** Disini aku dan Arik. Aku masih menuntut jawaban darinya. Sejak tadi Arik cuma ngegenggam tanganku tanpa bersuara. Aku tau dia gelisah. Aku tau maksud dia apa, sampai nggak mau cerita tentang sakitnya. Aku pun bukan tanpa masalah dengan itu, tapi... kok nyesek, seolah aku nggak dipercaya sama pacarku sendiri. "Ngomong dong," ucapku akhirnya. Dia mendongak, kutemukan keraguan dimatanya. Kuelus wajahnya. "Rik, kita jalan udah berapa lama sih? Kayaknya cukup buat kamu ngenal aku. Aku nggak suka kamu nyembunyiin apapun dari aku." Arik masih menggenggam, netranya menghangat. "Maaf..." cuma sepatah kata itu. "Kalo aku nggak pengen ke toilet tadi, aku nggak bakal tau hal ini. Dan mungkin kamu bakal terus nyembunyiin semua. Iya kan?" Arik ngangguk. Dia nggak mau bebani aku, dia ngga

