itu harus konsentrasi penuh saat menyetir. Hening. Wanita itu kini mulai konsentrasi dalam menyetir dan membiarkan Revan yang masih manyun di belakang. Tak lama kemudian kini tiba-tiba saja terdengar suara Revan dari belakang. "Revan sebel sama mama," Suara itu langsung membuatnya dengan cepat menoleh ke belakang dimana ada Revan kecil yang sedang marah. "Maafkan mama sayang, mama... Aaaaaa....!!!!" Wanita itu kehilangan kendali mobilnya. Ia terus berusaha mengembalikan keseimbangan mobil itu namun masih tidak bisa. Revan kecil yang duduk sendiri di belakang dengan cepat langsung menutup mata dengan kedua tangannya. Brakk!!! Mobil itu kini menabrak sebuah pembatas jalan yang ada di tengah jalan raya. Wanita itu jatuh ke samping dengan luka yang parah di kepalanya, sedap Revan kecil yang berada di belakang hanya luka lecet sedikit. Hening! Tak lama kemudian laki-laki kecil itu mulai membuka kedua tangannya perlahan dan melihat sekeliling dengan sangat terkejut. "Ha.. M-mama...!" Saat mendengar suara Revan mengigau. Nessa yang berada di dalam kamarnya mulai terbangun. Gadis itu mulai mengingat kalau di rumahnya tidak hanya dia sendirian tapi ada orang lain yang sedang ia tolong. "Seperti suaranya mas Revky?" Nessa mulai melihat jam yang ada dinding kamarnya, lalu dengan cepat berdiri dari tempat tidur dan melangkah keluar menuju ke ruang tamu yang ada di depan. Setelah berjalan beberapa langkah, gadis itu melihat seorang laki-laki yang masih tertidur namun mengigau. "Ma, maafin aku ma," suara Revan terdengar berat, laki-laki itu masih tertidur. Keringat kini membasahi wajah tampannya. "Ma, maaf." Revan terus mengigau memanggil ibunya yang sudah tiada. Nessa mendekat dan duduk di kursi yang ada di samping Revan. Tangan gadis itu memegang kening Revan yang basah karena keringat. "Ya Allah, badannya panas sekali." Dengan cepat Nessa berdiri dan berjalan menuju ke dapur mencari handuk kecil dan mengambil air hangat di dalam termos untuk mengompres Revan. Tak lama kemudian Nessa kembali dengan membawa baskom kecil berisi air hangat dan handuk. "Ma," ucap Revan dengan suara berat. Nessa semakin panik saat melihat badan laki-laki muda itu menggigil kedinginan, karena suhu badannya sangat panas. "Mas Revky, aduh gimana ini?" Nessa malah panik sendiri saat melihat Revan semakin menggigil. "Apa aku panggil Dokter saja ya?" sambil mengompres kening Revan dengan hati-hati. Gadis itu masih hawatir dengan keadaan laki-laki muda yang sedang di tolongnya. Setelah di kompres beberapa kali tiba-tiba suhu badan Revan mulai turun dan tidak mengingau lagi, membuat ia bisa sedikit bernapas lega. Nessa mulai mengusap keringat di wajah Revan, gadis itu juga mulai menutup tubuh Revan dengan selimut dengan sangat hati-hati. Gadis itu kini menunggu di samping Revan dengan menahan kantuk. Sesekali Nessa menguap dan ingin rasanya membaringkan tubuh untuk saat ini. "Hoam," Nessa mulai tak tahan lagi menahan kantuk yang semakin mengganggu dirinya. Beberapa saat kemudian, tanpa sadar ia mulai tertidur di atas kursi yang ada di samping Revan. Ia sangat takut kalau nanti laki-laki itu kembali mengingau dan suhu tubuhnya kembali panas. Maka untuk menjaga Revan ia menemani laki-laki muda itu di kursi depan ruang tamu. Tapi tanpa sadar dirinya sendiri malah tertidur dengan sangat pulas sambil duduk di kursi yang ada di samping Revan. ***** Suara ayam berkokok sudah mulai terdengar. Itu tandanya hari sudah mulai pagi. Nessa masih tertidur dengan sangat pulas, padahal kalau di lihat posisi tidur sambil duduk seperti itu sangat tidak nyaman, namun tidak dengan Nessa, ia merasa sedang tidur di kamarnya dengan nyaman. Tangan Revan mulai bergerak perlahan. Begitupun dengan mata laki-laki itu juga mulai terbuka. Saat ia merasakan sesuatu di atas keningnya, tangan laki-laki muda itu mulai menyentuh sesuatu yang basah di atas kening. Dahi Revan mulai berkerut, saat menyadari kalau ada handuk kecil di atas keningnya. "Apa ini?" melepas handuk dengan dari kening dan menaruhnya di atas meja. Seketika mata Revan membulat saat melihat seorang gadis cantik sedang tertidur sambil duduk di atas kursi yang ada di sampingnya. "Nessa?" laki-laki muda itu masih belum mengerti tentang apa yang telah terjadi. Kenapa ada handuk di keningnya dan Nessa tertidur di sini? Bukankah semalam Nessa tidur di kamarnya. Sekarang jam menunjukkan pukul empat pagi. Hari masih gelap untuk mengawali pagi. Revan bangun dari tidurnya dan segera bangkit berdiri. Laki-laki muda itu melekukkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri agar sedikit rileks. "Em..." Nessa mulai bergerak lalu tidur lagi. Seketika Revan melihat kearah gadis itu. Lalu tanpa ada yang menyuruh ia mulai mengangkat tubuh gadis itu dan menidurkannya di atas kursi panjang yang semalam menjadi tempat tidurnya. Tak lupa juga ia menyelimuti tubuh Nessa yang tertidur. Saat melihat rambut gadis itu menutupi wajah, dengan cepat Revan berjongkok di depan kursi lalu merapikan rambut Nessa. Ada debaran hebat yang tiba-tiba saja mengisi hatinya. "Terima kasih Nessa, kamu tulus sekali membantu ku," ucap Revan sambil tersenyum setelah selesai merapikan rambut Nessa yang menutupi wajah gadis itu. Revan terus tersenyum sendiri, lalu ia perlahan duduk di kursi yang ada di samping Nessa tanpa melepaskan pandangan matanya pada gadis cantik yang sedang tidur itu. Setelah duduk ia masih terus memandangi Nessa dan tiba-tiba saja kini Revan mulai menguap. "Hoam." menutup mulutnya dengan telapak tangan. Tanpa sadar kini Revan mulai tertidur sambil duduk di atas kursi. Posisi mereka berdua kini berpindah. Tanpa Nessa sadari Revan tidur di tempatnya sambil duduk sedangkan Nessa tidur di tempat Revan. ***** Beberapa jam kini telah berlalu. Matahari sudah menampakkan sinar nya dengan sangat cerah, hingga menembus celah jendela kaca yang ada di rumah Nessa. Gadis itu mulai membuka matanya perlahan. "Hoam," masih dengan mata yang mengantuk setengah sadar ia mulai melihat ke samping. Namun alangkah kagetnya gadis itu saat menyadari kalau ada laki-laki tampan sedang tidur sambil duduk di sampingnya. "Mas Revky? Loh kok dia bisa tidur di situ? Kenapa malah aku yang tidur di sini?" ucap Nessa heran. Ia bahkan sangat ingat kalau semalam badan Revan sangat panas dan laki-laki itu terus mengigau. Ia juga ingat kalau ia yang telah mengompres Revan dengan handuk kecil dan Nessa mulai mencari di mana semalam ia meletakkan baskom yang berisi air hangat itu. Nessa melihat baskom itu masih berada di atas meja seperti yang ia letakkan semalam dan tak berpindah sedikit pun. Tapi gadis itu masih belum mengerti kenapa sekarang posisinya berubah. Nessa yang tidur di kursi panjang sedangkan laki-laki itu tidur sambil duduk di kursi. Gadis itu mulai duduk dan memikirkan kejadian aneh bin ajaib ini. Saat menyadari Nessa sudah terbangun, tiba-tiba saja laki-laki itu mulai membuka matanya. "Nessa?" ucap Revan saat melihat gadis cantik yang sudah duduk di sampingnya. "Revky?" Senjenak pandangan mata mereka berdua bertemu dengan seribu pertanyaan yang ada di dalam hati masing-masing. Nessa dengan pertanyaan bagaimana bisa ia yang tidur di tempat ini. Sedangkan Revan dengan pertanyaan kenapa Nessa tidur sambil duduk di sini dan ada handuk basah di kening Revan saat ia bangun tidur. Saat menyadari, kini mereka berdua malah menjadi salah tingkah. "Em, Nessa saya bisa jelaskan?" ucap Revan secara tiba-tiba, ia merasa tidak enak ketika gadis itu menatapnya aneh dengan seribu pertanyaan. "Kenapa bisa aku yang tertidur di sini? Bukankah mas Revky yang semalam berada di sini?" "Saat bangun, saya melihat kamu tidur sambil duduk di sini, sepertinya tidak nyaman jadi saya yang memindahkan tidur kamu tadi pagi," Mendengar penjelasan laki-laki yang ada di sampingnya Nessa mulai berpikir macam-macam, wajar saja karena laki-laki itu baru saja di kenalnya. "Mas Revky tidak ngapa-ngapain aku kan?" gadis itu terus menatap curiga pada Revan. "Eh, tidaklah Nessa, saya tidak ngapa-ngapain kamu, cuma mindahin tidur kamu saja kok, oh iya kenapa kamu bisa tidur disini? Bukankah semalam kamu tidur di kamar ya?" Revan membalikkan pertanyaan pada Nessa. "Iya, mas Revky semalam mengigau terus, dan badannya panas banget, jadi aku semalam menjaga mas di sini," mendengar ucapan Nessa Revan semakin yakin kalau memang gadis cantik yang telah menolong nya itu memang sangat tulus. Nessa bahkan tidak tahu siapa laki-laki yang telah di tolongnya, gadis itu bahkan tidak tahu nama asli Revky adalah Revan seorang CEO muda yang sedang patah hati karena di hianati oleh sahabat dan kekasihnya. ***** Siang hari ini sang surya masih setia menampakkan sinarnya dengan sangat cerah. Mobil berwarna hitam kini berjalan di atas jalan raya kota ini. Di dalam mobil Roy asisten keluarga tuan Ardani masih setia mencari putra mahkota sang atasan, ya Roy masih setia mencari dimana keberadaan Revan, namun hingga saat ini masih belum menemukannya. Perjalanan masih panjang karena ia belum menemukan titik terang keberadaan tuan mudanya. Di dalam perjalanan, tiba-tiba saja ia merasakan ada yang aneh dengan mobilnya. Kemudian ia menghentikan mobil itu dan keluar dari mobil untuk mencari tahu ada apa dengan mobilnya. Setelah mengecek satu persatu, ternyata ban depan mobil itu bocor. "Ah, sial." Roy menemdang mobil itu dengan kakinya. "Auw!" laki-laki itu melompat merasakan sakit di kakinya. Mata Roy melihat sekeliling, namun sepertinya tidak ada tukang tambal ban di sekitar sini. Dengan terpaksa Roy kini duduk bersandar di depan mobilnya. Sambil duduk Roy mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang. "Halo bro, tolong ambil mobil gue di pinggir jalan sini ya, nanti alamatnya gue kirim lewat pesan, jangan lupa bawa tukang tambal ban, karena mobil gue bocor." mematikan sambungan teleponnya setelah itu ia masih duduk sendiri. Beberapa saat kemudian tiba-tiba saja ada mobil sport berwarna putih berhenti tepat di depannya. Roy menyipitkan matanya saat melihat mobil itu. Lalu pintu mobil itu terbuka dan seorang laki-laki muda berpenampilan rapi memakai kacamata hitam sedang berjalan ke arahnya. "Roy, kenapa ada di sini?" membuka kacamata hitamnya saat bertanya pada Roy. "Eh, tuan Daniel, selamat atas pertunangannya ya tuan," Roy sedikit membungkuk memberi hormat pada Daniel. "Panggil Daniel saja Roy, ini kan diluar kantor," Daniel kini bersandar di mobil Roy. "Saya merasa tidak enak," Roy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kita kan teman sejak sekolah Roy, panggil Daniel saja, oh iya, lo belum jawab pertanyaan gue, ngapain lo disini?" menatap Roy yang ada di sampingnya. "Ini, ban depan mobil gue bocor," Roy menatap ke bawah. "Terus ngapain lo duduk di sini?" tanya Daniel penasaran. "Gue menunggu seseorang yang akan membawa mobil ini," "Oh, Roy. Gimana kabar Revan?" Daniel menatap Roy dengan serius. Membuat Roy semakin tidak enak. "Em.. Tuan Revan belum ketemu, gue bingung mau cari dia kemana lagi, semua tempat di daerah kota sudah di cari semua." Daniel kini mengangguk saat mendengar jawaban Roy tentang Revan sahabatnya. Laki-laki itu merasa bersalah karena sudah bisa di tebak kalau alasan kepergian Revan memang karena dirinya dan Adellia bertunangan. Sejak kepergian Revan malam itu hingga saat ini masih belum di temukan. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD