9. Sebuah rasa

1075 Words

** Beberapa hari ini aku nggak dapet telpon atau pesan dari Vino. Kemana ya tuh bocah? Eit! Jangan bilang lo kangen dia, Augie... Aku menggeleng. Nggak, aku nggak kangen, nggak apa-apa. Cuma...biasanya tuh bocah ngerecoki hidup aku sejak ketemuan di Seoul waktu itu. Adem sih telingaku, nggak denger kecerewetan dia. Tok. Tok. Tok. "Ya, masuk." "Oh, Pak Gibran? Silahkan duduk," aku bangkit menuju sofa. "Panggil Gibran aja, Gie." sahutnya. "Nggak enak dong, ini kan area kantor." kataku. Gibran tersenyum. "Besok itu harusnya aku pergi sama Pak Kemal ke Bandung. Kita udah janjian gitu. Tapi tadi beliau telpon, ternyata nggak bisa. Trus beliau suruh aku pergi sama kamu, Gie." kata Gibran. "PP?" tanyaku. "Nggak tau, cuma survey lokasi aja sih." jawabnya. "Oh, oke. Besok jam berapa?

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD