Rasa sakit itu tak kunjung hilang. Lama sekali. Saya mend engar derap langkah dari arah atas. Oh, ternyata Ibuk. Ia sudah mend engar bel. Tanda ada tamu. Ia meningg alkan se tan itu di kamar untuk membuka pintu terlebih dahulu. Ibuk tergesa - gesa. Ia mele wati saya yang duduk di salah satu anak tangga begitu saja. Saya melihat dari sini. Ingin tahu siapa yang datang. Saya menger nyit ketika akhir nya pintu dibuka oleh Ibuk. Ternyata Bulek Rahayu. Bulek Rah ayu berdiri dengan cang gung di depan pintu. Ia terse nyum pada Ibuk dengan senyu man yang canggu ng pula. Ada apa Bulek Rahayu ke sini? Tumben sekali. Padahal kemarin kami semua baru saja ke rumahnya. "Lho, Rahayu." Ibuk nampak senang namun juga bingung dengan kedat angan adiknya itu. Banyak rasa yang membu ncah dalam d**a Ibuk

