"Sabar ya Nak. Memang sesakit itu. Nanti kalau kamu udah nggak kuat langsung bilang. Kita langsung ke rumah sakit ya." Ibuk nampak begitu bersedih dan terpukul. Karena ia merasa bersalah, tak bisa melakukan apa-apa sementara anaknya sedang berjuang hidup dan mati menghadapi proses persalinan. Saya benar-benar tak suka pemandangan itu. "Ibuk ke bawah sebentar ya Nak. Ada Bulek kamu Dateng. Ibuk bohong sama dia kalau kamu lagi tidur. Kalau dia tahu kamu sedang akan melahirkan, dia pasti menyarankan agar kamu segera dibawa ke rumah sakit. Kamu pasti nggak mau itu terjadi, kan?" Saya di sana hanya mengangguk. Rupanya rasa sakit itu telah begitu menyita perhatiannya, hingga ia tak bisa bicara sekadar untuk menjawab iya. Ibuk nampak tak rela meninggalkan saya lagi. Namun mau tak mau ia haru

