Welcome to reality.
Fuck you, Marcuss Asshole Damien.
Marcuss Damien menghela napas. Mendapati rentetan memo yang tertempel di loker bukunya dengan kalimat celaan serta cacian. Setiap hari bertambah, dan bukannya mengurang.
Dengan sabar, Damien menarik semua memo itu dari pintu lokernya. Meremasnya menjadi satu, sebelum melemparnya ke tempat sampah. Tidak lupa, diiringi suara dengusan bercampur tawa dari sosok di seberangnya.
"Marcuss Regan, tampan bukan main. Kenapa adiknya malah seperti alien tersasar di bumi?"
Damien terang-terangan menghiraukan. Dia hanya pergi ke loker untuk mengambil catatan. Sebelum kembali menutup, menguncinya dan membawa kunci itu ke dalam saku celana.
Berjalan melewati koridor yang ramai. Dia sendiri benar-benar enggan bersinggungan dengan orang-orang yang melihat hanya dari segi fisik. Tanpa mau melihat sisi dalam orang itu sendiri.
Kembali ke perpustakaan. Marcuss Damien banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan. Entah itu belajar ilmu ekonomi, belajar ilmu bisnis dan sastra. Apa pun itu. Agar ia tidak lagi mendapat cacian bodoh dari ibunya.
Berbuntut bekal yang ia siapkan sejak pagi, Damien membuka buku dengan sembilan ratus halaman. Kacamata bertengger manis di hidungnya. Menatap bacaan itu dengan tenang.
Perpustakaan adalah surga. Dan Damien tidak pernah menyesal setiap detik berlalu hanya karena duduk di sini, dan menjadikan dia anti sosial atau anti dunia. Tidak peduli ketika orang beramai-ramai mencela hanya karena dirinya kurang update, Damien nyaman dengan dirinya saat ini.
"Damien, buku biologi masih ada padamu?"
Damien mendongak. Menemukan petugas perpustakaan yang baru saja kembali menata data dan buku bacaan di rak. "Masih. Aku akan kembalikan lusa."
"Oke," balasnya.
Kembali, Damien larut dalam bacaannya dan baru beranjak sebelum matahari terbenam.
***
"Regan tetap Regan! Kenapa harus Damien?"
Damien menghela napas. Setelah menyeleGiokan laporan singkatnya tentang karya ilmiah dari guru Bahasa Inggris, dia bisa bernapas sedikit lebih tenang. Lega rasanya. Mengerjakan tugas yang tidak harus dikumpulkan besok. Kebetulan, dia rajin mengerjakan tugas. Menyicil kalau dia merasa kesulitan. Agar tidak terkejar waktu di hari selanjutnya.
Kembali, Damien mendengar suara benda jatuh berdengung di telinganya. Dengan tarikan napas berat, Damien menyesap s**u cokelanya. Mencoba mengabaikan dengan memasukkan pulpen bersama pensil ke kotak pensil, dan terkejut menemukan Regan duduk di seberang dengan PSP baru.
"Mau kemana?"
"Kamar," sahut Damien singkat.
"Duduk dulu, adik," ujar Regan. Mendengus dan mengumpat setelah kalah. "Kenapa buru-buru? Bosan mendengar Mama yang marah? Atau sakit hati karena Mama selalu membandingkanmu dengan aku?"
Damien mendengus. Memperbaiki letak kacamatanya dan menatap sang kakak datar. "Urus saja urusanmu sendiri."
"Cih, pecundang," ketus Regan. "Kenapa mau pergi? Aku belum seleGio denganmu."
Damien mengembuskan napas berat. Saat Regan melempar PSP baru itu ke atas meja, memainkan kakinya yang terjulur lurus dengan tidak sopannya di atas meja. "Aku terkadang malu punya adik berpenampilan kuno sepertimu."
Damien mengerutkan alis.
"Lihat, betapa murahan gayamu," bisik Regan masam. "Kacamata itu, rambut klimis, pakaian yang selalu dimasukkan di celana. Kau pikir kau sedang perayaan ulang tahun anak sekolah dasar? Kau ini remaja. Enam belas jalan tujuh belas tahun, Damien."
Damien lantas menunduk. Menatap penampilannya sendiri dengan tarikan napas lelah. "Aku nyaman dengan pakaian seperti ini."
"Kau nyaman, tapi aku tidak," sinis Regan.
Damien menoleh. "Kenapa harus peduli?"
"Kenapa tidak?" Regan bersidekap di depan d**a. "Pantas saja kau sering mendapat bully, lihat saja betapa menyedihkannya dirimu. Potretmu yang sekarang, tidak menunjukkan kelas Marcuss sekali. Memalukan."
Hanya karena penampilan?
Damien menatap dalam diam kepergian Marcuss Regan menuju kamarnya sendiri. Sebelum Damien ikut pergi, bersiap untuk merebahkan diri dan dia menghentikan langkahnya melihat Marcuss Haru, ibu kandungnya sedang mendelik tajam ke arahnya.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
Damien mendengus kasar. "Selamat malam, Mama," ucapnya pelan.
Marcuss Haru mencibir sapaan putranya. Menatap penampilan anak itu dan mendengus pelan. Sebelum dia mendengar langkah dari sang suami, yang terpaku menatap Damien sekilas.
"Damien," sapa sang kepala keluarga.
"Selamat malam," balasnya datar.
Damien membuka pintu kamarnya. Tidak seperti Marcuss Regan yang gemar membanting pintu, dia kembali menutup pintu itu perlahan untuk tidak menambah gaduh. Saat Marcuss Daren menghela napas, menatap istrinya dengan tatapan tajam.
"Kau lihat? Kenapa kau harus membedakan anak pertama dan anak kedua, Haru? Tidak ada yang salah dari, Damien."
"Dia bodoh!" Haru membalas ucapan sang suami tak kalah tajamnya. "Dan aku malu sekali mendengar Damien menjadi bahan gosip teman-teman arisanku. Bilang kalau anakku tidak berkompeten, nilai Damien selalu lebih rendah dari yang lain. Aku tidak suka!"
Daren memijit pelipisnya. "Itu saat dia masih duduk di bangku Menengah Pertama, Haru," ujarnya tak percaya. "Sekarang, Damien telah berubah. Dia menjadi lebih rajin. Lihat? Apa yang dia korbankan? Matanya. Kau tidak lihat, kalau kesehatan mata Damien memburuk. Dia sedang berusaha. Apa salahnya kau menghargai usahanya?"
Marcuss Haru masih menggeram. Menatap sang suami dengan tatapan dingin sebelum dia beralih pergi ke dapur. "Cukup! Jangan buat kepalaku semakin pusing. Itu semua hakku, terserah padaku. Jangan kau mengaturku lagi."
Marcuss Daren mendengus kasar. Membiarkan istrinya pergi ke dapur, dan dia kembali ke kamar. Sebelum benar-benar pergi, iris kelamnya melirik pias pada pintu kamar bertuliskan Damien.
Damien hanya diam. Menunduk seraya menatap kotak pensil polosnya. Rasanya ... tidak pernah sesakit ini. Lagi-lagi, dia hanya
bisa diam. Membiarkan lukanya mengering seiring waktu. Dan kembali merapikan bukunya, sebelum dia beranjak tidur dan mematikan lampu.
***
Damien menatap kursi-kursi yang nyaris penuh di perpustakaan umum Tokyo, perpustakaan satu-satunya yang terbesar dan terlengkap. Ada dua lantai, dan dua-duanya berisi buku bacaan.
Berjalan dan berharap masih menemukan tempat kosong, sudut bibir Damien tertarik kala dia menemukan kursi yang masih tersisa satu. Ada di hadapan perempuan berambut cokelat lembut. Rambut sebahu itu terurai manis dengan jepitan polos senada warna langit di pagi hari.
Damien menaruh dua buku bacaan bisnisnya. Membiarkan atensi gadis itu sedikit terusik. Saat dia menaruh dirinya duduk di sana, dan mulai membuka buku.
Atensi Damien terusik kala dia mendengar decakan samar dan suara menghela napas panjang dari sosok di depannya. Matanya berkeliling, menemukan perpustakaan begitu tenang dan nyaman. Membuat rasa sepinya terobati di tengah keramaian yang sebenarnya senyap.
Bibir Damien menipis. Terkejut menemukan sepasang iris hijau itu menatapnya datar. Dia kembali menunduk, memperbaiki kacamata berbingkai hitam itu dengan hati-hati.
Rasanya, asing sekali ditatap lawan jenis seperti itu.
Setengah jam Damien habiskan untuk membaca. Tidak sadar kalau matahari sudah semakin tinggi dan terik. Rasa-rasanya udara di dalam ruangan tidak lagi menyehatkan. Malah, terasa sesak dan membuat napasnya tercekik.
Perhatian Damien kembali teralih. Pada sosok gadis di depannya. Di satu meja yang sama dengannya. Masih dengan buku bacaan, membuat Damien terusik karena ingin tahu.
Alis Damien menyatu melihat penggalan kata demi kata di dalam buku itu. Novel? Novel romantis? Dia tidak salah lihat, kan?
Dehaman gadis itu cukup membuat Damien kembali menghela napasnya. Berdiri tegak dengan tangan mengusap pelipis dan rambutnya, dia kembali membalik buku di halaman berikutnya.
Derit kursi membuyarkan lamunan Damien dari bacaan di atas meja. Melihat gadis itu seleGio menulis sesuatu di memo khusus untuk member tetap perpustakaan. Bibir itu menipis saat matanya tidak sengaja melihat nama yang tertulis di sana dengan ketikan rapi.
Kamara Selena.
Pandangan Damien jatuh pada rambut sebahu gadis itu yang unik. Tanpa sadar dia mendengus. Mencibir dalam hati kalau gadis itu aneh. Aneh dalam arti warna rambutnya.
***
Minggu berikutnya masih tetap sama. Damien akan menemukan gadis itu duduk di depannya. Seakan-akan meja yang mereka tempati sekarang adalah meja terbaik dan telah menjadi hak milik.
Namanya, Selena. Dan Damien setelah pertemuan pertama mereka, sama sekali masih bersikap acuh pada gadis itu. Seolah-olah mereka hanya dipertemukan di tempat duduk, dan dalam keadaan ingin membaca.
Mata Damien melirik buku yang kembali Selena baca. Bibirnya mengerut, terkesiap menemukan sampul buku itu yang terlalu cerah.
"Novel romantis?"
Tidak disangka, pertanyaan yang spontan mengalir mampu meraih atensi gadis itu.
Damien berdeham. Menutupi canggung yang tidak diduga-duga. Kepalanya tertunduk, tidak kuasa bertatapan lama dengan manik teduh, yang sayangnya begitu dingin.
"Kenapa memangnya?"
"Tidak," kepala Damien menggeleng berulang kali. "Tidak apa."
Selena kembali diam. Menatap sinis pada laki-laki aneh di depannya. Sebelum dia menunduk, memangku dagu dengan ekspresi bosan berulang kali.
Tangannya tidak berhenti membalik halaman demi halaman. Semula, Damien tidak terganggu. Sampai lama-kelamaan, dia merasa gadis musim semi itu mulai bosan dan jengah dengan buku bacaannya.
"Kau sendiri kenapa terus-menerus membaca buku bisnis dan ekonomi? Apa kau ini pewaris tahta?"
Damien refleks mendongak. Menatap iris mata yang mampu membuat dadanya berdebar polos. Kedua mata itu mengerjap, menggeleng canggung di balik kacamata minusnya.
"Oh, bukan," balasnya sarkatis. Saat gadis itu menutup bukunya, dan Kamara Selena beranjak bangun setelah mencatat halaman berapa dia mampu menyeleGiokan bacaan bukunya.
Pandangan mata Damien belum mau lepas dari sosok berambut cokelat yang berjalan pergi. Setelah menyetor buku bacaannya pada petugas perpustakaan, membiarkan kartu membernya dipindai dengan mesin, dia baru berjalan pergi.
Manik kelam Damien mengelilingi ruangan perpustakaan yang luas. Tidak satu pun di sini, yang punya rambut senada dengan gadis aneh pecinta novel romantis. Damien semakin dibuat bingung. Rambut itu benar alami atau hanya buatan? Maksudnya, apa gadis itu mencat rambutnya agar terlihat mencolok?
Kalau dilihat-lihat, kepribadian gadis tadi sepertinya buruk. Damien meringis membayangkan kalau gadis itu sebenarnya preman sekolah. Dari nada suara yang ketus, ekspresi yang tidak pernah berubah selain datar dan sinis, serta bibir yang terus menipis setiap dia membaca rentetan kalimat aneh.
Damien menghela napas. Melupakan buku bacaannya dalam sekejap hanya karena eksistensi gadis aneh itu di meja nomor enam.
***
Nyaris enam bulan, dan Marcuss Damien akan tetap sama. Menikmati perpustakaan di kala senggang, membiarkan sepinya perpustakaan menemani saat dia suntuk dan ingin menenggelamkan diri dari mimpi buruk bernama kenyataan.
Pandangan matanya menelusuri meja bernomor enam. Masih sama. Dengan gadis unik yang sama. Melangkah dengan mantap, Damien berjalan menaruh buku di atas meja. Hari ini dia tidak akan membaca. Melainkan, mengerjakan tugas yang akan dikumpulkan minggu depan.
Kamara Selena melirik datar. Menemukan laki-laki aneh dengan kacamata minusnya yang sedang membuka buku catatan, membuka buku cetak, sebelum dia menyalin dan tampak fokus.
"Tidak ada novel romantis?"
Bibir itu kembali menipis. Tatkala manik teduh gadis itu menatapnya selintas. Marcuss Damien terdiam. Menikmati kerutan di dahi, kemudian pada kedua mata yang memutar.
"Kau memperhatikanku?"
Iya. Dari enam bulan yang lalu, dan kau tidak sadar.
"Tidak. Terakhir kali, kau selalu membaca buku bertemakan sama. Aku sudah menduga dari sampul yang coraknya seperti pelangi."
"Bukan LGBT," bisik gadis itu pelan.
"Aku tidak bilang—," dia kemudian mendengar dengusan geli dari gadis di seberangnya. "—begitu," lalu menunduk hanya untuk menyembunyikan rona samar di pipi.
"Kau juga aneh," ujarnya sembari melipat tangan di atas meja. "Kemana buku bisnismu? Bosan membaca buku yang sama berulang-ulang?"
Damien termangu. Menatap mata yang mencolok saat mata teduhnya mencari-cari di antara tiga judul buku yang Damien bawa.
"Tidak ada? Apa buku bacaan di sini telah kau kuaGio semua?"
Damien berdeham. Deham kecil yang merebut atensi pria muda usia sekitar tiga puluhan yang tengah fokus membaca buku di sebelah mejanya.
"Belum," bisiknya samar. "Aku hanya ingin mengerjakan tugas."
"Oh."
"Di mana sekolahmu?"
Damien mengangkat kepala. "SMA Tokyo."
"Beasiswa atau pribadi?"
"Pribadi," balas Damien ragu. "Kenapa memangnya?"
"Tidak ada," sahutnya pelan. Damien mengamati gerak-gerik gadis itu yang hendak menutup bukunya. Dan merasakan kekosongan yang perlahan-lahan menyusup kala Selena beranjak bangun, meninggalkannya sendiri tanpa salam atau kalimat sapaan klasik.
Selamat tinggal, semisal?
Atau, kita akan bertemu lagi?
Damien kembali menghela napas panjang. Kepalanya berulang kali menggeleng. Merutuk dirinya yang naif karena benar-benar berharap pada sesuatu yang mustahil.
"Ups, lupa."
Damien kembali menengadah. Menemukan Selena mengambil tempat pensil yang tertinggal di atas meja, dan meliriknya dengan dengusan menahan geli.
"Aku tidak boleh meninggalkan ini. Bye!"
Bye.
Artinya, sampai jumpa atau selamat tinggal?
Kenapa tiba-tiba Marcuss Damien menjadi bodoh begini?
***
"Regan, mau liburan akhir pekan kemana?"
Marcuss Regan lantas melebarkan seringainya. Dia nyaris menjatuhkan sendok dari tangan karena terlalu bersemangat. Dengan tatapan kemenangan yang terang-terangan terarah pada sang adik bungsu, senyumnya melebar penuh.
"Aku tidak mau melihat salju di Tokyo akhir pekan nanti. Kita pergi ke negara yang sedang musim semi, bagaimana?"
"Mana ada," balas Daren dari seberang meja. "Kita berlibur ke Osaka atau Hokkaido saja. Untuk apa jauh-jauh?"
"Sssh," Marcuss Haru menyentak kaki suaminya dari bawah meja. "Kenapa malah menginterupsi perkataan putramu? Regan belum seleGio bicara."
Marcuss Daren menaruh garpu dan sendoknya. "Kita butuh pendapat Damien juga."
"Untuk apa?"
"Damien, kau lebih senang melihat salju, kan? Menetap di rumah saja. Sampai salju benar-benar berakhir," kata Regan dengan kekehan geli.
Marcuss Damien bergeming di tempat duduknya. Manik pekatnya melirik Marcuss Daren yang masih menunggunya bersuara karena dia hanya diam dan mendengar.
"Aku tidak ikut," balasnya.
"Nah! Untuk apa meminta sarannya? Aku hanya akan mengajak Regan," sahut Haru riang.
Sama sekali tidak peduli, bahwa ekspresi serta gestur bibirnya yang berkata sesuai dengan isi hatinya diam-diam membuat Damien terluka.
Marcuss Daren menghela napas. Iris gelapnya memaku menatap sang anak bungsu dengan pandangan nelangsa. Dia tidak bisa berbuat banyak. Mengenai istri dan putra sulung yang terlalu diagungkan.
"Kau yakin?" Hanya itu yang bisa Daren katakan.
Kepala Damien terangguk. Membersihkan sisa nasi di piringnya, laki-laki itu beranjak turun dari kursi. Berjalan menuju wastafel, dan mencuci alat makannya sendiri.
"Sekalian punyaku," Regan balas melempar peralatan makannya dengan acuh. Membiarkan Damien yang membersihkan. Sampai Damien pamit pada kedua orang tuanya untuk pergi ke kamar dan beristirahat.
Tidak ada yang berubah dari kamar remaja usia tujuh belas. Damien terlalu malas merombak kamarnya sendiri yang mendominasi warna monokrom pekat dan mencolok.
Dengan gerakan pelan, dia berjalan mendekati meja belajar. Dan duduk di sana sembari mengamati buku pelajaran yang menumpuk. Raut lelah itu terpancar, sinar matanya meredup dan jemari itu terjulur untuk menyentuh salah satunya.
"Kalau aku menikah dan memiliki anak nanti, aku tidak akan memperlakukannya seperti mereka memperlakukanku sekarang."
Damien terpaku. Mendadak kelu. Apa yang baru saja dia katakan?
Menikah jelas tidak ada dalam kamusnya. Keluarganya memang bukan berasal dari keluarga bangsawan, hanya mewarisi beberapa kekayaan dari mendiang kakek yang telah meninggal.
Damien tersentak. Menyadari kalau marga Selena adalah Kamara. Dan seketika, bulunya meremang. Damien baru menyadari, kalau gadis yang selama ini sering menghabiskan waktu di perpustakaan, ternyata bukan berasal dari golongan sembarangan.
Tapi, mengapa gadis itu terlihat kesepian?
"Ck," Damien berdecak. Memukul kepalanya sendiri dan tanpa sengaja, menjatuhkan kacamatanya. Membuat kedua mata itu lantas menyipit, menemukan cahaya yang mampir di matanya langsung dari lampu belajar.
Meraih kacamatanya yang jatuh, Damien bergerak mematikan lampu di meja belajar. Berjalan untuk menutup tirai kamar, dan menemukan salju turun membasahi Tokyo malam ini.
Napasnya berubah lambat. Damien mendorong jendela itu terbuka lebih lebar. Kepalanya terdongak. Merasakan butiran salju membekas di lensa kacamata miliknya, lalu butiran lain jatuh di pipi dan dahinya.
Senyumnya terlukis tulus. Kemudian, telapak tangan itu terulur untuk menyentuh lebih banyak lagi butiran salju yang turun. Sebelum salju-salju itu menumpuk dan menghalangi jalan.
Seiring dengan butiran salju yang turun, dan seiring harapan yang sama terus melantun di dalam hati.
Berharap, kalau pun dia bisa merasakan bahagia nanti, dia tidak ingin melepasnya pergi.
***
Marcuss Damien terpaku. Menemukan meja nomor enam diisi sosok lain yang tidak dia kenal. Tampak menunduk serius, membaca buku bacaan yang terbuka lebar di atas meja.
Dengan mantel hitam yang membalut tubuh ringkihnya, Damien membawa buku bacaan bisnisnya ke atas meja yang sama. Tertegun menatap gadis lain yang kini terdongak, menatap ke arahnya.
Damien hanya mengangguk singkat. Benar-benar terasa asing sekaligus hampa karena sosok yang ia lihat, bukanlah Kamara Selena. Si gadis berambut unik yang misterius.
Lima belas menit Damien habiskan. Sepinya perpustakaan di musim salju pertama turun, membuat Damien mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Terbesit rasa ingin tahu dengan gadis yang duduk di depannya. Gadis dengan rambut panjang ikal dengan warna hitam pekat.
Gadis itu ikut mendongak. Menatap mata Damien yang kebingungan dengan senyum tipis.
Lagi-lagi, Damien hanya bisa mengangguk.
Manik abu-abu pudar itu mengintip ekspresi Damien sekarang. Melihat remaja itu tampak kebingungan mencari ke pintu keluar, kemudian kembali pada meja bernomor tujuh yang sepi. Dan berpaling untuk fokus pada buku bisnisnya.
"Sahara!"
Kepala itu terdongak. Sahara tidak melepaskan tatapan matanya dari Marcuss Damien yang beralih, menaruh atensi berlebih pada Selena yang berjalan mendekat dengan raut masam.
"Sahara!"
Sahara menoleh. Tersenyum pada Selena saat gadis manis itu mengembuskan napas panjang. "Oke, oke. Aku tidak lagi berteriak di perpustakaan."
"Karena berisik," sahut Damien datar.
Selena lantas menoleh. Menatap laki-laki itu dengan pandangan skeptis, lalu kembali acuh. "Ayo, pergi. Rola menunggu di depan. Dia tidak mau masuk. Bisa muntah melihat buku pelajaran."
Senyum manis Sahara terbit. Sebelum dia berdiri, merapikan bukunya dan memasukkan ke dalam tas. Matanya sempat melirik Damien sekali lagi yang masih setia memandangi sosok Selena yang menjauh.
Sahara terdiam. Kemudian, beralih pada pintu keluar saat Selena melambai ke arahnya untuk segera menyusul.
Dengan langkah lamat, Selena berjalan pergi dalam diam. Membiarkan remaja yang tidak ia tahu namanya kembali berkutat dengan bukunya. Dan menghela napas.
***
Di perpustakaan yang sama. Saat Damien lagi-lagi harus menahan jengkel karena meja nomor enam yang menjadi wilayah teritorialnya, telah terisi oleh sosok lain.
Dengan raut masam, Damien duduk di meja bernomor sembilan. Cukup jauh. Dan rasanya, memandangi Kamara Selena yang masih sibuk dengan buku bersama catatan di atas meja, terlalu jauh.
Dan semakin sulit tergapai.
Kedua mata itu menyipit, menemukan gadis yang Selena panggil dengan Sahara kemarin, terlihat duduk tenang di sebelahnya. Berbagi kursi yang sama. Dan rupanya, Selena tidak keberatan karena beberapa kali interaksi keduanya terlihat aneh di mata Damien.
Beberapa kali, Damien menangkap gerakan mata Sahara yang mengarah pada bibir Selena. Kemudian, gadis itu akan mengangguk. Dan samar-samar, akan memberikan sepatah atau dua patah kata dalam lamat.
Damien kembali berpaling. Membiarkan dirinya tenggelam. Dan merasa asing karena dia duduk yang bukan dia meja yang telah menemaninya selama ini. Sampai badai salju menerjang Tokyo kemarin malam.
Dua puluh menit, dan Damien melihat Selena berjalan pergi menuju rak lain. Kerutan di dahinya tampak jelas. Sebelum Damien menoleh, menemukan tatapan Sahara mengarah padanya dengan menilai.
Bibir itu kembali menipis. Damien seperti tertangkap basah teman dekat Selena. Membuang muka dan bersikap acuh, dia kembali menekuni bukunya dan berpura-pura tidak mengetahui apa yang baru saja terjadi.
Damien terkesiap. Menemukan dorongan kertas memo terjulur ke arahnya. Tepat di atas bukunya.
Siapa namamu?
Lidahnya kelu. Seketika, otaknya mencerna cepat siapa Sahara, dan apa keterbatasannya.
"Damien. Marcuss Damien."
Damien tidak menatap mata Sahara saat gadis itu berpindah tempat duduk dari sebelah Selena, ke sebelahnya. Dan kembali, memo lain mendarat di atas bukunya.
Aku, Sahara.
Damien menatap memo itu sebentar. Sebelum menatap Sahara yang menatapnya dengan senyum. Gadis itu kembali menuliskan sesuatu, dan memberikannya pada Damien.
Aku teman Selena. Dan maaf, aku ini bisu.
Damien menelan ludahnya. Kepalanya menggeleng dengan raut bersalah. "Tidak apa. Tidak apa-apa."
Sahara kembali tersenyum.
Selena menarik perhatianmu, ya?
Damien membeku. Dia melirik Sahara dan berdeham. "Sejelas itu?"
Sahara hanya tertawa. Kembali menulis dengan senyum lebar dan ceria.
Matamu tidak bisa berbohong. Aku melihatnya jelas saat kau menahan geli sekaligus kagum pada sahabatku. Itu karena Selena memakai mantel kebesaran, atau karena warna rambutnya yang unik?
"Rambutnya."
Sahara kembali menulis.
Rambutnya indah, bukan? Aku saja merasa iri dengannya!
Damien membaca tulisan itu dan membayangkan suara Sahara di dalam kepalanya. Gadis itu kembali menulis, memberikan pada Damien dengan tepukan di bahu. Dan Sahara, berjalan pergi meninggalkannya sendiri di meja asing bernomor sembilan.
Kau terlihat seperti anak baik. Semangat! Aku mendukungmu.
Dan merasakan kurva itu perlahan-lahan melengkung membentuk senyuman tipis menahan malu.