Part 11. Menyesal

2011 Words
Angin berhembus menggugurkan dedaunan. Satu persatu daun kering dari pohon jambu yang ada di halaman rumah Nessa mulai jatuh ke tanah. Gadis itu kini sedang menyapu lantai teras depan rumah. Ia membersihkan lantai itu dengan cekatan, karena sudah terbiasa melakukannya. Sedangkan di dalam rumah Revan sedang duduk di kursi ruang tamu. Laki-laki muda itu sesekali tersenyum saat melihat Nessa sedang menyapu lantai teras. Gadis itu tidak tahu kalau ia sedang di perhatikan oleh Revan dari dalam. Setelah selesai, sekarang giliran Nessa menyapu halaman yang kotor karena daun pohon jambu kering yang jatuh sudah mengotori halaman. Gadis itu menyapu satu persatu daun kering itu. Saat asyik menyapu, tiba-tiba saja ada seorang ibu paruh baya lewat di depan rumah Nessa. Wanita paruh baya itu membawa satu kantong kresek belanjaan. "Eh mbak Nessa, tumben keluar rumah?" ibu itu menyapa Nessa sambil tersenyum. "Iya bu," Nessa menghentikan aktivitas menyapu dan berbincang dengan ibu itu. "Ibu dari mana?" lanjut Nessa tersenyum ramah. "Ini loh, dari belanja di warung, Kemarin pergi kemana mbak, kok rumahnya sepi?" menunjukkan kantong belanja yang di bawanya dan kemudian menatap Nessa. "Tidak kemana-mana kok bu, Nessa di rumah terus," jawab gadis itu sambil tersenyum ramah. "Saya kira mbak Nessa pergi kemana? soalnya kemarin saya lihat pintu rumahnya nya mbak Nessa selalu tertutup?" Nessa baru ingat, memang beberapa hari ini sejak Revan ada di rumahnya, ia selalu menutup pintu depan, karena Revan yang sedang sakit tidur di kursi ruang tamu rumah Nessa. "Jangan melamun mbak Nessa, saya permisi dulu ya mbak, lanjut deh nyapu nya." lanjut ibu itu kemudian melangkah pergi meninggalkan Nessa. "I-iya," Nessa mulai melanjutkan aktivitas menyapu halaman. Mendengar suara Nessa bicara dengan seseorang, kini Revan keluar dari dalam rumah dan duduk di kursi yang ada di teras depan. Revan terus menatap Nessa sambil tersenyum, entah apa yang ada di pikiran laki-laki itu sekarang, yang jelas ia tak ingin berhenti menatap gadis itu. Tak ada rasa bosan ketika menatapnya. Di dalam hati laki-laki itu seperti ada kupu-kupu yang terbang menggelitik di hatinya. Kini tiba-tiba saja ada ibu-ibu lagi yang lewat depan rumah Nessa. "Mbak pengantin baru ya? di lihatin suaminya terus sambil senyum-senyum tuh." ucap ibu itu sambil tersenyum. kemudian berlalu pergi meninggalkan Nessa. "Apaan sih ibu itu, kenal aja enggak," menggelengkan kepala lalu melanjutkan membersihkan halaman. Nessa masih bingung dengan ucapan ibu tadi, seperti kata bu bidan kemarin, Nessa di kira pengantin baru, padahal pacar saja ia tidak punya apa lagi suami. "Alhamdulillah sudah selesai, halamannya jadi bersih," tersenyum sambil menatap halaman yang baru saja di sapu nya. Setelah selesai, ia kemudian menoleh ke belakang, ternyata di sana ada Revan yang sedang duduk sambil tersenyum melihatnya. "Revky?" ucap Nessa lirih. Kemudian ia berjalan mendekati Revan. "Sejak kapan kamu di sini?" tanya Nessa penasaran. "Eh, Nessa, sejak tadi, emang kenapa?" tanya Revan balik. "Sejak tadi kamu duduk di sini?" mengerutkan kening dan menatap Revan. "Iya," Revan mengangguk pelan. "Pantas saja ibu-ibu tadi bilang..." gadis itu menghentikan ucapan nya. "Emangnya tadi ibu itu bilang apa?" penasaran karena Nessa tidak melanjutkan bicaranya. "Tadi ibu itu bilang..." gadis itu menunduk. Kini wajah Nessa tiba-tiba memerah seperti tomat karena malu. "Nessa, ada apa?" tanya Revan bingung. "Nessa. Wajah kamu kok merah, kenapa?" Sebab tiba- tiba saja ia melihat wajah Nessa memerah. Nessa semakin malu karena Revan malah bertanya seperti itu. Gadis itu kini menjadi salah tingkah karena pertanyaan dari Revan. Dasar Revan, tidak tahu apa kalau Nessa malu karena di bilangin ibu tadi kalau kamu suaminya. Gadis itu kemudian masuk ke dalam rumah meninggalkan Revan sendiri di depan. Setelah ia menaruh sapu ke dapur, kini ia masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam, kemudian Nessa menyandarkan punggungnya di pintu, ia terus tersenyum malu ketika ingat apa yang di katakan oleh ibu tadi yang lewat dan bilang kalau Nessa dan Revan pengantin baru. "Ada apa dengan ku?" Nessa bingung sendiri dengan perasaannya sekarang. "Kenapa aku merasa malu? Padahal kita kan tidak ada apa-apa?" Nessa menutup wajah dengan kedua tangannya. Gadis itu kini bicara sendirian di dalam kamar. Entah perasaan seperti apa yang kini Nessa rasakan. Ia sendiri tidak tahu. Nessa masih berdiri di depan pintu, kemudian perlahan ia duduk di depan pintu itu masih dengan menutup wajahnya. "Apa yang terjadi dengan mu Nessa? Ayolah, tujuan mu ke sini untuk mencari kakak mu, bukan untuk pacaran. Lagian laki-laki itu tidak jelas asal usulnya, bagaimana kalau dia orang jahat? Kamu belum mengenalnya Nessa? Sadarlah." Nessa bicara sendiri, kemudian ia mengembuskan napas kasar saat mengetahui tujuannya datang ke kota ini. Sudah hampir sebulan di Jakarta, namun Nessa belum juga menempati di mana keberadaan kakaknya. Saat mengingat kakaknya, kini Nessa menjadi sedih. Saudara laki-laki satu-satunya yang ia miliki, kini tak tahu di mana rimbanya. "Semangat Nessa, besok kita cari kakak Varrel lagi, semangat!" Beberapa hari ini, gadis itu sibuk merawat Revan, hingga ia lupa mencari keberadaan kakaknya. Bahkan ia juga tidak mencari pekerjaan beberapa hari ini. Uang yang Nessa miliki kini semakin menipis. Gadis itu sangat ingat kalau ia harus tetap semangat menjalani kehidupan di kota yang asing ini. Mencari pekerjaan sangat sulit di kota ini, bagaimana Nessa bisa bertahan untuk beberapa hari lagi dengan uang yang hanya tinggal sedikit. "Baiklah, besok harus mulai cari pekerjaan." Nessa bangkit dari duduknya, kemudian ia berjalan menuju tempat tidurnya. Di bawah bantal ada selembar foto dirinya dan kakak laki-laki sebelum berangkat ke Jakarta setahun yang lalu. "Kak Varrel, Nessa sangat merindukanmu, di mana kamu berada sekarang? Nessa mencari mu kak?" Nessa menaruh foto itu di d**a nya. Ia sangat ingat sekali kalau setahun yang lalu kakaknya pergi mencari pekerjaan di ibu kota ini. Sekarang Nessa sendiri merasakan kalau mencari pekerjaan di kota ini ternyata tidak mudah. Pantas saja kakaknya tidak pernah memberi kabar setelah kelulusan kuliah adiknya, mungkin inilah alasannya. Hidup merantau di kota asing memang tidak enak. Tapi Nessa harus tetap bertahan sebelum menemukan kakaknya di kota ini. Nessa yakin kalau suatu saat nanti ia akan menemukan kakak kandungnya di sini. Entah kapan tepatnya, ia sendiri tidak tahu. ***** Pagi hari ini menjelang siang, Nessa bangun tidur kesiangan. Alarm dari tadi sudah berbunyi beberapa kali, namun Nessa tidak mendengarnya. Segera ia mematikan alarm itu, kemudian keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar mandi yang ada di sebelah dapur. Saat Nessa sampai di dapur, ia terkejut melihat sosok laki-laki muda yang sedang berdiri di depan kompor dan memegang satu butir telur. Revan bingung, bagaimana caranya menghidupkan kompor itu. Ia terlihat melihat ke kanan dan kiri kompor. "Mas Revky mau apa?" tanya Nessa penasaran saat melihat laki-laki muda itu kebingungan. Mendengar suara Nessa, dengan cepat Revan menoleh ke belakang. "Ini, saya mau masak telur," jawab Revan. Ia menunjukkan satu telur yang ada di tangannya pada Nessa. "Sini aku bantu," kemudian Nessa berjalan mendekat. Lalu ia mengambil telfon dan menaruhnya di atas kompor. "Mana telurnya tadi?" "I-ini." Revan memberikan telur itu pada Nessa. Kemudian Nessa memecahkan telur itu dan menaruh isinya di atas penggorengan. "Kamu sudah lapar ya mas?" tanya Nessa sambil memberikan sedikit garam di atas telur mata sapi itu. "Iya," Revan kembali kagum saat melihat sosok Nessa yang serba bisa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri tanpa meminta bantuan dari siapa pun. Tidak seperti dirinya dan orang-orang yang di kenalnya yang selalu meminta bantuan pada asisten rumah tangga. Bahkan Revan pernah melihat Adellia marah pada asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya ketika melakukan kesalahan. Walaupun kelihatan seperti namun ternyata sulit untuk di lakukan. Seperti hal nya memasak telur mata sapi kesukaan Revan. Biasanya setiap pagi bibi yang bekerja di rumahnya selalu menyiapkan telur mata sapi kesukaan nya. Laki-laki itu hanya tahu semua sudah siap tersedia di atas meja makan, kadang bahkan sarapan itu sudah siap di atas nakas yang ada di dalam kamarnya dan tinggal makan saja saat bangun tidur. "Tara ... Telur mata sapi nya sudah siap," ucap Nessa sambil tersenyum melihat Revan yang ada tepat di belakang menunggu dirinya masak. "Ini, sudah matang telur mata sapi nya," Nessa memberikan piring yang berisi telur mata sapi itu pada Revan. Dengan bahagia Revan menerimanya. "Hem ... Aromanya sedap..." ucap Revan sambil mencium aroma telur mata sapi yang sudah matang itu. "Nessa, ayok sarapan," ajak Revan. "Mas Revky duluan aja, aku mau mandi dulu." Nessa tersenyum kemudian ia berjalan ke kamar mandi. Lagi- lagi laki-laki muda itu di buat kagum pada sosok gadis sederhana itu. **** Di tempat lain. Di sebuah rumah mewah kini seorang pria dewasa sedang duduk menikmati sarapan bersama dengan istrinya. Di atas meja tersedia berbagai peralatan makan mahal dan aneka makanan. Dua asisten rumah tangga berdiri di belakang mereka dan siap menuruti semua perintah dari majikannya. Seorang gadis cantik memakai dres pendek di atas lutut berwarna putih dan hils berwarna senada kini berjalan menuruni anak tangga dengan anggun. "Selamat pagi Ma, Pa," sapa Adellia pada kedua orang tuanya yang sedari tadi berada di ruang makan. Kemudian gadis itu mencium pipi kedua orang tuanya secara bergantian. Setelah menyapa kedua orang tuanya, kini Adellia duduk di kursi yang ada di depan ibunya. Seorang asisten rumah tangga kini mengambilkan roti dan mengoleskan selai diatas roti itu, sedangkan asisten rumah tangga yang satunya lagi menuangkan s**u ke dalam gelas. "Sayang, bagaimana hubunganmu dengan Daniel? Apa ada perubahan, apa Daniel sudah mulai mencintaimu?" tanya ayah Adellia saat melihat putrinya duduk. Adellia mengembuskan napas kasar. "Pa, Adel dan Daniel sahabat sejak kecil, kami lebih nyaman menjadi sahabat dari pada kekasih," kemudahan Adellia memakan roti itu dengan sedikit emosi. "Kamu harus berusaha terus dong Del, demi perusahaan kita, ya kan Ma?" kemudian pria dewasa itu mengambil cangkir yang ada di depannya. Lalu meminumnya. "Betul itu sayang, ngapain juga kamu masih memikirkan si Revan yang sudah satu minggu ini hilang entah kemana, mendingan kamu pikirin tuh si Daniel yang tidak kalah tajir dari keluarga Ardani." "Revan pergi? Sudah satu minggu ini?" Adellia menaruh kembali roti yang sudah ada di tangannya. "Lelucon apa lagi ini Ma, Pa? Kenapa kalian tidak memberi tahu Adel kalau Revan pergi?" wajah Adel terlihat marah. "Eh, bukan itu maksud Mama sayang," Kemudian Adellia pergi meninggalkan ayah dan ibunya di ruang makan. "Sayang, Adel, mau kemana?" seru wanita dewasa itu pada Adel, namun tak di dengar oleh anak gadis nya. Adellia berjalan keluar dari rumah dengan ekspresi marah. Gadis itu masih tidak percaya kalau Revan akan pergi jauh setelah mengetahui dirinya dan Daniel bertunangan. Adellia masih ingat sekali malam itu tiba-tiba saja Revan datang ke acara pertunangannya dengan Daniel. Lalu laki-laki muda itu pergi lagi tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada dirinya. Namun Adellia baru tahu kalau Revan pergi satu minggu ini. Berarti itu artinya tepat di malam pertunangannya dengan Daniel seminggu yang lalu. "Revan," ucap Adellia lirih. Kemudian ia masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobil, tiba-tiba saja Adellia ingin menghubungi Revan, kemudian ia mengambil ponsel yang ia simpan di dalam tas. Senjenak gadis itu ragu setelah ia ingat bagaimana malam itu Revan sangat terlihat marah lalu pergi meninggalkan rumah Adellia. Kembali Adellia menaruh ponsel itu di sampingnya. Ia memejamkan matanya sejenak, gadis itu sekarang bingung mau bagaimana. Dulu sebelum semua ini terjadi hubungan ketiga sahabat itu sangat menyenangkan, kemana-mana mereka bertiga selalu bersama. Tapi tidak dengan sekarang ini, Revan pergi entah kemana, sedangkan Daniel kini juga mulai menjauh dari Adellia. Gadis itu merasa dirinya jahat. Persahabatan yang sudah mereka jalin sejak kecil, kini hancur saat kedua orang tua Daniel dan kedua orang tua Adellia sepakat menjodohkan mereka berdua. "Revan, di mana kamu ... Aku mencintaimu Revan ... Hiks..." Adellia menutup wajah dengan kedua tangannya. Gadis itu menangis menyesali semua yang telah terjadi antara persahabatan yang kini sudah hancur dengan sendirinya. Adellia menyesal karena menyetujui perjodohan itu seminggu yang lalu. Namun gadis itu melakukan semua ini demi keluarga besarnya. "Revan," Adellia mengusap airmata nya, kemudian ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi nomor Revan. Alangkah kagetnya Adellia saat mengetahui ponsel Revan juga aktif seminggu yang lalu. "Semuanya hancur seminggu yang lalu, Revan..." kemudian Adellia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumahnya. Gadis itu sangat terpukul mendengar Revan yang tidak ada kabar sekarang. Gadis itu sangat mencintai Revan nya, Revan sahabat sekaligus kekasihnya. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD