Zahra keluar dari kelas dengan langkah cepat begitu mata kuliah selesai. Napasnya terasa berat, dadanya masih penuh oleh campuran emosi yang belum juga reda. Rasa malu, kesal, dan jengkel bercampur jadi satu, membuat kepalanya terasa panas meski pendingin ruangan kelas masih terasa dingin di kulitnya.
Rena berjalan menyusul di sampingnya, sesekali melirik wajah Zahra yang terlihat tegang. “Ra, kamu kenapa sih? Dari tadi diem banget,” katanya pelan.
Zahra menghela napas panjang. “Kamu nggak lihat aku lagi kesal banget,” jawabnya singkat.
“Kenapa?”
“Masih nanya,” sahut Zahra sebal. “Dosen kriminologi itu loh, bikin aku malu aja."
Rena langsung paham. Ia mengangguk kecil. “Oh … Pak Saka. Habisnya kamu ngelamun mulu sih tadi. Kan udah dibilang Pak Saka dosen killer."
"Bodo amat, pokoknya aku kesal banget sama dosen satu itu!"
Mereka berjalan menuju kantin kampus yang mulai ramai oleh mahasiswa. Suara obrolan, aroma makanan, dan bunyi sendok-piring bercampur jadi satu, menciptakan suasana yang sebenarnya hangat, tapi tidak cukup untuk menenangkan hati Zahra. Mereka mengambil makanan, lalu duduk di salah satu meja yang agak pojok.
Begitu duduk, Zahra langsung menjatuhkan tasnya ke kursi dengan gerakan kesal. “Aku bener-bener malu, Ren,” katanya akhirnya, suaranya lebih pelan tapi penuh emosi. “Bayangin, hari pertama kuliah, terlihat t***l ditatap semua orang, ditanya seolah-olah aku ini mahasiswa paling nggak niat di ruangan itu.”
Rena menatapnya sambil membuka botol minum. “Dia kan nunjuk kamu pasti cuma random aja, Ra.”
“Bukan soal pertanyaannya,” Zahra menggeleng. “Cara dia ngomong, cara dia natap, itu tuh bikin aku merasa kecil."
Rena terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Yah, namanya juga dosen. Kalau nggak gitu nggak bakal dihargai sama mahasiswanya. Apalagi dia masih muda. Ganteng pula,” kekehnya.
“Nyebelin banget,” Zahra melanjutkan dengan nada lebih emosi.
"Tapi, agak aneh juga sih kenapa kamu yang dia tunjuk, ya. Jangan-jangan dia naksir Kamu, Ra."
Zahra mendesis. Akhirnya ia menceritakan soal insiden kecil pagi tadi di halaman kampus yang membuat Rena meloloskan tawa.
"Wah, udah kaya kayak cerita FTV loh.”
Zahra ikut tersenyum tipis, meski perasaannya belum sepenuhnya membaik. Ada sesuatu di dalam dirinya yang masih terasa tidak tenang, seperti ada firasat samar yang belum bisa ia jelaskan, bahwa pertemuannya dengan Saka Pamungkas hari ini bukan sekadar pertemuan biasa antara dosen dan mahasiswa.
Dan entah kenapa, semakin ia berusaha membencinya, semakin wajah pria itu justru terus muncul di pikirannya, dengan tatapan dingin yang tenang, suara datar yang tegas, dan aura yang terasa terlalu berat untuk sekadar seorang dosen biasa.
Zahra menghela napas pelan, lalu menatap Rena. "Tapi, kamu merasa ada yang aneh nggak sih sama Pak Saka?"
"Maksudnya?"
"Ya, dia nggak mirip-mirip banget kaya dosen pada umumnya."
"Emang mirip apaan?"
"Menurutku dia tuh mirip kriminolog dari kepolisian, atau mirip detektif gitu. Pokoknya ada sesuatu yang aneh aja dari dia. Aku susah jelasinnya."
Rena mencebik. "Ah, masa iya dia detektif yang menyamar jadi dosen?"
Zahra mengelus janggutnya. Dari raut wajahnya, ia sedang memikirkan sesuatu. "Eh, bukannya ada rumor di kampus ini tentang kasus pelecehan seorang mahasiswi, ya?" Kini suaranya sengaja ia pelankan.
"Oh, yang sampai bundir itu, ya ... kayaknya kasusnya udah menguap dari lama."
"Tapi kan pelaku pelecehannya belum jelas. Jangan-jangan ...." Zahra mengangguk-angguk. Beberapa teori tentang masalah yang sedang ia bicarakan itu berputar di kepalanya.
"Jangan-jangan Pak Saka detektif yang sedang menyamar untuk menyelidiki kasus itu, gitu?"
"Bisa jadi, kan?" cebik Zahra.
"Kamu kebanyakan nonton serial kriminal, Ra."
Zahra meringis, meskipun dalam hati ia begitu penasaran dengan sosok Saka. Ada sesuatu yang menarik dalam diri pria itu, selain karena wajah tampannya.
***
Zahra baru menyadari satu hal pahit sebulan kemudian: kriminologi bukan mata kuliah yang bisa dianggap enteng.
Pagi itu, Saka memberi tugas individu. Bukan sekadar makalah biasa, tapi analisis kasus nyata tentang kekerasan seksual di lingkungan kampus, lengkap dengan sudut pandang korban, dampak psikologis, dan bagaimana sistem seharusnya melindungi mereka.
Begitu penjelasan tugas selesai, kelas mendadak hening.
“Ini bukan tugas untuk dinilai pintar atau tidaknya kalian,” ucap Saka dengan suara datar namun tegas. “Ini tugas untuk menguji empati, kepekaan, dan keberanian berpikir. Saya ingin kalian menulisnya dengan hati, bukan cuma dengan otak.”
Zahra membaca berkali-kali tugas di layar tab-nya. Kenapa temanya tentang hal yang akhir-akhir ini mengganjal dalam hatinya. Sesuatu yang membuatnya penasaran dengan Saka.
Begitu kelas selesai, Zahra tidak langsung beranjak dari kurisnya. Ia masih berkutat dengan layar tab yang masih menyala.
“Ra, kamu kenapa?” tanya Rena sambil menyikut lengannya.
“Aku nggak yakin bisa ngerjain tugas ini,” gumamnya.
“Kenapa?”
“Topiknya … berat banget."
Rena menatapnya sebentar, lalu berkata pelan. “Kalau gitu … kamu minta bimbingan aja ke Pak Saka.”
Zahra langsung mengernyit. “Ke dia?”
“Iyalah, aku juga mau minta bimbingan kok."
Kalimat Rena terus terngiang sampai sore. Sampai akhirnya, dengan langkah ragu, Zahra berdiri di depan ruang dosen kriminologi. Nama di pintu itu tertulis jelas:
Saka Pamungkas, S.H., M.H.
Tangannya sempat terangkat untuk mengetuk pintu, tapi lalu turun lagi. Ia mengatur napas beberapa saat untuk menyiapkan mental, lalu mengetuk pintu.
“Masuk.”
Suara dari dalam ruangan terdengar tenang dan dingin. Zahra pun membuka pintu perlahan.
Di dalam, Saka sedang duduk di balik meja, membaca beberapa berkas. Kemeja hitamnya rapi, lengan digulung sedikit, jam tangan kulit melingkar di pergelangan tangannya. Wajahnya terlihat lebih serius.
“Iya?” katanya tanpa menoleh.
“Selamat sore, Pak,” suara Zahra agak gemetar.
Saka mengangkat pandangan. Tatapannya langsung mengunci Zahra, seperti sedang membaca apa yang diinginkan gadis itu.
“Oh. Kamu,” katanya singkat. “Zahra, kan?”
Zahra terkejut. “I-iya, Pak.”
“Ada keperluan?”
Zahra berdiri kaku beberapa detik sebelum akhirnya berkata. “Saya … mau minta bimbingan soal tugas, Pak.”
Saka mempersilahkan Zahra duduk di kursi seberang mejanya. Zahra duduk pelan, tangannya menggenggam tas di pangkuannya.
“Sebutkan masalahnya,” kata Saka lugas.
Zahra menelan ludah. “Topik tugasnya berat, Pak. Saya takut nulisnya cuma jadi teori. Padahal Bapak bilang harus pakai empati. Saya … nggak tahu harus mulai dari mana.”
Saka terdiam beberapa detik. Menatapnya. Bukan sebagai dosen menilai mahasiswa, tapi seperti seseorang yang sedang mengamati jiwa orang lain.
“Kamu terlalu banyakin mikir,” katanya akhirnya.
Zahra mengernyit.
“Maaf?”
“Kamu takut salah. Belum juga mulai nulis, kamu sudah pesimis duluan. Memangnya Kamu nggak percaya dengan kemampuan kamu sendiri?"
Sialan, batin Zahra geram. Sepertinya meminta bimbingan pada Saka adalah ide yang buruk.
Dasar dosen menyebalkan.
***