4. Percik

1394 Words
••• Hari ketiga dan keempat kami habiskan di pulau Jeju. Karena aku penasaran dengan tempat itu. Katanya indah. Dan...menyebalkannya lagi, Jovanka malah mengajak Vino ikut. Yuki nggak mau kalah, dia ngajak temennya yang apart-nya kita sewa. Temennya itu ngajak dua temen cowonya juga. Ugh! Berasa three-date. Aku selalu tau dibalik otak ngeres mereka yang penuh ide gila! Apalagi kalo bukan buat nyomblangin aku dengan salah satu dari mereka?? Dasar setan betina! "Lo jangan main kasar sama mereka ya? Efeknya pasti berimbas ke diri lo juga ntaran." ujar Jovanka. "Bodo!" Aku lebih banyak diam. Lagi musim dingin malah main dipesisir pantai. Udah gila aku. Kukenakan headset bulu yang sekalian bisa menghangatkan telingaku dari sergapan angin  musim dingin. Dan-nya Sheila on 7, nemenin permainan kakiku diatas pasir. Mataku terpejam, menikmati hembusan angin pantai. Sambil bibirku bersenandung mengikuti lirik yang kudengar yang hampir usai. Saat kubuka mataku, ada seraut wajah yang tengah tersenyum menatapku. "Bego! Kaget!" racauku. Dia terkekeh,"Kamu lucu kalo kaget." Aku cuma nyengir. Apaan lagi? "Apa kita pernah ketemu?" tanyannya. Aku menggeleng,"Nggak. Kayaknya ini pertemuan pertama kita." "Augustine Giftania Kemal. 32 tahunmu tinggal dua musim lagi. Owner sebuah resto Jepang dan pendiri panti anak Mahadewi. Sudah S2. Seorang yang berdedikasi tinggi, loyal, royal terhadap teman. Satu-satunya penerus grup GK. Wow!" papar Vino, masih asik dengan tatapnya yang teduh. "Hm...lalu? Apa maumu?" tanyaku dingin. "Nggak ada. Itu yang kutau dari internet. Begitu aku cari tau tentangmu, karena namamu begitu familiar ditelingaku." sahutnya. "Ohya?" kuhembuskan nafasku. "Kenapa? Kamu nggak suka?" "Aku sih masa bodo ya. Suka-sukamulah." kilahku. Kembali Vino tersenyum. "Dengerin apaan sih?" dia melekatkan telinganya di headset yang sedang kupakai. "John Legend. Dia favoritmu?" Aku menjauhkan wajahku karena jarak kami yang sangat dekat. Close-up kayak gini sedikitnya membuatku agak nervous. Dia tersenyum. Lagi. "Jadi...mbak Jo udah punya anak ya? Kupikir dia masih single kayak kamu," cetusnya. Aku menoleh. Bisa-bisanya dia manggil aku kamu, tapi sama Jovanka, mbak. Ish! Aku menatapnya. Lama-lama cowo ini ingin kuhabisi juga! "Kenapa?" tanyanya. "Ya, harusnya ke aku juga kamu panggil mbak dong!" protesku. Dia terkekeh," Loh? Kamu belum merit, belum punya anak pula. Kalo aku panggil mbak, tambah point jonesnya kamu dong. Jadi berasa tua. Mau?" Ih! Ada ya manusia semenyebalkan kayak dia? Ngelunjak! Aku melotot. Aku menghentakkan kakiku sambil lalu. Masih terdengar kekehan ringan anak ingusan itu. Jovanka menyambutku dengan antusias dan....takk!  Jidatnya kusentil. "Macem-macem ae lo!" sungutku. >>>> Karena telat makan plus masuk angin waktu di Jeju, aku tumbang deh! Meriang, trus ulu hatiku sakit banget. Belum lagi anemiaku. Wahhh... Dan dasar pula si Jovanka, nyebelin! Kukutuk juga tuh anak! Masak dia manggil Vino buat ngobatin aku?! Mentang-mentang dia dokter... "Jangan terlalu banyak pikiran dong. Bebasin aja. Hidup udah ada yang ngatur, yaitu Tuhan. Tinggal jalani. Jadi nggak ngefek ke lambungmu. Udah gitu diperparah makan junkfood mulu, smoke, makan nggak teratur. Untung aja nggak minum juga," katanya. Aku diam. Eh, dia tau aku merokok? Oh, ya...saat aku nubruk dia waktu itu. Dia liat sebungkus rokok dibelanjaanku. "Kopinya kurangi, smokenya juga." imbuhnya. Kuputar bola mataku, kesal. "Jangan sok-sokan bikin aku baper. Nggak mempan tau? Lagian nih, aku udah ada yang punya..." kuperlihatkan jari manis kananku. Vino menatapku teduh, bibirnya tersenyum. "Ge-er banget sih kamu. Aku cuma pengen bikin seneng pasienku aja. Biar kamu nggak stress, nanti asam lambungmu naik. Berabe kalo levelnya udah level dewa," tukasnya diakhiri kekehan. "Bodo!" aku membalik membelakanginya. "Gie, obatnya aku simpan disini ya? Diminum obatnya bukan buat pajangan loh." "Hm. Makasih." "Bilang makasihnya yang ikhlas dong," Vino mengusak rambutku. Aku menepisnya. "Aku pulang ya," Aku nggak jawab. Buat apa? . . . . Saatnya kembali... Kembali pada rutinitasku dikantor Papi. Menghitung laba hasil dari resto Jepangku, yang dikelola Yuki. Dan, tak lupa mengunjungi 'anak-anakku'  dipanti. Pulang ke rumah, dengerin musik sambil ngerjain sisa kerjaan kantor. Aku senang sih, Papi dan Mommy nggak nyinyir lagi jodoh-jodohin aku. "Gie..!" panggilan dan ketukan dipintu kamarku membuyarkan lamunanku. "Ya, mom?" kepalaku nongol dari balik pintu. "Adikmu mau lahiran, ayo." "Lahiran? Ayo, ayo. Ntar, aku ganti baju dulu." Ya, aku punya adik cewe, Gestiana Irenne Kemal. Dia duluan merit sama pacarnya. Syukurnya Bakti baik dan sayang banget sama Irenne. Aku, Papi dan Mommy meluncur ke rumah sakit. Disana udah ada Bakti dan keluarganya. "Gimana Iren?" tanyaku. "Masih diruang bersalin, mbak." sahut Bakti. "Loh kok kamu nggak nemenin? Temenin gih, biar tau gimana rasanya ngelahirin. Perjuangan seorang istri dan ibu, menjadikan suaminya sempurna. Biar nggak ada pikiran jelek diotak kamu," tukasku. "Gie," Mommy nyikut aku. "Loh, aku bener kan Mom." "Bukan gitu, mbak. Aku kan orangnya panikan, mana nanti liat darah lagi." sahut Bakti tertunduk. "Ealah, Bakti! Aku cuma bercanda. Hehehe, bantu doa aja." Adik iparku itu udah pucat gitu yang akhirnya tersenyum. Tak lama terdengar tangisan bayi, kami semua bersyukur bahagia. Kudorong Bakti agar nemuin Iren duluan. "Heh, kamu mau kemana?" tanya Mom. "Ke kantin Mom, mendadak laper nih." jawabku. Pulang kantor tadi aku belum sempat makan lagi. "Oh, ya udah. Cepet balik ya?" Hanya anggukan kecil dan aku sudah melenggang ke kantin. Ada beberapa orang yang makan dikantin. Mungkin penunggu pasien juga. Secangkir kopi, dan dua potong sandwich. Kuhubungi Jovanka. "Iren lahiran, Jo." kataku. "Oh...trus? Cowo, cewe? Gimana dong, Felly lagi demam, gue nggak bisa kemana-mana. Besok gue ijin nggak masuk kerja ya Gie?" "Hm. Oke." Yuki juga nggak bisa dateng malem ini kayaknya, soalnya pas tadi sore aku ngecek ke resto, dia lagi super duper sibuk. "Hai, kita ketemu lagi. Nice meet you, Augie." Aku melongo. Vino? Dunia udah sempit kali ya ketemu anoa satu ini mulu! "Hai," balasku slow responsed. "Yaa...ngopi lagi. Cangkir yang ke berapa ini?" "Baru juga satu." elakku. "Satu disini. Satu dirumah. Satu dikantor. Satu waktu lunch. Itu udah empat cangkir, Gie...." selorohnya. "Apaan sih? Terserah aku 'kali." sahutku. "Ganti pake jus ya?" tawarnya "Bodo!" aku bangkit dari dudukku. "Eits, mau kemana? Abis makan jangan langsung lari-lari gitu. Sakit perut kamu nanti. Aku nggak mau kamu sakit, Gie." Vino nahan tanganku. Nih anak kecil maunya apa sih? "Duduk," titahnya dan nggak tau kenapa lagi, kok aku nurut? Aku habiskan sandwichku. Segelas jus jeruk diantarkan pelayan. Vino mendorong gelas itu ke arahku. "Siapa yang sakit?" tanyanya. "Adekku lahiran." Vino mengangguk. "Kamu kapan nyusul?" "Apaan?" "Lahiran," dia menatapku jenaka. Tapi tidak bagiku! Anak segede gitu macem-macem perlu tindakan tegas! "Ntar kalo kamu udah nggak ada didunia ini!" "Ssttt! Itu doa. Jangan ngomong sembarangan. Kalo dikabul Tuhan, kamu nyesel." potongnya cepat. Kuhembus nafas kasar. Nggak mungkin lama-lama, takutnya aku ngomong kasar. Kuseruput sisa kopiku. Lalu beranjak. "Gie!" Aku tetap melangkah nggak peduli. Di koridor aku malah berpas-pasan sama Bram. Kenapa mesti ketemu sikutu beras satu ini lagi? Tadi anoa, sekarang kutu beras? Lengkap sudah kesialanku hari ini! "Gie...." sapa Bram. Aku terus melenggang, melewatinya tanpa mengindahkannya sedikitpun. "Gie!" Bram mencekal lenganku. "Lepas, nggak?" "Gie, aku mau ngomong." "Ngomong aja," "Nggak disini, di apart." "Lo kira gue apaan, Kucay? Apalagi yang mau lo omongin? Penyesalan? Basi tau nggak? Buktiin kalo lo punya nyali! Lagian kita udah nggak ada apa-apa." tandasku. "Heh! Lo pikir gue suka sama lo? Gue cuma kepaksa, tau nggak? Gue bisa dapetin yang lebih dari lo! Lo selalu bandingin gue sama mantan tunangan lo. Gue bisa apa, kalo hati lo aja nggak berpaling ke arah gue?!" ungkap Bram. "Gue kan udah bilang, nggak mudah jalan bareng gue. Lo ngotot sih. Sombong. Gede 'pala! Gue seneng kalo emang ada yang lebih dari gue. Gue lebih seneng lagi lo selingkuh dari gue karena berarti mantan gue tetap yang terbaik. Ngarti lo?" aku kembali berbalik. "Gie!" Bram menarikku kasar hingga aku menubruk tubuhnya. Yang mana dia manfaatin keadaan itu untuk memelukku dan mencoba menciumku. "ANJ*** LO, BRAM!!" Aku mengelak dan menghindari pelukan dan ciumannya. "Hey, easy man... Kalo cewenya nggak mau, jangan lo paksa! Banci kaleng lo!" tiba-tiba ada yang menarikku. Vino? Aku mundur diam dibelakang tubuh Vino yang memang lebih tinggi dariku. "Gentle dong. Udah sana, lagian ini dirumah sakit. Apa perlu gue panggil sekuriti?" Vino mendorong tubuh Bram yang tetap maju. Beberapa suster dan pengunjung pada dateng dan menonton adegan itu. Bram menatapku. Aku balik menatapnya tajam. Diapun berlalu tanpa kata. Cih! "Kamu nggak apa-apa?" tanya Vino sambil berbalik ke arahku. Dia meneliti tubuh dan wajahku. Aku menggeleng. Dia memapahku, entah kemana. Ternyata ke sebuah ruangan. "Ini ruanganku. Minumlah, mungkin kamu syok." dia memberiku air mineral. Aku masih diam. "Jadi dia yang namanya Bramasta Adi Nugroho itu?" tanyanya. "Hm..." "Kalo bukan dirumah sakit, sudah kulumat dia!" Dia marah? Kenapa? "Tapi beneran kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit?" dia menatapku. Ahh...kenapa dia menatapku kayak gitu? Aku mengernyit. Apalagi saat jemarinya terulur ke bibirku. "Luka,"  gumamnya. "Ohya?" aku malah tersedak menelan udara. Jadinya aku terbatuk-batuk. "Minum lagi. Kamu tuh lucu," "Sori aku bukan barbie,"  sahutku. "Setauku barbie bukan lucu, tapi cantik dan seksi." ucapnya ditelingaku. Ihh...aku jadi merinding, suara husky-nya... "Ngaco!" Vino tetap senyum. ### Hi, readers! Tetap dukung aku yaaa? Dengan cara, baca, vote dan komen story-ku ini. Jangan bosen yaaaa? So, Gomaweo & Saranghae... tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD