"Setuju!"
Hening. Semua tatapan langsung menyorotiku. Tatapan mereka beragam, ada yang kaget, mencibir dan bahkan tersenyum mengejek.
"Dia gila ya? Apa dia gak tahu Sintia itu petarung hebat."
"Iya, bukannya cewek itu pacaran Zayn ya? Kok bisa Zayn punya cewek seudik itu."
"Dia pasti bakal kalah di ronde pertama."
"Zayn pasti malu punya cewek udik kayak dia."
"Ning Vina..." Zayn angkat suara. "Tarik keputusanmu sekarang!"
"Kenapa?"
"Kamu gila ya! Kamu tak akan menang melawan Sintia!"
"Darimana kamu yakin?"
Zayn tertawa mengejek. "Bahkan kemampuan bela dirimu tak layak dibandingkan dengan Sintia. Kalian bagai Gajah dan semut."
"Saya gajahnya."
"Ning Vina—"
Nyalimu boleh juga..." sela Sintia menghentikan kalimat Zayn. Sintia menatapku dengan senyum tengilnya, seolah berada di atas angin dan kemenangan sudah ada di tangannya.
Orang bijak pernah berkata, menganggap musuhmu remeh adalah awal dari kehancuranmu. Sintia tak tahu apa yang akan dia hadapi.
"Zayn, kamu tak perlu khawatir, saya mungkin akan memberikan sedikit keringanan padanya. Saya tidak akan membuatnya sampai mati. Tapi, saya tak janji dia akan selamat, ya minimal kakinya patah."
Aku balik tertawa. "Dengan tenagamu yang tak seberapa itu, bagaimana bisa mematahkan kaki saya?"
"Apa kamu bilang?"sentak Sintia tak terima.
"Bilang apa? Apa kamu tak bisa mendengar suara saya dengan jelas? Sepertinya kamu harus rajin ke dokter THT. Saya rasa kesombongan sudah memenuhi telingamu."
Di masa lalu, aku selalu merasa terancam akan keberadaan Sintia di sekitar Zayn. Meski tak pernah mengakui secara terang-terangan, tapi jauh di lubuk hatiku, aku selalu ingin bisa mengalahkan Sintia. Aku tak rela jika semua lampu sorot Zayn terbagi ke arahnya.
Semua alasan itu membuatku nekad secara diam-diam selama 6 bulan belajar karate. Aku bertekad mengalahkan Sintia dalam lomba tahunan Karate. Setiap ahad sore, aku pergi ke tempat karate tanpa ada satu pun yang tahu.
Aku sudah menguasai karate dan mendapat sabuk hitam. Aku nyaris bertemu Sintia di pertandingan, jika saja Hesti tidak menyabotaseku dan membuat punggung tanganku cedera serius. Aku tak bisa bertanding seumur hidupku.
Saat hari H pendaftaran lomba, selembaran poster lomba itu tidak sengaja terlihat oleh Hesti di dalam tasku. Aku sangat yakin setelahnya Hesti mulai curiga dan membututiku. Kecelakaan yang kualami tidak lepas dari Hesti dan kronconya.
Kenapa aku yakin? Karena tiba-tiba saat membesukku, Hesti keceplosan mengatakan soal lomba karate.
"Ning Vina..." Karin berbisik. "Sebaiknya, Ning pikirkan ulang keputusan ini."
"Kenapa? Kamu meragukan saya?" balasku.
"Bukan gitu, Ning..." Karin tercekak. Ia menggeleng berkali-kali, mencoba membuktikan jika dia sekarang berada di pihakku.
"Sintia itu juara satu karakte nasional.. sedangkan Ning—" Karin kembali terdiam. "Hem... satu pukulan Sintia, bisa berakibat fatal untuk Ning."
"Bagaimana jika sebaliknya?"
"Tak mungkin. Ning, bahkan tidak pernah belajar seni bela diri mana pun," sahut Karin cepat, tanpa ragu sedikit pun.
Apa yang Karin katakan memang benar, tapi itu dulu. Dulu aku sama sekali tidak tahu mengenai seni bela diri. Nam
Aku akan menang.
"Ning tak akan mungkin menang!" tambahnya berusaha membuatku meragukan diriku sendiri.
"Vina, saya tahu kamu cemburu, tapi kamu tak perlu melakukan hal ini. Sintia jelas bukan lawanmu," ujar Zayn tiba-tiba. Sintia yang berdiri di sebelahnya tersenyum sinis.
"Pertandingan ini bisa saja saya batalkan, dengan syarat dia harus sujud di hadapan saya!" tambah Sintia.
Cih!
Dia hanya akan bermimpi. Bahkan sampai darah terakhir pun aku tak sudi bersujud pada manusia!
"Kamu dengar itu Vina! Kamu hanya perlu sujud di kaki saya dan minta maaf. Segera lakukan!" paksa Zayn.
"Lakukan sekarang Vina! Sintia sudah bermurah hati padamu."
"Cih, bermurah hati?" dengusku kesal. Dasar pria gila!
"Kalau begitu kamu saja yang bersujud di kaki dia!"
"Vina!" Zayn mendelik, wajahnya merah menahan marah. Jelas perkataanku tadi sudah mengusik prinsip partiakinya. Beberapa orang di belakangnya mulai berbisik.
"Jika kamu tidak mau, jangan bepikir saya mau melakukan hal menjijikan itu!" tegasku.
Zayn kehilangan kata-kata, ia menatapku kaget, marah dan bingung sekaligus. Sepertinya dia bertanya-tanya atau mungkin keheranan melihat sisi baruku.
"Baiklah. Jangan salahkan saya jika terjadi hal buruk padamu. Isi kepalamu sama kerasnya sepeti batu!" pungkas Zayn. Ia menoleh kepada Sintia yang tersenyum puas melihat pertengkaran kami.
"Sintia, apa pun yang terjadi padanya, saya tidak akan peduli."
Sintia tersenyum mengejek. "Baiklah .. mari kita mulai sparingnya ... saya sungguh tak sabar melihat wajah kesakitan gadis udik ini."
"Saya rasa kamu butuh kaca,” kataku santai. “Agar nanti kamu bisa menikmati pemandangan terbaik hari ini — wajah kesakitanmu...."
Aku sangat puas melihat wajah kesal Sintia. Sintia sepertinya tak menduga bahwa aku berhasil membalik kata-katanya yang membuat dia malu dan kesal sekaligus.
"Kita lihat saja siapa yang akan menangis hari ini!"
"Ck! Terlalu banyak omong, persis tong kosong nyaring "
"Siapa yang kamu maksud?!"
Aku balas menatap Sintia. "Tepat di hadapan saya ...
"Kamu!" pungkasku.
Wajah Sintia memerah, jelas gadis itu berusaha menahan amarah yang memuncak di dadanya. "Kita lihat saja nanti!"
Sudut mataku beralih, tak sengaja menangkap Karin yang berjalan pelan ke belakang. Gerak-geriknya sangat mencurigakan, ia mengobrol dengan seseorang, meminta sesuati, lalu orang itu memberikan ponselnya. Karin tersenyum dan membawa ponsel itu ke arah kamar mandi.
Sepertinya aku tahu apa yang ingin Karin lakukan. Aku diam-diam mengekor di belakangnya.
"Saya ingin bicara dengan Hesti Putri."
"Ya, saya saudaranya."
Tepat!
Sudah kuduga, Karin tidak akan bisa membukam mulutnya lebih lama lagi. Mulutnya itu sejak tadi pasti sudah sangat gatal ingin menyampaikan semua ini pada Hesti. Dia sampai meminjam ponsel salah satu orang di pesta untuk menghubungi Hesti di pesantren.
"Halo, Hesti?"
"Hesti, kamu harus tahu ini kabar besar soal Ning Vina!"
"Saya sekarang sedang berada di kamar mandi. Saya dipaksa Ning Vina untuk ikut menemui Zayn hari ini."
"Detailnya akan saya ceritain nanti di pondok. Yang terpenting, kamu harus tahu kalau malam ini Ning Vina menantang Sintia untuk sparing!"
"Iya, Sintia... gadis yang kata Zayn pinter seni bela diri itu."
"Pengkhianat akan tetap jadi pengkhianat!" Aku langsung berbalik, tak tertarik menguping lebih lama lagi percakapan yang tak penting itu.
Sekembalinya Karin, gadis itu beralasan jika perutnya mulas yang membuatnya lama di kamar mandi. Mulutnya sangat fleksibel dalam berbohong.. bahkan matanya sama sekali tidak terlihat ragu.
"Sakit perut atau..." Aku bangkit menatap tajam Karin. Karin sangat berusaha membuat ekspresi wajahnya tenang.
"Perut saya beneran sakit, Ning." Suaranya agak getar sekarang.
"Baiklah." Aku menepuk pelan pundak Karin. "Jelas kamu pasti tidak akan mengkhianati saya. Kamu pasti tidak akan mengatakan apa pun tentang semua yang terjadi sekarang. Iya, kan?"
Karin menggangguk pelan. "Iya, Ning."
Dasar pembohong!
Sejujurnya aku penasaran, hal buruk apa yang akan Hesti rencanakan untuk memperburuk citraku?