03 |PULANG KE RUMAH

1354 Words
“Selalu ada kesempatan untuk mengubah segalanya ke arah lebih baik.” @atiikaaru SEJAK pertemuanku dengan Gibran di atap gedung rumah sakit dua minggu lalu aku tidak akan lagi melihatnya sampai tiga bulan ke depan seperti yang Gibran janjikan padaku saat itu. Usai mengantarku kembali ke kamar inap, Gibran mendapat telepon dan langsung buru-buru pergi setelah itu. Dan saat Gibran mengangkat telepon aku tidak sengaja mendengarnya memanggil nama seorang wanita bernama Rini. Pikiran buruk seketika memenuhi kepalaku hingga membuatku terus merasa gelisah. Bertanya-tanya apakah Rini adalah istri pertama atau kedua selain aku, bertanya-tanya apakah pernikahan kami menyalahi aturan sekaligus merasa takut akan ada pihak-pihak yang membenci diriku karena menentang pernikahanku dan Gibran. Semakin dalam aku memikirkan tentang itu, semakin tidak jelas pula apa jawabannya. Untuk saat ini aku hanya berpasrah pada-Nya, apapun yang terjadi pada hubungan kami, seperti yang kutekankan tempo hari pada diriku sendiri bahwa aku harus selalu siap menghadapi kenyataan terpahit. “Afra.” Panggilan dokter Winda yang tahu-tahu sudah berdiri di sampingku membuat aku tersadar dari lamunan. “Eh, dokter. Sejak kapan masuknya?” Dokter Winda geleng-geleng kepala heran, “Mangkannya kamu jangan ngelamun aja.” Aku menggaruk tengkuk sambil cengengesan menjawab perkataannya. Dokter Winda kemudian memeriksa denyut jantungku menggunakan stetoskopnya lalu bicara setelah menyelesaikan tugasnya. “Besok kamu sudah bisa pulang.” “Serius dokter?” tanyaku dengan raut bahagia. Dokter Winda mengangguk sembari tersenyum. “Akhirnya… aku bisa pulang juga. Aku tidak sabar ingin kembali melakukan aktivitasku seperti dulu, dan aku juga tidak sabar ingin menjenguk makam ibu.” Mendengar kalimat terakhirku, senyuman di bibir dokter Winda melenyap. “Dokter tidak perlu cemas padaku. Aku sudah mengikhlaskan ibu, jadi aku akan baik-baik saja tanpa dia.” Kupikir dengan mengatakan itu bisa membuat dokter Winda lega, tetapi sebaliknya perempuan berjas putih itu justru menangis lalu mendekap tubuhku. “Empat tahun hiks… empat tahun sudah aku mengenal kalian yang telah mengajarkan banyak hal padaku tentang arti kehidupan yang sesungguhnya.” Mataku ikut berkaca-kaca akibat terharu. “Dokter adalah orang yang paling berjasa bagi aku dan ibu. Terima kasih sudah menjadi dokterku selama empat tahun ini.” Aku merasakan tangan dokter Winda mengusap punggunggku naik-turun. “Hikss… kamu dan ibumu sudah kuanggap keluargaku sendiri. Kuharap setelah ini hubungan kita masih akan terus berlanjut.” Aku merenggakan pelukan kami dan menatap wajah sembab dokter Winda, “Tentu saja. Aku akan sering mengunjungi dokter.” Dokter Winda tersenyum haru dan kembali memeluk tubuhku lebih erat. Hari ini aku tersadar akan satu hal, meskipun ibu dan ayah telah pergi meninggalkanku tetapi Allah tidak membiarkan aku bertahan sendirian. Aku bersyukur Allah menghadirkan banyak orang-orang baik di sekitarku. Berharap masa depan bahagia yang sempat aku mimpi-mimpikan terwujud menjadi kenyataan. ♥♥ Kesan pertamaku setelah melihat rumah Gibran adalah merasa takjub. Rumah minimalis dengan desain eye-catching sama sekali tidak terpikirkan akan menjadi pilihan seorang Gibran Dharma Alexi. Aku merasa rumah ini terlalu feminim untuk Gibran yang terkesan gentleman. Atau sebelum diperuntuhkan untukku, Gibran menyiapkan rumah ini untuk orang lain yang menyukai arsitektur. Dan orang lain yang kumaksud mungkin saja mantan kekasihnya, atau kekasih gelapnya? Ah sudahlah, aku berpikir terlalu jauh. Lama-lama aku malah suudzon dengan suamiku sendiri. “Nyonya Afra, selamat datang di rumah.” Seorang wanita paruh baya kira-kira berusia lima puluh tahunan turun dari tangga dan berlari menyambutku. “Nama saya Lana, saya pengurus rumah yang sudah bekerja sejak Tuan Gibran masih kecil. Senang bertemu dengan Anda.” Aku meringis canggung, “Bibi, jangan terlalu formal dan panggil aku Afra saja ya.” Bibi Lana membantah, “Tidak, Nyonya adalah istri Tuan, jadi saya harus memanggil Anda Nyonya.” Tanganku menggenggam kedua telapak tangan bibi Lana, “Sejak kecil aku diajari untuk selalu menghormati orang tua, jadi aku mohon panggil aku Afra saja ya Bi.” Bibi Lana tertegun melihat keramahanku, beberapa detik kemudian wanita itupun memutuskan menganggukkan kepala, “Yasudah kalau begitu, saya panggil Afra saja ya.” Senyumanku melebar, “Iya Bi, terima kasih.” “Ayo kita masuk ke dalam. Bibi sudah siapin makanan buat kamu, Afra kan baru pulang dari rumah sakit, harus makan yang banyak.” Kepalaku mengangguk patuh mendengarkan nasihat bibi Lana disela perjalanan kami menaiki tangga menuju dalam rumah. ♥♥ Usai menikmati hasil masakan bibi Lana di mana aku juga mengajak wanita itu makan bersamaku, sekarang kami sibuk mencuci piring berdua di dapur. “Seharusnya Afra tidak perlu bantu cuci piring, ini sudah tugas bibi sebagai pembantu rumah tangga.” “Tapi Afra senang melakukannya, mungkin karena sudah terbiasa hidup susah dulu.” Bibi Lana tersenyum menanggapi ucapanku, lantas berkata, “Aku bersyukur Tuan Gibran memilih istri yang baik seperti kamu.” Mendadak senyumanku menjadi hambar, andai Gibran memang memilihku sebagai istrinya, walau pada kenyataannya Gibran hanya menikahiku karena rasa kasihan. “Awalnya aku berpikir Tuan akan menikahi kekasih lima tahunnya, tapi ternyata hubungan mereka cuma sebatas ‘jagain jodoh orang’. Hahaha…” Bibi Lana tertawa sedangkan aku berusaha ikut tertawa demi menyembunyikan perasaanku sebenarnya. Jadi, sebelum menikah denganku Gibran sempat terlibat hubungan dengan wanita lain? Ya Allah, kalau sampai mereka berpisah hanya gara-gara aku bagaimana? Aku tidak mau dicap sebagai perusak hubungan orang alias pelakor yang kerap memviralkan jagat maya. “Bi, aku mau tanya.” Bibi Lana membalas berupa deheman. “Kenapa di rumah ini nggak ada foto keluarga sama sekali?” Bahkan foto pernikahan kami, aku meneruskan kalimat itu dalam hati. Bibi Lana mengalihkan kesibukannya mengelap piring untuk menatapku, “Rumah ini baru dibangun setelah kamu dan Tuan Gibran menikah di rumah sakit dua tahun lalu.” Batinku bersorak ketika pikiranku tentang rumah ini dibangun untuk mantan atau kekasih gelap Gibran ternyata salah. “Karena sibuk bekerja dan merawat Afra yang masih koma, Tuan jarang menempati rumah ini. Jadi tidak sempat memasang foto.” Bibi Lana kembali mengelap piring setelah menjawab pertanyaanku. Kami sama-sama terdiam, bergelut dalam pikiran masing-masing. Huft… padahal setelah tiba di rumah ini aku berencana mencari tahu latar belakang atau informasi apapun yang menyangkut soal suamiku. Tapi mendengar cerita bibi Lana barusan sepertinya mustahil aku dapat menemukan informasi tentang Gibran di rumah ini. Ternyata semua tidak semudah yang kubayangkan. Sosok Gibran yang misterius membuatku amat ketakutan kalau saja ada rahasia lain yang tidak kuketahui. Kalau seperti ini ceritanya, masihkah pantas aku disebut sebagai istrinya? Aku sama sekali tidak tahu apapun tentang suamiku sendiri. ♥♥ Pagi ini aku dan bibi Lana sibuk berkutat di dapur membuat Brownies kukus chocolatos yang nantinya akan kubagikan ke para tetangga, bentuk penghormatanku sebagai orang baru yang tinggal di sini. Pukul sepuluh, kue browniesku akhirnya selesai. Bibi Lana memuji keterampilanku membuat kue karena merasakan betapa enaknya resep kue buatanku. Aku senang sekali mendapat pujiannya, tidak sabar menghadapi respon para tetangga yang sebenarnya agak membuatku gelisah karena takut mereka tidak menyukai kue buatanku. Daerah tempatku tinggal berada di perumahan elite yang bisa dibilang sebagian besar dihuni oleh orang-orang kaya, selera orang kaya sangat berbeda dengan orang biasa sepertiku, karena itu aku agak tidak pede dengan kue buatanku. Tapi berkat dukungan bibi Lana, aku kembali bersemangat dan percaya diri hingga akhirnya kedua kakiku sampai di depan rumah tetangga sebelah kiri rumahku. Tok… tok… tok… “Assalamualaikum.” Aku mengetuk pintu hati-hati sambil berusaha mengendalikan diriku yang mendadak gugup. Sepasang nenek dan kakek keluar dari dalam rumah lalu menyambut ramah diriku. “Waalaikumsalam.” “Perkenalkan saya Afra Naila Arkana, tetangga sebelah yang baru pindah kemarin.” Ekspresi nenek di depanku berubah antusias, “Wah… tetangga baru yah! Mari silahkan masuk.” Tidak berhenti sampai di situ, aku juga mengunjungi tetangga sebelah kanan rumahku. Aku senang begitu mengetahui umur kami sebaya dan sama-sama belum lama melangsungkan pernikahan. Wanita itu bernama Ashilla, sedangkan suaminya bernama Andika. Mereka telah dikarunia satu anak perempuan berumur satu tahun yang menggemaskan, membuatku senang bukan main saat Ashilla mengizinkanku menggendong putrinya. Beberapa jam kemudian, akhirnya aku berhasil menyelesaikan misiku bersilaturahmi dengan para tetangga. Aku bersyukur semua tetanggaku yang tinggal di sini memiliki sisi hati yang baik hingga dapat menerimaku. Tapi yang membuatku agak tidak puas hari ini adalah rumah kuning seberang rumah yang tidak mau membukakan pintunya untukku padahal aku mendengar televisi di ruang tamunya menyala. Tidak boleh cepat putus asa! Aku akan kembali menengoknya besok, pokoknya aku harus membuat semua tetangga menerima keberadaanku di sini. Karena aku bukan tipe orang yang suka memiliki musuh, maka harus kupastikan dia bisa berteman denganku juga. BERSAMBUNG...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD