Setelah kembali, Zayn dengan kesal menjatuhkan dirinya di kursi sebelah Karin. Wajah tengilnya kembali setelah segerombolan teman dan seorang wanita berpakaian minim berjalan cepat menghampirinya.
Tempat yang Zayn jadikan sebagai tempat pesat makin sumpek dipenuhi banyak orang. Aku benci aroma bau mereka yang khas sekali terik matahari. Aku rasa mereka anti mandi, atau mungkin mereka titisan api yang tak sudi bertemu air.
"Sayang...." ujar wanita yang menghampiri Zayn tadi. Ia nampak sangat manja sembari merangkul pundak Zayn.
Wanita itu sama sekali tidak malu atau ragu meski banyak pasang mata menyorotinya. Mungkin itulah fungsi make up tebal di wajahnya. Berwajah tebal.
Zayn melirik ke arahku, senyum miring tercetak di wajahnya. Mungkin berpikir aku cemburu. Cih.. aku sama sekali tidak peduli ! Aku malah ingin menjambak rambut berantakannya itu.
Namun, tidak bisa aku pungkiri, gadis bernama Sintia itu dulu salah satu wanita yang membuatku cemburu. Setiap melihatnya, aku selalu merasa kesal dan terancam. Dulu aku denial dengan kelebihan Sintia, tapi sekarang aku akui jika Sintia memiliki pesona yang unik.
Tak heran banyak cowok yang terpikat akan pesonannya.
Sintia itu tipekal it girl yang dominan feminim, tapi di sisi lain terasa maskulin dan independen. Sintia seperti perpaduan hitam dan pink. Dia jago karate dan terbiasa dengan lampu sorot.
"Liat gadis gatal itu, Ning... Dia main peluk-peluk aja," bisik Karin berusaha cari muka. Dia pasti berpikir aku diam karena cemburu.
Aku menoleh dan dengan cepat memasang wajah cemburu. Semoga wajah cemburuku terlihat natural.
"Gadis itu lagi!" geramku. Aku pura-pura mengepal tangan keras, sepertinya aktingku terlihat natural. "Sial! Dia sama sekali tidak peduli akan keberadaan saya di sini!"
"Rasanya saya ingin menjambak rambutnya sekarang juga! Saya tidak peduli jika Zayn membenci saya setelah ini..."
"Eh, jangan Ning..." Karin langsung menahan lenganku. "Jangan, Ning... bahaya kalau Zayn malah marah sama Ning..."
Good... Ini sesuai rencanaku.
"Lepaskan tangan saya!" Aku menggeram, makin terlihat marah di hadapan Karin.
"T-tapi, Ning..." Karin perlahan melepas lenganku. Sepertinya akting marahku terlalu berlebihan hingga membuat Karin takut. Ini bahaya!
"Ck!" Aku berdecak keras, perlahan mencoba merendahkan suaraku agar tidak terlalu terlihat jomblang dari marah tiba-tiba melunak.
"Gimana saaya mau sabar, gadis itu berusaha merebut Zayn dari saya..." keluhku. Aku melirik ke arah Sintia dan Zayn yang sedang berbicara, entah apa, tapi obrolan keduanya terlihat sangat menarik hingga tak selesai-selesai.
"Ning, benar... tapi, jika Ning labrak gadis itu sekarang di depan Zayn, Ning yang bakal rugi."
"Kamu benar..." Aku sepenuhnya memutar badan ke arah Karin, menyentuh tangannya. "Tidak akan rugi jika yang melakukan itu bukan saya, tapi kamu..."
"Saya?" Karin kaget. Dia spontan langsung menoleh ke arah Sintia dan Zayn. Nampak ragu.
Aku mengangguk pelan. "Itu salah satu cara terbaiknya. Kamu bisa bantu saya memberi pelajaran pada gadis tak tahu malu itu. Bukankah kamu begitu melakukan itu di Pesantren?"
Karin tak langsung menjawab. Di matanya terlihat keraguan dan kebingungan, tapi di satu sisi, ia tidak ingin usaha cari mukanya hilang begitu saja. Karin terlihat bingung.
Di tengah kebingungan Karin, tiba-tiba Sintia mengambil posisi tempat duduk Zayn. Kini Karin bersebelahan dengan Zayn.
"Tak masalahkan jika saya duduk di sini, Sayang?" ujar Sintia. Dia melirik ke arahku, lalu tersenyum sinis. "Dan saya berharap, tak ada yang akan terbakar di sini..."
Aku merasa seperti deja vu.. dialog Sintia sangat persis di masa lalu dan bahkan posisi duduknya sama persis, hanya bedanya dulu, aku bersebelahan dengan Sintia, sekarang Karin yang bersebelahan dengan gadis itu.
Pelemparan peristiwa masa lalu sudah dimulai....
Di masa lalu, Aku dan Sintia akan adu fisik. Aku jelas kalah, mengingat Sintia memiliki sabuk hitam karate, dia juga pernah memenangkan lomba juara satu karate tingkat nasional. Di dalam jilbab, rambutku rasanya nyaris rontok gara-gara ulah bar-bar Sintia.
"Dasar wanita genit," cibir Karin setelah Zayn pergi untuk menyambut beberapa temannya yang baru saja datang. Sepertinya Karin sudah mulai terpancing. Aku tak perlu mengeluarkan effort.
"Gak punya malu!" tambahnya, makin nyinyir.
"Siapa yang kamu maksud?" Sintia ikut terpancing.
Karin menoleh dengan sinis. "Apa liat-liat?" sentaknya.
"Dasar gadis udik. Penampilan dan mulutnya sama buruknya."
"Siapa yang kamu bilang udik, ha?" Karin tiba-tiba bangkit. Emosi di matanya sudah membara.
"Kamu. Gadis udik!"
"Kamu yang udik!" teriak Karin. Ia lantas langsung menarik rambut panjang Sintia yang ia kuncir. Sintia menjerit dramatis. Semua orang di tempat itu secara spontan langsung menyoroti keduanya. Semua orang menjadikan keduanya tontonan menarik ketimbang sapaan basa-basi Zayn selaku pemilik acara sekarang.
"Dasar cewek kegatelan nempel-nempel sama cowok orang. Gak tahu malu! Sok cantik!" hardik Karin, tangannya makin kencang menjambak rambut Sintia.
Tak mau kalah, Sintia ikut mencengkram keras kepala Karin sebagai perlawanan.
"Dasar cewek udik! Kampungan! Norak!" balas Sintia.
"Kamu yang norak! Make up tebel kayak boneka hantu!"
"Sial!"
"Argghhh..."
Keduanya bertahan sepuluh menit lebih dengan posisi saling menyerang dan menghina.
Saat melihat semua ini, sejujurnya aku merasa malu... aku tak menyangka bahwa di masa lalu aku melakukan hal bodoh dan memalukan seperti ini. Berteriak, memaki dan terluka hanya karena cowok jelek macam Zayn.
Cih...
Sungguh konyol!
Keduanya bahkan tak berhenti meski Zayn sudah memisahkan. Pertarungan mereka makin sengit. Aku tak dipihak mana pun. Aku non blok. Karin musuhku. Sintia musuhku. So, aku tak ada kepentingan di antara mereka. Peristiwa masa lalu itu sudah setengah rampung.
"Dasar gadis gila!" Sintia mendorong Karin, tangannya mengarah ke jilbab Karin, mengincar jilbab itu.
Dengan cepat, aku langsung menarik tangan Sintia. Sintia yang tak menduga pergerakanku, tak sempat mengelak. Ia terhempas jatuh.
Aku memang membenci Karin. Sangat benci!
Dan kali ini Sintia makim kelewatan batas.
Bagiku jilbab bukan hanya menutupi aurat wanita, tapi juga simbol betapa Allah sangat menjaga martabat setiap wanita. Jilbab adalah makhota setiap wanita. Melepas jilbab seorang wanita sama saja seperti melucutinya.
Aku tak akan membiarkan Sintia melepas jilbab Karin.
Aku bahkan juga akan melakukan hal yang sama, sekali pun itu Hesti.
Sintia yang tak terima akan kekalahannya dengan cepat langsung bangkit dan mencium Zayn.
Aku tercengang.
Bukan karena cemburu.
Tapi, karena peristiwa masa lalu telah sempurna. Sintia yang menyempurnakannya. Kemarahan Sintia sama persis sepertiku dulu. Saat merasa kalah, aku spontan mencium pipi Zayn untuk menunjukkan pada Sintia, Zayn milikku dan aku pemenangnya.
Dan sekarang aku tetap pemenangnya.. Aku tanpa sadar tersenyum puas. Sintia melihat itu dan tiba-tiba...
Plak...
Semua orang terdiam.
Tamparan keras mengenai wajahku. Sudut bibirku seketika berdarah.
Sial!
"Zayn, kamu tidak marahkan jika saya menamparnya? Dia yang memulai duluan. Saya hanya membalas apa yang dia lakukan.. saya sangat kesal..." katanya dengan nada seolah dialah korbannya sekarang.
"Kalian liat sendiri, kan?"
"Gadis udik dan temannya yang mulai duluan..."
"Saya hanya mengakhiri permainan ini..."
Beberapa teman pria yang berusaha mencari muka di depan Sintia, ikut beropini, mereka bergumam membela Sintia dan meminta Zayn memarahiku.
Sungguh drama tak penting. Aku segera menghapus kasar darah di ujung bibirku. Balik menatap tajam semua orang yang sekarang menyalahkanku.
"Ning..." Karin beringsut ke arahku.
"Ayo kita pulang sekarang."
"Tapi... Zayn, kenapa tidak membela Ning?"
Apa yang bisa diharapkan dari cowok tak berguna itu? Aku mendengus, hendak melangkah tapi Karin menahan lenganku.
"Zayn, pasti membela Ning. Ning, tak boleh kalah dengan wanita gatel itu..."
Karin menoleh pada Zayn, tapi seperti dugaanku, Zayn sangat memperhatikan reputasinya. Dia tidak ingin terlihat bodoh di hadapan teman-temannya. Karena itu, dia memilih diam.
Diam-diam Sintia melempar senyum ke arahku. Tangannya mengacungkan jempol terbalik. Hah... aku tak peduli itu. Trik murahan untuk memancing amarah orang. Aku berbalik, menghempas keras lenganku dari Karin.
Saat aku melangkah, suara bising gerombolan pembela Sintia kembali berdengung.
"Dia tentu saja tidak akan berani membalas Sintia. Sintia dan dia bagai langit dan jurang. Sekali tendangan saja, kakinya akan langsung remuk."
"Tak heran jika dia sekarang ingin pergi. Pasti dia ingin menangis di pesantren kumuhnya itu."
"Ternyata apa yang Sintia katakan benar, gadis bodoh. Pantas saja ibunya pergi meninggalkan dia. Dan ayahnya... ha, ayahnya hanya tahu memakai sarung di pondok.
"Ya, Sintia benar. Sekeluarga bodoh semua. Kebanyakan mabuk agama..."
"Sintia bilang ayahnya gila agama. Tahunya cuma baca huruf arab dong."
Kemarahanku membara. Aku kembali berbalik. Berjalan ke arah Sintia.
"Tarik setiap ucapan yang pernah kamu ucapkan tentang abi saya!" teriakku.
Sintia terkekeh pelan, seolah kalimatku barusan lawakan terlucu untuknya. "Memangnya apa yang pernah saya katakan tentang abimu itu?"
Suaraku tercekak.
"Terlalu banyak yang pernah saya katakan. Saya lupa. Bisa katakan ulang?"
"Tarik semua perkataan burukmu tentang abi saya!"
"Yang mana?"
Tanganku sudah sakit menahan kemarahan. Satu tonjokan keras berhasil aku sematkan di wajah Sintia. Gadis itu terhuyung, jatuh di depan semua orang. Lagi.
"Sial!" pekiknya. Dia langsung bangkit, mengabaikan mulutnya yang penuh darah. "Saya akan tarik semua perkataan saya, tapi setelah kamu berhasil mengalahkan saya di tempat sparing!"
"Oke!"
Semua orang kaget dengan jawabanku. Karin yang berada di belakangku langsung mendekat padaku, membisikan kata-kara yang memintaku untuk menarik perkataanku barusan.
"Sayang, Sintia bersabuk hitam karate. Kamu tidak akan bisa mengalahkannya, " Si Bisu menyebalkan—Zayn, baru menemukan suaranya yang telah hilang sejak tadi.
"Ning, lebih baik kita pulang saja sekarang... jangan terima tantangan gadis gatal itu."
"Saya tidak akan pulang sebelum dia menarik semua perkataannya!"
Sintia terkekeh, merasa di atas angin. "Oke. Jika saya menang. Saya akan berlutut di hadapan kamu dan menarik semua perkataan saya tentang abimu. Tapi, jika saya yang menang, kamu siap-siap kehilangan nyawamu."