“Ketika satu persatu fakta terbuka. Dan aku hanya perlu menerima tanpa bisa membantah.” @atiikaaru
MALAM ini udara terasa begitu dingin ketika aku memutuskan keluar balkon di lantai dua. Piyama satin yang kugunakan bergerak terkena embusan angin malam, merayapi tubuhku yang kini mengigil kedinginan. Aku mengusap-usap lengan dan telapak tanganku mencari kehangatan kemudian berniat masuk karena takut terserang flu.
Tapi urung kulakukan ketika kedua mataku melihat pintu rumah Emily terbuka. Sudah pukul sepuluh dan pintu rumah Emily masih terbuka lebar, apa dia sedang kedatangan tamu? Tidak mungkin, mana ada tamu datang selarut ini.
Melihat dua anak kembar keluar dari sana dalam posisi menangis membuat dahiku berkerut cemas. “Kalian mau ke mana ini sudah malam! Mommy kan menyuruh kita menunggu di rumah! Kalian anak kecil susah sekali mengerti!” bentakan seorang anak perempuan yang tidak lama ikut keluar bersama mereka membuat tangisan anak kembar itu semakin kencang.
Merasa ada yang tidak beres aku segera keluar dan menuruni tangga menuju rumah Emily. Mereka pasti anak-anak Emily, Nicole dan si kembar Stevan dan Stefany.
“Anak-anak ada apa?” Nicole menyambut kedatanganku dengan raut tajam. Sedangkan Stevan dan Stefany langsung berhambur memelukku, mungkin mereka takut pada kakaknya yang galak.
“Stevan! Stefany! Apa yang kalian lakukan, jangan memeluk orang asing sembarangan!” maki Nicole seraya menarik tangan adik-adiknya supaya lepas dari pelukanku.
“Nicole, hei… tenanglah. Namaku Afra, aku sudah kenal dengan ibumu, kita tetangga, bukan orang asing.”
Nicole melepas tarikan di tangan adiknya lalu memicingkan mata menatapku. “Bohong! Mana ada tetangga yang peduli pada kami di sini! Kau punya rencana jahat pada adikku kan? Jangan pura-pura baik di depan kami, sebaiknya kamu pergi!”
Nicole mendorongku hingga tubuhku terhempas mundur beberapa langkah. Dia kemudian merengkuh adik-adiknya seolah ingin melindunginya. Aku tersenyum melihat sikap Nicole, ternyata dia cukup posesif sebagai kakak.
“Maaf, aku sama sekali tidak memiliki niat buruk pada adik-adikmu. Aku datang karena melihat Stevan dan Stefany menangis malam-malam. Di mana Emily?”
Dahi Nicole mengernyit, “Darimana kamu tahu tahu nama adikku Stevan dan Stefany, juga nama Mommyku!”
Lagi-lagi aku membalas tatapan tajam Nicole dengan senyuman sambil berkata, “Sudah kubilang aku mengenal ibumu. Kemarin aku berkunjung ke rumahmu, kebetulan kamu tidak ada di rumah karena Emily bilang kamu ada kerja kelompok.”
Wajah Nicole terkejut, setidaknya dia sedikit memercayai ucapanku. “Apa ibumu tidak ada di rumah? Ini sudah malam dan kenapa Emily meninggalkan anak-anaknya sendirian di rumah?”
Ekspresi Nicole berubah sedih, wajahnya menunduk serta bibirnya bergetar. “Daddy… kecelakaan.”
“Astagfirullahaladzim, lalu bagaimana keadaannya sekarang?” Aku menekan daaddaku yang turut sedih mendengar berita berusan.
Kepala Nicole menggeleng, “Belum tahu. Kami baru dapat telepon dari rumah sakit pukul sembilan tadi. Adik-adikku sudah tidur dan Mommy menyuruhku tetap di rumah menjaga mereka sementara dia pergi ke rumah sakit sendirian.”
Pantas saja aku tidak melihat mobil Emily terparkir di halaman, rupanya wanita itu sedang pergi ke rumah sakit. “Dan tiba-tiba saja si kembar menangis mencari Mommy, aku memberitahu mereka kalau Mommy pergi ke rumah sakit dan kami harus menunggu di rumah. Tapi anak-anak ini sama sekali tidak mengerti perkataanku dan malah kabur keluar.”
Tanganku menyentuh bahu Nicole, “Tidak apa-apa, ada tante di sini. Lebih baik kamu menelepon Emily dulu, kasihan dia pasti gelisah di sana, memikirkan keadaan suaminya dan juga anak-anaknya di rumah.”
Nicole tertegun mendengar nasihatku, awalnya dia hanya bergeming karena berpikir, tetapi akhirnya mengangguk mengikuti saranku.
“Stevan… Stefany… jangan menangis lagi ya, sini sama tante.” Si kembar lalu berlari memelukku, bahkan mereka mengulur-ulurkan tangan meminta digendong.
“Silahkan masuk. Aku akan menelepon Mommy jadi minta tolong jaga adik-adikku dulu ya Tante.”
Senyumanku melebar menerima perbedaan nada suara Nicole yang mulai lembut saat bicara padaku. “Iya Nic.”
Sepeninggalan Nicole, kini aku direpotkan oleh si kembar yang meminta digendong bersamaan sekaligus. Beruntung tubuh mereka cukup ringan sehingga aku sanggup menggendong mereka berdua dan membawanya masuk ke ruang tamu.
♥♥
Waktu berjalan cepat, tidak terasa sudah tiga bulan aku tinggal di sini. Sebentar lagi Gibran pulang, membayangkan kehadiran laki-laki itu di rumah ini membuat jantungku berdegup kencang. Persis seperti anak ABG yang mau diapeli pacarnya, mungkin begitulah perasaanku sekarang.
Aku mematut penampilan di cermin. Heran dengan diri sendiri sebab akhir-akhir ini sering memperbaiki penampilan, aku bahkan mengikuti saran Emily melakukan perawatan dan hasilnya cukup memuaskan karena sekarang kulit wajah dan tubuhku terlihat lebih bersih dan cerah dari sebelumnya.
Jangan tanya aku melakukan perawatan apa karena aku bukan model iklan yang akan mempromosikan sesuatu meskipun dibayar. Oke, sekarang aku mulai bicara melantur. Mungkin efek gugup mengetahui sebentar lagi bertemu Gibran.
Wajahku tidak secantik Kendall Jenner, jauh berbeda dengan wajah Gibran yang mirip model-model terkenal. Tiba-tiba aku merasa rendah diri, bagian mana dari diriku yang kira-kira membuat Gibran menyukaiku.
Ah… Afra bodoh, dia menikahimu cuma karena kasihan.
Daaddaku penuh oleh sesak. Saat Gibran tiba di rumah, apakah hari itu juga dia akan menceraikanku? Ya Allah… bibirku mungkin mudah mengatakan aku baik-baik saja, tetapi perasaanku sama sekali tidak siap mendengar kata cerai dari mulutnya.
Bohong kalau aku harus mempersiapkan diri kapanpun, kenyataannya aku telah jatuh cinta pada Gibran dan tidak rela harus berpisah darinya. Air mataku menetes, isak tangisku mulai terdengar. Akhirnya aku menangis ketika sebelumnya mencoba menahan.
“Hiks… ibu, ayah… Ada kalanya lebih baik aku bersama kalian di surga.”
Aku bersimpuh di lantai, berbalik menyandarkan punggung ke cermin, menekuk kedua lutut dan mendongak menatap langit-langit kamar meratapi nasib.
♥♥
Aku terbangun tengah malam dalam kondisi memeluk lutut di depan lemari cermin. Karena lelah menangis, aku akhirnya tidak sengaja ketiduran di posisi yang sama. Membuat tubuhku sekarang merasakan pegal-pegal dan kakiku terasa kesemutan. Dengan hati-hati aku berdiri kemudian keluar kamar menuju dapur untuk menegak segelas air mineral.
Ceklek…
Wajahku berpaling ke sumber suara yang mirip pintu terbuka, berasal dari ruang tamu. Bibi Lana selalu mengunci pintu rumah sebelum tidur dan sekarang sudah lewat tengah malam hingga tidak mungkin ada seseorang yang keluar-masuk di rumah sembarangan.
Jangan-jangan maling!
Keadaan rumah yang gelap menyulitkanku melihat siapa orang yang masuk ke dalam rumah. Cahaya dari jendela kaca dekat pintu menjadi satu-satunya petunjuk bagiku untuk bisa melihat siluet seseorang menyeret tas besar mirip karung beras.
Kedua tanganku menutup mulut, aku bahkan mengatur napas sepelan mungkin karena takut ketahuan sedang mengawasinya.
Gawat! Situasi ini mirip film pembunuhan yang kulihat di televisi beberapa hari lalu saat si psikopat membunuh korbannya lalu memasukkannya ke dalam karung sebelum membuangnya ke sungai.
Jangan-jangan tas yang sedang diseret penjahat itu juga berisi mayat. “Bagaimana kalau penjahat itu lebih dulu membunuh bibi Lana? Dan tas yang sedang diseretnya sekarang berisi jenazah bibi Lana!” Aku berbisik panik seorang diri.
Menjauhi sekat dinding, aku kembali ke dapur untuk mengambil pisau paling besar dan tajam yang bisa kugunakan sebagai senjata. “Aku harus telepon polisi. Tapi ponselku ada di kamar, kalau ke sana aku harus melewati ruang tamu dan masalahnya penjahat itu masih ada di sana. Lalu aku harus bagaimana?” Aku berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Pikiranku sibuk mencari ide.
Lalu tiba-tiba teringat telepon rumah yang berada di ruang baca. Ruangan itu tidak jauh dari dapur, dan yang terpenting tidak harus melewati ruang tamu. Bagus… aku lantas berjalan mengendap-endap ke sana supaya tidak ketahuan.
Setiba di depan pintu ruang baca, tanganku hampir saja menyentuh handel tapi lampu rumah lebih dulu menyala dan membuat aku terkejut setengah mati. Aku melihat bayangan seseorang di belakang sedang berjalan mendekat.
Refleks aku membalikkan punggung sambil menodongkan sebilah pisau tepat di bawah dagunya yang terangkat hingga pisauku gagal mengenainya dan berakhir menggantung hampir menyentuh kulit lehernya.
“Wah… kamu menyambutku dengan cara yang tidak biasa,” kekeh Gibran.
Mataku membulat, mulutku melongo, sama sekali tidak menyangka orang yang kukira penjahat adalah suamiku sendiri. “Maaf,” aku segera menjatuhkan pisauku lalu menatap khawatir Gibran.
“Istriku ini ternyata sangat pemberani, kamu membuatku terkejut sekaligus terkesan.” Wajahku meringis mendengar ucapan Gibran antara ingin memuji atau meledek.
“Kamu masuk lewat pintu malam-malam begini padahal bibi Lana sudah menguncinya. Jangan salahkan aku yang mengira kamu penjahat,” protesku, terlepas dari apa yang sedang terjadi, aku baru sadar kalau Gibran sekarang sedang memakai seragam tentara.
“Ka-kamu…” Aku menatap penampilan Gibran dari atas sampai bawah. Baret biru, seragam loreng, kalung rantai Dog Tag, juga sepatu PDH khusus, aku tidak salah mengenali seseorang kan?
“Ya, aku seorang militer.”
Demi apapun yang ada dimuka bumi ini, Gibran adalah seorang tentara! Tidak mungkin, ini pasti hanya halusinasiku saja karena beberapa hari ini sering ikut menonton drama korea Descendants of the Sun yang diputar Nicole.
Tanganku memegang kepala yang berdenyut. Efek terlalu lama menangis tadi atau mungkin karena terlalu pusing memikirkan apa yang sedang terjadi sekarang, entahlah… rasanya kepalaku mau pecah.
“Kamu sakit? Wajahmu pucat.” Gibran bertanya cemas, lalu menempelkan telapak tangannya ke dahiku, “Afra kamu demam!”
Aku menatap tangan Gibran yang merengkuh pundakku, mendadak merasa canggung sehingga terpaksa melepas tangannya. “Aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing.”
Wajahku terangkat melihat Gibran karena tinggi badannya melebihi tinggi badanku, lalu berujar, “Kamu pasti lelah, kamu harus segera istirahat di…” mataku mengerjap memikirkan tidak ada kamar lain selain kamar yang biasa kutempati. Apa ini tandanya, dia harus tidur sekamar denganku!
“Kamu bisa tidur di kamar, aku akan tidur di sofa.” Akhirnya aku mendapatkan kembali suaraku setelah sebelumnya terjebak perang batin.
Salah satu alis Gibran terangkat, “Kenapa tidak tidur sama-sama saja? Kamu juga sedang sakit, mana mungkin aku membiarkanmu tidur di sofa.”
Aku menyeringai, romantis sekali ucapan laki-laki ini. Gibran bisa saja bersikap sok peduli padaku, tapi aku jelas sadar kalau semua ini hanya pura-pura.
“Tidak apa, aku akan tidur di sofa.” Aku melangkah lebih dulu meninggalkan Gibran, tapi laki-laki itu mencekal pergelangan tanganku.
“Tidak usah malu-malu, kita bisa tidur seranjang.” Usai mengatakan itu, Gibran tanpa permisi menggendong tubuhku ala bridal dan membawaku masuk ke dalam kamar.
“Hei! Kenapa aku harus tidur denganmu?” makiku setelah Gibran menjatuhkanku di atas tempat tidur. Gibran memutar bola mata, “Karena kita sepasang suami-istri, bukankah wajar kalau tidur bersama?”
“Tidak! Lagi pula, sebentar lagi kau juga akan menceraikanku, jadi untuk apa aku tidur denganmu,” kataku lalu turun dari ranjang. Gibran terkejut, dia kemudian berdiri di depanku yang duduk di pinggir ranjang, menghalangi jalanku.
“Siapa yang bilang aku akan menceraikanmu?”
Tubuhku membeku, terkejut mendengar nada dingin serta wajah mengerikan yang sekarang sedang Gibran tunjukkan padaku. Membuatku sempat bertanya-tanya, di mana sosok Gibran yang hangat dan humoris?
BERSAMBUNG...