Hari itu, Zahra bangun lebih pagi dari biasanya. Matanya masih berat, tapi pikirannya terus berkecamuk. Tugas kriminologi yang diberikan si dosen menyebalkan itu seolah membuka pintu rasa ingin tahunya lebih dalam: kasus pelecehan di kampus yang sudah lama menghilang dari pemberitaan, tapi tidak pernah benar-benar selesai.
“Kalau aku mau nulis dengan empati, aku harus tahu faktanya, kan,” gumam Zahra di depan cermin, mengikat rambutnya.
Laptopnya menyala, jendela browser penuh dengan pencarian: berita lama, forum mahasiswa, blog pribadi, hingga arsip kampus. Namun, yang didapat hanyalah kabar samar: tanggal kejadian, nama korban yang singkat, dan cerita yang sebagian besar bersifat rumor. Tak ada laporan polisi yang bisa diakses publik, tak ada rekaman wawancara resmi.
Zahra menyesal hanya bergantung pada internet. Ia sadar, untuk riset empatik, ia harus mencari sumber langsung. Dan satu-satunya orang yang bisa ia temui adalah keluarga korban.
Nama korban itu adalah Mara Windy, mahasiswi jurusan sastra yang meninggal dua tahun lalu karena bunuh diri. Info singkat yang Zahra dapat tentang Mara hanya berupa catatan di forum mahasiswa: Mara dulunya sempat mengadu tentang pelecehan di kampus, tapi kasusnya tidak pernah terungkap, bahkan hilang begitu saja dari catatan resmi.
“Kalau aku mau nulis dengan hati, aku harus tahu apa yang terjadi dari awal … apa yang dirasakan Mara,” tulis Zahra menulis di buku catatannya.
Berjam-jam ia habiskan dengan menelusuri berbagai sumber. Akhirnya, dari mulut ke mulut—mahasiswa senior yang dulu satu angkatan dengan Mara—Zahra berhasil menemukan alamat orang tua Mara. Rumah itu berada di pinggiran kota, cukup jauh dari kampus, di lingkungan yang tenang dan sepi.
Rasa penasaran Zahra semakin menjadi-jadi. Ia menatap catatan di tangannya, lalu menutup laptop. “Aku harus ke sana. Aku harus lihat sendirI," tekadnya.
Malam itu, ia memesan ojek untuk mengantarnya ke rumah Mara. Jalanan sepi, lampu-lampu jalan menyorot rapi di trotoar. Setiap kilometer terasa seperti tarikan napas berat. Hatinya berdebar bukan hanya karena rasa takut, tapi juga karena perasaan aneh yang ia rasakan setiap kali berpikir tentang Mara, tentang kasus yang hilang itu, dan tentang Saka yang terus terngiang di pikirannya.
Sesampainya di depan rumah yang ia yakin benar, Zahra membayar ojek dan memintanya untuk tidak menunggu.
Rumah itu sederhana, dikelilingi taman kecil, dengan pagar besi hitam yang sudah sedikit berkarat. Lampu ruang tamu menyala redup, memberi kesan hangat tapi juga sunyi.
Zahra menunduk, mencoba mengambil gambar suasana dengan ponselnya. Ia sadar bahwa langkahnya harus hati-hati; ini bukan sekadar riset akademis, tapi juga menjunjung privasi keluarga yang mungkin masih berduka atau tidak mau mengungkit luka lama.
Namun, setelah beberapa saat memperhatikan rumah itu, detak jantungnya serasa berhenti sejenak.
Seorang pria keluar dari rumah itu. Tubuhnya tinggi, langkahnya tenang, tapi aura yang ia pancarkan begitu familiar. Zahra menelan ludah, jantungnya berdetak kencang.
"Hah? Pak Saka," pekiknya tertahan.
Saka baru saja keluar dari rumah Mara. Rambut hitamnya sedikit tertiup angin malam, kemejanya rapi tapi kasual, dan tatapan matanya yang dingin menusuk malam seolah bisa membaca siapa pun yang lewat di dekatnya.
Zahra ingin mundur perlahan, mencari tempat bersembunyi. Tapi kakinya terasa berat, seolah tertahan oleh rasa penasaran yang terlalu kuat. Sebelum ia sempat bergerak, Saka menoleh ke arahnya.
Mata mereka pun bertemu. Saka tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
“Zahra?" Suara Saka terdengar jelas, menembus relung hati Zahra.
Zahra pun tak kalah terkejut. “Eh … Pak Saka,” suaranya hampir tersedak. “Saya … saya cuma lewat sini, kok.”
Saka mengangkat satu alis. “Memang sengaja lewat sini?” tanyanya singkat, tanpa senyum.
Zahra menelan ludah. Ia tahu tidak mungkin berbohong padanya. Saka selalu bisa membaca situasi, selalu bisa membaca orang. Seperti seorang detektif.
“Saya … saya sedang mencari informasi untuk tugas kriminologi yang bapak kasih. Enggak tahu kenapa saya memilih datang ke sinis,” jawab Zahra akhirnya. Tatapan mengintimidasi Saka membuatnya tidak punya pilihan lain selain berkata jujur.
Saka menatapnya lama, seolah menimbang setiap kata yang keluar dari mulut Zahra. Namun, beberapa saat kemudian ia meloloskan senyumnya.
“Kamu tegang banget. Sudah makan belum?” tanya Saka yang membuat Zahra membulatkan mata heran. Saka tidak terlihat dingin lagi sekarang. Zahra bahkan berpikir kalau pria di hadapannya ini bukanlah doesennya yang menyebalkan.
"Kamu memang hobinya bengong, ya? Ditanya malah melamun."
Zahra terkesiap. "Eh, belum, Pak. Saya belum makan."
"Saya traktir Kamu makan. Nanti bisa sambil bahas tugas yang saya kasih." Saka berjalan menuju mobilnya yang terparkir di seberang jalan. Sementara Zahra masih berdiri mematung menatap punggung Saka.
"Ayo! Kenapa malah bengong lagi. Kesambet lama-lama kamu!" seru Saka dari seberang.
"I-Iya, Pak. Maaf." Zahra berjalan cepat menyeberang jalan. Ia ikuti perintah Saka untuk masuk ke mobil sedan warna hitam itu.
Di dalam mobil, suasana hening. Zahra ingin menanyakan kenapa Saka keluar dari rumah itu, tapi suaranya tidak mampu keluar melewati tenggorokan. Akhirnya ia hanya diam saja dan pasrah mobil Saka akan melaju ke mana.
Mobil Saka melaju memasuki kota dan berhenti di depan sebuah rumah makan Chinesse. Tanpa banyak kata Zahra mengikuti Saka keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah makan yang tidak begitu ramai.
"Jadi, apa kendala kamu dari tugas yang saya kasih?" tanya Saka memecah keheningan di antara mereka.
"Ehm ... saya bingung memulainya, Pak. Karena ini tugas yang berat banget."
Saka mengangguk. Sungguh, Zahra masih terheran-heran karena Saka terlihat begitu santai dan ramah.
"Jadi begini ...." Saka menjelaskan panjang lebar tentang materi tugas dan segala yang berhubungan dengan semua itu. Sementara Zahra dengan seksama mendengarkan. Namun, sebenarnya ia lebih terhipnotis dengan pembawaan diri Saka yang terlihat tentang dan juga sabar. Jauh berbeda saat ia di kampus.
Terlebih lagi, suara Saka yang sabar, berat dan kata-katanya yang tertata rapi, membuat Zahra berpikir, sosok pria di hadapannya ini jauh terlihat lebih tampan dari biasanya.
"Sudah mengerti sekarang?" tanya Saka mengakhiri penjelasan panjang lebarnya. "Hello, Zahra?" Saka menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Zahra, berusaha membangunkan gadis itu dari lamunannya.
"I-iya, Pak ... paham, Pak," timpal Zahra gugup.
Saka menggeleng pelan, tapi sudut bibirnya menarik senyuman tipis. "Kamu tinggal di mana?" tanyanya kemudian.
"Saya? Ngekos, Pak."
"Saya antar pulang nanti."
Zahra menelan ludah. Ia berusaha mencerna sikap Saka yang cukup aneh. Seharusnya dalam hatinya ia curiga kenapa Saka seramah ini. Namun, pesona pria itu sepertinya mampu mengesampingkan semua kecurigaan dalam dirinya.
***