04 |PERUBAHAN

1534 Words
“Ternyata langit tak selamanya berwarna biru, sama halnya denganku yang tak selamanya memilikimu.” @shahnazmomoy SEPERTI yang sudah kusepakati kemarin, siang ini aku kembali mengunjungi rumah kuning seberang rumahku. Hari ini aku melihat mobil hitam terparkir di halaman rumahnya di saat kemarin aku tidak melihat mobil itu di sana, bisa jadi kemarin aku salah dengar suara televisi dan mungkin saja pemilik rumah ini memang sedang tidak ada di rumah waktu itu. Tanganku memencet tombol bell sambil berharap pemilik rumah membukakan pintu. Kemudian doaku terjawab, tidak lama setelah menekan bell pintu rumah ini akhirnya terbuka. Menampilkan sosok wanita bule muda yang tengah melempar senyum padaku. “Hai, apa kamu orang baru yang tinggal di depan rumahku?” Wanita itu lebih dulu memulai obrolan. Aku senang karena sepertinya dia tipe wanita yang ramah. “Ya, kenalkan namaku Afra Naila Arkana. Ini, ada sedikit hadiah dariku.” Aku menyodorkan kotak kue buatanku kemarin. Wanita itu menerimanya dengan senang hati, “Wah… terima kasih. Namaku Emilyta Chilsvester.” Aku mengerjap mendengar namanya yang sulit sekali dilafalkan, sementara Emily tertawa sambil berkata, “Tidak biasa mendengar namaku ya? Hahaha, tidak apa. Kamu bisa memanggilku Emily.” Aku meringis seperti orang bodoh lalu mengangguk saat Emily menyilakanku masuk ke dalam rumahnya. Pandanganku terpaku pada bingkai foto pernikahan Emily yang tertempel di dinding dekat vas bunga. Bahkan suami Emily juga seorang bule, lalu untuk apa para bule ini tinggal di Indonesia? “Suamiku adalah dosen sastra Indonesia di Universitas Indonesia. Dia begitu tertarik dengan keunikan budaya Indonesia sehingga kami pun memutuskan pindah ke negara ini.” Aku berbalik dan menemukan Emily sudah kembali ke ruang tamu sambil membawa nampan berisi minuman. “Sudah berapa lama kalian tinggal di Indonesia?” tanyaku saat kami duduk berdampingan di sofa. “Emm… hampir tiga tahun,” jawabnya sedangkan aku mengangguk-angguk. Meluaskan pandangan ke segala penjuru rumah Emily hingga tidak sengaja melihat bingkai foto di dalam lemari dekorasi. “Kalian punya anak kembar?” Aku terkejut seraya memperhatikan foto keluarga Emily dari jauh. Emily tersenyum manis mendengar pertanyaanku, “Iya.” “Anak pertamaku kelas dua SMP, namanya Nicole. Sedangkan anak kembarku baru berusia tiga tahun, mereka bernama Steven dan Stefany. Lain kali aku akan memperkenalkannya padamu, hari ini Nic ada kerja kelompok jadi belum pulang sekolah sedangkan si kembar masih tidur.” Aku memangku tangan iri, “Senangnya punya anak kembar selucu mereka.” Emily tertawa, “Sayangnya mereka agak merepotkan karena masih kecil.” Tatapanku berpindah ke arah Emily, “Semua anak pasti merepotkan, tapi juga harta tak ternilai bagi kita sebagai seorang ibu.” “Good! Kalau kamu Afra?” “Apa?” “Kamu sudah memiliki anak?” Anak ya… apa aku bisa memiliki anak bersama Gibran? Kepalaku spontan menggeleng, berharap apa sih aku ini! Kami jelas-jelas akan bercerai suatu saat nanti, tidak mungkin berencana memiliki anak. “Belum ya? Tidak apa, nanti juga dikasih sendiri.” Emily mengelus pundakku, senyuman yang dia berikan sangat tulus. Dari beberapa tetangga yang aku datangi, entah kenapa aku lebih nyaman berbincang dengan Emily. Padahal dia bukan warga negara asli, agama kami juga berbeda, namun tutur kata serta keramahan wanita ini benar-benar telah membuatku menganggapnya sebagai saudara. “Afra, maukah kamu jadi sahabatku?” Tidak menunggu lama aku langsung menganggukkan kepala kemudian bingung ketika wajah Emily justru terlihat sedih. “Ada apa Emily?” tanyaku. Emily tersenyum haru dan matanya berkaca-kaca, “Kamu orang pertama yang mau bersahabat denganku. Karena perbedaan ras dan agama, warga di sini menjauhiku. Suamiku sering pulang larut karena ada kelas malam, anak pertamaku sangat pendiam dan cuek, jadi sebelum si kembar lahir aku selalu kesepian.” Tanganku merengkuh bahu Emily, “Mulai sekarang kamu tidak akan kesepian lagi. Kalau perlu bantuan, kamu bisa cari aku. Sebagai sahabat aku akan selalu ada untukmu.” Emily terisak pelan di bahuku sementara tanganku mengusap punggungnya menenangkan. Banyak orang baik yang kukenal selama ini, tetapi memiliki seorang sahabat juga merupakan hal baru untukku. Mungkin aku sepemikiran dengan Emily, ini pertama kalinya kami memiliki seorang sahabat. Semoga setelah ini hubungan kami akan lebih baik. ♥♥ Aku pulang ke rumah dengan perasaan gembira. Bayangkan saja, semua tetangga di sini menerimaku dan hari ini aku mendapat seorang sahabat. Andai pernikahanku dan Gibran sungguhan, aku pasti akan senang sekali hidup di sini. Kakiku berhenti berjalan ketika melintasi ruang tamu yang terlihat sedikit janggal karena keberadaan laptop di atas meja. Sebelumnya aku belum pernah melihat laptop itu di rumah ini, bibi Lana dan pak Toni tidak mungkin menggunakan teknologi modern seperti ini dan Gibran juga tidak mungkin sudah pulang karena belum tiga bulan berlalu. Lalu, ini laptopnya siapa? Rasa penasaran memicu kedua kakiku untuk berjalan mendekatinya. Aku duduk di sofa berhadapan dengan laptop yang terbuka layarnya kemudian terkejut saat melihat sebuah video berjalan di sana. Di video itu aku bisa melihat beberapa orang berseragam TNI melintas sambil membawa senjata. Terlihat juga beberapa dari mereka mengobrol. Keningku mengernyit, mana mungkin mereka bicara sesantai itu sambil mengenteng-enteng pistol sebesar Bazoka? Di kejauhan aku juga bisa melihat sebuah tank dan mobil khusus yang sering kulihat di adegan film action. Membuat aku benar-benar tidak mengerti, siapa orang yang sengaja meletakkan laptop di sini dan memutar video tidak jelas ini? Pandanganku seketika waspada ketika layar video diputar hingga aku bisa melihat sosok Gibran mengenakan kaos putih oblong dengan celana hijau pupus sedang duduk di sofa bekas depan tenda. Mataku mengerjap beberapa kali, kenapa Gibran ada di sana? Di lingkungan penuh militer dan bahaya seperti itu. “Assalamualaikum Afra.” Aku terkejut saat Gibran melontarkan salam seakan tahu aku sedang melihatnya. “Kamu dari mana? Kok pakaian kamu rapi?” Mataku turun memperhatikan pakaianku lantas kembali menatap layar dengan ekspresi kaget, “Darimana Gibran tahu aku pakek pakaian rapi?” Gibran tertawa terbahak, “Hahaha, kamu lucu kalau kaget.” Tanganku spontan memegang pipi sedangkan kepalaku menggeleng ngeri, “Ada yang nggak beres sama video ini. Kok Gibran bisa tahu aku lagi kaget, dan pakek pakaian rapi?” Gibran menahan tawanya sebisa mungkin hingga kini laki-laki itu tersenyum geli melihat sikapku. “Afra, ini namanya video call.” “APA!” Aku buru-buru menutup mulutku yang berteriak terlalu keras. Perbuatan yang menyebabkan tawa Gibran pecah seketika. Pipiku memanas, lalu karena terlalu malu aku akhirnya berpindah dari depan laptop. “Bodoh, bodoh, bodoh! Mana mungkin aku nggak bisa bedain video biasa dengan video call! Arrgghh…” Aku memukuli kepalaku seperti orang gila lalu berakhir menjambak rambut frustasi. “Afra, sejak kapan kamu pulang?” Bibi Lana datang dari lantai atas. “Ekhm… belum lama kok Bi.” “Oh ya, tadi bibi terima paket dari Tuan isinya laptop itu!” Bibi Lana menunjuk laptop di atas meja. “Terus sama kurirnya dibenerin juga laptopnya buat video call soalnya Tuan Gibran mau ngobrol langsung sama kamu. Karena kamu belum pulang dan bibi nggak tahu cara pakainya, video call-nya masih jalan sampai sekarang. Sana ngobrol sama Tuan! Dia sudah nungguin kamu.” Wajahku meringis mendengar cerita bibi Lana, telat banget Bi beritahunya. Gibran sudah terlanjur lihat aku di sana dan dengan bodohnya aku mengira sedang menonton video biasa, tahu-tahunya ternyata video call beneran. Tubuhku bergeming, menolak bertemu Gibran dengan menggelengkan kepala pada bibi Lana yang menentang dan terpaksa mendorong punggungku sampai duduk kembali di sofa menghadap layar. Gibran yang sedang minum segera meletakkan gelasnya dan tersenyum cerah melihatku. Sedangkan wajahku cemberut, setengah hati bicara dengannya karena masih malu atas kebodohanku sebelum ini. “Afra, umur kamu berapa?” Pertanyaan Gibran menambah kekesalanku. “Kenapa tiba-tiba tanya umur?” Aku bertanya balik. Gibran terkekeh, “Karena sikap kamu masih kayak anak-anak.” Alisku bertaut, bibirku manyun, dan tingkat kekesalanku sudah mencapai level teratas. Aku lantas menggerutu, “Sejak ayahku meninggal, di umur tiga belas tahun aku sudah bekerja dan sangat mengerti apa itu artinya kedewasaan. Kamu tidak bisa menyebutku kekanakan.” Senyuman gemas terulas di bibir Gibran, “Aku tahu, ibumu pernah cerita padaku.” Tanganku terlipat di depan daadda, “Kalau sudah tahu kenapa masih menyebutku seperti anak kecil?” cetusku. “Kamu itu terlalu polos disebut orang dewasa. Buktinya nggak bisa bedain mana video, mana video call.” Gezz… ujung-ujungnya dia cuma mau mengejek aku. “Hahaha, jangan ngambek sayang.” Hatiku berdesir, barusan dia panggil aku siapa? Sayang? Sayang pala lu peyang! Pasti aku salah dengar. “Jadi bagaimana rasanya tinggal di rumah? Senang?” Pertanyaan Gibran otomatis mengingatkanku pada Emily, memudarkan rasa kesalku seketika. “Ya! Aku bahkan sudah punya sahabat, selain itu semua tetangga di sini baik padaku,” ungkapku dengan mata bersinar. Gibran tersenyum lega, “Kamu orang yang ramah dan pandai bergaul. Kayaknya aku nggak perlu khawatir kamu bakal kesepian tanpa aku.” “Tapi aku juga pengen kamu ada di sini.” Upss… keceplosan. Salah tidak ya aku bilang begitu pada Gibran? Aku menggigit bibir cemas. Alih-alih mencemaskan reaksi Gibran, pria itu justru tertawa. “Afra, kamu suka padaku ya?” Meskipun pertanyaan itu dilontarkan dengan sarat bercanda tetapi aku sangat tidak suka mendengar jawabannya. Karena hatiku sepertinya memang telah terjatuh untuknya sedangkan aku seharusnya tidak boleh menyerahkan perasaanku pada Gibran. “Apa Bi! Bibi nggak bisa matiin kompor? Oke-oke, Afra ke sana.” Aku menatap kembali layar laptop yang menunjukkan kebingungan Gibran, “Sudah dulu ya Gibran, bibi Lana perlu bantuan. Dahh…” Karena tidak tahu mana tombol yang digunakan untuk memutus panggilan, aku langsung menutup layar laptopnya. Mendadak merasa bersalah telah berbohong soal bibi Lana. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak tahu harus menjawab pertanyaan Gibran, jadi… kuhindari saja. Lagi pula, mau aku jatuh cinta padanya atau tidak, toh tidak lama lagi hubungan kami juga akan berakhir. BERSAMBUNG...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD