JALAN BARU

1555 Words
"Fatmah?" Aku terperanjat, bagaimana bisa aku tiba-tiba berada di sini? Mataku dengan cepat menyapu sekitar. Aku berada di halaman belakang pondok yang terlihat seperti 2 tahun silam, masih ada pohon mangga besar di sana dan juga... di sampingku berdiri Hesty, Karin dan Fafa, ketiganya menatapku, tersenyum! "Kak.. saya janji kali ini ga akan bilang apa pun ke abi..." rintihan suara Fatmah kembali menarikku dari lamunan sesaat itu. Karin dan Fafa menarik lengannya menjauh dariku. "Dasar anak gak tahu diri! Siapa yang kamu panggil abi? Kiyai Abdul gak punya anak busuk kayak kamu," cerca Fafa. "Iya, dasar ga tahu diri! Sok-sokan panggil abi. Kiyai Abdul cuma punya satu anak, Ning Vina. Kamu tuh cuma anak bawaan!" tambah Karin, lantas menarik keras kerudung Fatmah. "Berani kamu teriak, hukumannya bakal lebih parah!" Hesti maju mencengkram wajah Fatmah. "Kamu masih beruntung kita yang turun tangan, kalau sampai kamu buat Ning Vina marah, hukumannya jauh lebih berat dari yang bisa kamu bayangkan." Kalimat terakhir Hesti menggiang di telingahku. Baru kusadari semua orang membenciku bukan hanya karena sikap menyebalkanku dulu, tapi juga fitnah yang Hesti berikan atas namaku. "Lepasin dia," ujarku datar. Fafa dan Karin saling tatap bingung. Hesti segera menghampiriku, menatap heran . "Ning Vina, kamu baik-baik aja, kan?" bisiknya. Aku balik menatapnya, datar. Sejujurnya aku sangat muak dengan senyum palsunya itu. "Aku lagi ga mood." "Oh, kamu lagi gak mood? Oke..." Hesti mengangguk-ngangguk pelan. Diikuti Karin dan Fafa bagai anjing setia di belakangnya. "Hari ini, anggap saja sebagai hari keberuntunganmu!" ujar Fafa mengiringi kepergian Fatmah yang buru-buru pergi. "Ning Vina, terus gimana sama tugas kita?" tanya Karin. "Kerjain sekarang juga." "Siapa? Kita?" Aku mengangguk pelan. Ketiganya kembali saling pandang, wajah mereka memucat menatapku bersamaan. "Ning Vina, apa kita buat salah? Ning Vina marah ya sama kita?" tanya Fafa, nada suaranya penuh kekhawatiran. Plak! Aku tersenyum puas. Akhirnya tanganku tidak lagi gatal. Wajah Fafa memerah, menahan marah. "Sejak tadi tanganku sangat gatal. Tidak masalahkan jika aku mendaratkannya di pipimu?" Fafa meringgis, dia menoleh sesaat sebelum mengangguk pelan. "Tidak masalah, Ning," katanya dengan nada suara yang terdengar seolah baik-baik saja. Sungguh itu sangat menjijikan! Hanya karena nama dan status, mereka bahkan rela dipermalukan. "Ning..." Hesti meraih lenganku, "Apa kita suruh anak pondok yang lain buat ngerjain tugas kita? Kan nanti sore kita harus keluar dari pondok." "Keluar? Memangnya mau pergi ke mana?" Tanyaku sembari mengingat tentang hari ini. "Ning Vina lupa? Kamu punya janji ketemuan sama Zayn di pasar," sela Fafa. "Iya.. kamu harus datang ke sana Ning. Zayn bilang ada hal penting yang mau dia sampain ke kamu." Hesti menatapku. "Kamu pasti bisa datangkan, Ning?" tanyanya. Sekarang aku baru sadar, semua yang terjadi antara aku dan Zayn tidak lain hanya pengaturan yang Hesti buat. Dan aku dengan bodohnya menjadi boneka yang menari mengikuti iramanya. Sial! "Tentu aku akan datang." . . "Kerjain tugas kita!" Fafa menjatuhkan setumpuk buku di hadapan seorang santriwati yang tengah membaca sebuah buku. Sejujurnya aku tak tahu jelas nama gadis itu, tapi seingatku dia salah satu santri yang sering kami ganggu. "T-tugas apa, Kak?" ujarnya terbata. "Tugas kitalah. Tugas fiqih. Kamu gak budek, kan?" sahut Karin tajam. "Harus dikumpul besok. Malam ini kamu harus begadang nyelesain semua tugas!" "T-tapi, Kak, hari ini saya piket jadi—" "Kamu berani ngelawan perintah Ning Vina?" sela Hesti. Gebrakan pelan yang ia ciptakan membuat santri itu seketika bungkam. Hesti memang sangat pandai menggunakan kekuasaan orang untuk menindas orang lain. Seingatku dari masa lalu, Hesti juga nerupakan Ning. Namun, di sini dia menyembunyikan statusnya itu. Tentu untuk melancarkan semua rencana busuknya itu. Dia bertindak seolah aku yang memerintakan, padahal semua yang mereka lakukan, mereka lakukan untuk kepentingan mereka sendiri. "Ning Vina..." Karin menghampiriku yang baru saja duduk seraya memandangi sekitar beberapa santriwati yang lalu lalang di luar perpusatakaan. Mereka semua menunduk saat melihatku, namun bukan karena mereka menghormatiku seperti yang aku duga selama ini. Terlahir sebagai anak dari kiyai besar di Jawa, aku dari kecil terbiasa dengan segala hormat dan senyum lebar semua orang. Saat melihatku, biasanya para santri berebut untuk sekedar memberiku makanan, memanjakanku, atau mengendongku, dimata mereka seolah aku adalah berlian yang sangat berharga, mereka melakukan semua itu untuk ngalap berkah abiku, Kiyai mereka. Kali ini aku sangat sadar dan berani berkata bahwa dari sorot mata para santri seangkatanku, adik kelas, semua terlihat sangat membenciku. Mereka bahkan tidak ingin berlama-lama di tempat yang sama denganku. Reputasiku memang sudah seburuk itu sekarang. Mereka masih memilih diam dan menjauh dariku karena masih menghormati darah avi yang mengalir tubuhku. Aku tetaplah Ning mereka. Bagaimana cara untuk memperbaiki semuanya? "Ning Vina!" Aku terkesiap. Suara berat itu seketika membuatku bangkit dari kursi menatap orang yang kini berjalan ke arahku. "Lagi-lagi kalian merundung santri," ujarnya. Mata tajam berkilaunya menatap kami secara cepat. Aku terkesiap. Mata cokelat muda itu terlihat berkilau saat tanpa sengaja terkena semburan matahari sore. Keindahan itu didukung hidung mancung proposional, alis tebal, rahang tegas dan warna kulit kuning langsat. Tidak heran semua orang sepakat jika pria di hadapanku sekarang masuk ke dalam list cowok terganteng di pondok. Dia.... Gus Hamzah. Calon tunanganku dulu... "Hamzah..." Hesti seketika langsung mundur meraih lenganku. Sekarang Hesti berusaha untuk mendorongku maju menghadap Gus Hamzah yang sekarang di tugaskan abi sebagai penanggung jawab alias tangan kanan abi di pondok. Dia bagai bayang-bayang abi yang selalu setia dimanapun abi berada. Saat ini, abi belum memutuskan untuk menjodohkanku dengan Gus Hamzah. Abi malah berpikir untuk mengangkat Gus Hamzah yang sudah lama ikut abi menjadi anak angkatnya, tapi Gus Hamzah menolak, lantaran tidak mau membuat kedua orang tuanya merasa tersaingi. Bahkan, di waktu ini tidak ada yang tahu jika Gus Hamzah adalah seorang gus, cucu kiyai besar di daerahnya. Keluarganya memiliki pesantren yang 2 kali lebih besar dari pesantren abi yang merupakan salah satu pesantren terbesar di Jawa. Bodoh banget sih, kenapa dulu nolak nikah sama orang seganteng ini? gumam otakku begitu saja. Penampilan Gus Hamzah sejak dulu memang sangat sederhana, sering pake baju kokoh putih polos, sarung gajah duduk dan peci hitam templet santri, tak lupa sendal jepit swalo hitamnya. Cukup kontras dengan penampilan Zayn yang sangat kekinian, anak kota banget, casual, jaket jeans dan motor gede andalannya. Anak-anak pondok yang selalu silau dengan kehidupan anak luar pondok, tentu saja akan sangat mudah tertipu dengan penampilan Zayn, termasuk aku yang dulu merasa Zayn adalah definisi dari kata ganteng. Iuuuu.... Tanpa sadar aku bergidik membayangkan betapa bodohnya aku dulu, tiba-tiba Karin dan Fafa cekikikan di belakangku. Mereka menatapku lalu tertawa. "Penampilan udiknya bikin merinding ya, Ning," ujar Karin yang langsung dibalas anggukan semangat dari Fafa. Mereka sangat sok tahu.. "Husst...." Hesti menaham tawanya, lalu menatapku. Mereka berharap aku membuat ekspresi menjijikan itu juga? Tidak akan! "Hamzah, kamu salah paham..." ujarku pelan. Sejujurnya aku masih canggung hanya menyebut namanya saja, aku sudah terbiasa menyebut Gus padanya. "Iya, sok tahu banget sih! Lagian ngapain kepo sama urusan kita?" sela Fafa. Hamzah kembali menoleh ke arahku sekilas. Tatapan matanya seolah menutut penjelasan lebih dariku. "Kita hanya meminta bantuan," tambahku. Perkataanku berhasil memancing alis tebal Hamzah terangkat. "Sama saja." Hamzah memutar bola matanya, jengah. "Saya akan laporkan kelakukan kalian ini ke Kiyai Abdul," putusnya. Aku hendak membuka mulut, tapi lagi-lagi suara Fafa lebih dulu sampai di udara. "Laporin aja, emang kita takut? Selama ada Ning Vina, kita gak akan pernah takut sama anceman sampean!" hardik Fafa. Fafa memang tak pernah berubah, mulutnya lebih pedas dari sengatan lebah. Merusak. " Lagian sampean siapa sih? Cuma orang gak jelas. Hidupnya cuma jadi bayang-bayang aja. Gak ada masa depan!" tambah Karin. "Sampean lupa, Mas. Ning Vina anak pemilik pondok, putri kesayangan Pak Kiyai. Sedangankan sampean apa? Jongos tok!" tambah Hesti. "Walau saya hanya jongos di mata kalian, saya gak peduli! Saya kenal betul Pak Kiyai tak akan pilih kasih. Bahkan sekali pun itu harus menghukum putri kesayangannya itu!" balas Hamzah. "Dasar jongos gak tahu malu! Numpang makan, numpang hidup tapi lagaknya macam pahlawan!" "Iya, dasar pria yang guna! Hidupnya cuma sebatas pondok tok!" Hamzah berbalik melangkah pergi di tengah dengung hardik Hesri, Karin dan Fafa. Buru-buru kugunakan keheningaan sesaat itu untuk memanggil Hamzah agar kembali menoleh. Tapi Hamzah hanya berhenti berjalan, tanpa menoleh ke belakang, ke arahku. "Tolong kali ini jangan beri tahu abi..." ujarku pelan, penuh permohonan. Hamzah tak memberi respon apa pun. Aku berjalan ke arah punggunya, sedikit menjaga jarak dengan Fafa, Karin dan Hesti. "Saya ingin berubah." Tiba-tiba kepala Hamzah menoleh kecil ke belakang. Matanya terlihat membelalak, aku tak sengaja melihatnya saat tanpa sengaja mata kami bertemu. "Tapi tidak sekarang. Ada beberapa hal yang harus saya selesaikan dulu," tambahku lagi dengan suara sedikit berbisik. Seketika, Hamzah langsung kembali ke posisi semula, memunggungiku, lalu pergi. Tanpa respon apa pun. "Ikut campur banget sih," gumam Hesti seraya meraih lenganku, mungkin berharap aku mengangguk dan setuju. Namun, aku hanya diam, menatapnya malas. "Siapa sih dia? Jongos banyak gaya!" hardik Hesti. Ingin rasanya aku mengatakan hal serupa untuknya saat itu juga! "Kerjain yang bener! Satu salah sama dengan satu hukuman. Denger gak?" Aku nyaris lupa dengan santriwati yang menjadi sasaran kali ini. Santriwati itu terlihat takut, melirik kearahku sekilas, lalu mengangguk patuh, buru-buru pergi menjauh. Padahal aku berniat memberikannya uang sebagai permintaan maaf dan tolongku untuk kali ini. Setidaknya itu sedikit meringankan bebannya, kan? Aku bener-benar membutuhkan bantuannya. Atau mungkin, akan aku usulakn pada abi untuk membuka kelas pencak silat, agar tak ada lagi manusia lemah di pondok yang bisa ditindas seenaknya. Malam ini, waktunya membuat banyak perubahan...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD