••
Happy reading
••
"Tuh Augie baru pulang..." kata Mommy.
Begitu aku masuk.... Vino? Kok dia tahu rumahku? Aku menatapnya. Bener-bener ngelunjak nih anak!
"Gie, Vino udah nunggu loh dari tadi." Mommy menarikku untuk duduk dekat Vino.
"Katanya kalian ketemu di Seoul. Wahh...Mom ikut seneng loh Vin,"
"Mom?" mataku terbeliak.
"Lebih akrab kalo Vino manggilnya Mom. Iya kan Vin?"
"E..i-iya M-mom..."
"Mom, dia itu 6 tahun lebih muda dariku. Oke?" bisikku.
"So what?"
"Terserah Mom deh." aku melengos dan berlalu ke kamar meninggalkan sang tamu yang terbengong.
Ternyata Mommy ngikuti aku ke kamar.
"Gie, Vino baik loh anaknya. Mana dia dokter, masih muda, ganteng lagi." promosi Mommy.
"Trus?"
"Yaaa...dia kayaknya suka sama kamu."
"Mom tau darimana?"
"Emh..feeling. Trus dia mau ngapain kesini kalo nggak ada apa-apa? Dia juga banyak nanya soal kamu. Katanya kamu sekaraang deket sama siapa? Bla..bla...bla..."
Hampir budeg denger ocehannya Mommy yang melulu soal Vino.
"Mom, please... Aku sama Vino nggak ada apa-apa. Kalo dia suka aku, ya terserah. Tapi aku nggak," kilahku.
Mommy mandangin aku. Dia mengelus kepalaku.
"Gie, bertahan dimasa lalu apa enaknya sih? Mending kamu mulai nata hati dan hidup kamu. Mom dan Pap cuma pengen kamu bahagia," tukas Mom.
"Aku tanpa pacar atau suami juga bahagia, Mom. Aku cuma cinta Arik," sahutku keras kepala.
Mom menghembuskan nafasnya, kalah. Dia keluar dari kamarku.
"Maaf Mom...." desisku.
Setelah mandi dan ganti baju, aku turun. Aku pengen liat keponakanku. Si cantik Olivia. Tapi urung begitu lihat Vino. Eh, tuh anak masih anteng duduk diruang tamu?
Aku menghampirinya.
"Aku kira udah pulang," ucapku.
"Aku emang ada perlu sama kamu, Gie." sahutnya.
"Apaan?"
"Kita ngobrolnya nggak disini deh."
"Lalu dimana?"
"Kita keluar yuk?"
"Keluar?"
"Anggap aja kita lagi ngedate,"
Aku juga penasaran sih, mau Vino itu apa. Akupun setuju.
Aku cuma mengganti celanaku dengan jins dan memakai hoody.
Dia senyum. Aku cuma diam.
"Good luck, Vin..." bisik Mommy.
"Mom, aku masih bisa denger loh." selaku.
"Iya Mom, makasih."
Vino nggak bukain pintu mobil untukku. It's fine.
"Kamu ngobrol apa aja sama Mom?" tanyaku.
"Kepo ya?"
"Kita mau kemana?" tanyaku lagi.
"Enaknya kemana? Kamu suka seafood kan? Kamu juga pulang kantor pasti belum makan," ujarnya.
"Masih kenyang,"
"Temenin aku makan kalo gitu, aku laper..." cetusnya.
Aku males jawabnya juga. Bomat dah! Vino menghentikan mobilnya di bilangan Tebet.
"Ayo,"
Males-malesan aku ngekor dibelakang dia. Asli! Ini semua gara-gara Jovanka! Liatin aja Jo, aku penggal jatah uang saku Felly....
"Chatt-ku nggak pernah kamu balas lagi, kenapa?" tanyanya begitu kami duduk.
Untung pelayan keburu dateng, menanyakan pesanan kami.
"Cumi tepung mentega, kerang rebus sama yogurt blueberry." kataku.
"Cumi bakar pedas minumnya samain aja, plus nasi. Ok?"
Vino natap aku. Aku jengah, euhhh! Aku menggeleng.
"Bisa kamu kondisikan matamu itu, heh?" bisikku.
"Emang kenapa?"
"Please, Vin."
"Oke, oke."
Pesanan kami datang. Ternyata anak ini suka sekali makanan pedas.
"Mau?" dia mengulurkan cumi bakar pedasnya kearahku.
"Nggak, aku nggak bisa makan super pedas gitu,"
"Oh, karena mulutmu sendiri udah pedas." timpalnya.
"Bomatlah," aku menyuap kerangku.
Ya ampun...nih anak makan pedas kayak makan apa. Padahal keringetan gitu. Maksa bener.
Aku makan pedas palingan cuma level saus doang. Kuambilkan tisu, refleks kuseka keringat didahinya.
"Makasih," dia senyum.
Aku jadi canggung dan ngasih tisu yang tadi ke Vino.
"Lap sendiri,"
Eh, senyumnya malah melebar. Dasar aneh!
Sehabis kita makan, Vino entah ngajak kemana lagi. Eh? Kok ke rumah sakit?
"Ada apa? Keluargamu ada yang sakit?" tanyaku.
"Aku udah nggak punya keluarga. Kakakku satu-satunya keluargaku udah meninggal 15 tahun lalu." katanya sambil menekan tombol angka 5.
"Oh, maaf. Aku nggak tau,"
Nggak sengaja kita jadi saling menatap. Aku cepat sadar dan mengalihkan pandanganku.
"Kamu...inget sesuatu nggak kalo naik lift?" tanyanya.
"Makanya aku naik lift itu karena capek." sahutku sekenanya.
"Yang lain,"
"Oh, pernah ketemu hantu! Hahaha...."
"Ketemu hantu, emang lucu?"
Aku cuma meringis. Deuh! Apaan lagi sih? Dia nanya kayak ngasih kuis.
"Mungkin mengingatkan seseorang...."
"Ya, aku...waktu itu ke apartemennya Bram. Aku lagi nggak enak badan. Eh...gila! Dia lagi ena-ena sama jalang. Untung nggak di smackdown juga. Aku langsung putusin dia. Chao!"
"Tapi nyebelinnya aku ketemu dan selift sama seorang cowo yang sok-sokan care gitu. Yaelah... Ewh! Nggak banget!" cibirku
"Itu.....aku!"
"HAH??!"
Aku melotot. Hampir mau keluar semua bola mataku. Mencoba mengingat raut cowok itu dengan Vino.
Ting!
Vino tersenyum sambil keluar dari lift. Kujajari langkahnya.
"Serius? Itu kamu?" kuteliti wajah baby Vino.
Vino nggak jawab, kayaknya sengaja buatku penasaran. Aku nggak mau ikut dalam permainannya.
"Oh, pantas aja sih kalo itu kamu. Kepoan. Usil. Tukang ikut campur."
Aku masih mengekor dibelakangnya. Dia membuka pintu akses darurat yang terhubung ke lantai roof top.
Ngapain dia bawa aku kemari? O-o, jangan-jangan dia psikopat. Dia cari tempat sepi untuk melancarkan aksinya... Waduh! Gawat nih!
"Ngapain disini?" tanyaku.
"Yaelah...takut banget sih aku apa-apain. Ngarep?"
"Sori ya, ngarep apaan? Emang bocah kayak situ bisa ngapain?" tantangku dan baru kusadar omonganku tadi salah besar!
"Oh ya?" dia mendekat, mendekat dan terus mendekat.
Tatapannya intens gitu. Kuteguk salivaku pahit. Ini salah, woy!!
"Bocah ya? Hmmm.... Kita liat, bocah kayak aku bisa apa aja ya?" hembusan nafasnya menguar diwajahku.
"Kamu macem-macem..-"
"Apa?" Vino mendesakku hingga aku terhimpit diantara tembok dan tubuhnya.
"Aku teriak Vin. Menjauh sana!"
"Teriak aja,"
"TO-"
Vino membekapku, dia tersenyum.
"Oke, maaf...."
"Nggak lucu!" kuenyahkan tangannya dari bibirku. Tapi dia tak bergeming, jemarinya masih bermain dibibirku.
"Bibir siapa aja yang udah mampir kesini?" tanya Vino.
"Vino! Jangan kurang ajar kamu!" sentakku.
"Gie...kita udah dewasa, mau kamu nikah denganku? Daripada aku minta dp sekarang...." tukas Vino yang membuatku ilfeel!
"Dokter m***m!" kudorong tubuhnya.
"Waahh...orang aku ngajak nikah, dianggap m***m. Otakmu geser, Gie!" cetusnya terkekeh.
"Mending aku pulang, ngadepin orang sarap macam kamu ntar aku ikutan sarap lagi!" aku bergegas mendekat ke pintu, tapi...
"Gie!"
Grebb.
Vino memelukku dari belakang.
"Please, please....marry with me Gie. I love you,"
>>>>
Niat untuk mengklarifikasi malah aku yang mendapat kejutan! Astaga! Haruskah kupedulikan lamaran personalnya kemaren malam? Bukannya nggak mungkin dia akan mengejar Mommy dan Papi. Ini berabe! Ini masalah!
Masih terngiang kata-katanya yang membuatku membeku dan deru nafasnya yang hangat ditengkukku.
~"Please, please....marry with me Gie. I love you," ~
Aku bergidik ketika ingat hal itu....aku mulai meremang. Seharian ini aku tak mengindahkan panggilannya di ponselku.
Vino, cowo 25 tahunan, dokter muda itu, apa serius? Mana mungkin?!
Konsentrasiku buyar. Pre-meeting dengan para kepala bagian terpaksa kutunda.
"Nanda, jadwalnya diundur saja. Saya nggak enak badan," kataku.
"Baik, Bu. Oya, resepsionis dibawah bilang, ada tamu buat Ibu. Apa saya suruh ke atas saja?"
"Nggak usah, Nda. Saya sekalian mau pulang kok. Titipin aja berkasnya ke Pak Bakti ya?"
"Oh iya, Bu."
Siapa lagi tamu yang nunggu dibawah? Tunggu, bisa aja itu Vino. Ya!
"Nda, pesankan taksi. Suruh tunggu di pintu keluar kantor di basement."
"Baik, Bu."
Kupijit pelipisku. Bisa mati berdiri aku diteror Vino gini.
"Jo! Ini semua gara-gara lo! Bego!" cercaku begitu masuk ruangan Jovanka.
Jovanka kicep.
"Apaan sih?"
"Vino! Makhluk super nyebelin itu nongol lagi. Gimana cara ngusirnya?" kulipat tanganku.
"Gie, dia bukan makhluk astral yang bisa hilang dijampi-jampi gitu. Yaa, kalo dia kadung suka lo, mo gimana?"
"Bukan suka lagi, dia ngelamar gue kemaren malem! Gila nggak?! Cih!" sungutku.
"Bagus dong! Akhirnya..."
"Heh! Lo nggak mikir apa, kenapa juga ada cowo 25 tahun, ganteng, dokter pula, suka sama gue? Kalo nggak ngarep warisan dan perusahaan gue, apalagi coba? Balas dendam? Gue inget musuh-musuh gue," paparku.
"Kenapa juga lo mesti mikir kayak gitu? Slow aja kalii... Bukannya bersyukur ada berondong suka sama lo." sahut Jovanka sambil memberengut.
"Lagian lo nggak tua-tua amat. 32 tahun jennggg, cukup... Kalian cocok kok. Terima aja, trus kalian punya anak. Jadi lo nggak termasuk wanita beresiko tinggi kalo hamil, masih ada setahun dua tahun lagi." cerocos Jovanka, entah semangat atau kesel.
"Lo aktif di posyandu mana, tau resiko tinggi gitu? Dasar!"
Jovanka menepuk bahuku.
"Hey, gue sahabat lo dari gue baik, trus rusak, trus baik lagi gara-gara lo. Gue berharap banget lo cepet merit, kalo inget Arik mulu, lo jalan ditempat. Nggak berkembang!"
Aku diam. Ahhh...ngomong sama Jovanka tambah pusing! Aku menggeram kesal.
"Percuma!" kubalikkan tubuhku dan berlalu dari ruangan Jovanka. Sahabatku geser semua!
Aku turun ke basement tanpa melewati front office. Legaaaaa....
Eh, mana taksi pesananku? Aku celingukan. Hhh! Oh itu dia baru datang. Baru saja aku mau masuk, seseorang menahan pintu lalu menutupnya kembali.
"Maaf Pak, taksinya dicancel. Ini gantinya," Vino memberikan dua lembar ratusan ribu.
Aku menatapnya tajam.
"Jangan tajem-tajem menatapku, nusuk tau. Sakit. Ntar kamu kangen." ujarnya.
"Mau kamu apa sih? Aku capek Vin!"
"Hey, kamu bener-bener nggak suka sama aku? Emang aku kurang apa?"
"Buatku kamu itu kayak adekku!" seruku.
"Tapi baru kayak kan?" dia mengamit lenganku dan membukakan pintu mobil agar aku masuk.
"Gue pengen bunuh lo!" delikku.
"Bunuh aja dengan cintamu," sahutnya.
"Oke, sebenernya apa yang kamu incar? Perusahaanku? Warisanku?"
"Apa ya? Semua.... Yang.... Ada ... Padamu," dia melirikku.
Udah. Aku diem. Keep silent. Sampai anak itu menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah.
"Turunlah,"
Dengan mendesah kesal aku turun. Walau banyak pertanyaan berkecamuk dihatiku tapi kutahan.
"Jangan mendesah gitu dong...."
Tahan Gie! Saat mulai kulangkahkan kaki, kepalaku rasanya berat. Dan aku limbung. Sesaat sebelum aku pingsan, Vino sigap menahan tubuhku.
"Gie....!!"
###
Hi, readers!
I'm really, really love you guys!
Pingsan deh, efek marah-marah mulu sih
So,
Gomaweo & Saranghae...
tbc