Bab 4

1055 Words
Saat Saka memasuki kelas, pandangannya langsung bertemu dengan Zahra yang duduk di deretan kursi belakang dan mengulas senyum samar. Meski samar, Rena masih bisa menangkap momen itu. "Kok Pak Saka senyumin kamu?" tanya Rena sambil mengerutkan kening. "Apa sih, Ren? Halu aja," timpal Zahra dengan d**a berdebar. "Beneran tadi aku lihat dia senyum ke Kamu. Cieh, adapapa, nih?" Zahra mendesis pelan. "Nggak ada apa-apa, Ren. Senyum doang masa nggak boleh." "Tuh, bener kan, kaya cerita FTV. Pacarku dosen galak, dari sebel jadi cinta." "Hush! Ngaco!" Keduanya buru-buru diam saat Saka menoleh ke arah mereka. Zahra langsung berpura-pura membuka bukunya. Kelas kriminologi akhirnya selesai. Zahra dengan cepat merapikan buku dan catatan, berusaha tidak terlalu lama di ruang kelas. Ia ingin segera ke perpustakaan untuk mulai riset tugasnya, karena di kepalanya masih banyak pertanyaan yang belum tersusun rapi. Ia bahkan menolak ajakan Rena mengisi perut ke kantin. Langkahnya cepat, tasnya melambung ke pundak dengan tergesa, tetapi begitu ia menapaki lorong kampus, suara langkah lain menghampirinya membuatnya menahan napas sejenak. “Zahra,” suara itu terdengar lembut tapi tegas di sampingnya. Zahra menoleh, kaget. Mata mereka bertemu, dan jantungnya serasa berhenti. “E-eh … Pak Saka,” jawabnya gugup, setengah ingin mundur tapi langkahnya sudah terlanjur maju. Saka tersenyum tipis, bukan senyum lebar, tapi cukup untuk membuat Zahra merasa ada getaran aneh di dadanya. “Ke mana buru-buru begitu?” tanyanya santai, tetapi tatapan matanya tajam dan penuh perhatian. “Ehm … ke perpustakaan, Pak. Mau cari bahan untuk tugas,” jawab Zahra cepat. Ia berusaha menenangkan napasnya, tapi kesadaran bahwa Saka berada tepat di sampingnya membuatnya sulit berpikir jernih. Saka melangkah sejajar dengannya. “Ah … tugas, ya? Masih pusing?” Zahra mengangguk. Ia ingin menjelaskan semuanya, tentang teori yang membingungkan, pertanyaan yang mengganjal di kepalanya, tetapi begitu Saka menatapnya, semua kata seketika hilang. “I-iya, Pak … sedikit,” jawabnya. Saka mencondongkan tubuh sedikit, menyelipkan tangan di saku, dan menatapnya. “Kamu terlihat tegang kalau saya lihat.” Zahra tersipu, menatap ke lantai. Ia sadar lagi: setiap kali Saka bicara, ia selalu berhasil mengalihkan perhatiannya. Ia berniat bertanya tentang beberapa hal yang mengganjal, tetapi sekarang hanya bisa mengangguk pelan. “Mau aku bantu?” Saka tiba-tiba bertanya. “Kita bisa duduk sebentar di ruang baca sebelum kamu mulai sendiri. Kadang ngobrol sedikit lebih cepat daripada cuma mikir sendiri.” Zahra terkejut. Ia sempat ingin menolak, ingin tetap ke perpustakaan sendiri, tetapi ada sesuatu di cara Saka menatapnya yang membuatnya sulit berkata tidak. “E-eh … iya, Pak. Kalau Bapak nggak keberatan,” jawabnya akhirnya, suara pelan. Mereka masuk ke ruang baca, memilih meja di sudut yang masih sepi. Saka menaruh tasnya di kursi, membuka catatan dan laptopnya, sementara Zahra duduk berhadapan, masih berusaha menenangkan diri. “Kamu sudah mulai tugasnya, kan?” tanya Saka sambil menyeruput air mineral. “Ehm … sudah mulai, tapi masih bingung di bagian analisis kasus, Pak,” jawab Zahra. Ia mencoba mengumpulkan kata-kata untuk menjelaskan, tapi begitu Saka mulai memberikan komentar ringan dan contoh, semua pertanyaan yang sudah ia siapkan lenyap. “Hmm … ya, kalau cuma teori, memang membingungkan. Tapi coba perhatikan konteksnya juga. Banyak hal bisa terlihat kalau kamu mengamati, bukan cuma membaca,” kata Saka sambil menunjuk salah satu catatan Zahra. Zahra menelan ludah. Setiap kali ia hendak membuka mulut untuk menanyakan hal yang sebenarnya ingin ia tanyakan, Saka selalu menyisipkan komentar ringan atau pertanyaan balik yang membuatnya lupa. “Dan satu lagi,” lanjut Saka, mencondongkan tubuh sedikit, “jangan terlalu khawatir kalau salah. Kesalahan justru bikin kamu ngerti lebih dalam.” Zahra menatapnya. Suara Saka tenang, nadanya berat tapi tidak menakutkan. Setiap kata terasa mengisi ruang pikirannya, sampai ia benar-benar lupa semua hal yang ingin ia tanyakan sebelumnya. “Maksud Bapak … aku harus lebih fokus ke pemahaman, bukan cuma jawaban yang benar?” tanya Zahra, setidaknya mencoba mempertahankan sebagian kontrol percakapan. Saka mengangguk. “Tepat. Dan kadang yang paling penting bukan hal yang ingin kamu tanyakan, tapi hal yang kamu temukan sendiri.” Zahra menelan ludah lagi, menyadari ia benar-benar tersedot ke dalam cara Saka menjelaskan. Ia ingin bertanya soal hal-hal yang mengganjal di kepalanya, tetapi kata-katanya selalu menguap begitu saja. Ia tersenyum tipis, setengah geli setengah kagum pada pria di hadapannya. “Kamu perhatikan detail dengan baik, tapi jangan terlalu serius,” tambah Saka, menutup laptopnya sebentar. “Kalau terlalu fokus, kadang malah kehilangan sesuatu yang penting.” Zahra mengangguk. Sekali lagi, semua pertanyaan yang ingin ia tanyakan—yang selama ini menghantuinya—hilang. Ia hanya bisa menatapnya, merasa kagum tapi juga penasaran. “Kamu kelihatan capek,” kata Saka tiba-tiba sambil mencondongkan tubuh ke arah Zahra. “Mendingan kamu istirahat dulu." Zahra tersipu tipis. “E-eh … iya, Pak.” Mereka diam beberapa saat, hanya mendengar suara ketikan dan halaman buku yang dibalik. Tapi keheningan itu terasa penuh arti, dan Zahra menyadari satu hal, Saka selalu punya cara untuk mengalihkan perhatiannya dari hal-hal yang ingin ia tanyakan, tanpa harus memaksa, cukup dengan sikap, kata-kata, dan tatapan. Ketika mereka akhirnya berdiri meninggalkan ruang baca, Saka tersenyum tipis. “Besok kita lanjut. Ingat, jangan terlalu tegang. Kadang proses belajar itu tidak cuma soal teori, tapi juga soal menyesuaikan perhatian.” Zahra mengangguk, jantungnya berdebar, tersenyum tipis. Ia sadar lagi, interaksi dengannya bukan sekadar tugas akademik. Setiap kata, setiap gerak, dan setiap tatapan Saka, membuatnya lupa waktu, lupa pertanyaan, tapi juga membuatnya penasaran dengan sikap Saka akhir-akhir ini. Rena berlari menghampiri Zahra, senyum jahilnya tak bisa disembunyikan. Matanya melirik punggung Saka yang menjauh di lorong kampus. “Tuh kan … kamu nggak jadi ke kantin karena janjian sama Pak Saka, ya?” goda Rena santai. “Ish! Enggak, Ren … Pak Saka yang nyamperin duluan, mau bantuin riset tugas kok.” Zahra buru-buru menangkis, suara masih terdengar gugup. Rena tertawa kecil, menggeleng. “Halah … bantuin tugas atau bantuin tugas?" godanya sambil terkikik. "Beneran, Ren." "Aku penasaran, kalian ngobrolin apa sih?” Zahra menunduk, menata tas di pundak. “Ngobrolin apa emang ya , Ren … udah dibilang cuma tugas kuliah.” Rena mengangkat alis, tetap tersenyum. “Kamu naif banget. Pak Saka suka sama kamu, Zahra." "Jangan ngaco ah, Ren." "Yah, dia nggak percaya. Lihat aja bentar lagi juga jadian." Zahra mendelik sambil mencubit lengan Rena. Namun, tak dapat dipungkiri kalau dadanya berdebar mendengar ucapan sahabatnya itu. Apa memang benar begitu, Saka menyukainya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD