PEMBALASAN

1271 Words
"Ning, kita telat," ujar Hesti memecah lamunan panjangku. Kepalaku pusing setelah menghabiskan waktu setengah jam naik bis hanya untuk datang ke gudang terbengkalai dengan musik keras yang mereka sebut warehouse party. Zayn memang sering sekali mengadakan warehouse party dengan lokasi yang berbeda-beda. Kadang sebulan sekali, kadang dua pekan sekali dan terkadang nyaris tiap hari. Waktuku benar-benar habis karena meladeni setiap party yang dia buat. Sungguh menyebalkan! Aku tak pernah habis pikir, kenapa dulu seleraku sangat rendahan seperti ini? Gudang berdebu ini bagaimana bisa aku anggap sebagai tempat ternyaman? Musik ini, aaarrghhh dua menit saja rasanya telingaku sudah mati rasa! Aku harus ke THT besok! Sial! Aku benar-benar membenci diriku yang dulu! "Itu Zayn!" teriak Karin. Suara cempreng Karin bahkan tak bisa menandingi suara musik menyebalkan ini. "Tapi, kenapa Zayn bersama wanita lain?" tanya Fafa, spontan membuatku menyipitkan melihat ke arah Zayn. Zayn duduk bersama dua orang gadis di kanan kirinya. Gadis-gadis itu tentu saja menggunakan baju kurang bahan, lekuk tubuh di mana-mana dan belahan d**a yang terbuka lebar. Duduk berdempetan macam ada lem di tubuh mereka. Menjijikan! "Ning Vina.. jangan marah. Mungkin ini juga salah kita karena datang telat," ujar Hesti, lagi-lagi berusaha menenangkanku. Aku tak mengerti, bagaimana bisa Hesti bahkan tak merasa cemburu sedikit pun melihat cowok yang dia sukai berada di tangan wanita lain? Apakah sebesar itu ambisinya menghancurkanku sehingga dia rela melakukan apa saja? Tanpa memperdulikan perkataan Hesti, aku berjalan cepat ke arah Zayn. Ketiga dayang pengkhianatku itu mengekor di belakang macam laler di makanan. Saat melihatku, Zayn bahkan tak merasa bersalah sedikit pun— seingatku sekarang kami dalam tahap PDKT, dulu aku selalu menjadikannya seperti raja, apa yang dia katakan seperti kalimat mutlak, mungkin itulah yang membuatnya jadi besar kepala berpikir bisa seenaknya saja denganku. Apa yang aku harapkan dari pria menjijikan sepertinya? "Vina..." ujarnya seraya melempar senyum. "Aku sudah lama menunggumu..." Zayn hendak meraih tanganku, buru-buru kutepis cepat. Tak sudi tanganku terjamak tangannya yang sudah memegang banyak tangan wanita, puluhan, ratusan atau ribuan? Bahkan jika anjing diberi make up pun, dia akan mengodanya. Zayn memang tak tahu malu! Setelah dengan jelas kutolak tangannya, kini dengan wajah sok gantengnya itu dia berusaha meraih bahuku. "Vina—" Plak... Ah, akhirnya tak sia-sia satu jam kuhabis untuk menempuh perjalanan. Rasa gatal di tanganku akhirnya hilang juga, tapi wajah pria ini sangat tebal tanganku jadi tak nyaman dibalik sarung tangan hitam yang sengaja kukenakan. "Ning Vina... kita yang salah. Kita telat, jadi wajar kalau Zayn cari temen buat ngobrol. Lagian mereka cuma duduk doang kok..." Manusia satu ini bisa diam gak sih? Setiap katanya terdengar seperti rintihan keledai. Ingin sekali kusumpal mulutnya dengan kapas bekas wastafal semalam. "Iya, Ning.. ini memang salah kita. Seharusnya kita gak telat," tambah Fafa. Dayang-dayang penjilatnya angkat suara. Biar kutebak setelah ini pasti Karin yang angkat suara. Satu.. Dua.. Tiga... "Ning—" Dengan cepat langsung kuberikan tatapan tajam ke arahnya. Karin seketika bungkam, melirik takut ke arahku lalu ke arah Hesti. "Ning Vina, buruan minta maaf sebelum Zayn marah," ujar Hesti seraya mendorong-dorong lenganku ke arah Zayn. "Ning Vina ... jangan biarin Zayn marah," kata Hesti lagi. "Kamu pasti gak maukan kehilangan dia? Gimana kalau dia marah dan ninggalin kamu?" Cih! Kata-kata dulu digunakan Hesti untuk selalu membuatku seperti badut bodoh! Menari di atas tali mereka berdua! Dulu, aku pernah memergokinya berciuman dengan seorang wanita bar, tapi bodohnya, aku malah ngamuk pada wanita itu dan nangis-nangis meminta Zayn untuk menjauhinya. Memalukan! "It's okey, Ning Vina gak perlu minta maaf ke saya. Saya paham, kalau Ning Vina cemburu," kata Zayn dengan mulut bau rokoknya itu. Ingin rasanya kucabik mulut itu! "Tapi, setelah hari ini Ning Vina resmi jadi pacar saya, saya tidak ingin sikap obsesif ini lagi. Atau jika tidak..." Zayn menjeda kalimatnya, menatapku dengan kedua mata lelah yang terlihat jelas kantong mata hitam, kurang tidur. "Saya mungkin harus meninggalkan Ning Vina dan tidak bisa membalas cinta Ning." Cih! Ingin rasanya aku meludah di wajah tengilnya itu. "Ning, kamu beruntung banget! Sekarang Zayn udah mau nerima perasaan kamu," ujar Karin dan Fafa heboh. "Ning, kamu gak boleh biarin Zayn marah sama kamu. Kamu harus jaga dia jangan sampai direbut cewek lain," tambah Hesti, seperti biasa bersikap seperti setan yang menghansut di telinga kiri. "Ning harus super hati-hati..." "Termasuk ke kamu juga, kan?" Pertanyaanku barusan langsung berhasil menampar wajah Hesti, meski dibawa lampu remang dapat kulihat wajah memerah dan cemasnya. "A-aku mana berani, Ning. Apa yang punya Ning, gak berani aku ganggu." Spontan aku tersenyum simpul. Kebohongan dari mulut wanita berbisa sangat manis. "Ning, kita bertiga ke sana dulu ya. Ning, berduaan aja sama Zayn." Hesti buru-buru menarik tangan Fafa dan Karin untuk pergi. Sekarang di meja ini hanya ada aku dan Zayn. "Mulai sekarang, kamu boleh panggil aku dengan sebutan sayang," ujar Zayn besar kepala. Dulu memang aku yang seperti orang gila mengejarnya, bahkan sangat berharap bisa memanggilnya dengan sebutan menjijikan itu. "Kamu pikir saya ke sini karena ingin bertemu denganmu?" Aku tertawa kecil seraya memperhatikan jam ditanganku. Hanya butuh setengah jam lagi rencanaku akan berhasil. "Tentu," sahut Zayn lagi, sekarang pria b******k itu mengeser tubuhnya ke arahku. Sialan! "Sayang, sebaiknya kamu lepas saja jilbabmu, biar kamu gak kepanasan dan bisa rasain angin sepoy di sini. Toh, di sini gak ada abimu juga, gak ada aturan pondok yang kolot itu. Di sini kita semua BEBAS!" Segera kutepis tangan kotornya agar menjauh dari jilbabku. "Berengsek!" pekikku keceplosan. Sesaat Zayn nampak kaget dengan responku, tapi detik berikutnya ia tersenyum, mungkin masih berpikir jika kemarahanku masih dalam rana cemburu. Namun, suara nyaringku tadi, berhasil membawa beberapa mata teler orang-orang melihat ke arahku. Hesti, Fafa dan Karin bergegas lari ke arahku. Ketiga ular berbisa itu berdiri di sampingku, di belakangku, tapi mulai berbisik kata-kata manis untuk membela Zayn dan secara tersirat mencoba menyudutkanku. "Ada apa, Ning Vina? Apa Ning masih kesal soal tadi?" tanya Hesti. See... "Its okey, saya bisa memaklumi kecemburuaan Ning Vina. Bagaimana pun saya paham dia sangat mencintai saya..." ujar Zayn dengan suara lantang macam sedang berpidato, sialnya, suara musik yang tadi memekan telinga mendadak bervolume rendah! Sialan! Apa ini bagian dari rencana mereka juga? "Baiklah... biar Ning Vina gak lagi cemburu, hari ini saya umumkan pada semuanya kalau saya mencoba membalas perasaan Ning Vina! Saya mau jadi pacar Ning Vina!" teriak Zayn, masih dengan seratus persen kepercayaan dirinya. "Ning..." Karin berjingkrak heboh. "Ning Vina selamat...." Hesti meraih lenganku, dan sebelum aku meresponnya, Hesti sudah mengeser tanganku mendekat ke tangan Zayn. Sepuluh menit lagi! "Sekali lagi kamu berani sentuh saya, habis kamu!" ancamku seraya menarik paksa tanganku menjauh dari cengkraman tangan Zayn. "Ning, kenapa?" Hesti sialan ini selalu saja menempel macam bayangan. Mengikuti kemana pun aku melangkah. Tenang, Vina... aku hanya perlu bertahan 5 menit lagi. "Tangannya kotor!" "Kotor? Biasanya Ning Vina yang selalu ingin digandeng Zayn." "Iya, bahkan biasanya Ning Vina yang maksa Zayn buat pegang tangan Ning," tambah Fafa, Karin mengangguk-ngangguk setuju. "Kalian sebenernya anak buah dia atau saya?" "Bukan gitu, Ning.. kita akan selalu dipihak Ning Vina. Cuma kenapa hari ini Ning Vina beda banget. Kenapa buat Zayn marah? Padahal Ning Vina tahu kalau Zayn marah, dia bisa ninggalin Ning Vina—" Plak Lega! Tak kusangka pipi Hesti sangat empuk untuk ditampar. Hesti terdiam, melengos menjauh, Fafa dan Karin langsung mengekor pada Hesti macam anak anjing yang setia pada tuannya. Satu menit lagi... aku mulai menghitung dalam hati. Tak sabar mendengar suara... "ADA POLISI...." Pintu terbuka lebar, segerombol pria berseragam menerobos masuk. Musik seketika berhenti, bergantikan suara gaduh dan teriakan beberapa wanita berpakaian kurang dasar. "Amankan semua orang, bawa ke kantor polisi sekarang!" "Selamat datang pak polisi," gumamku. Aku tak mampu menahan senyum terbit di wajahku. "Zayn, ini waktunya kisahmu berakhir!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD