BERUBAH

1157 Words
"Vina...." Akhirnya abi datang menjemputku di kantor polisi. Bersama Hamzah. "Ayo kita pulang..." Tak kusangka, aku sangat merindukan abi. Rasanya sudah lama aku tak lagi jadi putri kecil abi yang selalu manja, yang selalu memegang tangan abi dengan sangat erat. Kemarahanku pada keadaan telah menjadi tembok besar antara aku dan abi. Abi selalu berusaha berdamai denganku, tapi aku terlalu memandang semuanya sebagai gelap, tak membiarkan cela cahaya masuk sedikit pun. "Abi..." cicitku terhenti saat tiba-tiba Hamzah berdiri di sebelahku. Aku baru sadar kalau Hamzah sangat tinggi, tinggiku sekitar 165 meter dan Hamzah sepertinya 187 cm atau 190 cm? Entahlah, yang jelas, leherku sakit hanya untuk melihat wajah seriusnya. "Hamzah, kamu tolong urus tiga anak yang lain ya... kulo harus cepat balik ke pondok." "Dalem, Bi. Biar kulo yang urus." "Syukron ya, Hamzah." "Iya, Bi..." Hamzah sebenarnya tertarik tidak sih padaku? Dia bahkan sama sekali tidak melirik ke arahku. Berbalik pergi begitu saja. "Vina, ayo kita pulang," ujar abi. Aku mengangguk patuh, masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, abi hanya diam saja, nampak gusar dan lelah. Apa karena terlalu mengkhawatirkanku? Tapi, aku tak melakukan apa pun yang mencoreng nama abi, ya, aku hanya ada di pesta itu untuk menjebak Zayn dan komplotan mereka. Sekarang Zayn akan masuk penjara setelah ketahuan menggunakan narkoba, bahkan diduga juga menjadi kaki tangan pengedar obat-obat terlarang. Doubel combo! Aku tak perlu lagi mengotori tanganku untuk membuat kisahnya berakhir. "Abi, tadi belum sarapan, kah?" tanyaku. Abi menoleh menatapku bingung sesaat sebelum menggeleng pelan. Aku lupa, di masa ini, aku bahkan tak pernah memanggil abi. Bahkan tak heran, pertanyaanku barusan bagai pertanyaan yang keluar dari alien. "Belum. Abi cemas setelah dapat informasi kalau Ning Vina di bawa ke kantor polisi." "Abi tidak perlu cemas. Kulo baik-baik saja." "Abi minta maaf... karena abi tidak bisa menjadi ayah yang baik buat Ning Vina." Abi, Vina merasa beruntung punya ayah sebaik abi. Seharusnya Vina yang minta maaf pada Abi. Selama ini, Vina selalu merepotkan Abi... itu seharusnya yang aku katakan, tapi mulutku mengkhianatiku, yang keluar hanya kata, "Ya..." dengan nada datar, tak ramah di telinga. Aku tak bisa memungkiri, meski sekarang aku tak lagi seperti Vina yang dulu, tapi ada beberapa karakter lama yang masih tertinggal. Aku masih tetap Vina dengan gengsi setinggi langit, canggung dan bingung. Lemah lembut dan perkataan manis terasa aneh untukku. Sisa perjalanan dihabiskan dengan keheningan panjang. Abi dengan wajah sedihnya menatap keluar jendela. Aku berkutat dengan pikiran dan gengsi setinggi langitku, bingung harus basa-basi apa lagi. "Akhirnya abi pulang...." Fatmah menyambut abi yang baru saja turun dari mobil. Meski Fatmah hanya anak bawaan dari istri baru abi, Fatmah sama sekali tak canggung menjadikan abi seperti ayah kandungnya sendiri. Usiaku dan Fatma hanya beda 3 tahun. Dari awal, Fatma bisa menerima abi dengan sangat baik. Ya, karena abi memang baik. Berbeda dengan wanita berbisa yang sekarang datang menghampiri abi, ibu tiriku. Wanita itu sama berbisanya dengan Hesti. Manis diluar busuk di dalam. Wajah mengerikannya itu selalu ia tampakan saat abi tak ada. Ia berani membakar foto ibuku dihari keduanya masuk ke rumah, dan sialnya dia berlagak seperti korban, memfitnahku yang hal buruk. Ia bahkan rela membakar tangannya sendiri demi membuatku terlihat jahat. Saat aku mengatakan fakta sebenarnya, tak ada yang percaya! Semua orang mengira aku yang jahat. Anak yang tak ingin abinya bahagia memiliki keluarga. "Bagaimana dengan keadaan santriwati yang lain? Apa mereka juga sudah dibebaskan?" tanya Nyai Siti. "Maksud Nyai, Hesti?" sahutku. Nyai Siti seketika terbata. Dulu, aku selalu bertanya-tanya bagaimana bisa wanita seliar Nyai Siti bisa menjebak abi dalam perangkat cintanya. Jelas dunia wanita liar itu sangat berbeda dengan abi. Dia wanita malam. Tempat gelap yang tak mungkin abi datangi. Dulu, aku juga sangat berusaha keras untuk membuka topeng asli dari Nyai Siti, tapi selalu gagal. Nyai Siti selalu selangkah lebih maju dariku. Setiap kali menjebaknya, malah aku yang terlihat jahat. Aku selalu bingung kenapa semua ini selalu terjadi, tapi sekarang aku sudah tahu jawabannya. Hesti. Keduanya memiliki hubungan darah. Nyai Siti merupakan saudara jauh Hesti. Hesti sengaja menempatkan Nyai Siti di sisi abi agar bisa menghancurkanku dari dalam. Agar aku tak ada lagi ada tuntunan sehingga mudah baginya untuk menjadikanku boneka yang menari dari talinya. Sial! "Kalau keadaanmu gimana, sayang? Kenapa kamu bisa sampai di bawa ke kantor polisi?" Nyai Siti mulai dengan drama ibu baiknya. Aku mendengus, refleks menepis cepat tangannya dari lenganku. "Ning Vina, kamu mesti ingat kalau namamu melekat dengan nama abimu dan pondok ini. Bagaimana bisa kamu di bawa ke kantor polisi dari tempat yang seperti itu? Apa yang kamu lakukan di sana? Kamu gak melakukan hal yang bisa mencoreng nama baik abimu—" "Bisa diam gak!" sentakku. Aku termakan jebakan Nyai Siti. Responku barusan tentu langsung mengundang perhatian abi. Citraku dimata abi semakin buruk. "Ning Vina!" seru abi, memperingatkan. "Minta maaf ke umimu!" Aku diam membisu. Dia. Bukan. Umiku. "Sudahlah Sayang... Ning Vina mungkin hanya sedang lelah. Dia tidak bermaksud untuk tidak sopan padaku. Kulo tidak marah. Kulo sudah mulai terbiasa dengan sikap Ning Vina sekarang." Drama menyebalkan apa ini! Nyai Siti mendekatiku, memeluku seraya membisikan kalimat yang membuatku kehilangan kendali, "Dasar anak gak tahu diri! Pantas saja umimu meninggalkanmu pergi dengan pria lain." Plak! Abi terperanjat melihat Nyai Siti jatuh tersungkur ke lantai. Sudut bibirnya berdarah. Aku rasa itu cukup pas untuk membayar perkataannya barusan. "VINA!" Abi menatapku nanar. Tangannya bergetar terangkat ke arahku. "Tak perlu, sayang..." Nyai Siti langsung berdiri di depanku, berlagak menjadi tameng. Peran ibu baik. "Ning Vina, kenapa kamu sejahat itu pada umi? Bagaimana pun sekarang kita keluarga. Dia juga umimu." Fatmah yang sendari tadi diam, akhirnya angkat suara. Suara gadis itu bergetar, ini pertama kalinya ia berani mengatakan apa yang ada di hatinya. Aku tidak mengerti mengapa wanita sejahat Nyai Siti bisa memiliki anak yang baik? Fatmah merupakan santri yang baik, dia cerdas dan diam-diam sering membelaku saat beberapa santri mencibirku. Meski begitu, sifat penakutnya membuat dia bagai obat yang hanya larut di laut. Tak berguna. "Tanyakan langsung pada umimu, mengapa saya sangat membencinya." "Apa salah kulo? Kenapa Ning Vina sangat membenci kulo?" Nyai Siti mulai mengeluarkan jurus andalannya, wanita tak berdaya. Air mata palsu. "Kulo cuma ingin kita jadi keluarga bahagia. Kulo cuma ingin Ning Vina sadar dan nerima kulo sebagai uminya. Cuma itu..." Abi menatapku, matanya dipenuhi sedih dan kecewa. Sial, wanita berbisa itu berhasil menjerat abi untuk kesekian kalinya. "Abi kecewa padamu, Vina... mulai besok, kamu lebih baik pindah ke asrama pondok. Abi tak ingin melihat wajahmu di rumah ini..." "Abi ngusir kulo dari rumah sendiri demi wanita ini?" Aku menuntut jawaban abi. Tapi abi diam bergeming. Keputusannya bulat. Ia langsung meminta beberapa ART untuk mengemas bajuku. Mengosongkan semua lemari pakaianku. "Abi..." "Fatmah, tolong bantu umimu ke kamar dan mintakan pihak medis pondok untuk datang ke sini." Nyai Siti menoleh ke arahku, diam-diam memperlihatkan senyum seringainya padaku. Aku tertegun. Di masa lalu hal ini tak terjadi. Kenapa tiba-tiba terjadi hal diluar dugaanku? Apa karena aku mengubah satu peristiwa buruk yang harus digantikan dengan peristiwa buruk lainnya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD