"Semuanya sudah hancur seminggu yang lalu, Revan..." kemudian Adellia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumahnya.
Gadis itu sangat terpukul mendengar Revan yang tidak ada kabar sekarang. Gadis itu sangat mencintai Revan nya, Revan sahabat sekaligus kekasihnya.
Mobil Adellia kini berjalan membelah jalan raya dengan kecepatan tinggi. Gadis itu mengemudi dengan emosi, ia tidak memperdulikan keselamatan dirinya dan juga orang lain.
Kecewa, iya. Adellia sangat kecewa dengan dirinya sendiri, ia masih mencintai Revan, tapi dia sendiri yang telah menghianati cintanya dan membuat Revan pergi.
Mobil itu terus melaju, meninggalkan kebisingan yang ada di kota ini.
Adellia terus mengemudikan mobilnya tanpa tujuan. Kini di tepi dermaga, Adellia menghentikan mobilnya.
"Revan, maafkan aku," ucap Adellia lirih. Kini gadis itu mengambil ponselnya dan melihat foto Revan, dirinya dan juga Daniel. Foto selfie mereka bertiga sebelum Revan berangkat ke Luar Negeri.
Gadis itu sangat ingat sekali sebelum Revan pergi, laki-laki itu ingin Daniel menjaga dirinya. Persahabatan yang dulu terjalin indah, kini hancur karena kesepakatan keluarga Daniel dan keluarga Adellia.
Adellia keluar dari dalam mobil. Ia menatap burung yang terbang di atas air. Gadis itu membayangkan, kalau saja dirinya seperti burung itu pasti akan bahagia, bisa pergi dan terbang kemana pun ia mau, tanpa harus ada aturan keluarga yang harus di ikuti.
Gadis itu sangat kecewa pada kedua orang tuanya, kenapa mereka tidak bilang kalau Revan hilang dan tidak ada kabar setelah kejadian di malam pertunangan itu, kenapa dirinya baru mengetahuinya sekarang.
"Kamu di mana Revan?" Adellia berjalan dengan tatapan kosong, ia berjalan melangkah menuju ke sebuah jembatan yang tak jauh dari tempat mobilnya terparkir.
"Revan, aku merindukanmu," gadis itu bicara sendiri sambil berjalan.
Hanya ada ketenangan yang Adel rasakan saat berada di tempat ini, terdengar suara kecipak air yang ada di tepi dermaga, Adellia menatap air itu dan ia kembali membayangkan, seandainya dirinya bisa memilih, ia ingin menjadi air yang bisa mengalir kemana pun ia mau, yang gadis itu tahu hanya ingin selalu bersama dengan Revan.
Gadis itu berdiri dan menutup kedua matanya saat berada tepat di atas jembatan. Mencoba mengingat saat-saat ia bersama Revan dulu. Bahagia dan tertawa saat mereka bersama, bahkan persahabatan itu selalu mereka jaga walaupun Adel dan Revan menjalin hubungan.
Kini gadis itu merasa sendirian menghadapi semua ini, Revan sudah pergi meninggalkannya dan Daniel kini juga sudah mulai menjauhi dirinya.
"Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan sekarang, hiks..." Adellia menagis saat mengingat Revan.
Kini Adellia membuka matanya perlahan, ia menatap air yang ada di depannya. Seketika ia ingin sekali menjatuhkan dirinya ke dalam air itu.
Kaki Adellia memanjat pembatas yang ada di pinggir jembatan yang terbuat dari kayu itu. Kemudian merentangkan kedua tangannya dan kembali memejamkan mata sambil tersenyum. "Revan, tunggu aku datang," Adellia mencoba menjatuhkan tubuhnya perlahan.
Gadis itu hanya bisa pasrah sekarang ini. Yang ia inginkan hanya bersama dengan Revan, orang yang paling ia cintai sejak dulu.
Suara semilir angin yang berhembus membelai rambutnya seakan Revan-nya yang telah memainkan rambut itu.
"Revan." kemudian gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke air.
Namun tiba-tiba saja Adellia merasakan ada seseorang yang kini menarik tangannya.
Gadis itu masih belum tahu siapa yang kini menariknya. Dengan cepat Adellia membuka matanya dan melihat sosok laki-laki muda yang telah berjongkok di tepi jembatan dan memegang tangannya.
"D-Daniel?" ucap Adellia lirih. Karena posisi gadis itu sekarang sedang menggantung di pinggir jembatan, kakinya sudah menyentuh air, namun ia tidak jadi terjatuh karena Daniel dengan cepat menariknya.
"Adel," dengan sekuat tenaga Daniel menarik tangan Adellia sahabat yang sekaligus tunangannya itu.
"Euh ... bertahan lah Adel," Daniel membantu Adellia kembali naik ke atas jembatan dengan susah payah.
"Niel, lepasin gue," pinta Adellia.
"Lo, jangan bodoh, ngapain lo mau nyemplung ke air? Bunuh diri lo!" Daniel marah. Seketika membuat Adellia diam.
Kini gadis itu hanya bisa menuruti Daniel yang membantunya naik ke atas jembatan. Dengan susah payah kini Adellia perlahan naik dan di bantu oleh Daniel.
Setelah berada kembali di atas jembatan. Kini Adellia duduk dengan napas yang tak beraturan. Berkali-kali gadis itu mengembuskan napas kasar.
"Ngapain sih lo di sini? Kalau mau bunuh diri jangan di sini, ngotorin tempat ini aja, sayang banget tempat seindah ini kotor gara-gara lo bunuh diri." Daniel menatap Adellia yang sedang menunduk.
"Maaf," ucap Adellia lirih.
Kemudian kini Daniel duduk di samping Adellia. "Terus kalau lo mati di sini, emangnya Revan akan datang?" selonjor kaki dan melepas jas yang di pakainya lalu memakaikan nya di tubuh Adel.
Adellia menatap Daniel. "Terima kasih Niel,"
"Gue tahu, kalau lo masih mencintai Revan," Adellia kembali menatap laki-laki muda yang ada si sampingnya. "Tapi bukan seperti ini caranya Del, dan saat lo ngerayu gue beberapa hari ini, gue tahu lo terpaksa karena tekanan dari keluarga lo kan Del?"
Daniel menatap Adellia, kini pandangan mata mereka bertemu. "Del, ini semua kesepakatan kedua orang tua kita, bukan kesepakatan kita Del, gue kenal elu sejak kecil, kita sahabatan juga sudah lama, jadi gue tahu siapa lo." lagi-lagi ucapan Daniel membuat Adellia terkejut.
Gadis itu merasa beberapa hari ini sangat buruk baginya, Revan pergi tanpa kabar dan Daniel sahabat sekaligus tuanangannya juga cuek sama dia.
"Lo benar Niel, gue memang sangat mencintai Revan, tapi gue di paksa tuanangan sama lo, dan sekarang Revan pergi tanpa ada kabar Niel, gue sangat merasa bersalah." menundukkan kepala sambil mengusap airmata yang mulai membasahi mata indahnya.
"Iya Del, gue juga baru tahu kemarin saat bertemu dengan Roy, dia belum menemukan Revan." mendongakkan wajahnya ke atas sambil menutup mata.
"Gue baru tahu Revan pergi, tadi pagi Niel, gue bener-bener kehilangan dia sekarang."
"Terus dengan lo bunuh diri kayak gini ... lo pikir Revan udah mati apa? Gue yakin Revan masih hidup selama mayat nya belum ada, gue percaya itu Del," menurunkan wajahnya kemudian menatap Adellia.
"Lo bener Niel, maaf gue nyusahin lo,"
"Gue enggak akan maafin lo, sebelum lo tersenyum!" ejek Daniel pada sahabat kecilnya.
"Iya, gue senyum nih," Adellia tersenyum dengan sedikit di paksakan.
"Mana ada senyum seperti itu Adel?"
"Ini senyuman Niel, oh iya ngapain lo di sini? Ngikutin gue ya Niel?"
"Sorry ya gue enggak ngikutin elu. Gue lagi ngecek proyek baru di sini, dan tiba-tiba saja gue lihat ada seorang gadis yang patah hati dan mau bunuh diri, kalau saja gue tahu itu elu, gue biarin aja tadi lo bunuh diri dan di sama makan ikan." Laki-laki itu tersenyum mengejek Adellia.
"Ih, dasar Daniel, jahat banget sih," mencubit lengan Daniel.
"Auw, sakit Adel," mengusap lengan yang baru saja di cubit oleh Adellia.
"Biar kapok," Adellia tertawa.
Melihat sahabatnya tertawa, kini Daniel juga ikut tertawa. "Ini baru sahabat gue," Memberikan jari kelingkingnya di depan Adel. "Demi persahabatan kita,"
Adellia tersenyum. "Iya, demi persahabatan kita." kemudian gadis itu mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Daniel sahabatnya.
*****
Di tempat lain Nessa berada di kamarnya. Gadis itu duduk sendiri di atas tempat tidurnya, ia sangat menyesali hari ini, karena gara- gara bangun kesiangan Nessa tidak bisa pergi mencari pekerjaan dan mencari kakak laki-lakinya.
"Mas Varrel, Nessa kangen, semoga Nessa cepat menemukan mu mas, biar kita bisa kembali pulang ke Semarang." ucap Nessa bicara sendiri di kamarnya.
Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh pagi. Nessa baru ingat kalau jam segini biasanya tukang sayur langganan para warga di sini lewat. Karena setok sayur di dapur sedang habis, Nessa harus belanja.
Gadis itu berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah lemari dan membuka kunci. Setelah kunci lemari itu terbuka, ia membuka pintu lemari lalu mengambil sebuah dompet berwarna hitam yang ada di antara pakaian miliknya.
"Ya Tuhan, uang tinggal segini, semoga aku cepat mendapatkan pekerjaan," ucap Nessa saat membuka isi dompet miliknya. Di dalam dompet itu hanya ada tiga lembar uang berwarna merah.
Setelah mengambil satu, lalu dengan cepat gadis itu menaruh kembali dompetnya ke dalam lemari, kemudian menutup kembali pintu lemari itu.
Nessa kini keluar dari kamarnya untuk pergi belanja di tukang sayur yang biasa berhenti di depan rumah pak haji pemilik kontrakan ini.
"Nessa, mau kemana?" tanya Revan saat melihat Nessa yang berjalan dengan terburu- buru.
"Mau belanja mas, maaf aku buru- buru," kemudian gadis itu berjalan keluar rumah meninggalkan Revan sendiri di rumahnya.
Nessa berjalan menuju ke rumah pak haji untuk belanja keperluan dapur. Karena hari sudah agak siang, makanya Nessa berjalan dengan buru- buru.
"Sayur, sayur!" terdengar suara tukang sayur itu dari kejauhan. Nessa semakin menambah kecepatan langkahnya agar cepat sampai pada penjual sayur itu.
Dari kejauhan, tukang sayur itu sudah di kerumuni oleh lima orang ibu- ibu yang sedang memilih belanjaan.
"Sayur, sayur!" seru abang tukang sayur itu.
"Bang, sayur bang," Kata Nessa saat baru saja sampai.
"Mari mbak Nessa belanja, sayur nya seger- seger ini, silahkan belanja mbak," ucap abang tukang sayur sambil tersenyum ramah pada Nessa.
Sedangkan para ibu- ibu ibu saling sikut dan bisik- bisik saat melihat Nessa datang.
Nessa dengan cepat memilih banyak sayuran hijau dan juga daging ayam untuk menu masakan sore ini tak lupa juga setengah kilo telur ayam untuk setok di dapur nya.
"Mbak Nessa, tumben belanja banyak? Biasanya kan mbak Nessa belanja sedikit," ucap ibu Siti yang rumahnya di ujung gang.
"I-iya..." belum sempat Nessa menjawab, ada ibu Titik yang tiba-tiba saja memotong ucapan Nessa. "Kan sekarang tidak sendirian lagi bu ibu," dengan gayanya yang sok kecakepan.
Nessa hanya mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan ibu Tutik. "Mbak Nessa, laki-laki yang ada di rumah mbak Nessa siapa sih? Cakep amat ya?" tanya bu murni penasaran.
"I-itu saudara bu," jawab Nessa.
"Enggak percaya ah, kalau itu saudara nya, mana ada saudara yang melihat mbak Nessa sambil senyum-senyum sendiri, saya lihat sendiri loh ibu- ibu." ucap bu Tutik.
Tiba-tiba saja Nessa tidak bisa menjawab pertanyaan para ibu-ibu itu. Gadis itu terdiam, berdiri dengan tubuh yang gemetar.
Melihat Nessa menundukkan wajahnya. Tiba-tiba saja bu Yanti bicara. "Jangan begitu bu ibu, nanti timbul fitnah loh bu, sudah mbak Nessa jangan dengerin ucapan ibu- ibu di sini ya,"
"Ini belanja mbak Nessa totalnya lima puluh ribu ya mbak," Kata abang tukang sayur itu pada Nessa.
"Eh, I-iya bang, ini uangnya." memberikan selembar uang seratus ribu pada abang tukang sayur itu.
Setelah Nessa mengambil uang kembalian, lalu gadis itu pergi tanpa pamit pada ibu - ibu yang masih memilih belanjaan.
Nessa berjalan dengan langkah cepat meninggalkan orang- orang tadi. Gadis itu tiba-tiba saja ingat kalau yang di katakan oleh ibu- ibu tadi adalah benar, kalau ia dan Revan sudah tinggal bersama satu minggu ini dalam satu atap.
Gadis itu baru menyadari kalau memang ia salah, ia seorang gadis sedangkan Revan laki-laki yang bukan muhrim nya. Dan sekarang orang- orang sudah pada tahu kalau Nessa membawa laki-laki ke rumahnya.
Setelah sampai di depan rumah. Nessa tiba-tiba saja berhenti sejenak dan mengambil napas dalam- dalam untuk menenangkan hati dan pikirannya.
Setelah merasa sedikit tenang. Nessa kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Setelah sampai di teras, Nessa dengan hati-hati membuka pintu depan. Di dalam sana, Nessa melihat Revan yang tersenyum menyambut kedatangannya.
"Sudah belanja nya?" tanya Revan penasaran, kemudian laki-laki itu berdiri dari duduknya dan tersenyum melihat Nessa.
Sedangkan Nessa seketika berhenti di depan pintu menatap Revan. "Saya tanya kok tidak di jawab? Sudah selesai belanja nya?" Revan mengulangi pertanyaan nya.
"Ah, iya, sudah." lalu Nessa berjalan meninggalkan Revan. Gadis itu berjalan menuju dapur dan menyimpan belanjaan nya.
Nessa mulai mencuci sayur dan barang belanjaan nya dengan air yang mengalir di wastafel. Setelah semua selesai di cuci, lalu memasukkan nya ke dalam lemari pendingin, kemudian menutup nya.
Gadis itu berdiri. dan kini duduk di kursi yang ada di samping lemari pendingin itu. "Apa yang harus aku lakukan sekarang ya Tuhan, apa aku harus mengusirnya?" ucap Nessa bingung.
Ia ingin mengusir Revan, tapi ia kasihan pada laki-laki muda itu. Karena beberapa hari ini Revan sering sakit, dan laki-laki itu juga tidak ingat di mana rumahnya, jadi apa Nessa tega akan mengusir.
"Aku harus bicara pada Revky," berdiri dari duduknya. Lalu berjalan menuju ruang tamu untuk menemui Revan.
"Mas Revky," ucap Nessa lirih saat melihat Revan duduk.
"Nessa, apa kamu sakit?" Revan menatap Nessa yang masih berdiri.
"T-tidak," jawab Nessa singkat, kemudian ia duduk di samping Revan.
"Mas, apa kamu sudah ingat di mana rumah mu? Aku antar pulang ya?" ucapan Nessa membuat Revan terkejut. Laki-laki muda itu bingung harus jawab apa, karena ia tidak mau pulang ke rumahnya untuk saat ini.
Revan masih sakit hati kalangan harus mengingat kejadian malam itu. Apalagi harus pulang ke rumahnya, itu artinya ia harus kembali ke kehidupannya bersama dengan orang-orang yang telah menghianatinya.
"Mas, kok melamun, apa sudah ingat?" menatap Revan yang sedang melamun.
"S-saya tidak ingat," jawab Revan gugup.
"Lalu apa mas Revky mau tetap tinggal di sini?"
"Iya, saya ingin tetap tinggal di sini, kalau Nessa tidak keberatan,"
"Mas, kita bukan muhrim dan sudah tinggal satu atap delapan hari, apa kata orang-orang nanti?"
Revan tercengang mendengar ucapan Nessa, laki-laki itu menatap Nessa, dan melihat bulir airmata yang keluar dari mata cantiknya, kemudian laki-laki itu mengusapnya dengan lembut, perhatian yang si berikan oleh Revan, membuat hati Nessa sedikit hangat.
Saat menyadari Revan menyetuh pipinya, Nessa dengan cepat menundukkan wajah lalu mengusap pipinya sendiri dengan cepat.
"Maaf, saya tidak bermaksud..." ucapan Revan berhenti. "Tidak apa-apa mas," Nessa masih menunduk malu.
"Nessa, tolong izinkan saya tinggal di sini beberapa hari lagi, saya janji akan segera pergi dari sini," memegang bahu Nessa dengan kedua tangannya. Pandangan mata mereka berdua kini bertemu untuk beberapa saat.
Nessa mengangguk. Mata gadis itu mengeluarkan airmata dan Revan segera menghapus airmata itu lagi. Laki-laki itu tidak tega melihat gadis baik seperti Nessa menangis.
*****