Rola menepis tangan kasar itu dari tangannya. Dengan bola mata memicing, hidung yang mengerut karena menahan kesal, Rola harus memendam batas kesabarannya sendiri karena Marcuss Regan.
"Kau pikir, aku mau bersamamu?"
Rola mendesis. Mengepalkan tangan terlampau erat sampai buku-bukunya memutih. "Aku tidak peduli. Sama sekali tidak peduli."
Regan mendengus. Menatap perempuan sok tegar di depannya dengan pandangan mencela terang-terangan. Kalau tidak kompromi yang ditawarkan Kamara Kiara, dia tidak akan mau merendahkan dirinya bersama perempuan kuno yang tidak memenuhi seleranya.
Rola melepas ikat rambutnya sendiri. Memicing menatap Regan dengan pandangan tak suka terang-terangan. "Siapa pula yang peduli dengan penjahat kelamin sepertimu?"
Belum sempat Rola bergeser, satu tamparan melesat di pipinya. Mengenai pipi kanannya sampai memerah. Dengan desisan samar, Rola menatap Regan yang berdiri di depannya. Siap murka.
"Aku tidak butuh mendengar celaanmu malam ini, pelacur."
"Aku bukan p*****r!" Rola berteriak. Nyaris menjerit sampai pita suaranya hancur. "Siapa yang peduli dengan semua ucapan Kamara Kiara? Kenapa kau harus menurutinya? Dia bukan manusia suci! Dia bukan orang baik."
Satu tamparan lagi melesat. Rola tersungkur di atas lantai. Memegang pipinya yang panas, bertambah panas karena gambaran tangan Regan begitu jelas terlihat di sana.
"Perempuan miskin dan tak bermoral sepertimu, bisa apa?"
Rola membeku.
"Tidak bermoral," kembali, mengulang kalimat yang sama. "Aku bukannya tidak tahu tentang kau dan Selena, Rola. Tapi, memang adanya hubungan terlarang di antara kalian merusak segalanya. Kau menghancurkan reputasi Selena, reputasi marga besarnya. Wah, pantas saja Nyonya Kiara mau menghancurkanmu."
Kedua mata Rola melebar. "Jaga bicaramu!"
Kekehan Regan lepas terdengar. Mengurai bersama udara dan pendingin ruangan di dalam kamar. "Kenapa harus? Aku benar-benar tidak bisa menahan tawa saat melihat adikku tadi."
Kepalan tangan Rola mengeras.
"Kau tidak tahu apa pun, dan berhenti. Berhenti mengambil kesimpulan yang tidak kau tahu kebenarannya," geram Rola marah.
"Heh? Informasi yang kudapatkan sungguh di luar dugaan," bisik Regan serak. Seringai puasnya melebar penuh. "Sebentar lagi, Damien akan terguncang. Dan aku benar-benar menunggu di saat dia benar-benar lepas kendali, dan menghancurkan segalanya."
Rola terpaku. Bibirnya terlipat ke dalam memandang betapa keji pikiran yang Regan miliki. Menghancurkan keluarga adiknya adalah kebahagiaan? Bagaimana bisa?
"Pantas saja, Selena merasa jijik denganmu," Rola menunduk dengan dengusan. "Jalan pikiranmu, bagaimana tingkah lakumu, mencerminkan kebencian dia yang sebenarnya. Kau hanya parasit, Regan. Parasit yang harus dibasmi dari kehidupan."
Marcuss Regan menahan tawanya sekali lagi. Kepalanya tertunduk untuk melihat Rola Mizuki yang sekali lagi membuang muka darinya. Dengan tarikan napas panjang, saat Rola merintih karena rambutnya ditarik kasar.
"Dengar, kalau pun aku hancur, semua yang membuatku sakit, juga harus hancur."
Rola memutar bola matanya. Memandang ekspresi gelap Regan yang terlalu pekat.
"Aku bisa memanfaatkan celah ini untuk menusuk Kamara Kiara, ibu dari Selena. Yang kerap kali menghinaku. Apa aku harus diam saja?" Regan menggeleng dengan senyum sinis. "Aku tidak akan diam. Reputasiku dipertaruhkan hanya karena mereka memiliki uang lebih banyak dari aku."
Rola mendesis. Meludah di depan pria itu, dan Regan dengan sengaja membenamkan wajah Rola yang pucat dan luka ke dasar lantai, menginjak punggung tangan perempuan itu, dan bergegas pergi.
Membiarkan Rola terbaring. Meremas tangannya sendiri dengan airmata yang tiada henti mengalir.
***
Damien terbangun di tengah malam. Mendengar suara gemuruh samar-samar, kilat yang bersahutan dari luar rumah, dan udara yang bertambah dingin di dalam kamar.
Dengan langkah pasti, dia berjalan ke luar kamar. Memeriksa isi rumah, dan menemukan lampu-lampu tidur masih menyala dengan baik.
Pintu itu terbuka. Damien mengintip ke dalam. Menemukan Marcuss Dion benar-benar pulas dalam tidurnya. Mendekap guling dan boneka bergambar mobil yang menjadi hadiah ulang tahunnya kelima, dari sang kakek. Kamara Yuma.
Setelah memastikan kondisi putranya, Damien kembali ke kamarnya. Menutup pintu dan berjalan untuk mengintip jendela yang tertutup. Kilat itu menyambar satu sama lain. Damien melihat angin itu menerbangkan daun-daun dan ranting pohon kering. Membuat taman rumahnya berantakan.
Kembali menutup tirai, atensi Damien terpaku pada sosok Selena yang terlelap. Selena biasanya yang rutin mengecek kondisi putra mereka kalau hujan melanda. Dion takut berada di kamarnya sendiri ketika melihat kilat atau mendengar suara petir. Anak itu akan tiba-tiba terbangun dan meringkuk ketakutan.
Gerakan kaki Damien bukan melangkah kembali ke ranjang. Melainkan, beralih pada meja rias yang cukup besar. Dengan Selena yang biasa menghabiskan waktu di sana untuk merias diri, untuk memakai produk kecantikan, atau terkadang melamun.
Damien menatap semua benda yang ada di atas meja. Pandangan matanya beralih pada laci kecil yang terletak di antara kaki-kaki meja.
Damien membungkuk, membuka laci itu diam-diam. Layaknya seorang pencuri, Damien harus berhati-hati mencari dan melihat apa isi laci yang menemani istrinya selama sepuluh tahun.
Privasi Selena, akan selamanya menjadi miliknya. Damien tidak akan menyentuh barang pribadi sang istri kalau tidak diperlukan. Dan kali ini, biarkan dia mencari segalanya.
Sampai dia benar-benar bisa memejamkan mata dengan nyenyak.
Kedua matanya memicing menemukan kotak berbentuk persegi dengan aksen bungkus kado polos berwarna biru langit. Damien terdiam menatapnya, menarik kotak itu ke atas meja sebelum termenung.
Biru langit bukan kesukaan Selena. Tetapi, kenapa bungkus kotak ini berwarna senada dengan warna langit di pagi hari?
Atau, Damien yang acap kali melewatkan hal-hal kecil tentang istrinya?
Dengan gerakan samar, Damien membuka isi kotak itu. Menemukan beberapa kertas di dalam kotak, dan terdiam. Mengambil salah satunya untuk ia baca.
Namanya, Marcuss Damien. Laki-laki yang duduk di depanmu. Di meja nomor enam. Yang diam-diam memperhatikanmu. Wajah tersipunya sangat menggemaskan. Dan dia, sepertinya orang baik.
Damien tersentak. Terpaku menatap tulisan tangan yang membawanya pada kenangan belasan tahun lalu. Saat usianya tujuh belas. Menenukan Sahara Seika di perpustakaan Tokyo bersama Selena.
Damien membalik kertas itu, tertegun menemukan tulisan tangan istrinya terukir indah di sana.
To me, a man is over the bullshit. He doesn't make a commitment unless he knows he is ready and then he is mature in the way he goes about it.
Bibir Damien menipis ketat. Menemukan tulisan tangan itu seakan ditulis dengan sepenuh hati. Penuh rasa takut, dan rasa tidak percaya terhadap takdir.
Damien melihat ada kelopak bunga krisan putih yang layu. Tersembunyi di dalam kotak. Dia menyentuh kelopak bunga itu, meresapi makna yang pernah Selena selipkan untuknya.
Apa maksudnya semua ini?
Dan semua kertas-kertas itu bermakna untuk Selena. Sampai-sampai istrinya menyimpan kertas tulisan tangan Sahara, penuh makna dan seakan memang begitu berarti. Yang membawa Selena sampai menjadi dirinya sekarang.
Damien terdiam selama beberapa saat. Otaknya memiliki kecakapan tertentu. Karena menebak teka-teki ini saja, membuatnya nyaris putus asa dan tidak percaya. Begitu pula dengan isi hatinya yang mencoba bertanya, mengapa Selena tidak bisa memiliki rasa yang sama dengannya?
Dengan dengusan pelan, Damien kembali memasukkan isi kotak itu ke tempatnya. Menutupnya kembali, dan dengan harapan yang melambung tinggi.
Berharap, dia bisa memecahkan kunci teka-teki ini sendiri, dan memutuskan bagaimana dia harus menghadapi takdir atau petaka yang akan membayangi keluarga kecilnya nanti.
Kalau yang Selena lakukan selama ini demi putra mereka, maka kali ini Damien akan lakukan apa pun demi dirinya sendiri. Demi menuntaskan rasa ingin tahu akan masa lalu istrinya yang terlalu abu-abu.
Jauh dari arti biru langit itu sendiri.
***
"Mama, hari ini tidak perlu menjemput. Aku akan pergi bersama Lawson untuk merayakan ulang tahun Souma."
"Souma?"
Kepala Dion terangguk. "Souma ulang tahun lusa kemarin. Bibi Tari mengundang kami untuk makan bersama. Aku bilang padanya akan datang kalau Mama memberi izin."
Selena mengernyit. "Aku tidak tahu kalau Souma ulang tahun."
"Drian terlalu terburu-buru menikahi Tari dulu. Atau memang saat mereka menikah, Tari sedang mengandung. Jadi—,"
Damien berdeham. Menahan kalimat selanjutnya dengan bibir terkatup rapat. Dia menatap Selena yang menggeleng dengan tarikan napas, lalu pada anak semata wayang mereka yang menatap penuh ingin tahu.
"Souma, bukan anak dari pernikahan yang sah?"
Selena menoleh. Menaruh sendok dan garpunya di atas piring. Saat dia mendelik pada sang suami, dan Damien hanya berdeham. Menunduk untuk memutus tatapan tajam itu dari istrinya.
"Siapa bilang? Paman Drian menikah lebih dulu dari Papa. Sekitar, satu atau beberapa bulan dengan jarak pernikahan kami."
"Begitu?" Dion kembali mengunyah roti bakar dengan isian daging bakar dan sosis. "Di antara kami bertiga, Souma lebih tua. Lalu, aku, dan terakhir Lawson."
"Lawson memang terlihat masih seperti anak usia lima tahun," kata Selena gemas.
"Dia menyebalkan," gerutu Dion.
Selena menahan senyum. "Menyebalkan, tapi dia satu-satunya teman dekatmu. Benarkan? Selain Souma, tentu saja."
"Yah," dengus Dion. "Mau bagaimana lagi?"
Selena kali ini tertawa. Dengan gemas, dia mencubit pipi anaknya dengan sayang. Kemudian, menatap sang suami yang juga sedang menatap mereka.
"Kalau Dion tidak mau kujemput, itu berarti dia akan pulang dengan supir keluarga Berry. Bagaimana kalau siang nanti, aku akan ke kantor?"
Damien menatap sang istri. "Ke kantor?"
"Mengajakmu makan siang," Selena tersenyum. "Sesekali?"
Dion menghentikan kunyahan sosis di dalam mulutnya. Menatap bergantian pada dua orang yang paling berarti di hidupnya dengan tatapan penuh arti.
"Boleh," lalu, mendapati ada sinar malu di mata sang ayah, Dion mendengus menahan senyum.
"Oke," Selena kembali menyantap sarapannya. Kemudian, melirik sang anak yang diam-diam menahan senyum, dan kurva di bibirnya ikut melengkung tertarik naik. Melihat bagaimana tingkahnya pagi ini, dan itu sudah menjadi segalanya untuk dirinya. Untuk Selena.
***
"Apa yang kau lakukan ini kesalahan, Kiara."
Sebelum Kamara Kiara mengeluarkan suara, dia mendengar jeritan dari kamar inap bernomor delapan. Kamar yang ada di lantai VIP dengan fasilitas terbaik di rumah sakit.
"Kenapa kau meminta dokter untuk mencabut selang kehidupan Nana Mizuki? Tidakkah, kau mengerti perasaan Rola sekarang?"
"Kenapa kau mau peduli, Yuma?"
Kamara Yuma tidak bisa menahan diri. Saat dia mendengar tangisan Rola, dan melihat betapa hancurnya perempuan malang itu, menyentuh nuraninya.
"Kiara, sudah. Setidaknya, kau harus meminta maaf. Rola tidak—,"
"Kenapa harus membelanya, Yuma?" Kiara berdiri. Menuding suaminya dengan telunjuk. "Kau tahu karena Rola, putri kita hancur sampai sejauh ini. Petaka yang Rola bawa, memberikan dampak besar untuk Selena. Dan aku harus diam saja?"
Yuma menarik napas. Tangannya terkepal di samping jas dokternya dengan rahang mengeras.
"Berhenti, Kiara. Kau sendiri tidak tahu apa yang Selena alami! Kenapa kau harus bersikeras selalu membelanya?"
Kedua mata Kiara melebar. "Ada apa denganmu?"
Yuma menahan getirnya sendiri. "Selena terluka, itu karena dari kita. Dari diri kita sendiri. Darimu, dariku, dan dari harapan putri kecil kita. Selama ini, kau tidak sadar?"
Kamara Kiara mendengus.
"Kenapa tiba-tiba? Kenapa kau baru bicara sekarang? Aku yang melahirkan Selena. Aku tahu benar apa yang terjadi pada putriku. Selena tidak seperti ini. Dia bukan gadis yang minim ekspresi. Dia ceria. Dia berwarna! Dan kenapa? Kenapa kau harus mengatakan kalau kita menghancurkan harapannya?"
Yuma tertegun mendengar ucapan istrinya.
"Aku berusaha keras menjaga agar Selena tetap menjadi Selena yang kumau. Tapi, apa kau bilang? Dia hancur karena ekspetasinya sendiri? Harapan apa yang Selena bangun, sampai-sampai dia terluka? Sampai dia menimbulkan aib yang membuatku atau dirimu terluka?"
"Kau masih percaya kalau Rola dan Selena memiliki hubungan di luar batas?" Yuma bertanya, dan Kiara terdiam.
"Ya. Dan bagiku, itu adalah hal memalukan. Aib yang sebisa mungkin kujaga," bisik Kiara. "Dengan nyawaku sendiri, aku akan berusaha keras melenyapkan aib itu dari tubuh putriku."
Kedua mata Yuma terpejam. Tidak baik memang mereka bertengkar di ruang kerja. Tapi, melihat istrinya datang dan memakai kuasa serta uang yang dia punya, dia mampu merubah hidup seseorang.
Contohnya, membuat Rola Mizuki kehilangan ibunda tercinta yang terbaring di rumah sakit selama bertahun-tahun karena radang otak.
"Kalau kau tidak tahu apa pun, kau sebaiknya diam saja," tukas Kiara datar. "Biar aku yang membereskan segalanya. Aku bermain-main, dan kalau pun aku terbakar, hanya aku yang terbakar. Tidak kau, tidak pula pada putriku."
Bibir Dokter Yuma mengatup rapat.
"Rola dan Selena hanya berteman. Ikatan mereka lebih dari teman, dan mereka layaknya saudara dekat dengan ibu dan ayah yang berbeda. Begitu pula dengan Sahara."
Rupanya, Kamara Kiara tidak lagi mau mendengarkan ucapan sang suami. Wanita itu melangkah ke ruangan di mana Rola masih menangis, memeluk jasad ibunda yang telah tertutup selimut.
Selena yang selama ini membantu. Dan Yuma yang juga meminta pada dokter lain memberi kehidupan untuk Nana Mizuki. Berusaha menahan keras keinginan Kamara Kiara untuk melenyapkan satu-satunya keluarga dekat yang Rola miliki.
Satu-satunya yang berusaha Selena lindungi, tanpa Yuma tahu arti dibalik usaha sang putri.
***
Marcuss Damien menahan langkahnya. Begitu pula dengan Berry Drian. Paham akan keadaan keduanya yang belum sepenuhnya membaik, Drian mengambil ancang-ancang untuk melerai keduanya jikalau keributan itu kembali.
"Mau apa kau kemari?"
Marcuss Regan mengangkat tangannya. Dengan seringai, dan dengan tampang yang dibuat sesantai mungkin. Dengan serampangan, dia berjalan. Duduk di kursi yang sebelumnya Drian tempati. "Hanya mau duduk dan melihat bagaimana kerjas keras adikku."
Damien melirik Drian yang masih terlihat tidak suka. Dengan helaan napas, dia meminta Drian untuk kembali. Sebelum pria itu berlalu, dia menepuk bahu Damien dengan dua kali tepukan. Lalu, berjalan pergi.
"Sudah pergi pahlawan kesiangan itu?"
"Katakan saja apa maumum," ketus Damien. Berjalan kembali ke kursinya sembari melempar dokumen. "Sebentar lagi makan siang."
Regan berdecak. "Selena atau Dion?"
Alis Damien bertaut. "Apa maksudmu?"
"Pilih saja," sahut Regan. "Aku memberi dua pilihan. Di antara istri atau putramu."
Damien mendesis tak percaya. "Kenapa harus memilih? Keduanya keluargaku."
"Salah satunya, bukan."
Damien semakin tidak mengerti.
"Kalau tidak ada keperluan, kau sebaiknya pergi, Regan. Tidak ada gunanya kau di sini."
Marcuss Regan mendengus. Sama sekali tidak gentar menghadap ancaman sang adik. Ekspresi Damien mulai tak nyaman sekarang.
"Jika kau memilih salah satunya, berarti kau melepas yang lain. Kau tidak mau itu, Damien?"
Damien menatap sang kakak dingin.
"Untuk apa mempertahankan rumah tanpa cinta, Damien?"
Kedua mata Damien memicing. "Apa yan kau bicarakan, Regan? Tentang semalam? Untuk apa kau mengajak Rola datang ke acara resmi itu?"
"Kenapa memangnya? Rola cantik. Dan aku tertarik padanya," sahut Regan santai. "Kau berpikir lain? Atau jangan-jangan, kau cemburu padaku?"
Damien menipiskan bibir. Ucapan kakaknya sama sekali tidak masuk akal sekarang. "Dasar gila."
"Kamara Kiara menjanjikan aku akan lepas dari jerat pidana kalau aku menurutinya. Dia juga tidak akan membantumu lagi duduk di perusahaan. Kenapa tidak aku mengambil umpan itu?"
Kening Damien mengernyit samar. Ibu mertuanya akan lakukan itu demi menghancurkan Rola?
"Bingung, Damien?" Regan terkekeh pahit. "Sudahlah. Aku hanya ingin bertanya. Di antara keduanya, siapa yang akan kau pilih. Selena atau Dion? Istri atau anak?"
"Kalau kau bertindak sesuatu di luar akal," bisik Damien penuh ancaman. "Aku yang akan menyeretmu sendiri ke penjara."
Marcuss Regan balas menyeringai. Oh, untuk apa dia takut sekarang? Setelah ibunya memilih untuk mundur, dan ayahnya pun sama. Regan harus mencari jalan lain.
"Persidanganmu dibatalkan?"
"Sekuat itu pengaruh Kamara Kiara. Aku sendiri tidak mau peduli pada Hyena. Karena Selena ada di pihaknya. Dan aku tidak suka siapa pun ikut campur dalam masalahku," kata Regan sinis.
Dengan tawa meluncur bebas. Regan berdiri dari kursinya. Bermain-main dengan pandangan meledek terang-terangan untuk sang adik. Lalu, dia berjalan ke luar ruangan.
Langkahnya tertahan, menemukan Kamara Selena berdiri di depan pintu yang hanya separuh tertutup. Rupanya, Berry Drian sengaja membiarkan pintu itu terbuka.
"Selamat siang, kakak ipar," sapa Selena setelah memasang senyum seramah mungkin. "Apa kabar?"
"Aku baik, Selena," balas Regan dengan senyum. "Senang melihatmu. Semalam, aku ingin menyapa. Tapi, sepertinya kau dan Damien terburu-buru sekali?"
Senyum belum sepenuhnya lepas dari bibir Selena. "Benarkah? Aku malah menantikan kau dan Rola menyapa."
"Ah, Rola," Regan menggaruk pangkal hidungnya. "Sahabatmu, cantik juga. Dia mengesankan."
Senyum itu perlahan-lahan pudar. Tergantikan ekspresi dingin luar biasa menggetarkan. "Jauhi dia."
"Apa ancaman itu berlaku untukku?"
Manik itu menyipit tajam. Seakan Kamara Selena siap menguliti Marcuss Regan hidup-hidup.
"Jauhi dia," ancam Selena sekali lagi.
"Kenapa harus?"
"Kau akan menyesal karena berurusan denganku, Marcuss," bisik Selena. Kembali, raut ramah penuh kepura-puraan itu menghias. "Apa pun yang akan Kamara Kiara lakukan, kau akan menyesal karena menuruti semua ucapannya."
"Kau tahu pasti apa yang dia janjikan padaku, Selena?"
Damien berdiri. Bersiap melerai keduanya, tetapi sorot mata Selena meminta suaminya untuk tetap diam di tempat.
"Kau sendiri tidak bisa menghentikan sidang pertamaku dengan Hyena, bukan? Mana kekuasaan yang kau agungkan itu?"
Tangan Selena terkepal. Menatap Marcuss Regan sekali lagi dengan bibir menipis. Rahangnya mengeras. Sebelum, Regan menabrak bahunya dan berjalan begitu saja membiarkan Selena dikendalikan amarahnya sendiri.
"Ada baiknya, kita makan—,"
"Aku datang untuk memberitahumu sesuatu," Selena bicara tanpa menatap mata suaminya. "Aku harus pergi ke rumah sakit. Rola baru saja kehilangan ibunya. Aku tidak bisa membiarkannya sendiri."
"Kalau begitu, biar aku antar."
Selena mendongak. "Tidak. Kau tetap di sini."
"Aku luang sampai jam dua siang," Damien mendekatinya. Dan Selena bergerak mundur. Menunduk untuk melenyapkan rasa sakit di wajahnya sendiri. "Tidak apa. Aku akan menemanimu di rumah sakit."
"Tidak," kepala cokelat itu menggeleng. Dan Selena pergi begitu saja, meninggalkan sang suami yang terpaku. Menatap kepergiannya dengan pandangan bingung.
Ponselnya berbunyi. Damien membuka cepat pesan singkat yang mampir, menemukan Marcuss Regan si pengirim pesan tersebut.
Aku meninggalkan sesuatu di mejamu. Baca, dan lihatlah. Jangan terkejut dengan kenyataan pahit yang sebenarnya, adik kecil.
***
"Mama."
Selena berjalan dari kursi meja belajar putranya. Membungkuk untuk lebih dekat dengan Dion yang menatap matanya penuh tanya.
"Hm?"
"Mama ... mencintai Papa?"
Selena terdiam sebentar. Ekspresi datarnya belum luntur saat Dion menipiskan bibir, membuang pandangannya ke arah lain karena tiba-tiba sesak.
"Kenapa bertanya?"
"Terkadang, Mama begitu dingin. Aku tidak tahu. Tapi, Papa mungkin merasakannya," balas Dion. Kembali mencoba menatap sang ibu getir. "Aku berpikir, Mama membenci Papa."
"Kalau Mama membenci Papa, untuk apa Dion di sini?" Selena menyentuh piyama sang anak dengan gemas. "Dion ada karena Papa dan Mama. Karena keinginan Papa."
Iris pekatnya melebar penuh. "Benarkah? Karena aku diinginkan?"
Selena mengulas senyum manis. "Tentu. Siapa yang tidak mau memiliki anak manis dan pintar sepertimu? Anak Mama yang terbaik," puji Selena dengan kedua jempol terurai untuk kesayangan.
"Paman Regan bilang, hanya Papa yang menyayangiku. Mama tidak. Mama tidak cinta pada Papa. Dan Mama membenciku karena aku ada," bisik Dion samar. Masih menatap mata sang ibu yang tiba-tiba kosong. "Paman Regan berbohong, kan?"
Selena menghela napas. Menarik Dion ke dalam dekapan dan mengingat kenangan itu membuat perasaannya tercubit nyeri.
"Mama menangis pertama kali saat Dion memanggil Mama. Di saat usia Dion berjalan dua tahun. Ma-ma," Selena menirukan suara sang anak dulu. "Itu menggemaskan. Dan sampai sekarang, Mama tidak lupa."
"Paman Regan bohong," dengus Dion.
"Jangan dengarkan apa kata Paman Regan," lirih Selena di telinga putranya. "Percaya pada Papa. Percaya pada Mama. Oke?"
"Oke."
Selena mendengar tarikan napas panjang Dion di bahunya. Anak itu samar-samar bergumam yang membuat Selena membeku setelahnya.
"Mama, jangan pergi. Kalau Mama pergi, Dion bagaimana?"
Selena menjauhkan tubuh mereka. Menatap mata putranya dengan perasaan luka. "Kenapa bicara seperti itu?"
"Aku bermimpi buruk. Tentang Mama. Tentang Mama yang akan—," anak itu menundukkan kepala. "—pergi."
Selena menghela napas. Meremas tangan Dion di atas pangkuannya. "Dengar, Mama di sini. Mama tidak akan pergi. Mama harus di sini sampai Dion besar."
"Janji?"
"Janji," Selena menautkan kelingking mereka. Dan mendengar suara tawa itu meluncur, perasaannya mulai membaik.
Dion berbaring di atas ranjang. Memeluk guling kesayangannya. Dan memejamkan mata saat sang ibu mematikan lampu, dan berjalan menutup pintu kamar.
Dengan tarikan napas panjang, Selena mendorong pintu kamarnya. Menemukan sang suami berdiri membelakanginya dengan pandangan lurus menatap langit malam.
"Kenapa belum tidur?"
Selena berjalan mendekat. Kemudian, menahan langkahnya saat matanya menangkap sesuatu yang tengah Damien genggam.
Lima menit tanpa suara, Selena mendengar tarikan napas kasar sang suami. Membeku saat Damien berbalik, menatapnya dingin.
"Ada yang ingin kau jelaskan padaku, Selena?"
Selena memainkan tangannya dengan ekspresi datar. Amat kontras sekarang dengan dadanya yang berdebar. "Tidak ada."
"Benarkah?"
Selena menghela napas. "Kenapa denganmu?"
"Alasan besar kematian Sahara ... karena apa?"
Selena menatap mata sang suami datar. "Bukan urusanmu."
Damien berdecak menahan senyum pahit. Meringis dalam hati. Mengutuk dirinya sendiri yang terlalu memberikan kelonggaran pada istrinya. Sampai-sampai dia melewatkan hal yang bisa memecah rumah tangga mereka.
Seperti bom waktu. Yang menunggu sampai waktu habis dan meledak.
"Sebelum menikah, adakah pria yang mendekatimu? Menaruh hati dan kau menerimanya?"
"Ada. Dan aku tidak pernah terlibat dengan laki-laki mana pun selama ini," Selena mengendik datar pada suaminya. "—selain dirimu."
Damien menunduk. Mengurai senyum pahit yang kentara. Selama ini, dia bertanya-tanya adakah dosa atau kesalahan yang ia perbuat sampai Selena terlihat amat membencinya.
Namun, kini dia mulai mengerti.
"Sejak kapan?"
Selena mengangkat alis.
"Sejak kapan, kau mengalami kelainan seksual? Dengan menyukai sesamamu, dan memukul rata semua pria itu b******n?"
Selena hanya diam. Di saat Damien menanti jawaban yang ingin dia dengar, tetapi sang istri tidak kunjung bersuara.
"Aku mencintaimu. Kau tahu, kan?"
Tangan Selena mulai gemetar.
"Kau tahu. Hanya saja, kau berpura-pura tidak tahu."
Selena masih bungkam.
"Anak, anak, anak! Selalu tentang anak! Kau bertahan hanya untuk anak! Lalu, sekarang? Apa kau akan bicara kalimat yang sama hanya untuk menutup aib memalukan ini?"
Selena menghela napas. Membiarkan emosi Damien keluar dan meluap-luap. Selena tidak lagi terkejut karena hari dimana semua akan berakhir buruk, akan terjadi. Dan sang suami, akan melampiaskan rasa sakit itu padanya.
Biarlah. Biarlah semua mengalir. Selena terbiasa dengan rasa sakit sampai rasanya mati rasa.
Damien membanting dokumen itu di atas lantai. Tepat di hadapan Selena yang masih mematung. Menatap matanya dengan sorot terluka, dan Damien kali ini mengabaikannya.
"Aku di matamu, tak ubahnya seperti sampah. Yang bisa kau buang, yang bisa kau mainkan sesukamu. Karena apa? Karena kau benar-benar alergi terhadap lawan jenismu sendiri."
Selena mendengar tawa pahit itu meluncur bebas. Berdengung di telinganya. "Benar, Selena. Ini alasan mengapa ibumu benar-benar membenci Rola."
"Mama membencinya karena dia—,"
"Aku benar-benar jijik sekarang," kata Damien sinis. Menatap mata istrinya lekat-lekat. "Jijik pada diriku sendiri."
Selena kembali mengatupkan bibirnya. Membiarkan Damien menatapnya seperti ingin membakarnya hidup-hidup.
"Apa ini alasan kematian Sahara? Karena harus menanggung malu kelakuan kalian berdua, sahabat terdekatnya? Kalau benar, kasihan sekali dia. Sahara yang malang."
"Gadis bisu itu pasti menangis keras di neraka karena memiliki sahabat memalukan sepertimu."
Sebelum Damien kembali bersuara, Selena menyelanya dengan satu tamparan keras. Yang membuat Damien bungkam, dan perasaannya terbakar.
"Sekali lagi, kau berkata buruk tentang Sahara dan Rola, aku akan menghancurkanmu."
Selena menurunkan tangannya. Ketika Damien menatap raut datarnya, terlihat jelas bahwa Selena tengah menahan lukanya sendiri. Istrinya masih diam. Tidak ada tanda-tanda akan menangis.
"Aku tidak pernah membencimu. Yang kulakukan hanya menenangkan diriku sendiri," bisik Selena serak. "Sepuluh tahun. Dan aku sama sekali tidak pernah menceritakan keburukanmu di depan dirimu setiap kali aku merasa kecewa."
Bibir Selena gemetar. "Dan malam ini? Kau berkata sebaliknya. Seburuk itu aku di matamu? Serendah itu aku?"
Damien dibuat bungkam.
"Marcuss Damien dan jutaan pria lain di luar sana ternyata sama—," Selena melangkah dengan senyum getir. Juga bersama dengan tatapan hancur. "—bermulut manis. Kalian itu ular yang sebenarnya. Berbisa."
Selena kembali mundur. Menatap sang suami dengan tangan terkepal erat.
"Kalau begitu, apa yang ingin kau lakukan sekarang?"
Kepala Damien mendongak. Menatap mata istrinya dengan sorot hancur yang sama.
"Aku tidak ingin bercerai."
Damien membeku hebat.
"Aku tidak ingin bercerai darimu."
Selena berlutut kemudian. Jatuh di atas lantai dengan tangan menarik rambutnya sendiri yan tergerai.
"Aku kalah."
"Aku kalah," dan Damien mendengar isak tangis itu mengalun perih di telinganya.