Part 10. Merasa Nyaman

2007 Words
Sore hari ini Nessa sedang memasak di dapur. Gadis itu sibuk menumis sayur dan menggoreng ikan di dapur sendirian. Di ruang tamu. Revan yang sedang duduk sendiri, tiba-tiba saja mendengar suara berisik dari dalam rumah. Sreng! "Suara apa ya? Aromanya sih sedap, tapi suaranya seperti orang sedang perang?" hidung Revan mencoba mencium aroma masakan. Sreng! "Aduh, suara itu lagi?" lanjut Revan sambil menutup telinga dengan kedua tangan kanan dan kirinya. "Tapi aromanya sedap sekali, hem..." lagi-lagi Revan mencium aroma yang menggoda indera penciumannya. Laki-laki muda itu tak pernah mendengar suara berisik seperti itu dulu saat berada di rumahnya ataupun saat berada di kantor. Kalau aroma sedap seperti ini Revan pernah menciumnya, tapi tidak dengan suara berisiknya. Sreng! Revan langsung berdiri dan sudah tidak tahan lagi untuk mengetahui suara apa itu? Laki-laki muda itu kini berjalan dengan pikiran yang entah seperti apa? Ia sendiri pun tidak tahu. Setelah beberapa langkah menuju ke dapur. Revan mendapati Nessa sedang menggoreng ikan nila besar. Revan berdiri beberapa langkah di belakang Nessa. Ia terus melihat gadis cantik yang sedang sibuk dengan pekerjaan dapurnya. Walau sedang memasak di dapur dan tampil apa adanya, Nessa tetap kelihatan cantik dengan rambut di ikat ekor kuda dan memakai dres pendek bercorak bunga- bunga. Merasa ada yang mengawasi, Nessa segera menoleh ke belakang, ternyata ada seorang laki-laki berdiri di belakangnya dan sedang mengawasi dirinya memasak. "Mas Revky, ada apa mas?" sapa Nessa. Kemudian gadis itu kembali sibuk membalik ikan yang ada di atas penggorengan. Sreng! "Awas Nessa!" Dengan cepat Revan berlari ke arah Nessa dan menarik gadis itu menjauh dari kompor. Nessa yang sebelumnya merasa baik-baik saja kini terkejut saat mendengar Revan tiba-tiba berteriak dan menarik tangannya. Sehingga kini posisi Nessa dan Revan berpelukan dan mata mereka berdua bertemu untuk beberapa saat. Hening! Hanya ada suara detak jantung yang seirama dari mereka berdua. Desiran hangat yang keluar dari lubuk hati mereka, seakan membawa aura hangat yang sulit untuk di artikan oleh mereka berdua saat ini. Mereka masih saling menatap, tanpa ia sadari kini senyuman terukir di sudut bibir Revan. Nessa hanya diam saja, sedangkan Revan terus tersenyum kecil. Mereka berdua masih dengan posisi yang belum mereka sadari, saling berpelukan dan saling menatap diam. Tak lama kemudian, tiba-tiba saja hidung mereka mencium aroma gosong dari penggorengan. "Bau apa ini?" ucap Revan bertanya pada Nessa. Tapi mereka berdua belum melepaskan pelukannya. "Iya, bau apa ya? kayak bau gosong," hidung Nessa dan Revan mengembus aroma gosong yang semakin menusuk hidung mereka berdua. Kini Nessa mulai menyadari posisi mereka yang masih berpelukan. Dengan cepat gadis itu melepaskan pelukannya, begitupun dengan Revan yang mulai salah tingkah. "Seperti bau ... Astaga ikan nila!" Nessa dan Revan semakin panik saat menyadari kalau ikan yang sedang si goreng di atas penggorengan itu kini menjadi gosong. Dengan cepat gadis itu mematikan kompor dan segera mengangkat ikan itu dan menaruhnya di atas piring. Alhasil satu ikan nila untuk makan malam mereka berdua menjadi gosong. ***** Malam ini di ruang tamu. Mereka berdua masih duduk dengan saling diam. Hanya keheningan yang ada di dalam rumah itu. Di atas meja sudah tersaji dua piring nasi, satu mangkuk tumis kangkung dan satu ikan nila gosong. Nessa duduk dengan satu tangan di dagunya, begitupun dengan Revan, laki-laki muda itu duduk di kursi samping Nessa dengan kedua tangan di pipinya. Mata mereka berdua menatap makanan di atas meja. Tanpa sadar mereka berdua melakukan hal yang sama saat ini. Lucu emang, mereka berdua sangat kompak, namun mereka belum saling menyadari. "Ehem! Nessa maaf ya, ikannya gosong gara-gara saya," Revan merasa bersalah sekarang, karena dia yang menyebabkan ikan goreng itu jadi gosong. "Eh, enggak mas, bukan salah mas Revky kok, ini salah Nessa," tersenyum melihat Revan. "Kalau saya tidak mengganggu kamu masak di dapur, mungkin ikan itu tidak gosong seperti ini," Revan benar-benar merasa sangat bersalah dan tidak enak pada Nessa karena sudah merepotkannya. "Tidak apa-apa mas, sudah terlanjur gosong kan, jangan saling menyalahkan ya, ayok kita makan, maaf hanya lauk seadanya mas," Nessa menaruh sendok di atas piring yang sudah berisi nasi dan menggeser piring itu ke depan Revan. "Oh iya mas, tadi kenapa mas berteriak dan menarik Nessa?" tanya Nessa penasaran, karena gadis cantik itu terkejut ketika Revan secara tiba-tiba menarik tangannya. "Eh. Itu, anu, t-tadi saya takut kalau kompornya meledak karena suara keras," jawab Revan dengan polos nya. "Suara keras yang mana?" gadis itu menyatukan alis nya dan semakin penasaran dengan apa yang di maksud Revan. "Suara keras tadi, pas kamu membalik ikan di atas penggorengan," Revan menaikkan alis nya memberi penjelasan pada gadis yang ada di depannya. "Maksud mas Revky..." Nessa menghentikan ucapannya. Revan diam mendengarkan Nessa. "Hi hi hi..." suara tawa Nessa membuat Revan masih belum mengerti. "Aduh mas, suara goreng ikan memang seperti itu... Hi hi hi..." Nessa semakin tertawa keras Membuat Revan semakin salah tingkah. Tangan laki-laki itu terus menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menahan malu. "Maaf, saya benar-benar tidak tahu," Mendengar Revan bicara, Nessa menghentikan tawanya. "Apa mas Revky benar-benar tidak tahu? tidak pernah melihat orang goreng ikan?" menatap Revan dengan penasaran. "Tidak pernah," Wajar saja laki-laki itu tidak pernah mendengar dan melihat aktivitas orang memasak, karena kehidupan Revan yang serba mewah dan selalu tersedia membuat ia tidak tahu tentang urusan dapur. Apalagi kesibukan Revan sebagai CEO di perusahaan NR Group milik keluarganya, membuat ia jarang sekali berada di rumah. "Mas Revky melamun ya? Ayok makan, nanti keburu makanannya dingin," suara Nessa menyadarkan Revan dari lamunan. Revan kini tersenyum melihat Nessa. "I-iya," segera ia mengambil sayur dan ikan gosong ke piringnya. "Ikan nya jangan di makan mas, gosong rasanya pahit," ucap Nessa saat melihat Revan mengambil ikan. "Tidak apa-apa, saya suka ikan," mengambil sedikit ikan kemudian memasukkan nya ke dalam mulut dan mengunyahnya dengan perlahan, saat merasakan sesuatu di lidahnya dengan susah payah Revan menelan makanan itu. Pahit pasti itu yang sedang ia rasakan sekarang, tapi Revan tidak mau mengecewakan Nessa yang sudah susah payah memasak ikan untuk makan malam dan gara-gara ulah Revan ikan itu jadi gosong. Nessa hanya melihat laki-laki yang ada di depannya dengan tatapan heran, dari tampilan ikan itu saja sudah hitam dan pasti rasanya sangat pahit karena gosong. "Kalau tidak enak, jangan di makan, nanti perut kamu sakit," Nessa mengingatkan Revan. Namun laki-laki itu tidak mendengarkan, ia malah terus memakan ikan itu. "Enak kok, saya suka," tersenyum melihat Nessa yang terus menatapnya. ***** Tengah malam Revan tidak bisa tidur lagi, setelah kemarin malam laki-laki itu bermimpi dan mengigau karena suhu badannya panas. Namun kali ini ia tidak bisa tidur karena sakit perut. Saat tengah malam tiba-tiba saja perut Revan merasakan nyeri dan mulas yang tidak bisa di tahan lagi. Tangan Revan terus memegangi perutnya yang sakit. "Aduh," laki-laki itu berbaring kesakitan. "Auw, aduh." Revan bergerak ke kanan dan ke kiri sambil memegangi perutnya yang sakit. Keringat dingin kini mulai membasahi kening laki-laki itu. Ia tidak tidak menyangka kalau perutnya akan sesakit ini. Hari semakin malam namun Revan masih saja tidak bisa tidur. Wajahnya kini sangat pucat, jam di dinding terus berputar detik demi detik kini berlalu. Hari sudah mulai pagi, ayam berkokok mulai bersahutan. Suara azan subuh sudah berkumandang namun Revan belum bisa memejamkan matanya barang sekejap karena perut laki-laki itu sangat sakit. Kini Revan hanya bisa meringkuk di atas kursi panjang yang ada di ruang tamu dengan wajah pucat karena menahan rasa sakit. Di dalam kamar, kini Nessa mulai bangun, gadis itu mulai bangkit dari tempat tidurnya. Setelah bangun, ia langsung pergi ke kamar mandi untuk mandi setelah selesai mandi dan berganti pakaian, kini Nessa ke dapur untuk membuat yeh hangat, karena memang beberapa hari ini cuaca cukup dingin kalau di pagi hari. Nessa mulai memasak air di atas kompor. Sambil menunggu air itu mendidih ia menyiapkan dua cangkir satu untuknya dan satu lagi tentu saja untuk Revan. Setelah selesai membuat teh, kini Nessa membawa dua cangkir yang berisi teh hangat itu ke ruang tamu. Gadis itu perlahan menaruh cangkir di atas meja lalu duduk di kursi. Sedangkan Revan masih meringkuk menahan rasa sakit semalam. "Aduh," ucap Revan lirih namun terdengar oleh Nessa. Saat mendengar suara Revan merintih kesakitan, Nessa segera menoleh ke arah laki-laki yang masih terbaring di atas kursi panjang yang ada di sampingnya. "Mas, Revky kenapa?" Nessa bertanya dengan perasaan hawatir. Gadis itu kini mendekat dan seketika terkejut saat melihat wajah pucat Revan. "Mas, wajah kamu pucat sekali? Apa yang terjadi dengan mu, apa kamu sakit?" Nessa hawatir, karena kemarin Revan sakit dan kini kenapa bisa sakit lagi. "Aku panggil bidan dulu mas," tanpa menunggu persetujuan Revan, ia langsung keluar dan memanggil bidan untuk memeriksa Revan. Di dekat tempat tinggal Nessa tidak ada klinik dokter, tapi hanya ada bidan yang tinggal di dekat rumah Nessa. Tak lama kini Nessa datang bersama dengan bidan yang akan memeriksa Revan. Ceklek! Suara pintu terbuka, Nessa datang bersama dengan bu bidan. "Silahkan masuk bu bidan," "Iya mbak Nessa," Setelah masuk, bidan itu langsung memeriksa keadaan Revan. Dengan teliti ia memeriksa detak jantung Revan dan menyuruh Revan membuka mulutnya untuk di periksa. Setelah selesai ia memberikan obat untuk laki-laki itu. "Ini obat untuk suami mbak Nessa, tolong segera di suruh minum ya mbak," bidang itu mengira kalau Revan suami Nessa. Dengan malu Nessa menerima obat itu, ia merasa malu karena bidan itu kira mereka adalah pasangan suami istri. "Kalau boleh tahu, sakitnya apa ya bu?" tanya Nessa penasaran, sebab wajah Revan sangat pucat, yang ada di pikiran Nessa saat ini Revan sakit parah. Bidan itu tersenyum. "Tidak ada apa-apa kok mbak, suaminya hanya sakit perut saja, mungkin salah makan," setelah mendengar penjelasan dari dokter, Nessa tiba-tiba saja ingat kalau semalam Revan memaksa makan ikan nila goreng yang gosong. Dan sekarang akibatnya laki-laki itu sakit perut dan pucat. "Oh, terima kasih bu, ini untuk bayar obatnya," Nessa memberikan selembar uang berwarna biru untuk bu bidan yang sudah selesai memeriksa Revan. "Tolong suruh suaminya segera minum obat ya mbak Nessa, biar cepet sembuh, pengantin baru pasti hawatir kalau melihat suaminya sakit iya kan?" bidan itu malah menggoda Nessa. Membuat gadis itu semakin malu dan wajahnya memerah. Untung saja Revan tidak dengar, Nessa bisa semakin malu nanti. Nessa mengantar bidan itu pulang sampai ke teras depan rumahnya. Setelah bidan itu berjalan beberapa langkah, Nessa segera masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi yang ada di samping Revan. "Mas, perut kamu sakit ya? Ini pasti karena kamu makan ikan goreng yang gosong itu," ucap Nessa hawatir pada Revan. "Maafkan saya Nessa, kalau selalu merepotkanmu, maaf," ucap Revan lirih sambil menahan sakit. "Jangan bilang seperti itu, aku ihlas menolong kamu kok, sekarang di minum teh hangatnya ya," Melihat Revan duduk dengan susah payah, Nessa segera membantunya duduk. "Terima kasih Nessa," "Ini teh nya di minum dulu mas," Nessa memberikan secangkir teh hangat untuk Revan, dan segera di minum oleh laki-laki itu. Setelah meminum teh itu, Revan memberikannya pada Nessa. "Terima kasih," entah kenapa Revan merasa nyaman saat bersama dengan Nessa di banding dengan Adellia. Laki-laki muda itu merasa mendapatkan kebahagiaan dan perhatian lebih dari gadis yang baru saja ia kenal di banding dengan Adellia yang dari kecil sudah bersama dengannya. Ketulusan Nessa yang sudah banyak membantu dirinya saat ini membuat laki-laki itu merasa ada sesuatu yang berbeda di dalam hatinya. Perasaan apakah itu? Revan sendiri belum bisa mengerti dengan apa yang ada di dalam hatinya. Nessa gadis sederhana tapi tetap cantik, berbeda dengan Adellia, ia selalu tampil modis dan selalu mengatur kehidupan Revan. Saat ini Revan sangat nyaman berada bersama dengan Nessa, laki-laki itu tidak mau pulang ke rumah dan kembali ke kehidupannya yang lalu. Disana hanya ada penghianatan kekasih dan sahabatnya membuat Revan tidak mau lagi kembali ke masa lalunya. Laki-laki itu merasa bahagia dengan kehidupan sederhana di sini bersama Nessa gadis yang tidak mengetahui jati diri Revan yang sebenarnya itu dengan tulus membantu Revan dan merawatnya dengan baik, bahkan Revan yang selalu merepotkan gadis itu. 'Terima kasih banyak Nessa, kamu telah tulus membantu ku, sekali lagi terima kasih.' *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD